
Soraya terbahak. "Mama memang pintar. Namun, sayangnya jawaban itu meleset. Rekaman itu bukan senjata untuk Mama, melainkan senjata untuk melawan Dean."
Mata Rebecca menyipit. "Maksud kamu?"
Soraya tersenyum licik. "Mama pikir aku percaya kata-kata yang Dean ucapkan tadi? Jika dia benar-benar ingin menikahiku, seharusnya dia lebih dekat denganku bukan Kensky. Jadi aku akan menggunakan rekaman ini sebagai bukti kalau suatu saat dia melanggar janjinya. Aku akan membuktikan kepada Kensky bahwa lelaki ini mendekatinya hanya untuk balas dendam, bukan karena cinta."
Rebecca tersenyum lebar. "Kau benar-benar pintar."
Soraya menyeringai. "Siapa dulu dong mamaku?"
Mereka pun mendekat dan saling berpelukan.
"Ya, sudah, sekarang kau sarapan dulu. Mama akan mengirim rekaman itu ke ponselmu. Setelah itu mama akan mengadakan janji dengan dokter Harvey untuk membicarakan rencana kita selanjutnya."
***
"Selamat pagi, Mr. Hans," sapa Kensky begitu masuk ke ruangannya.
"Pagi, Sky," sapanya pelan.
Lelaki itu juga ternyata baru saja tiba dan sekarang sedang menyalakan laptop. "Sepertinya kau sedang bahagia, Sky," ledek Mr. Hans.
Kensky tersenyum lebar. "Ah, Mr. Hans ada-ada saja."
"Apa karena besok kau akan pergi meninggalkanku?" ia tertawa sebentar. Setelah tawanya hilang ia memasang wajah datar dan berkata, "Setelah dipikir-pikir mungkin ke depannya aku tidak akan memakai asisten lagi."
Kensky menatap sedih. "Kenapa begitu, Mr. Hans? Pak Dean pasti akan mencari orang yang lebih baik dari aku, Anda tenang saja."
Mr. Hans menggeleng. "Tidak, Sky. Selama ini tidak ada karyawan yang cocok denganku. Cara kerja mereka sangat berbeda dengan keinginanku. Mungkin secara profesional mereka bisa melakukan tugas yang kuperintahkan, tapi di sisi lain mereka justru bertolak belakang denganku; suka terlambat, akan bekerja kalau diperintahkan. Jadi walaupun pekerjaanku menumpuk, mereka tidak akan membantuku selama aku tidak menyuruh mereka memegang kertas-kertas itu."
Kensky tersenyum. "Jangan berkata begitu, siapa tahu nanti penggantiku akan lebih baik dan sesuai harapan Anda."
"Tidak, Sky. Pokoknya sebelum pak Dean mengirim orang itu ke sini, aku sendiri yang akan menolaknya lebih dulu."
Tok! Tok!
Kensky dan Mr. Hans saling melirik karena terkejut.
"Masuk," seru Mr. Hans.
Clek!
"Selamat pagi."
"Bu, Kim?" Kensky berdiri memberi hormat, "Selamat pagi, Bu."
Mr. Hans terkejut saat melihat Kim. Jantungnya bahkan berdetak sangat cepat hingga ekspresinya terlihat gugup. "Pagi, Kim."
Untung saja Kensky begitu fokus kepada wanita itu, sehingga tak bisa melihat reaski Mr. Hans yang seperti anak remaja ketika sang pujaan hati datang ke ruangannya.
Kim menahan tawa saat melihat reaksi itu. Tapi tak ingin Kensky curiga, ia menatap gadis itu dan berkata, "Kamu dipanggil pak Dean. Beliau mununggumu di ruangannya sekarang."
"Oh, baiklah. Mr. Hans, aku permisi sebentar, ya?"
"Silahkan, Sky," jawabnya dengan nada gemetar.
Setelah gadis meninggalkan mereka berdua, saat itulah Kim mengarahkan pandangannya kepada Mr. Hans. "Ada apa, Sayang? Sepertinya kau sedang sedih."
Mr. Hans mengendus. "Kemarilah, rasanya aku ingin sekali memelukmu."
Karena kebetulan ruangan itu tertutup dan kacanya gelap, Kim berani mendekati lelaki itu kemudian duduk di atas pangkuannya. "Kau pasti sedih ya karena besok asisten andalanmu akan meninggalkanmu?"
Mr. Hans memeluk Kim. "Rasanya aku tak akan bisa menemukan penggantinya."
Kim tersenyum lebar. "Benarkah?"
Mr. Hans menggangguk tanpa menatap wanita itu. "Aku tidak mau lagi menerima asisten kalau itu bukan Kensky."
"Aku akan senang, tapi itu tidak mungkin."
Kim meraup pipi Mr. Hans. "Itulah kenapa aku ke sini, Sayang. Aku akan menggantikan posisi Kensky dan Soraya yang akan menggantikan posisiku."
Saat itulah Mr. Hans menatap wanita itu. Wajahnya terlihat kaget. "Kau serius, Sayang?"
Kim mengangguk mantap. "Aku serius. Ini surat tugasku yang diberikan pak Dean untukmu, bacalah."
Kim memberikan map yang dibawanya tadi, tapi Mr. Hans mengambil map itu dan meletakkannya kembali di atas meja.
"Kenapa tidak dibaca, Sayang?" tanya Kim.
Saking senanganya Mr. Hans langsung memagut bibir wanita itu. Awalnya hanya ******* lembut, tapi lama-kelamaan sapuan itu menjadi semakin dalam dan sangat menggairahkan. Mereka pun berciuman dalam posisi saling memangku juga tangan yang tak kalah sibuk di bagian tubuh masing-masing.
Di sisi lain.
Kensky keluar dari lift dengan jantung berdetak cepat. Meski sebenarnya ada rasa bahagia menyelimuti__ untuk pertama kali ia bertemu lelaki yang ia yakin adalah calon suaminya__ namun tetap saja ada rasa gugup dalam diri yang melebihi rasa bahagianya.
"Soraya, apa Pak Dean ada?"
Senyum Soraya melebar. "Ada, masuklah. Beliau sedang menunggumu di dalam."
Kensky menatap bingung. Dalam hati ia terheran-heran. "Tumben ekspresi Soraya begitu bahagia? Padahal biasanya dia akan marah jika aku bertemu Dean," ia balas tersenyum, "Baiklah, aku masuk dulu."
Soraya menatap Kensky yang kini masuk ke dalam ruangan Dean. Dengan mata menyipit dan senyum licik ia berkata dalam hati, "Mungkin saat ini aku akan membiarkanmu bahagia dan merelakanmu pergi bersama Dean ke Eropa, karena tidak akan lama lagi kau akan ditendang dan diterlantarkan olehnya. Kensky, Kensky, kau tidak tahu ya bahwa sebenarnya kau itu hanya dimanfaatkan oleh Dean."
Di sisi lain.
"Selamat pagi, Pak. Apa benar Anda memanggil, Saya?"
Dean segera berbalik dan menatap Kensky. "Kau sangat lucu kalau bicara formal."
Kensky tersenyum manis dan itu merupakan senyum terbaiknya untuk Dean. "Kan kita sedang berada di kantor. Jadi sudah seharusnya saya bersikap formal kepada atasanku, apalagi Anda adalah CEO di perusahan ini."
Lelaki itu mendekati Kensky, berdiri dengan jarak dekat, lalu meraih tangannya untuk digenggam. "Aku merindukanmu," bisik Dean.
"Jadi kau menyuruhku ke sini hanya untuk mengatakan itu?"
Dean mencium tangan Kensky. "Lebih dari itu," balasnya dengan wajah dingin yang mampu membuat jantung Kensky semakin berdetak, "Kita duduk di sofa saja."
Kensky menurut dan mengikuti Dean. Ia mengambil posisi di satu sofa yang letaknya di hadapan Dean, tapi lelaki itu segera menariknya agar duduk berdampingan.
"Kenapa kau tidak mau duduk di sampingku, hah?" bisik Dean seraya menempelkan bibirnya ke leher Kensky.
Gadis itu memejamkan mata. ******* pelan pun lolos saat napas Dean menyentuh kulitnya. "Ini di kantor, Sayang. Aku tidak mau ada yang melihat kita."
Lelaki itu masih menggenggam tangan Kensky. "Semalam aku tidak bisa tidur karena terus memikirkanmu."
Kensky balas menatap wajah Dean. "Aku juga," balasnya lirih.
Wajah mereka saling berhadapan dan Kensky dengan berani meraup pipi Dean kemudian mengecup bibir lelaki itu.
Bukannya diam, lelaki itu justru balas mengecup bibir Kensky. Kecupan yang awalnya cepat, kini menjadi satu tautan yang dalam dan menggairahkan.
Kensky-lah yang lebih dulu melepaskan ciumannya. "Ingat, ini di kantor."
Dean menatap sayu. "Aku tak sabar lagi menunggu besok. Aku ingin tidur bersamamu di kamar setiap hari tanpa harus menahan rindu seperti ini. Kita akan tidur di hotel yang sama, atap yang sama, juga ranjang yang sama setiap hari."
Kensky terkekeh. "Sekarang cepat katakan. Sebenarnya apa tujuanmu memanggilku ke sini, hah?"
Dean mengatur posisi duduknya, tapi tangannya tetap memegang tangan Kensky tanpa melepasnya. "Besok Kim akan menggantikan posisimu sebegai asisten Mr. Hans dan Soraya akan menggantikan posisi Kim sebagai sekertarisku. Sebagai calon suami yang tahu diri, kau tidak keberatan kan kalau aku memilih Soraya sebagai sekertarisku?"
Kensky terkejut. "Kau menjadikan Kim sebagai asisten Mr. Hans dan Soraya sebagai sekertarismu? Kenapa kau tega sekali pada Kim, Dean?" mata Kensky menyipit, "Atau jangan-jangan kau ingin berduaan dengan Soraya sampai kau menyingkirkan Kim ke sana?" Spontan kata-kata itu pun keluar dari mulut Kensky. Ia sendiri bahkan kaget bukan main saat rasa cemburu langsung menyerangnya tiba-tiba.
Bersambung___