
"Baiklah. Aku kembali dulu, masih ada pekerjaan yang harus kulakukan sebelum meninggalkan Mr. Hans."
Dean mengangguk. Dan saat gadis itu merapikan kembali pakaian dan mengunci kancing kemejanya, mata Dean langsung terpana melihatnya. "Sky?" panggil Dean dengan suara pelan.
Gadis itu balas menatapnya. "Ada apa?"
Dean menatap kedua mata Kensky lekat-lekat. "Kalau aku ingin bercinta denganmu malam ini juga, apakah kau mau melakukannya?"
Kensky terdiam sesaat. Tapi dengan senyum manis dan penuh kelembutan ia berjinjit dan mengecup bibir Dean. "Iya, aku mau."
Dean terdiam sesaat karena terkejut. "Kau serius?"
"Aku serius. Aku pergi dulu, ya," pamit Kensky kemudian berbalik meninggalkan lelaki itu.
Setelah gadis itu menghilang di balik pintu kesadaran Dean pun kembali lagi. Ia berdecak lidah sambil menggeleng kepala karena tak menyangka jika gadis itu akan menuruti permintaannya. "Inilah saatnya aku akan mendapatkanmu, Kensky. Mendapatkanmu untuk selamanya."
***
Karena hari sudah sore dan tahu sebentar lagi kedua putrinya akan pulang, Rebecca sudah bersiap diri sambil menunggu Kensky. Setelah kembali dari pertemuan bersama dokter Harvey, tak sabar lagi Rebecca ingin cepat pulang untuk mengatakan hal ini kepada anak tirinya. Dan begitu selesai berdandan cantik, kini Rebecca duduk manis di ruang tamu untuk menanti kepulangan kedua anak gadisnya.
Ting! Tong!
Wajah Rebecca berseri-seri. "Itu pasti Kensky," katanya lalu berpura-pura mengambil majalah seakan fokus membaca.
"Sore, Ma!"
Rebecca menoleh dan ....
Zet!
Ia terkejut melihat Soraya. "Mama pikir Kensky," katanya lalu meletakkan majalah itu ke atas meja, "Mana dia?"
Soraya mendudukan dirinya di sofa yang lain. "Waktu aku pulang dia masih bersama Dean, Kim dan kepala divisinya yang sudah tua itu. Sepertinya mereka sedang membicarakan tugas-tugas yang nantinya akan dialihkan kepada Kim," ekspresi Soraya berubah senang, "Mama tahu, sekarang aku sudah menjadi sekertaris tunggalnya Dean."
Rebecca ikut senang. "Benarkah? Lalu wanita yang kau bilang tidak menyukaimu, bagaimana?"
"Dia akan menggantikan posisi Kensky, Ma."
"Ini kesempatanmu, Sayang. Kau harus mendekati Dean terus agar dia mau menikahimu," Rebecca tersenyum lebar, "Mama juga punya dua kabar gembira untukmu."
Soraya melepaskan heelsnya kemudian menatap sang ibu. "Kabar apa?"
"Soal Kensky dan dokter Harvey."
Soraya tidak tertarik mendengarnya, karena ada hal yang lebih bahagia untuk dipikirkannya. Tapi tidak ingin ibunya mengamuk, ia mau mendengar kabar itu meski keadaan terpaksa. "Baiklah, tapi sbelum Mama lanjut sebaiknya Mama buatkan aku minuman dulu. Aku haus, Ma."
Rebecca pura-pura kesal. "Kau ini ... tapi tidak masalah. Karena hari ini mama sedang bahagia, mama akan membuatkannya untukmu."
Soraya tersenyum dengan tatapan kosong ke arah jendela. "Mungkin sekarang ini aku harus berbaik hati membiarkan Kensky dekat-dekat dengan Dean. Seandainya saja itu bukan alasan untuk balas dendam, aku tidak akan diam saja saat kau mendekatinya," pandangan Soraya teralih kepada Rebecca yang kini datang sambil membawa segelas minuman taro untuk dirinya, "Jadi apa dua kabar baik itu, Ma?"
Rebecca kembali duduk. "Kau mau mendengar soal Kensky atau dokter Harvey dulu?"
"Dokter Harvey dulu," jawabnya cepat, "Aku penasaran dan ingin tahu apa responnya."
Rebecca terkekeh. Sebelum mulai bercerita ia menarik napas panjang. "Jadi tadi tepat jam makan siang mama pergi menemui dia di rumah sakit. Dan kebetulan karena dia ingin makan siang juga, dia mengajak mama makan siang bersama. Di situlah mama langsung mengungkapkan maksud kedatangan mama padanya."
Soraya menyimak sambil menikmati minumannya. "Terus?"
"Awalnya mama masih basa-basi sambil membahas tentang keadaanmu waktu kecelakaan kemarin. Mama bilang kepadanya bahwa kau sering sakit kepala setelah kecelakaan itu. Dan dia bilang pada mama untuk menyuruhmu ke rumah sakit, dia akan memeriksamu."
"Mama sudah gila, ya? Itu sama saja Mama menyumpahiku, biar aku sakit kepala," protes Soraya.
"Terus bagaimana responnya, Ma?" Suara Soraya terdengar tak sabaran.
Rebecca tersenyum. "Saat mama menyebutkan nama Kensky, ekspresi di wajahnya langsung berubah. Matanya yang sebelum itu menatap mama biasa-biasa saja, langsung berubah cemerlang dan terlihat senang."
Soraya mengangguk-angguk. "Aku memang sudah berfirasat kalau dia menyukai Kensky," kata Soraya, "Lalu apalagi, Ma?"
"Dia sempat bertanya kalau Kensky dan kamu sudah menikah atau belum. Begitu mendengar pertanyaan itu, mama pun langsung senang sekali dan mengangkat topik pernikahan ke dalam perbincangan itu. Mama juga langsung bilang kalau kamu sudah punya pacar, tapi Kensky belum."
Soraya tertawa. "Ya, ampun. Aku bisa membayangkan bagaimana ekspresinya itu, dia pasti senang sekali?"
"Oh, jelas. Dia bahkan menanyakan, 'Apakah tante sudah menyediakan calon suami untuk Kensky seperti yang disiapkan tante untuk Soraya?'"
"Oh, iya? Terus Mama jawab apa?" Ekspresi Soraya tampak bahagia.
"Ya mama bilang belum, dong. Mama juga bilang kepadanya kalau mama suka Kensky mendapatkan suami seperti dia: baik, tampan dan mapan."
Soraya terbahak. "Lalu, apa jawabannya, Ma?"
"Wajahnya langsung merah. Dia bilang kalau seandainya anak tante mau, dia juga mau berpacaran dengan Kensky."
"Oh, ya, ampun," Soraya tertawa, "Terus, Ma?"
"Mama tidak membuang kesempatan itu, dong. Saat itu juga mama langsung bilang soal kesetujuan mama. Tapi dengan satu syarat."
Soraya berdecak. "Syarat apa itu, Ma?"
"Mama sempat menceritakan kepadanya soal isi buku harian itu. Jadi nanti kesannya sama seperti pesan Barbara yang tertulis lewat buku hariannya."
"Isinya apa, Ma?"
"Mama jelaskan soal foto yang mama temukan, tapi mama tidak bilang kalau laki-laki itu masih hidup. Mama bilang alasan Kensky tidak ingin berpacaran, karena menunggu laki-laki yang sudah dicalonkan oleh ibunya. Tapi sampai sekarang dia tidak tahu kalau laki-laki itu sebenarnya sudah meninggal, dan yang tahu itu hanya aku dan papanya Kensky. Namun tidak ingin membuat anak gadis kami kecewa, aku dan suamiku mencari orang yang tepat untuk menggantikan posisi laki-laki itu di hati Kensky. Tapi sayangnya kami tidak pernah menemukan sosok seperti itu, dan sekarang aku rasa aku sudah menemukannya. Jadi kalau anda tidak keberatan, di saat kencan dengan Kensky anda harus mengaku bahwa diri anda adalah sosok di foto itu. Begitu yang mama bilang padanya."
Soraya terkejut. "Lalu dia jawab apa?"
"Dia mau, Soraya. Dan mama juga langsung bilang kepadanya bagaimana ciri-ciri laki-laki yang bersama Barbara di foto itu. Agar nanti ketika Kensky bertanya, dia tidak akan salah menjawabnya."
Soraya terbahak. "Mama memang pintar. Kalau pemain film, Mama sangat pantas jadi antagonis yang profesional."
Rebecca ikut tertawa. "Dasar kamu. Jadi, sekarang kita tinggal mengatur jadwal saja untuk kecan mereka nanti."
"Aku tak sabar lagi menunggu hari itu tiba. Tapi itulah yang kuinginkan, dengan begitu Kensky tidak akan bisa lagi dekat-dekat dengan Dean," Soraya menarik napas panjang, "Akhirnya rencana kita berhasil, Ma. Sekarang kita tinggal tunggu keputusan Kensky."
"Kamu jangan senang dulu, Soraya."
Kata-kata Rebecca membuat ekspresi di wajah Soraya berubah. Dengan wajah datar ia menatap Rebecca lalu berkata, "Maksud Mama?"
"Soal buku harian dan foto itu. Tadi siang saat mama menyusup ke kamar Kensky, mama menemukan buku harian itu dan selembar foto di dalam kotak."
Soraya terkejut. "Jadi itu sungguhan? Aku pikir itu hanya sebagian dari skenario Mama."
"Itu kenyataan, Soraya. Jadi di foto itu Barbara sedang duduk bersama bocah laki-laki. Usianya mungkin saat itu sekitar delapan tahun. Tapi wajahnya tidak jelas, karena anak itu menghadap Barbara. Jadi itu salah satu keuntungan bagi kita karena Kensky pasti tidak tahu wajah anak itu bagaimana. Dan di dalam buku harian itu, Barbara menulis bahwa bocah itu adalah calon suaminya."
Alis Soraya berkerut. "Calon suaminya Kensky? Namanya siapa, Ma dan di mana dia tinggal?"
Rebecca menggeleng. "Itu yang mama sendiri tidak tahu. Di buku harian itu Barbara tidak menulis siapa nama dan identitasnya. Hanya saja kata Barbara lewat buku hariannya, sosok laki-laki itu sejak dulu sudah melihat Kensky dan menjaganya. Bahkan kata Barbara selamanya laki-laki itu akan terus memantau dan melindungi Kensky. Perasaan mama jadi tidak enak, soraya. Mama sedikit takut."
Bersambung___