
Dean tak langsung menjawab. Ia mendekati nakas untuk menuangkan lagi anggur ke dalam gelasnya. Setelah mengisi dan menenggak habis isi gelas itu, ia kembali mendekati Kensky hingga jarak mereka sangat dekat dan aroma anggur yang keluar dari mulutnya bisa dihirup oleh Kensky.
Entah kenapa Kensky seakan mabuk bersamanya. Mata indah Dean bahkan mampu menghanyutkannya. Bibir tipis yang merah dan menggoda itu seakan menghipnotis Kensky dan membuatnya ingin merasakan bibir itu lagi. Namun ketika ingatannya tertuju pada sosok laki-laki yang ada di foto bersama ibunya, Kensky segera bergerak untuk menjauhkan diri dari Dean.
Namun di saat Kensky hendak berbalik, tangan Dean segera menarik gadis itu hingga tubuh mereka kembali menempel. "Kau mau ke mana? Aku tahu kau menyukaiku, Kensky? Kau tidak bisa berbohong padaku lagi. Kau menyukaiku, kan?"
Kensky membenarkan. Ia memang sudah jatuh cinta kepada Dean sejak pertemuan pertama mereka waktu di jalan raya. "Aku___"
Dean tak mengijikannya bicara. Suara Kensky yang pelan membuatnya segera membawa bibirnya ke dalam ciuman lembut yang membuat Kensky memejamkan mata.
Kensky terbuai, ia bahkan dengan spontan membalas ciuman Dean sambil mengalungkan tangannya ke leher lelaki itu. "Maafkan aku, Ceo. Maafkan aku, mami. Tapi jujur, aku tidak bisa menolak Dean. Aku sudah jatuh cinta kepadanya sebelum aku tahu bahwa Ceo adalah lelaki pilihan mami," katanya dalam hati. Pikiran Kensky membuat bibirnya bergerak lambat.
Dean menyadarinya dan langsung melepaskan bibir Kensky. Perlahan ia mengulurkan tangan lalu mengelus wajah cantik Kensky. "Kumohon jangan pergi. Aku sangat mencintaimu, Kensky. Aku sangat mencintaimu."
Kensky nyaris menangis. "Aku juga sangat mencintaimu, Dean. Bahkan sangat mencintaimu. Tapi maafkan aku ... ibuku sudah menyiapkan lelaki yang akan menjadi calon suamiku," kata Kensky sambil meraup pipi Dean dengan kedua tangannya, "Maafkan aku."
Dean semakin mengeratkan lengannya di pinggang Kensky. "Tapi aku calon suamimu, Sayang. Ayahmu sendiri yang sudah menjodohkan kita berdua."
Kensky merengek. "Maafkan aku. Tapi pengakuanmu tidak sepenuhnya benar, Dean. Ayahku bahkan tidak pernah membahas soal itu kepadaku sampai sekarang ini."
"Kalau begitu kita ke rumahmu sekarang. Aku ingin kau mendengarnya langsung dari mulut ayahmu, dia pasti akan mengatakan bahwa akulah calon suamimu."
Kensky menggeleng pelan dan sikap itu membuat Dean gemas. Ia pun mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir gadis itu.
"Percuma," balas Kensky, "Papi sedang sakit dan sekarang suaranya sudah hilang, dia tidak bisa bicara lagi."
"Kalau begitu tidak ada alasan bagimu untuk menolakku, Kensky. Akulah lelaki yang pantas menjadi suamimu, lelaki yang kau cintai."
Kensky hendak melepaskan diri dari pelukan Dean, tapi lengan lelaki itu terlalu kuat sehingga ia tak bisa menghindar. Dengan lemah ia pun pun menjawab, "Maafkan aku, Dean. Aku tidak bisa. Mami sudah menjodohkanku dengan orang lain. Dan kalau disuruh pilih antara mami dan papi, aku akan memilih mami. Karena mami lebih mencintaiku daripada papi."
Ekspresi Dean berubah datar. "Jadi kau mau menikah dengan lelaki yang tidak kau cintai, begitu?"
Kensky tak menjawab. Ia sendiri bingung harus berkata apa. Dalam hatinya ia memang mencintai Dean, tapi setiap kali mengingat sosok di foto yang tak lain adalah pria bernama Ceo itu hati Kensky merasa tenang dan akrab. Ia bahkan bisa merasakan ada ikatan batin di antara mereka meski belum pernah berhadapan secara langsung.
"Baiklah," kata Dean seraya menjauhkan diri dari Kensky. Ia kembali menuangkan anggur ke dalam gelasnya. Jika tadi isinya hanya sedikit, kali ini minuman itu lebih banyak dan Dean langsung meneguknya sampai habis.
Kensky tahu kalau lelaki itu marah dan sakit hati. Hal itu pun langsung membuatnya merasa bersalah. Ia yakin kalau Dean pasti kecewa padanya. Tapi apa boleh buat, jika disuruh pilih antara Eduardus dan Barbara, ia akan lebih memilih Barbara daripada Eduardus. Itu artinya ia harus mengorbankan cintanya terhadap Dean dan menuruti kata ibunya untuk menikah dengan laki-laki yang ada di foto itu. Laki-laki yang tak lain adalah orang yang telah memberikannya ponsel.
Dean berbalik menatapnya. Tatapan lelaki itu tajam seakan menusuk. "Tapi bukankah kau ingin perusahan itu kembali? Kau tidak ingin perusahan itu jatuh ke tangan orang lain, bukan?"
Suara Dean yang berat membuat jantung Kensky berdegup kencang karena takut. "Apa dia marah padaku? Apa dia membenciku?" Pikirannya terhadap sikap itu membuat Kensky tak menyimak apa yang dikatakan Dean.
"... dan kalau kau ingin perusahan itu kembali lagi, kau harus mengabulkan permintaanku, Kensky."
Saat itulah Kensky tersadar. "Hah! Apa? Maaf, aku___"
"Kau tidak ingin perusahan itu jatuh ke tangan orang lain, bukan?" jawab Dean dengan suara meninggi.
Mata Dean menyipit saat menatap Kensky. "Perusahan ibumu?"
"Iya, Kapleng Group itu milik mami. Papi hanya meneruskan karena mami sudah meninggal."
"Memang sesuatu yang bukan kebetulan ternyata," katanya sambil berjalan mendekati Kensky. Setelah tubuhnya berdiri tepat di hadapan gadis itu, ia meraup sebelah pipi Kensky lalu berkata, "Kalau begitu jadilah pacarku dengan begitu perusahan ibumu akan tetap menjadi milikmu."
Kensky menggeleng pelan. "Aku tidak bisa, Dean. Aku sudah punya calon suami."
Dean menjauhkan diri dengan emosi yang hendak meledak. "Aku tidak mau tahu, Kensky. Pokoknya jika kau ingin perusahan ibumu kembali, kau harus menjadi kekasihku. Titik."
Kensky diam dan melihat tubuh Dean yang kini berjalan keluar dari kamar itu. "Ya, Tuhan, kenapa bisa jadi seperti ini? Mami, aku harus bagaimana?" lirihnya pelan.
Karena tahu lelaki itu marah dan merasa urusannya sudah selesai, Kensky pun langsung keluar dari kamar itu lalu pulang. Tapi sebelumnya ia harus mencari Tanisa dan berbagi dilema itu bersama sabahatnya.
Sedangkan Dean yang tadi pergi mengambil minuman untuknya dan Kensky, kini kembali.
Zet!
Kamarnya kosong. Ia tampak panik saat melihat kamar itu tidak ada siapa-siapa. "Kensky?" panggilnya sambil menyusuri seluruh kamar, "Kensky! Kau di mana, Sayang?" Dean melepaskan dua kaleng soda yang dingin itu di atas nakas lalu berlari keluar untuk mengejarnya, "Kensky? Kensky?"
"Ada apa, Bos?" tanya Matt begitu Dean keluar pintu.
"Apa kau melihat Kensky? Tadi dia bersamaku di kamar, dan sekarang tidak ada."
"Nona Kensky baru saja pergi, Bos," jawab Matt.
"Pergi?" ulang Dean. Tanpa menunggu jawaban Matt dengan cepat ia berlari keluar mansion. Ia terus berlari menyusuri panjangnya halaman menuju pintu gerbang sambil berteriak, "Kensky! Jangan pergi, Kensky. Kensky!"
Matt juga ikut berlari mengikuti Dean. "Bos! Nona Kensky sudah pergi naik taksi."
Teriakan Matt membuat langkah Dean terhenti. "Apa?"
"Nona Kensky sudah naik taksi, Bos. Tadi setelah keluar dari dalam nona Kensky memintaku untuk mencarikan taksi."
"Brengsek! Dia pasti marah padaku," katanya dengan napas terengah-engah.
***
"Aku bingung harus bagaimana, sementara aku sendiri tidak mau perusahan mami jatuh ke tangan orang lain," kata Kensky sedih. Saat ini ia sudah berada di apartemen bersama Tanisa.
"Saranku, ya. Sebaiknya kau terima saja tawaran Dean. Sudah baik, tampan, CEO lagi," kata Tanisa yang kini muncul sambil membawa dua kaleng kopi dingin. Satunya diberikan kepada Kensky, "Benar apa yang dikatakan Dean, kalau kalian berpacaran dan menikah Kapleng Group tidak akan jatuh ke tangan orang lain."
Bersambung___