
Rebecca menatap anaknya. "Kalau memang benar dia akan ke Eropa, sebaiknya kita biarkan saja dulu dia ke sana dan menunggunya kembali baru kita rencanakan pertemuannya dengan dokter Harvey."
Mata Soraya melotot. "Aku tidak setuju, Ma! Mereka tidak boleh pergi bersama!"
Rebecca tak mau kalah. "Untuk sementara sebaiknya kau mengalah dulu, Soraya. Mama harus mengatur jadwal pertemuan mereka setelah kembalinya Kensky dari Eropa, karena sangat tidak masuk akal hanya dalam sehari mama bisa mempertemukan mereka. Lagi pula mama belum sempat bicara dengan dokter Harvey soal masalah ini. Kau mau semuanya gagal hanya karena sikap gegabah kita?"
"Kalau dia tidak kembali, bagaimana?"
Rebecca menggeleng. "Dia tidak mungkin selamanya di sana, Soraya. Percayalah, mama akan membuatnya kembali hanya dalam waktu satu minggu."
Soraya berdecak. "Itu tidak mungkin, mana mungkin Dean akan mengijinkannya pulang secepat itu."
"Memangnya kau sudah tahu berapa lama dia di sana? Kalaupun keberadaannya akan lama, apa Dean tidak akan mengijinkannya pulang? Kalaupun itu terjadi, mama tidak akan memohon kepada Dean secara langsung. Mama akan membuat Kensky memohon kepada Dean sampai lelaki itu mengijinkannya pulang."
Soraya menatap Rebecca dengan tatapan menyipit. "Lalu aasan apa yang akan Mama gunakan?"
"Eduardus. Mama akan bilang kepadanya bahwa ayahnya meninggal dan pesan terakhir sebelum dia meninggal adalah Kensky harus menikah dengan calon suaminya, yaitu dokter Harvey."
"Mama gila! Ayah kan belum meninggal."
"Masa bodoh! Pokoknnya mama akan menggunakan alasan itu. Dan begitu tahu kapan dia akan datang, mama akan segera mengatur acara pernikahan mereka berdua secepatnya. Pernikahan yang akan mereka lakukan di depan kubur Eduardus."
Soraya terkejut, ia tak menyangka ternyata ibunya bisa merencakan hal gila seperti itu.
***
Keesokan paginya Rebecca sudah berada di ruang makan sambil mengatur piring dan peralatan makan sedemikian rupa seperti yang biasa dilakukannya setiap pagi. Di rumah itu Rebecca yang mengurus semuanya sendiri. Bukan tidak bisa menyewa pelayan, tapi Rebecca tidak mau ada orang asing dalam kehidupan mereka. Baginya pelayan hanya akan menjadi penghalang rencana untuk menghancurkan Eduardus.
Soraya pun muncul dengan pakaian rapi, rambutnya tergerai indah dan seperti biasa, riasan di wajahnya selalu tebal dengan lipstik serta alis yang cetar membahana. Tapi meskipun terlihat menor, wanita itu tetap terlihat cantik. Dan sebagai ibu Rebecca bahkan sangat memuji kecantikan anak satu-satunya itu.
"Selamat pagi, Ma."
Kensky juga muncul dengan pakaian rapi. Kemeja putih berbahan satin dipadukan dengan rok merah ketat yang panjangnya di atas lutut membuatnya terlihat seksi dan berkelas. Riasan wajahnya tipis, namun tetap manis. Dan itulah yang selalu membuatnya terlihat sangat mempesona dengan bibir merah alami meksipun tanpa menggunakan pewarna. Rambutnya yang digulung tinggi membuat leher panjangnya terlihat seksi yang selalu berhasil memikat Dean untuk menciumnya.
"Selamat pagi."
"Pagi," sahut Rebecca dan Soraya bersamaan. Mereka bahkan saling melirik seakan mengodekan sesuatu, tapi langsung terdiam begitu Kensky berdeham dan memulai perbincangan.
"Ada yang ingin kusampaikan."
Rebecca dan Soraya kembali saling melirik seperti sedang menunggu kejutan.
"Soal apa, Sayang?" tanya Rebecca seraya menuangkan jus jeruk ke dalam gelasnya sendiri.
"Aku akan ke Eropa."
Sorayalah yang lebih dulu mengeluarkan ekspresi yang sebelum itu sudah direncanakan. "Ke Eropa? Untuk apa, Sky? Apa kau sudah tidak ingin bekerja lagi?"
Rebecca berpura-pura sedih. "Kau akan meninggalkan kami, Sayang?" Suaranya pelan.
Kensky merasa bersalah. "Bukan itu, Ma," katanya kemudian menatap Soraya, "Aku ditugaskan pak Dean untuk mengawasi perusahan di sana. Tapi pekerjaanku hanya sebatas mengawasi saja. Beliau juga bilang kalau aku boleh pulang sebulan sekali untuk mengunjungi kalian."
"Wah, kau sangat beruntung, Sky. Pasti pak Dean memilihmu karena ada sesuatu?" kata Rebecca. Nadanya seolah-olah ingin mengorek lebih dalam lagi tentang alasan yang sebenarnya. Baginya alasan itu belum jelas, sehingga ia ingin tahu kenapa Dean memilih Kensky dan bukan Soraya.
"Tidak, Ma. Aku sendiri juga kaget saat beliau mengatakan itu. Aku bahkan sudah menolak dan mereferensikan Soraya atau Kim untuk pergi ke sana, tapi tetap saja beliau tidak mau dan memaksaku untuk pergi ke sana."
"Brengsek!" batin Soraya, "Kenapa juga Dean tidak mengutusku saja? Atau jangan-jangan selama ini pikiranku benar, kalau mereka punya hubungan sembunyi-sembunyi?"
Kensky sengaja berkata jujur karena ia memang ingin membuat Soraya iri. Selama ini ia selalu menjaga perasaan gadis itu, karena tahu kalau Soraya begitu menginginkan Dean. Tapi begitu tahu kalau Eduardus benar-benar menjodohkannya dengan lelaki mapan yang ia yakin adalah Dean, mulai sekarang ia tidak akan pernah membiarkan Soraya merebut lelaki itu darinya.
"Baiklah, Ma. Karena besok aku harus berangkat, hari ini aku akan cepat ke kantor untuk menyelesaikan tugas-tugasku dulu."
"Kamu tidak sarapan?" tanya Rebecca.
"Apa?" pekik Soraya dalam hati.
"Soraya. Aku duluan, ya," kata Kensky pelan. Ia menahan tawa sambil meninggalkan mereka. Memorinya bahkan bisa merekam bagaimana ekspresi wajah kusam Soraya saat mendengar ia akan sarapan bersama Dean.
Rebecca terkejut. "Apa mama tidak salah dengar? Dia akan sarapan dengan Dean?"
Soraya ikut kesal. Emosi yang sudah ditahannya pun kini meledak bagaikan bom waktu. "Cepat lakukan sesuatu, Mama! Lakukan sesuatu!"
Dengan cepat Rebecca meraih ponsel dari sakunya kemudian menghubungi Dean. "Sabar ya, Sayang. Mama akan mencari tahu kebenarannya. Mama rasa semua ini seperti mimpi," Rebecca meletakan ponselnya di telinga. "Halo, Dean?" sapa Rebecca begitu panggilannya terhubung. Ia meletakkan ponsel itu di atas meja dengan mode loudspeacker agar Soraya bisa mendengarkannya.
"Ada apa?" Suara berat lelaki itu terdengar dari balik telepon.
"Sekarang cepat kau jelaskan padaku ... apa alasanmu mengirim Kensky ke Eropa? Kenapa kau tidak mengutus Soraya saja? Dia kan calon istrimu, Dean."
"Aku sengaja mengirim gadis itu ke sana, karena ada satu hal yang ingin kulakukan kepadanya."
"Kau tidak sedang mengincarnya, kan?"
"Aku memang sedang mengincar dia, Rebecca."
Rebecca dan Soraya terkejut. "Apa maksudmu, Dean? Lalu Soraya, bagaimana? Kau lupa perjanjian kita?" ketus Rebecca.
"Aku mengincar Kensky bukan karena diriku, tapi untuk membalas dendam terhadap apa yang pernah dilakukan ayahnya kepadaku. Bukannya saat ini katamu Eduardus sudah tidak ada?"
Rebecca melirik Soraya. "Iya, bahkan sampai sekarang aku tidak tahu dirinya ada di mana," katanya dengan suara pelan.
"Itulah alasan kenapa aku mengincar Kensky. Karena ayahnya hilang, dia-lah yang harus menanggung akibatnya. Meski sebenarnya harus mereka berdualah yang pantas untuk mendapatkan pembalasan kejam dariku."
Wajah Rebecca tampak menyesal. "Maafkan aku karena sudah berpikir buruk kepadamu, Dean. Habisnya Soraya marah karena tadi Kensky tidak sarapan, katanya dia akan sarapan denganmu."
Lelaki di balik telepon tak menjawab.
"Dean?"
"Hmm?" gumamnya.
"Kapan kau akan menikahi Soraya?"
Saat itu juga Soraya meraih ponsel Rebecca kemudian menekan tombol yang tertulis rekaman.
Tit!
"Apa yang kau lakukan?" kata Rebecca dengan gerakan bibir tak terdengar.
"Aku akan menikahi Soraya setelah pembalasanku selesai. Saat ini aku belum puas menyaksikan kehidupan keluarga Oxley menderita. Jadi aku harus membuat mereka semakin menderita lagi, dan setelah puas aku akan segera melamar Soraya."
"Baiklah, Dean. Kalau begitu akan kusuruh Soraya agar sabar menunggumu."
"Itu memang harus."
Tut! Tut!
Dean memutuskan panggilan. Sedangkan Rebecca dengan wajah tak sedap langsung menatap Soraya. "Apa yang kau lakukan, hah?"
"Aku hanya merekam pembicaraan kalian, Ma," balas Soraya santai.
"Kenapa? Kau akan menjadikan itu senjata jika mama tidak berhasil membantumu, begitu?"
Bersambung__