Mysterious CEO

Mysterious CEO
Strategi CEO.



Mr. Hans menelan semua isi dalam gelasnya. Setelah berhasil menelan semua minuman anggur itu dengan susah payah, ia cekukan. "Berarti benarkan tebakanku? Lagi pula aku rasa tidak ada salahnya Anda menjalin hubungan dengannya. Dia cantik dan sama-sama single. Umur Anda memang sudah sepantasnya memiliki pasangan, Pak."


Dean tahu Mr. Hans sudah mabuk. Tak ingin berlama-lama dengan lelaki tua itu lagi, Dean langsung menawarkan sesuatu kepada kepala divisi itu. "Mr. Hans, sebaiknya Anda makan dulu. Anda harus mencoba menu pesta ini. Makanannya sangat lezat, karena aku memesannya di restoran langgananku. Sayang bukan kalau Anda tidak mencicipinya sebelum pulang. Lagi pula Anda pasti sudah sangat lapar sekarang ini. Anggur biasa membuat orang cepat lapar."


Mr. Hans tertawa. "Ternyata Anda juga pintar menebak ya, Pak. Aku mememang sudah lapar. Saat datang tadi aku sebenarnya ingin langsung makan, tapi Matt segera mengarahkan aku nona Oxley ke sini."


Dean terbahak lalu berdiri. "Ayo, silahkan ... akan kuantar Anda sampai ke meja hidangan," kata Dean.


"Tidak usah, Pak. Aku bisa sendiri." Mr. Hans mencoba untuk berdiri sendiri, tapi efek dari anggur yang diminumnya membuat lelaki itu terhuyung hingga terduduk lagi.


Dean tertawa. "Tuh, kan! Anda harus dibantu, Mr. Hans."


Dean menawarkan diri sambil menahan tawa. Begitu lelaki tua itu benar-benar berdiri, ia segera mengantarkan Mr. Hans untuk berbaur dengan tamu yang lain. " Silahkan makan sepuasnya, Mr. Hans."


"Terima kasih, Pak Dean."


Setelah melihat Mr. Hans sudah mendapatkan kursi di meja makan, ia pun segera kembali ke dalam mension untuk menemui Kensky.


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel membuat Dean menghentikan langkahnya. "Ada apa, Matt?"


"Nona Kensky tertidur di dalam bathtube, Bos. Sepertinya anggur itu membuatnya sangat mabuk."


Dean terkekeh. "Aku akan segera ke sana."


Tut! Tut!


Dengan cepat ia memutuskan sambungan lalu melangkah masuk ke dalam mension. Sambil berlari kecil Dean terus menaiki tangga menuju lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. Begitu masuk ke kamar ia langsung menuju kamar mandi untuk menemui Matt.


"Apa yang terjadi? Kenapa bisa jadi begini?" Dean terkejut melihat tubuh Kensky yang tertidur dalam posisi menyamping. Untung saja tempat itu kering sehingga Kensky aman di dalam sana.


Matt menahan tawa. "Aku tidak tahu, Bos. Saat nona Oxley sudah cukup lama berada di dalam, aku segera mengetuk pintunya. Karena tidak ada jawaban dan takut terjadi sesuatu, aku segera mendorong pintunya dan menemukan nona Oxley dalam keadaan seperti ini."


Dean tersenyum lebar. "Kau kembalilah bertugas, biar aku yang akan mengurus gadis ini."


"Baik, Bos."


Saat sang supir hendak keluar dari kamar mandi itu, Dean memanggilnya lagi. "Matt?"


"Ya, Bos?"


"Kunci pintu utama dan pastikan tidak ada yang berani mengganggu malamku bersama gadis ini."


"Siap. Ada lagi, Bos?"


"Tolong bawakan anggur yang mereka minum tadi ke kamarku, aku ingin mabuk bersamanya malam ini."


"Baik, Bos," Matt pun keluar dan meninggalkan mereka di dalam kamar mandi.


"Sayangku, malam ini kau harus menjadi milikku." Dean menatap wajah gadis yang kelihatannya tertidur pulas. Dengan langkah pelan ia mendekati bathtube dan duduk di pinggirannya, "Sayang?" panggilnya pelan seraya mengelus pipi gadis itu. Bukannya marah, ia malah tersenyum saat melihat Kensky tidak merespon. Namun karena tidak ingin gadis itu kedinginan, Dean segera membopong tubuh Kensky dan membawanya ke atas ranjang.


"Matt, pastikan jangan ada yang menganggu. Jika ada yang mencariku katakan saja aku sedang ada urusan."


Dean sengaja tidak mengundang para petinggi-petinggi dari perusahan lain agar mereka tidak mengganggunya. Karena tujuannya malam ini bukan untuk pesta itu, melainkan untuk bisa bersama Kensky.


"Baik, Bos."


Setelah Matt pergi Dean segera mengunci pintu kamarnya. Perlahan ia mulai membuka jas kemudian kancing kemeja. Rasa panas akibat minuman wiski membuatnya gerah, apalagi saat melihat tubuh Kensky di bagian atas yang terbuka serta bagian paha mulus yang terpampang jelas.


Dean mendekati ranjang yang ukurannya sangat besar itu dengan seprai hitam lembut yang membungkusnya. Ia berbaring di samping Kensky dan menjadikan lengannya sebagai bantal.


Merasakan ada yang mengganjal di bagian tengkuknya, Kensky menggeliat tapi tidak membuka mata. "Aku di mana?" katanya pelan.


Dean segera memiringkan tubuh Kensky agar bisa menatap wajah gadis itu. Dilihatnya wajah cantik Kensky tampak merah dengan mata yang masih terpejam. Bibir Kensky yang tipis dan ranum membuat Dean ingin sekali menciumnya. "Kau bersamaku, Sayang," bisik Dean. Wajah mereka begitu dekat. Dean bahkan bisa menghirup embusan napas Kensky yang beraroma anggur, "Ternyata kamu payah," bisiknya lagi dengan suara parau, "Masa hanya minum dua gelas saja sudah mabuk parah seperti ini." Dean mendekatkan bibirnya hingga nyaris menyentuh bibir Kensky.


Gadis itu tak merespon, tapi ia mengenal dan tahu siapa si pemilik suara berat itu. Bahkan aroma wiski yang mengembus dari napas Dean saat menerpa wajahnya begitu terasa dan membuatnya sangat nyaman. "Aku tidak bisa minum. Ini pertama kalinya aku minum anggur," balasnya lemah.


Sahutan Kensky membuat Dean terkejut. Tapi bukannya menjauhkan diri dari gadis itu, Dean malah semakin merapatkan tubuh mereka hingga saling menempel. "Kau mengenalku?" bisiknya pelan. Ia menempelkan bibirnya di telinga Kensky.


******* kecil pun lolos saat bibir Dean menyentuh telinganya. "Aku tahu siapa kamu. Aku bahkan angat mengenal suaramu. Kau bosku, kan?"


Dean tersenyum. "Kalau begitu tidurlah. Aku akan menjagamu."


"Aku tidak mengantuk, aku hanya pusing."


Bibir Dean yang tadinya menempel di telinga Kensky kini bergerak menuruni leher. Tangan sebelahnya juga mulai turun dan menyusuri lekukkan tubuh Kensky hingga ke pahanya yang lembut. "Maafkan aku, karena aku kau menjadi begini. Seandainya aku tidak menawari anggur kepada Mr. Hans, mungkin dia tidak akan menyuruhnya untuk meminumnya."


Spontan tangan Kensky memeluk perut Dean. Tangan halus itu bagaikan sengatan saat menyentuh permukan kulit lelaki itu. Saking terasa kuat sengatannya tangan itu mampu membuat keperkasaan Dean langsung merespon.


"Apa benar kaucalon suamiku?" tanya Kensky dengan mata yang masih terpejam.


Dean tersenyum. "Kau mau jujur kepadaku?"


"Soal apa?"


"Sebenarnya kau tidak mau kan aku menjadi suamimu?"


Saat itulah Kensky membuka mata untuk menatap Dean. Matanya sayu seakan dipaksa untuk melihat. "Siapa bilang? Justru aku senang jika kau menjadi suamiku," balasnya kemudian menutup matanya kembali.


"Sungguh?" ia mengelus pipi Kensky dengan jempolnya. Dari pipi kemudian turun ke bibir.


Kensky merespon. Bukannya menjawab pertanyaan lelaki itu ia malah mengecup jempol Dean yang kebetulan mengelus bibir bawahnya.


Lelaki itu terkejut. Saking terkejutnya jempol itu terdiam, membiarkan bibir Kensky terus mencium jari itu sampai akhirnya ia kembali mengelus bibir Kensky dengan gerakan yang sangat pelan.


Kensky juga demikian. Bukannya berhenti ia malah menyerang jempol itu dengan bibirnya yang ranum dan seksi.


Perlahan Dean mencoba untuk memasukan jempolnya ke dalam mulut Kensky. Bukannya menolak, respon gadis itu justru membuat Dean bergairah. "Kensky," bisiknya saat gadis mengemut jempol itu dengan mata yang masih terpejam. Tak tahan dengan godaan yang ada di hadapannya, Dean segera melepaskan jempolnya dari mulut Kensky dan menggantikannya dengan bibir. Ia ******* bibir gadis itu dengan lembut dan Kensky hanya diam tak membalas. Tangan Dean yang tadinya berada di wajah Kensky kini merambat hingga ke tubuh bagian bawah gadis itu. Dengan bibir yang masih bertaut Dean kini mengubah posisinya menjadi di atas dan Kensky di bawah tubuhnya.


Bersambung___