
Di posisi yang tak jauh dari meja makan juga terdapat satu meja bulat yang dikhususkan untuk berbagai macam minuman. Mulai dari air putih, berbagai macam jus dan minuman yang kadar alkoholnya rendah sampai kadar yang sangat tinggi. Semuanya terpajang di sana, di atas meja yang sudah dihiasi dengan taplak berwarna putih juga lampu kuning yang melinggar di pinggirannya.
Karena temanya di acara itu adalah putih, Dean menyuruh para dekorator untuk memasang balon berwarna putih di sepanjang jalur pintu masuk dan beberapa bagian lainnya. Bahkan mereka juga menaruh balon itu di halaman dan di beberapa bagian yang terlihat menjuntai dari atas pohon.
"Aku suka dekorasinya, Matt."
"Apa ada yang ingin Anda tambahkan?" tanya Matt yang sudah mengenakan pakaian serba putih.
Dean yang juga sudah siap menyambut para tamu undangan itu terlihat tampan dengan kemeja hitam dibalut jas putih mahal dan celana panjang berwarna senada yang pas di badannya. Rambut cokelatnya yang ditur acak justru membuatnya mempesona dengan beberapa kancing kemeja yang sengaja dibuka untuk menambah kesan maskulin seorang Dean Bernardus Stewart.
Dean menggeleng lalu melirik jam tangan. "Apa kuenya sudah kau ambil?" tanya Dean saat melihat jam tangan sudah pukul tujuh malam.
"Sudah, Bos. Kuenya ada di meja itu," kata Matt sambil menunjukan meja berukuran sedang yang sudah dihiasi taplak putih dan lilin. Meja itu berbentuk persegi panjang yang sengaja disediakan untuk kue dan desert lainnya.
"Kenapa kuenya banyak sekali?" tanya Dean begitu melihat macam-macam bentuk dan wanta kue yang memenuhi meja itu.
"Kue lain diberikan oleh beberapa pelanggan Kitten Group dan sebagian lagi diberikan oleh karyawan dari berbagai divisi. Mereka mengantarkan kue itu saat Anda sedang mandi tadi. Dan kue yang ukurannya paling besar itu, dibawa langsung oleh Mrs. Stewart. Katanya kue itu husus untuk acara malam ini."
"Mami? Lalu di mana mami?" Dean mengedarkan pandangan.
"Nyonya besar sudah pulang, Bos. Katanya nyonya tidak bisa mengikuti pesta, karena beliau tidak boleh terkena angin malam terlalu lama."
"Iya, mami memang tidak boleh masuk angin."
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel membuat Dean terkejut. Ia merogoh ponsel dari saku jas lalu menyuruh Matt untuk memeriksa dan menambahkan apabila ada kekurangan sebelum para tamu undangan datang. Setelah si supir menjauh, Dean menatap layar ponsel lalu menghubungkan panggilannya.
"Ada apa?" tanyanya datar.
"Dean, tangan kiri Eduardus sudah tidak bisa digerakan. Kedua kakinya juga sudah sulit untuk berjalan. Dia harus dibantu kalau pergi ke toilet. Menurutku kakinya sudah tak mampu lagi menahan bobot tubuhnya yang besar," kata wanita dari balik telepon itu yang ternyata adalah Rebecca.
"Kalau begitu malam ini juga kau harus paksa dia untuk menandatangani persetujuan penjualan itu. Kau buat seakan-seakan dia yang mau menjual perusahan itu, agar Kensky tidak bisa menuntut apa-apa darimu."
"Apa harus malam ini?"
"Iya, karena aku khawatir kalau menundanya besok kedua tangannya sudah tidak akan berfungsi lagi. Dan kalau sudah begitu yang ada aku akan gagal mendapatkan perusahaan itu dan kau sendiri juga tidak akan bisa menikmati uang dari penjualan tersebut. Apa kau mau seperti itu?"
"Tapi, Dean ... Apa kau yakin ingin membeli perusahan itu?"
"Tentu saja. Aku sudah pasti akan membelinya, Rebecca. Uang itu akan kuberikan kepadamu. Lumayan bukan jika kau dan Soraya menggunakan uang itu untuk bersenang-senang?"
"Kau benar. Baiklah, aku akan mendesaknya malam ini untuk menandatangani surat pernjanjian palsu yang akan kubuat."
"Bagus."
"Tapi, Dean ...."
"Apalagi?"
"Kensky ada di rumah, aku takut dia akan tahu dan membatalkan rencana kita."
"Apa Soraya tidak memberitahukan padamu, bahwa malam ini ada pesta di mensionku pukul delapan?"
"Oh, iya, aku lupa. Dia telah memberitahukannya padaku tadi pagi."
"Bagus, kalau begitu kau tidak perlu khawatir. Pastikan saja anak tirimu itu juga datang agar kau bisa menjalankan tugasmu dengan baik."
"Baiklah. Tapi bagaimana dengan rumah ini, apa kau akan membelinya juga?"
"Apapun yang menyangkut harta dan kekayaan Eduardus sudah pasti akan kubeli, Rebecca. Kau tenang saja, aku memang sudah berniat akan membuat suamimu itu jatuh miskin dan tinggal di jalanan seperti yang pernah dia lakukan dulu terhadapku dulu."
"Kau tenang saja, aku sudah memikirkan hal itu jauh sebelum kau menyuruhku, Rebecca."
"Baiklah, terima kasih."
Tut! Tut!
Dean memutuskan panggilannya. Dengan tatapan tajam ia menatap kosong lalu berkata, "Aku akan membuatmu hidup di jalanan, Eduardus. Hidup di jalan seperti yang pernah kau lakukan pada kami dulu."
***
Para tamu undangan sudah banyak berdatangan. Namun karena itu hanya acara kantor, Dean sengaja membuat acara itu khusus karyawannya saja. Mereka semua juga terlihat senang dan membentuk seperti kelompok. Ada yang berdiri sambil berbincang-bincang dengan sesama kolega, ada juga yang sedang duduk sambil menikmati makanan pembuka dan ada yang berfoto-foto di bagian yang menurut mereka sangat indah untuk diabadikan.
Jika para bawahan sedang menikmati pesta mereka, di sisi lain sang CEO sedang berdiri di dekat pagar tepatnya di mana surga minuman berada sambil menatap wajah-wajah yang hadir di pesta malam ini. Kitten Group bukanlah perusahan biasa. Perusahan yang bergerak di bidang properti itu memiliki cabang yang banyak di berbagai negara, dan itu berkat kerja sama antara para karyawan dan karyawati bersama Dean. Sebagai pemimpin ia sangat bersyukur memiliki karyawan seperti mereka, karena biar bagaimanapun tanpa kerja keras mereka Kitten Group tidak akan menjadi perusahan besar dan terkenal di seluruh Amerika dan Eropa.
Dean kini melirik jam tangan. "Matt, suruh mereka menutup gerbangnya," katanya pelan. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, "Kau standbye dulu di sana, cegah siapa saja yang ingin masuk ketika gerbang sudah ditutup. Dan pastikan semua tamu yang datang sudah menulis nama di buku tamu."
"Baik, Bos."
"Ingat, Matt. Siapa pun dia, jangan berani-berani membukakan gerbang itu untuknya. Terlambat tetaplah terlambat dan harus siap menerima resikonya."
Matt menunduk hormat. "Siap, Bos," Dia pun pergi menghampiri satpam di depan gerbang.
Sedangkan Dean menyeringai licik sambil menatap Matt yang sedang berdiri bersama dua orang penjaga keamanan. Dilihatnya laki-laki itu sedang berbincang dengan tamu yang baru saja tiba. Mata Dean kemudian menyapu semua sudut. Karena merasa sosok yang dicari tidak ada, ia pun ikut berbaur bersama petinggi-petinggi Kitten Group yang kebetulan baru saja tiba.
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel membuat Dean menghentikkan langkahnya. Tangan yang satu merogoh ponsel dari saku celana, sementara tangan yang satunya memegang gelas minuman yang kadar alkoholnya tinggi.
"Ada apa, Matt?"
"Bos, di sini ada nona Oxley dan Mr. Hans. Mereka tiba saat security hendak menarik gerbang, apa mereka akan diijinkan masuk?"
"Nona Oxley? Siapa nama lengkapnya?"
"Nona Kensky Oxley, Bos."
Wajah Dean yang tadinya mengerut kini berubah cemerlang. "Ijinkan mereka masuk."
"Baik, Bos."
"Matt?" panggil Dean dengan suara parau.
"Iya, Bos?"
"Arahkan gadis itu ke dalam mension bersama Mr. Hans, dan bawa mereka ke ruangan bar."
"Baik, Bos."
"Apabila mereka bertanya, katakan aku akan segera ke sana setelah menyapa tamuku sebentar."
"Siap, Bos."
Tut! Tut!
Dean memutuskan sambungan lalu menatap tajam. Diteguknya minuman beralkohol itu sampai habis lalu berkata, "Kita berdua akan berpesta malam ini, Kensky. Hanya kita berdua."
Bersambung___