Mysterious CEO

Mysterious CEO
Saling Diam.



Ting! Tong!


"Itu pasti dia," kata Tanisa yang kebetulan sudah selesai merias rambut Kensky, "Kau sudah selesai?"


Kensky menotolkan lipstik merah ke bibirnya. "Sudah."


"Kalau begitu, ayo. Jangan buat dia menunggu."


Kensky menarik napas panjang untuk menghilangkan kegugupannya. Setelah melihat penampilannya yang sangat sempurna itu di cermin, ia pun mengambil tas tangan kemudian mengikuti Tanisa keluar kamar.


"Kau sangat cantik, Sky. Dean pasti akan semakin cinta padamu, apalagi ibunya. Beliau pasti akan menyuruh Dean untuk segera melamarmu."


Kensky tersenyum. Jika biasanya ia tidak akan setuju Tanisa meledeknya bersama Dean, kali ini ia justru merasa bahagia ketika membayangkan bahwa dirinya akan benar-benar dilamar oleh sang atasan.


Ting! Tong!


"Tunggu sebentar!" teriak Tanisa, "Sepertinya si pangeran tidak sabaran lagi ingin melihat tuan Putrinya," kata Tanisa untuk meledek Kensky.


Kensky memukul bahunya. "Kau ini ... mana sepatuku?"


Tanisa memberikan heels yang sedari tadi ada di tangannya. "Aku yakin, Dean pasti____"


"Tan," sergah Kensky, "Bisakah kau tidak menyebutkan namanya lagi?"


Tanisa hanya tertawa kemudian berjalan menuju pintu. "Oke, oke, baiklah."


Kensky juga ikut tertawa sambil menunduk untuk memakai heels yang dikirimkan Dean. Setelah selesai mengaitkan tali di sepatu itu ia segera berdiri, menarik napas, lalu berkata kepada dirinya sendiri, "Sky, jangan gugup. Ini hanya pesta ulang tahun," ia pun berjalan menuju pintu masuk.


"Nah, ini dia," kata Tanisa begitu melihat Kensky.


Dean yang kebetulan sudah menunggu langsung terpana melihat gadis itu. Begitu juga Kensky, yang terpana saat melihat ketampanan Dean dengan setelan jam gelap dan wajah begitu tampan.


Tanisa berdeham. "Apa kalian hanya ingin berdiri saja dan saling bertatap?"


"Maaf," kata Dean. Wajahnya bahkan terasa panas karena malu, "Kau siap?" tanyanya kepada Kensky.


Gadis itu mengangguk. "Aku siap," katanya lalu mendekati Dean yang kini mengulurkan lengannya untuk digandeng, "Tan, kami pergi dulu, ya? Terima kasih."


"Sama-sama. Hati-hati, ya."


Dengan anggun Kensky berjalan mengikuti langkah Dean. Tapi sejak bergandengan tangan keheninganlah yang tercipta di antara mereka. Dean diam tak mau bicara, begitu juga Kensky.


"Kenapa dia diam saja? Apa dia sudah tidak mau bicara denganku lagi?" pikir Kensky. Ia kesal terhadap sikap Dean yang tidak seperti biasanya. Bahkan setelah berada di dalam lift lelaki itu hanya diam seribu bahasa, meski tangannya dengan erat menggengam tangan Kensky.


Ting!


Denting lift berbunyi. Mereka pun masih dengan suasana yang sama keluar dari lift itu lalu menuju pintu utama apartemen.


Dalam hati Kensky bertanya-tanya, "Apa sikap diamnya ini karena permintaanku waktu itu? Tapi kan pesta belum selesai, harusnya dia masih bicara sampai pestanya selesai."


Dean membawa Kensky mendekati mobil. Dengan lembut lelaki itu melepaskan tangan Kensky dan membantunya masuk.


Kensky juga dengan hati-hati masuk ke balik pintu penumpang yang dibukakan Dean.


"Kau siap?" tanya Dean begitu tubuhnya duduk di bangku kemudi.


Saat itulah Kensky merasa senang karena lelaki itu mau membuka suara. "Aku siap."


Dean menyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas, kemudian melaju menuju rumah ibunya.


Sementara di dekat apartemen Tanisa ada sosok Soraya yang masih terdiam seakan tak percaya. "Itu kan Dean dan Kensky! Kenapa ...."


Dengan cepat Soraya merogoh ponsel dari saku celananya untuk menghubungi Rebecca. "Ma! Aku baru saja melihat Kensky dan Dean. Mereka baru saja keluar dari apartemen yang tak jauh dari rumah kita."


"Kau yakin itu mereka? Mana mungkin Kensky menghadiri pesta bersama Dean dengan gaun jelek itu."


"Dia sudah mengganti gaunnya, Ma."


"Itu tidak mungkin."


"Pokoknya aku tidak mau tahu. Sekarang Mama telepon Dean, katakan padanya bahwa calon istrinya ingin bertemu."


***


"Kenapa dia diam saja. Pegang tanganku, kek," kata Kensky dalam hati. Ia kesal karena sejak tadi Dean tak mau memperdulikannya. Namun tiba-tiba ide gila pun muncul dalam benaknya.


Buk!


Ia berpura-pura menyentuh rambut dengan kedua tanggannya hingga tas tangannya jatuh ke bawah kaki. Hal itu memang sengaja ia lakukan untuk menarik perhatian Dean. Dengan pelan ia menunduk untuk mengambil tas itu, tapi sabuk pengaman yang melingkar di tubuh membuatnya terhalang.


"Biar aku saja," kata Dean.


Dalam hati Kensky tersenyum lebar. Rencananya untuk menarik perhatian Dean pun akhirnya berhasil.


Dean menyeringai. Dengan cepat ia menepikan mobil dan berhenti. Setelah mobilnya terparkir, Dean melepaskan sabuk pengaman, menunduk, kemudian meraih tas tangan yang kini berada di kaki Kensky. Lelaki itu tahu kalau Kensky sengaja melakukan itu untuk menggodanya. Namun, ia tetap bersikap dingin untuk merangsang sikap Kensky yang dia tahu diam-diam menginginkannya.


"Maaf, aku telah merepotkanmu," kata Kensky saat melihat Dean menunduk di bawah kakinya.


Sebenarnya Dean tahu apa yang sebenarnya dinginkan Kensky. Tapi demi keingintahuannya terhadap sikap gadis itu ketika dia diam, Dean tak menjawab apa-apa dan hanya memberikan tas itu lagi kepada Kensky. Dan seperti yang sudah dipikirkannya, ekspresi Kensky cukup mengejutkan ketika melihat responnya yang masih diam.


"Apakah dia marah padaku? Kenapa sikapnya seperti ini? Kenapa dia menjadi dingin seperti es?" tanya Kensky dalam hati. Ingin sekali ia melontarkan pertanyaan itu kepada Dean. Tapi tiba-tiba ....


Zet!


Dengan cepat Dean menarik tengkuk Kensky kemudian ******* bibirnya. Mata Kensky terbelalak. Tapi saat bibir Dean begitu lembut dan dingin menyatu ke bibirnya, dengan spontan bibirnya ikut bergerak untuk membalas ciuman Dean.


"Maafkan aku. Sejak tadi aku tak tahan lagi ingin menciummu," bisik Dean begitu bibirnya terlepas.


Kensky menatap sayu. Tangan lembutnya bahkan terulur untuk mengusap pipi Dean. "Aku juga. Sebenarnya dari kemarin aku tidak ingin kau mendiamiku, tapi aku___"


Dean memagut lagi bibir Kensky. "Jangan membahas soal laki-laki lain di depanku, kumohon. Dan ijinkan aku bersamamu sampai waktunya tiba, waktu di mana kau akan menikah dengan laki-laki itu. Aku janji, aku tidak akan macam-macam kepadamu, aku hanya ingin berada di dekatmu sampai waktu itu datang."


Air mata Kensky hendak menetes. Rasanya ia juga tidak sanggup jika Dean meninggalkannya. "Jujur, aku cinta padamu, Dean. Aku cinta padamu."


"Bagus, semakin kau mencintaiku, semakin besar peluangku untuk mendapatkanmu," kata Dean dalam hati. Dengan pandangan sayu ia berkata pada Kensky, "Aku juga. Aku juga sangat mencintaimu, Sky."


Kensky tersenyum bahagia.


"Sekarang kita jalan lagi, ya? Mami pasti sudah menunggu."


Kensky tersenyum sambil mengangguk. Dengan hati lega karena tidak ada lagi sikap dingin di antara mereka, ia bahkan membiarkan sebelah tangan Dean mengusap pahanya yang mulus.


"Kau sangat cantik dan seksi dengan gaun itu," puji Dean.


"Kau juga."


"Aku?" tanya Dean, "Aku kenapa?"


"Kau sangat tampan dan menggairahkan."


***


Mereka pun tiba di rumah keluarga Dean. "Aku takut," bisik Kensky saat melihat pintu rumah utama yang terbuka.


Dean yang baru saja melepaskan sabuk pengamannya pun langsung meraup pipi Kensky. "Takut kenapa, hah?" bisiknya lembut, "Takut pada ibuku?"


Kensky mengangguk sambil memegang pergelangan tangan Dean yang jemarinya sibuk mengelus pipi gadis itu.


"Tidak usah takut, mami tidak sejahat yang kau pikirkan."


"Kalau ibumu marah karena kau membawa gadis yang bukan pilihannya, bagaimana?"


Dean terkekeh. "Itu tidak mungkin, Sayang," ditatapnya bibir Kensky yang seperti objek paling indah untuk ditatap, "Sekarang kita masuk, ya."


Kensky menarik napas lalu mengangguk pelan.


Namun bukannya langsung keluar, Dean malah mencium bibir Kensky untuk menarik semua kegugupan yang ada dalam diri gadis itu.


Setelah puas dengan bibir Kensky, lelaki itu segera turun kemudian membuka pintu di bagian penumpang. "Kau siap?"


Bersambung____