Mysterious CEO

Mysterious CEO
Perasaan Lega.



"Ya, ampun, sebaiknya kau minum dulu. Sepertinya kau sudah kekurangan cairan karena menangis." Tanisa menyodorkan sebotol air mineral kepada Kensky. Sedangkan ia sendiri menyesap hot cokelatnya, kemudian kembali menatap sahabatnya, "Jadi begini," kata Tanisa, "Kan ibunya Dean pernah berkata begitu ... aku rasa tidak ada salahnya kalau kau menemuinya dan meminta penjelasan dari beliau."


Kensky melepas botol mineral kemudian menarik cangkir berisi hot cokelat untuk dirinya. Setelah menyesap sedikit minuman itu, ia meletakkan kembali cangkir dan menatap sahabatnya. "Percuma, Tan. Dulu aku sudah pernah tanya asalannya, tapi ...," tiba-tiba saja Kensky teringat sesuatu, "Oh, aku ingat, Tan! Sebelum ke Jerman Dean pernah cerita soal masalalunya. Masa lalu tentang ayah tirinya yang telah mengusir dia dan ibunya. Iya, benar, aku ingat soal itu."


Wajah Tanisa mendadak senang. "Benarkah? Lalu apa dia bilang siapa nama ayah tirinya kepadamu?"


Kensky menggeleng. "Tidak dan sekarang aku baru sadar. Mungkin dia sengaja tidak bilang padaku siapa nama lelaki itu, karena lelaki itu adalah ayahku."


Tanisa merasa lega. Meski sudah mendengar apa yang dilakukan Dean terhadap Kensky, tapi ia yakin dan percaya kalau lelaki itu tidak seperti yang dituduhkan mereka. Sebagai sahabat lama, entah kenapa Tanisa ingin sekali Kensky menjalin hubungan dengan Dean. "Nah! Berarti sudah jelas, bukan? Dean pasti sengaja merahasiakan nama ayah tirinya, karena tidak ingin kau tahu bahwa ayah tirinya itu adalah ayah kandungmu. Itu saja cukup bukti bahwa dia tidak ingin menyakitimu, Sky."


"Lalu aku harus bagaimana? Jujur aku sangat mencintainya, Tan? Aku sangat mencintainya."


"Aku tahu, Sky. Bukan hanya kamu, tapi aku juga sendiri bisa melihat kalau Dean juga sangat mencintaimu."


"Tapi aku kan anak musuhnya, Tan. Mana mungkin dia akan jatuh cinta kepadaku."


"Tapi buktinya dia memperlakukanmu dengan cara terhormat, kan? Kalau dia menganggap kau anak musuhnya, sudah lama dia merebut kesucianmu, Sky. Dia pasti sudah lama merusakmu dan meninggalkanmu begitu saja."


Apa yang dikatakan Tanisa benar. Sikap dan perilaku Dean terhadapnya sungguh berbeda dengan sikap lelaki itu kepada Soraya. Jika benar Dean tidak mencintainya, lelaki itu tidak akan mungkin mengajaknya ke pesta ulang tahun Mr. Stewart, wanita tua yang ternyata adalah ibu sekaligus pemilik perusahan di mana ia bekerja. "Lalu, aku harus bagaimana sekarang?" tanyanya pelan.


"Temui dia dan minta penjelasan padanya terutama soal hubungan kalian. Kalau memang Dean tidak mencintaimu sudah pasti dia akan minta putus dan meninggalkanmu, karena semuanya sudah terungkap. Lagi pula kalian kan belum melakukannya, jadi aku rasa kau tidak butuh lama untuk mengobati sakit hatimu itu jika hubungan kalian berakhir."


"Tapi kalau dia ingin bertahan denganku, bagaimana?"


"Minta dia jujur soal perasaan. Kalau perlu kau suruh dia mengakui semua alasan kenapa sampai dia tega melakukan semua ini padamu."


Kensky bernapas lega. "Untung ada kamu, Tan. Tadi aku sempat marah dan sangat membencinya. Aku bahkan berencana akan resign dan tak mau lagi menemui dia mulai besok."


Tanisa tersenyum. "Itu hal biasa ketika seseorang sedang emosi, Sky. Tapi ujung-ujung kau pasti akan menyesal setelah mengambil keputusan itu."


"Kau benar. Baiklah, besok aku akan menemuinya setelah bicara dengan ayahku."


Alis Tanisa berkerut. "Ayahmu?"


"Iya. Sebelum ke sini Rebecca menyampaikan pesan itu kepadaku, katanya ayahku ingin bicara denganku besok pagi."


"Semoga saja dua wanita itu akan mendapatkan hukuman yang setimpal."


Di sisi lain.


Eduardus baru saja tiba di mension yang selama ini ia tempati bersama Mr. Bla. Dengan wajah lesu ia duduk di hadapan pria itu lalu berkata, "Untung saja Anda telah memberitahukanku soal kejadian ini, kalau tidak ... aku bahkan tidak tahu bahwa selama ini mantan anak tiriku masih mengincarku."


Mr. Bla hanya diam. Ia bahkan tidak berkomentar apa-apa saat Eduardus bercerita tentang kejadian barusan dan menyebutkan nama Dean. "Ini sudah malam, sebaiknya Anda istirahat," kata Mr. Bla. Ia hendak berdiri, tapi Eduardus menahannya.


"Boleh aku bertanya?"


Mr. Bla kembali duduk. "Iya, silahkan."


"Siapa yang menyuruh Anda untuk menolongku dari Rebecca?"


Mr. Bla hanya tersenyum. "Maaf, Mr. Oxley, tapi aku sudah berjanji tidak akan mengatakannya," Mr. Bla kembali berdiri, "Sebaiknya Anda istirahat, bukankah besok Anda bilang akan menemui putri Anda?"


Eduardus terdiam. Meski dalam dirinya terdapat rasa penasaran yang tinggi terhadap sosok berhati malaikat yang menyelamatkan dirinya dari Rebecca, mau tidak mau ia harus menurut dan melakukan setiap kata yang diperintahkan oleh pria itu. "Baiklah, aku akan istirahat."


***


"Soraya, bangun! Soraya!"


Suara Rebecca memenuhi kamar anaknya. Karena matahari sudah semakin terang, ia membangunkan anak gadisnya itu. "Soraya, bangun! Kau harus ke kantor."


"Kau harus bangun, Dean akan memecatmu kalau kau tidak masuk kantor hari ini!"


Dengan malas-malasan Soraya menggeliat. Ia perlahan membuka mata lalu menatap ibunya. "Aku tidak mau pergi ke kantor, Ma. Lagi pula Dean kan masih di Jerman, jadi dia tiak akan tahu kalau hari ini aku tidak masuk kantor."


"Memangnya di kantor itu hanya kalian berdua, hah? Kemarin dia menghubungi mama, dia tanya kenapa kau tidak masuk dua hari."


Saat itulah mata Soraya benar-benar terbuka. "Serius, Ma? Lalu Mama jawab apa?"


"Ya, mau tidak kau mama jujur padanya. Toh dia juga tahu kalau Eduardus hilang. Jadi mama memceritakan semua kepadanya termasuk perjodohan Kensky dengan dokter Harvey."


Soraya menyeringai. "Pantasan semalam dia menghubungi Kensky. Mungkin dia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."


Rebecca menatap bingung. "Maksud kamu?"


Sambil duduk Soraya menatap ibunya. "Semalam aku mengorek informasi dari Kensky mengenai Dean. Mama ingat tidak perkataan Kensky semalam yang mana Dean telah berkata, bahwa dirinya adalah calon istri Dean?"


"Iya, mama ingat. Mama sempat mendengarnya."


"Menurutku mereka selama ini telah menjalin hubungan diam-diam, dan ternyata itu benar."


"Tapi kan Dean bilang itu hanya untuk balas dendam."


"Itu benar, tapi kita tidak boleh sepenuhnya percaya. Buktinya dari pengakuan Kensky semalam dia dan Dean punya hubungan. Apakah itu artinya dia akan balas dendam? Aku tidak yakin, Ma. Apalagi sekarang Kensky sudah punya handphone mahal."


Mata Rebecca terbelalak. "Handphone apa?"


Soraya menyebutkan nama ponsel itu kepada ibunya. "Kalau dibandingkan dengan gajiku saja, setahun bekerja belum tentu aku bisa mendapatkannya. Sudah pasti itu pemberian dari Dean untuk Kensky."


"Pantasan dia tidak pernah bilang kalau punya handphone," kata Rebecca, "Lalu di mana benda itu? Dari mana kau tahu itu punya dia?"


"Di kamarnya. Semalam kalau Dean tidak menghubunginya, aku tidak akan tahu kalau dia punya benda itu."


"Memangnya kau tidak tanya langsung dari mana dia membeli benda itu?"


Soraya menggeleng. "Benda itu ketinggalan di atas nakas, dan saat keluar dia lupa membawanya. Jadi saat Dean menelepon akulah yang mengangkatnya."


Rebecca terkejut. "Apa dia tidak tahu kalau kau yang menerima panggilan itu?"


Soraya menyeringai. "Dia bahkan sangat tahu kalau itu bukan Kensky. Dia cukup terkejut saat suaraku menyapanya, karena begitu aku menyapa dia langsung bertanya di mana Kensky."


"Terus, terus?" Rebecca semakin penasaran.


"Dia tanya kenapa aku yang mengangkatnya dan aku menjawab karena Kensky sudah marah kepadanya. Dia heran, tapi aku langsung bilang, bahwa Kensky sudah tahu semuanya."


Ekspresi Rebecca kontan berubah. "Maksudmu? Kau bilang kepada Dean, bahwa Kensky sudah tahu kalau dialah yang menyuruh kita untuk meracuni ayahnya?"


"Iya," jawabnya santai, "Aku ingin tahu apa yang akan dia jawab ketika aku bilang Kensky sudah membencinya, tapi dia tidak berkata apa-apa dan langsung memutuskan panggilan."


"Dasar wanita gila! Kenapa kau mengatakannya kepada Dean, hah? Kau ingin mencelakai mama, hah?"


Soraya menatapnya. "Kenapa Mama harus takut? Kan kata Mama dia sudah membatalkan pernikahan itu, berarti kita sudah tidak ada urusan lagi dengannya, Mama."


Plak!


Rebecca menampar Soraya. "Kalau mau bertindak harus dipikir dulu. Kau tidak tahu alasannya kenapa sampai perjodohan itu dibatalkan."


Bersambung___