Mysterious CEO

Mysterious CEO
Menghadap.



Kensky terbahak. "Tidak, kok. Masa aku menyukai pacar orang."


"Lantas kenapa kau harus galau? Apa dia tidak menyukaimu?"


Kensky menggeleng. "Justru sebaliknya ... dia begitu menyukaiku, tapi aku yang tidak bisa."


"Kenapa?"


Mata Kensky menatap sayu. "Aku sudah dijodohkan oleh ibuku," katanya lemas.


Wajah Kim yang tadinya ceria pun ikut bersedih. Sebagai sahabat__ meski masih baru__ Kim bisa ikut merasakan beban yang saat ini dirasakan Kensky. "Pasti berat buatmu menikahi pria yang tidak kau cintai? Aku juga dulu seperti itu. Tapi seiring berjalannya waktu, orangtuaku pun sadar kalau sebenarnya itu tidak bisa dipaksakan. Demi uang aku rela dijodohkan, tapi semakin lama mereka sadar bahwa uang tidak selamanya membawa kebahagiaan melainkan kehancuran dalam hubungan kami. Dan seandainya aku menerima perjodohan itu, mungkin saat ini aku sudah punya anak."


Kensky menatapnya. "Jadi kau tidak mencintai laki-laki itu?"


"Iya, padahal dia tampan dan kaya raya. Aku dijodohkan karena ayahku terlilit hutang. Tapi untung saja pria itu mau mengerti, dia juga ternyata tidak menginginkan perjodohan itu. Alhasil, orangtuaku tidak memaksa dan sekarang kami justru berteman baik. Karena sudah berteman, dia bahkan sudah tidak menagih lagi hutang itu kepada kami."


Membawa topik hutang ke dalam pembicaraan mereka membuat Kensky semakin menguras pikiran terhadap dirinya dan Dean. Seandainya tidak ada laki-laki yang telah dijodohkan oleh ibunya, ia tak perlu berpikir lagi tentang hubungannya dengan Dean. Ia bahkan akan langsung menerima cinta Dean begitu lelaki itu mengajaknya berpacaran.


"Sky?" Suara lelaki dari arah belakang mengejutkan dua perempuan cantik itu.


Mereka sama-sama menoleh dan berseru, "Mr. Hans?"


"Maaf mengganggu makan siang kalian," balas Mr. Hans. Ia melirik piring yang tidak ada sama sekali di hadapan Kensky, "Apa kamu sudah selesai?"


"Aku tidak makan, kok. Ada apa, Mr. Hans? Apa ada tugas lagi untukku?"


Mr. Hans terkekeh. "Bukan, tapi pak Dean memanggilmu. Beliau menunggumu di ruangannya sekarang juga."


Mendengar nama itu membuat hati Kensky bersorak-sorak senang. Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu telah datang, bahkan saking bahagianya mendengar kedatangan Dean ia sampai tergagap. "Memanggilku? Ada masalah apa?"


Mr. Hans menggeleng kepala. "Aku tidak tahu, tiba-tiba saja beliau datang ke ruanganku dan mencarimu. Karena aku bilang kau sedang makan siang, beliau memintaku untuk menyuruhmu menemuinya setelah makan. Kalau dilihat dari ekspresi, sepertinya ada hal ini yang sangat penting yang ingin beliau bicarakan."


Kensky segera berdiri. "Kalau begitu aku akan langsung menemui beliau sekarang. Kim, kau tidak apa-apa kan aku tinggal sendiri?"


Kim tersenyum lebar. "Tidak apa-apa, Sky. Sudah sana, siapa tahu pak Dean akan menaikan jabatanmu."


Kensky tertawa. "Kau ini. Ya sudah, Mr. Hans, aku titip Kim, ya?"


"Tenang saja, aku tidak akan menjahatinya," ledeknya kemudian duduk di depan Kim dengan mata yang terus menatap tubuh Kensky yang kini pergi meninggalkan kantin, "Aku rasa mereka sama-sama saling menyukai," katanya pada Kim.


Wanita itu tersenyum. "Kau sudah makan, Sayang?"


Mr. Hans tersenyum. "Apa kau menceritakan kepadanya soal hubungan kita?"


"Tenang saja. Aku tidak menyebutkan namamu, kok. Aku hanya bilang kalau pacarku ada di kantor ini."


"Syurkurlah. Tapi kalaupun kau jujur kepadanya soal hubungan kita, aku yakin Sky bisa menjaga rahasia itu," kata Mr. Hans.


"Kau benar. Oh, iya, tadi maksudmu mereka saling menyukai itu siapa? Pak Dean dan Kensky?" tanya Kim.


Mr. Hans mengangguk. "Iya, aku rasa mereka sama-sama saling menyukai. Kau ingat waktu pesta kantor di mension pak Dean?"


"Iya, aku ingat. Aku bahkan sempat khawatir saat pak Dean mengatakan sanksi bagi siapa yang tidak hadir. Padahal kan waktu itu kita sudah janjian."


Mr. Hans tersenyum. "Aku juga, tapi aku rasa beliau sengaja membuat sanksi itu agar Kensky ikut hadir. Sebab begitu aku dan Kensky tiba, Matt langsung mengarahkan kami ke dalam mension. Dan begitu beliau datang, aku dan Sky ditawari anggur."


"Benarkah? Wah, benar-benar kesempatan langkah. Mungkin kau benar jika beliau menyukai Kensky."


"Itu sudah pasti. Apalagi di saat kami sedang minum anggur, mata beliau tak henti-hentinya melirik Kensky."


"Kalau secara pribadi aku setuju mereka berpacaran. Tapi itu tidak mungkin, apalagi beliau sendiri yang membuat aturan kalau sesama kolega dilarang berpacaran," kata Kim.


Wajah Kim kontan memerah. "Aku juga berharap demikian."


Di sisi lain.


Tok! Tok!


"Masuk!"


Suara seruan dari dalam ruangan membuat Kensky menarik napas. Ia berharap tujuan Dean memanggilnya saat ini bukan karena ada masalah yang terjadi atau memecatnya.


Clek!


"Selamat siang, Pak," sapa Kensky begitu masuk ke dalam ruangan.


Sosok lelaki yang berdiri di balik dinding kaca itu pun menoleh. Ia tersenyum samar lalu berkata, "Pagi, Sayang. Apa aku mengganggumu?"


Entah kenapa hati Kensky begitu damai saat melihat sosok Dean yang kini sedang berdiri menatapnya. Meski sedikit menjengkelkan, namun pesonanya yang dipancarkan dari wajah Dean membuat Kensky begitu bahagia saat bersamanya. Ia juga senang Dean kembali bersikap manis kepadanya. "Tidak, Anda sama sekali tidak mengganggu," balas Kensky dengan wajah tersenyum.


Perlahan Dean bergerak mendekati Kensky yang berdiri di depan mejanya. "Lusa kan malam minggu, apa kau punya kencan dengan pria lain?"


"Tidak, aku tidak punya pacar," jawabnya cepat. Kensky sendiri terkejut apa yang baru saja ia katakan. Tak ingin lelaki itu salah mengartikan ia pun segera meralat kata-kata itu dengan cepat, "Eh, maksudku, aku tidak punya kencan dengan siapa-siapa malam minggu besok."


Dean menahan tawa. "Kalau begitu kau mau kan menemaniku ke pesta ulang tahun?"


Mata Kensky terbelalak. "Pesta ulang tahun?"


"Iya, lusa mami ulang tahun. Sebagai hadiahnya, dia ingin aku membawa pacar ke pesta itu. Tapi karena aku tidak punya pacar, kau tidak keberatan kan menjadi pasanganku ke pesta itu?"


"Aku mau, Dean. Aku mau," ingin sekali jawaban itu keluar dari mulut Kensky. Tapi karena sebentar lagi dirinya akan menyandang status istri orang, Kensky pun menelan kembali kata-kata itu dan menjawab, "Kenapa harus aku? Kan Anda bisa mengajak Soraya atau wanita lain."


Dean menyeringai. "Aku hanya ingin pergi bersamamu, Sky. Kau kan calon istriku, jadi sudah sepantasnya aku memperkenalkanmu kepada orangtuaku."


Kata-kata Dean membuat Kensky terharu. "Benarkah? Benarkah dia akan memperkenalkanku kepada ibunya?" pikir Kensky.


"Bagaimana, apa kau mau pergi denganku?"


"Aku___"


"Kumohon," sergah Dean, "Kumohon ikutlah denganku. Aku hanya ingin membuat mami senang di usianya yang mungkin tidak akan lama lagi. Sudah sejak lama dia ingin aku punya pacar, tapi aku tidak menemukan wanita yang cocok. Dan ketika aku sudah menemukannya, gadis yang kucintai malah menolakku demi laki-laki lain."


Kensky tahu gadis yang dimaksud Dean itu adalah dirinya.


"Kumohon, Sky. Sekali ini saja kau menuruti permintaanku, setelah itu aku janji aku tidak akan pernah lagi mengganggu kebahagiaanmu dengan laki-laki pilihan ibumu itu."


Perkataan Dean membuat Kensky terkejut. Ia tak menyangka lelaki itu ternyata begitu serius sampai-sampai mau membawanya bertemu sang ibu. Dia bahkan rela berbohong demi membahagiakan orangtuanya.


"Baiklah, aku mau."


"Serius?" tanya Dean.


"Aku serius, asal dengan satu syarat."


"Apa?" tanya Dean.


"Berhentilah memanggilku sayang. Dan kalau perlu berhentilah menggangguku, karena sebentar lagi aku akan menikah."


Dean menunduk sesaat sebelum matanya kembali menatap gadis itu. "Baiklah jika memang hal itu yang kau inginkan, akan kulakukan," Dean menarik napas panjang, "Terima kasih karena kau sudah meluangkan waktu untuk hari ini. Sampai ketemu nanti lusa, jam delapan malam akan menjemputmu di rumah."


Bersambung___