Mysterious CEO

Mysterious CEO
Bertemu Ibunya CEO.



Kensky mengangguk. Namun, sebelum masuk ke dalam rumah ia menarik napas panjang untuk menghilangkan rasa gugupnya. Mungkin kalau hanya orang biasa yang akan ia temui, dirinya pasti tidak akan segugup ini. Tapi karena malam ini adalah hari spesial bagi pemilik perusahan di mana ia bekerja, rasa gugup itu pun sesekali menyelimuti dirinya hingga saat ini. Kensky takut kalau-kalau orang tua Dean tidak suka dengan kehadirannya dan akan mengusirnya mentah-mentah. Meskipun Kensky bukan pacar asli Dean, tapi malam ini ibu lelaki itu pasti akan beranggapan kalau ia adalah pacarnya.


"Mami?" teriak Dean begitu mereka masuk ke dalam rumah, "Aku datang."


Kensky menatap bingung. "Kenapa sepi? Apa kita terlalu cepat?"


Dean tertawa. "Kita sudah terlambat."


"Ya, ampun, maafkan aku. Lagi pula kau sendiri yang bilang akan menjemputku jam delapan. Kalau aku tahu___"


"Tidak apa-apa, Sayang," kata Dean cepat, "Mami memang tidak merayakan pesta besar-besaran. Mami hanya merayakan pesta di mana hanya ada mami, aku dan kamu."


Mata Kensky terbelalak. "Lalu kenapa kau memberiku gaun sebagus ini?"


"Tidak apa-apa. Aku ingin kau terlihat sempurna di mata mami."


"Iya, tapi kan___"


"Dean! Kau kah itu, Nak?"


Suara wanita dari ruang tamu membuat Kensky menghentikan perkataannya. Jantungnya berdetak cepat dengan tangan yang ikut gemetar. "Kau saja yang duluan, aku takut bertemu ibumu."


Dean tertawa. "Tidak apa-apa, ayo."


Kensky menggeleng seraya mendorong tubuh Dean agar mendahuluinya. Namun saat hendak bersembunyi di balik punggung lelaki itu, saat itulah ibunya Dean muncul.


"Dean?" Matanya menyipit, "Siapa gadis itu, Nak?"


Lelaki itu melangkah maju. "Selamat ulang tahun, Mami," kata sambil memeluk dan mecium pipi wanita paruh baya itu. Karena jarak mereka lumayan jauh dari Kensky, Dean menunduk lalu berbisik tepat di telinganya, "Dia adalah kejutan yang kujanjikan buat Mami."


Wanita paruh baya itu menatap Dean. "Siapa dia, Nak?"


Dean tersenyum lebar. "Mungkin sebaiknya Mami berkenalan langsung dengannya."


Dengan cepat wanita tua itu menatap Kensky yang kini berdiri sambil menatap. "Nona?" panggilnya lembut.


Kensky tersenyum lalu mendekati wanita itu dan memeluknya, "Selamat ulang tahun, Tante."


Wanita itu tersenyum haru. "Terima kasih, Sayang. Kau sangat cantik. Siapa namamu?"


Kensky melirik Dean yang kini berdiri di belakang ibunya sambil tersenyum. "Namaku Kensky Revina Oxley, tapi Tante bisa memanggilku Kensky." Dalam hati Kensky sangat senang karena respon wanita itu ternyata jauh dari dugaannya.


"Kensky? Namamu Kensky?" suara wanita itu sedikit tinggi.


Kensky mengangguk. "Iya, Tante. Namaku Kensky."


"Ya, Tuhan, terima kasih. Terima kasih, Sayang. Terima kasih kau sudah mau datang ke rumah ini. Aku sangat merindukanmu."


Kensky mendadak bingung saat mendengar perkataan wanita itu. Tapi karena wanita yang sering disapa Mrs. Stewart itu sudah memeluknya lagi, mau tidak mau Kensky menghalaukan rasa penasarannya dan balas memeluk wanita itu.


"Aku rasa aku tidak perlu lagi memperkenalkan diri," kata Mrs. Stewart seraya melepaskan pelukannya, "Karena kau sudah tau kalau aku ibunya Dean, kau bisa memanggilku dengan sebutan mami," ia tersenyum sayang, "Kau sangat cantik, Nak. Kau benar-benar sangat cantik."


Wajah Kensky kontan memerah. Namun ia tahu kalau wanita itu pasti mengira dirinya pacar Dean. Tapi karena ini hari bahagia Mrs. Stewart, Kensky pun membiarkan wanita itu menganggapnya demikian. "Tapi aku merasa tidak enak kalau___"


"Ssstt! Jangan membantah," sergah Mrs. Stewart sambil tersenyum, "Pokoknya kau harus memanggilku mami."


Kensky tak menjawab. Ia menatap bingung ke arah Dean, tapi lelaki itu membuang muka.


"Mami, aku sudah lapar," kata Dean yang sengaja tidak melihat.


"Oh maaf, Sayang. Ayo, kita makan. Mami sudah menyiapkan makanan kesukaanmu," Mrs. Stewart menatap Kensky, "Ayo, Sayang. Jangan malu-malu, ya? Anggap ini rumahmu juga."


"Ayo, silahkan," Mrs. Stewart mempersilahkan.


Saat ini mereka sudah berada di ruang makan. Ruangan di mana hanya ada mereka bertiga. Meja hidangan di penuhi berbagai menu lezat buatan Mrs. Stewart, juga kue ulang tahun yang sengaja di letakan di ujung meja.


Kensky menatap bingung. "Yang lain ke mana?"


Pertanyaan polos itu membuat Mrs. Stewart dan Dean tertawa.


"Tidak ada, Sayang. Di sini hanya ada kami bertiga," sahut Mrs. Stewart.


Alis Kensky semakin berkerut. "Apa acaranya sudah selesai?"


Dean mengambil alih. Lelaki itu duduk di samping Kensky, sementara Mrs. Stewart duduk di bagian kepala meja.


"Sebenarnya tidak ada acara ulang tahun, Sky. Tapi hari ini memang ulang tahunnya mami. Aku sengaja mengajakmu ke sini pada hari spesialnya mami, karena aku sudah berjanji akan mempertemukanmu dengan mami."


Wajah Kensky kontan memerah. Tapi lagi-lagi ia menatap bingung karena kenapa harus dirinya yang dipertemukan dengan Mrs. Stewart, padahal dia bukan siapa-siapanya Dean.


"Ayo, dimakan. Sayang. Kamu mau menu yang mana?" Ayam kecap atau ayam goreng tepung?" tanya Mrs. Stewart dengan suara gemetar dan wajah bahagia.


Kensky menatap semua menu yang tersaji di atas meja. Mulai dari ayam goreng tepung, ayam kecap, sapi panggang, ayam bakar, serta sayur capcay dan olahan daging lainnya.


"Ya, Tuhan, menu-menu ini ...." pikir Kensky. Semua menu yang disajikan adalah makanan kesukaannya. Dan hal itu membuat dirinya rindu akan sosok Barbara yang selalu memasak menu-menu tersebut untuk dirinya setiap kali ia memintanya.


"Sky, kenapa?" tanya Dean saat melihat gadis itu terdiam.


Kensky tersentak. "Tidak, aku hanya terharu melihat menu-menu ini," matanya nanar, "Maafkan aku, tapi menu ini mengingatkanku kepada mendiang ibuku."


Mrs. Stewart meraih tangan Kensky. "Maafkan aku karena sudah mengingatkanmu kepada ibumu. Tapi aku sengaja memasak menu ini, karena tahu Dean akan datang. Dia sangat suka ayam goreng tepung dan ayam kecap."


Kensky menatap Dean. "Jadi kau ... Aku tak menyangka, ternyata selera kita sama."


"Benarkah?" tanya Dean.


Kensky mengangguk mantap. "Waktu mami masih hidup, setiap hari dia akan memasak menu-menu ini untukku. Dan hari ini, rasanya aku bisa merasakan kehadiran ibuku di sini."


Dean merangkulnya.


Mrs. Stewart tertawa. "Rasanya hari ini aku bahagia sekali. Kehadiran kalian berdua merupakan kado ulang tahunku yang terindah di tahun ini."


Perkataan Mrs. Stewart membuat Kensky bertanya-tanya, "Apa Mrs. Stewart tahu kalau aku bukan pacar Dean? Apa jangan-jangan lelaki gila ini sudah menceritakan soal diriku kepada ibunya? Karena kalau tidak, masa wanita ini akan merindukanku," pikir Kensky sambil menatap Dean.


"Kenapa?" tanya Dean tiba-tiba sambil melepaskan pelukannya.


"Tidak!" Dengan cepat Kensky mengalihkan pandangan kemudian mengambil menu ayam goreng tepung dan mulai melahapnya.


Sementara Mrs. Stewart yang kini sedang mengunyah, tak henti-hentinya melihat Kensky dengan tatapan rindu yang seakan-akan tak mau kehilangan lagi.


***


Setelah makan malam selesai, Mrs. Stewart langsung mengajak Kensky untuk mengobrol di kamarnya. "Kemarilah," katanya seraya mengajak Kensky agar duduk di atas ranjang tepat di sampingnya. Setelah gadis itu sudah duduk dengan posisi nyaman, Mrs. Stewart pun mulai mengatakan alasan kenapa sampai ia memanggil Kensky, "Maukah kau jujur padaku?" tanya Mrs. Stewart.


Meskipun wanita itu belum mengungkapkan pertanyaannya, tapi Kensky bisa menebak apa yang akan ditanyakan wanita itu kepadanya. "Tentu saja."


"Bisakah kau jujur tentang hubunganmu dengan Dean kepadaku?"


Bersambung___