Mysterious CEO

Mysterious CEO
Menyalahkan CEO.



"Pagi, Ma," sapa Soraya, begitu menginjakan kakinya di anak tangga pertama lalu turun.


Rebecca yang belum sempat naik ke atas kini menatap anaknya dengan mata menyipit. "Pagi. Tumben kau sudah rapi, mimpi apa?"


"Aku mimpi indah, Ma. Aku mimpi Dean dan Kensky bertengkar hebat. Dean memohon-mohon kepada Kensky untuk bertahan, tapi Kensky menolak dan meninggalkannya. Bukankah kalau di dunia nyata itu adalah kebalikan? Berarti Dean tidak akan bermohon dan akan meninggalkannya."


Rebecca menggeleng kepala sambil tersenyum. Ia menatap Soraya yang tubuhnya kini sudah ada di depannya. "Kensky pasti sangat marah padanya, Kensky juga pasti akan membencinya. Tapi dia benci bukan karena perbuatannya kepada Eduardus, melainkan kebohongan Dean dan memafaatkan dirinya untuk balas dendam. Kensky pasti marah karena selama ini dia sudah mempercayai Dean, tapi nyatanya lelaki itu hanya memanfaatkannya."


Soraya tertawa dan mereka sama-sama melangkah menuju ruang makan. "Ayo, kita sarapan. Aku sudah lapar, Ma."


Mereka pun tiba di ruang makan. Wajah Soraya yang tadinya ceria kini berubah muram. "Ma, kenapa menunya hanya itu?" Dilihatnya menu sarapan hanya roti tawar dan segelas susu yang ada di atas meja.


Rebecca menatap sedih. "Nak, uang tabungan mama semakin tipis. Mama harus menghemat pengeluaran beberapa hari ke depan biar kita bisa makan. Kau tahu sendirikan ayahmu tidak pernah lagi memberikan uang kepada mama, jadi mulai sekarang mama harus benar-benar super hemat untuk pengeluaran sekecil apapun itu."


"Baiklah, nanti akan kuberikan uang belanja kalau sudah gajiku sudah masuk."


Mereka sama-sama tersenyum dan mulai sarapan. Soraya menyesap minumnya. Sedangkan Rebecca mulai menyantap roti lapis yang tak lain adalah buatannya sendiri.


"Oh, iya. Ngomong-ngomong Kensky ke mana, Ma? Kenapa semalam aku tidak melihatnya?"


Rebecca hanya mengangkat bahu dengan mulut terisi makanan. Begitu makanan di mulutnya sudah ditelan habis, ia menyesap minumannya kemudian menatap dan menjawab pertanyaan Soraya. "Mama sekarang sudah tidak peduli lagi kepada mereka berdua. Mungkin dia sedang berada di apartemen temannya. Yang mama pikirkan saat ini adalah Eduardus, mama masih penasaran soal keberadaan ayahmu itu. Mama ingin tahu dia tinggal di mana dan siapa yang merawatnya sampai dia begitu sehat-bugar saat ini."


"Benar, Ma, aku juga masih penasaran. Itu juga yang ingin aku tanyakan kepada Mama, tapi sering lupa. Coba pikir, mana mungkin kalau ayah diculik orang jahat terus kondisi ayah sekarang sudah sembuh bahkan terlihat sangat sehat."


"Dan yang lebih membuat mama curiga, kenapa dia datang tepat di saat dokter Harvey datang."


Soraya menyipitkan mata. Ia tampak berpikir sambil menatap sang ibu yang kini sedang balas menatapnya.


"Jangan bilang kalau kita sama pemikiran?" kata mereka bersama kemudian tertawa.


Setelah tawa mereka hilang Soraya langsung berkata, "Aku rasa ada yang tidak beres dengan semua ini, Ma. Jangan-jangan selama ini kita dibohongi."


Rebecca mengalihkan pandangan. "Mama juga berpikir begitu. Karena hal yang tidak mungkin ayahmu diculik dalam keadaan tak berdaya, dan sekarang dia muncul dalam keadaan sehat-bugar. Mama yakin, pasti orang yang menculiknya itu adalah orang baik sehingga dia mau merawatnya. Mama harus menyelidikinya, mama curiga jika semua ini adalah perbuatan Dean," Rebecca menatap Soraya, "Tapi kalau memang benar semua ini perbuatannya, lantas apa tujuan dia sebenarnya? Masa setelah dia membuat Eduardus lumpuh kemudian dia membuatnya sembuh?"


Soraya balas menatap. "Ma, semuanya bisa berubah karena cinta. Aku rasa dia melakukan ini, karena dia telah jatuh cinta kepada Kensky."


Rebecca mengangguk-angguk sambil mengalihkan pandangan. "Benar juga, karena selama ini kondisi Kensky justru baik-baik saja," kepalanya tersentak menatap Soraya, "Kau harus menyelidikinya, Soraya, kau harus mencari tahu kejelasan hubungan mereka. Kalau benar mereka punya hubungan, berarti selama ini Dean telah membohongi kita."


"Itu pasti, Mama tenang saja," kata Soraya kemudian menyudahi sarapannya, "Aku ke kantor dulu."


Di sisi lain.


Dengan paparan sinar matahari pagi yang cerah, Eduardus sedang duduk bersama Mr. Pay di sebuah kedai kopi. Mereka duduk di smoking area sehingga mata mereka bisa melihat para pejalan kaki yang lalu-lalang di sekitarnya.


"Aku sudah memutuskan, Mr. Pay," kata Eduardus, "Aku akan menjual aktiva tetap Kapleng Group kepada Dean."


Mr. Pay menatapnya. "Mungkin dulu para petinggi perusahan mau menerima berita itu, karena mereka menerima kabar bahwa Anda terlilit hutang dan perjanjian dengan pak Dean. Tapi faktanya itu tidak benar, kan? Jadi kalau misalnya Anda ingin menjual aktiva tetapnya tanpa alasan jelas, saya rasa para petinggi Kapleng Group tidak akan setuju."


Eduardus mengendus. "Mereka tidak punya ikatan dengan perusahanku, Mr. Pay. Sekalipun benar mereka telah berjuang bersamaku untuk memajukan Kapleng Group, mereka tidak punya hak melarangku untuk memberikan semua saham perusahan kepada seseorang yang sudah kutentukan. Lagi pula orang yang akan memegang perusahanku bukanlah orang sembarangan."


"Semua itu terserah Anda, Pak Eduardus. Tapi, apa nona Kensky tidak akan keberatan dengan ide Anda ini?"


"Aku sudah bicara dengannya semalam, Mr. Pay, kami berdua sudah sepakat akan memberikan perusahan serta rumah itu kepada Dean dan kami akan membeli rumah baru."


Mr. Pay mengerutkan alis. "Kenapa? Kenapa Anda harus memberikan perusahan dan rumah Anda kepada pak Dean? Apa Anda sudah tidak punya uang? Bukankah operasional perusahan dalam keadaan baik? Keuangannya juga sangat baik, Pak."


Eduardus mengalihkan pandangannya. Tidak mungkin ia harus berkata jujur bahwa Dean dan dia terlibat masa lalu yang cukup mengerikan. Ia tidak mungkin mengatakan kepada Mr. Pay___ sekalipun lelaki itu kuasa hukumnya___ bahwa dia akan membarter perusahan dan rumahnya dengan kekayaan yang pernah dirampasnya dari Dean waktu dulu. Jadi demi menyembunyikan keterikatan masa lalu mereka, Eduardus mencari alasan lain agar Mr. Pay bisa menerima keputusannya.


"Aku ingin menghindar dari Rebecca dan Soraya, Mr. Pay. Aku rasa jika semua kekayaan yang kumiliki dijual kepada orang lain, lama-kelamaan mereka akan meninggalkanku. Soal Kensky aku bisa membeli rumah sederhana dan tinggal bersama dia. Tapi kalau untuk Rebecca dan Soraya, justru aku sudah tidak ingin lagi tinggal satu rumah dengan mereka."


"Baiklah, jika itu sudah keputusan Anda, saya akan selalu mendukung. Tapi ngomong-ngomong soal istri Anda, apa Anda tidak akan menuntutnya secara hukum?"


"Untuk sementara jangan dulu. Kemarin Kensky telah mengungkapkan padaku bahwa Rebecca telah memberikan sertifikat rumahku kepada mister siapa itu namanya, aku lupa. Yang jelas dia memanfaatkan Kensky untuk memberikan sertifikat itu dan berencana akan menjualnya kepada Dean, tapi katanya si mister itu sudah kabur dan membawa sertifikat rumahku."


Mr. Pay terkejut. "Masalah itu juga yang ingin kusampaikan kepada Anda, sertifikat rumah yang Anda maksud itu sekarang sudah aman."


Alis Eduardus berkerut dan menatap skeptis. "Maksud, Anda?"


"Pak Dean pernah mengatakan padaku masalah itu. Beliau telah menyuruh anak buahnya untuk mengamankan sertifikat itu dari orang suruhannya Rebecca. Katanya dia melakukan ini, karena tidak ingin istri Anda mendapat uang dari hasil penjualan yang bukan hak miliknya. Jadi kalau Anda ingin mengambil kembali sertifikat rumah itu, Anda bisa langsung bertemu dengan beliau."


Zet!


Eduardus terperanjat. "Dean melakukan itu? Apa maksud Dean melakukan ini semua?" katanya dalam hati, "Kenapa dia bersekongkol dengan Rebecca untuk merampas semua hartaku, tapi kemudian mengamankan semua itu?"


Bersambung__