
Kensky mengendus. "Untuk apa wanita itu ke sini?" katanya pelan. Dengan terpaksa ia pun berkata, "Masuk!"
Clek!
Rebecca mendorong pintu kamar itu. Dilihatnya ranjang yang dipenuhi berbagai warna gaun serta Kensky yang baru saja selesai mandi dengan rambut masih terbungkus handuk. "Kau mau ke mana, Sky?"
"Ke acara ulang tahun, Ma. Malam ini ibunya temanku ulang tahun. Jadi aku sedikit bingung untuk mengenakan gaun yang mana."
Kensky sengaja tidak menyebutkan kalau temannya itu adalah Dean. Melihat kecemburuan Soraya saat dia mendekati lelaki itu membuat Kensky sebaiknya merahasiakan kedekatannya bersama Dean dari kedua wanita itu. Dan meski tidak memiliki hubungan apa-apa, tapi ada baiknya ia menutup kedekatannya dengan sang CEO dari Rebecca dan Soraya. Dan meskipun Rebecca terlihat baik, Kensky tidak akan mau berbagi masalah pribadi dengan wanita itu.
"Teman, teman kamu yang mana, Sky?" Rebecca sangat penasaran.
Kensky bisa menebak ada nada bermagna ganda dari pertanyaan Rebecca. Dan meski perempuan itu sudah bersikap baik kepadanya, sudah jelas Rebecca akan lebih mendukung Soraya bersama Dean daripada dia. Dan Kensky bersyukur karena sejak awal dia tidak pernah menceritakan soal kedekatannya bersama Dean kepada mereka.
"Teman kampus dulu, Ma," tak ingin Rebecca semakin mengintrogasinya, ia pun langsung mengalihkan pembicaraan, "Bisa bantu aku memilih gaun, Ma?"
"Tentu saja, Sayang," kata Rebecca sambil mendekati ranjang. Dalam hati ia berkata, "Hanya pesta ulang tahun orang miskin, tapi harus pakai gaun."
"Ini sepertinya cocok," kata Kensky seraya mengangkat gaun merah panjang yang atasannya terbuka.
"Jangan, Sky! Itu terlalu norak," kata Rebecca, "Yang ini saja," Ia mengangkat gaun hitam panjang yang bertali satu.
Kensky terkejut. "Mama yakin? Itukan gaun yang lama, Ma. Warnanya juga sudah pudar."
"Tapi ini bagus, Sayang. Simple dan kainnya dingin."
Kensky tahu kalau ibu tirinya itu sengaja memilih gaun yang tak pantas agar dirinya terlihat jelek.
"Pestanya bukan kelas atas kan, Sky? Mama rasa kau lebih cocok memakai gaun yang ini. Kalau kau memakai gaun yang tadi kau pilih, yang ada kau akan terlihat norak."
Seandainya tidak menyangkut dengan Dean, Kensky pasti sudah mengatakan bahwa pesta itu diadakan oleh kalangan atas. Tapi agar tidak membangunkan jiwa detektifnya Rebecca, Kensky langsung setuju saja apa yang disarankan wanita itu. "Mama benar. Kalau begitu aku siap-siap dulu."
"Baiklah, kalau begitu mama keluar dulu. Sebenarnya mama ke sini untuk menanyakan jika kau ingin makan malam menu apa, tapi ternyata kau mau ke pesta."
"Maafkan aku, Ma," kata Kensky seraya mengambil gaun yang dipilihkan Rebecca tadi, "Tapi terima kasih untuk niat baiknya."
"Sama-sama. Mama keluar dulu, ya."
Saat Rebecca sudah keluar dari kamar dan menutup pintu, ia pun segera melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam lebih. "Ya, ampun, waktuku tidak banyak lagi."
Kensky segera melepaskan jubah mandi dan handuk di kepalanya. Ia kemudian mengenakan gaun hitam pudar itu secara asal ke tubuhnya tanpa embel-embel. Rambutnya yang masih basah bahkan tidak dikeringkan lagi dan langsung mengambil tas tangan, sepatu flat dari dalam lemari kemudian pergi keluar kamar.
"Baiklah, untuk sementara seperti ini saja."
Clek!
Ia pun keluar kamar dan menuruni tangga.
Rebecca dan Soraya yang kebetulan berada di ruang tamu langsung menoleh menatap Kensky yang penampilannya terlihat berantakan.
"Sky, kamu tidak make-up?" tanya Rebecca.
"Tidak, Ma. Kan acaranya untuk kalangan bawah. Jadi ada baiknya kalau aku berpenampilan biasa-biasa saja."
"Ya, sudah. Hati-hati."
"Terima kasih. Aku pergi dulu ya, Ma."
Soraya yang sedang duduk di sofa hanya melihat Kensky dengan tatapan meledek. "Mau ke mana dia? Kenapa pakaiannya jelek begitu?"
Rebecca menunggu sampai Kensky menghilang di balik pintu lalu berkata, "Ibu temannya ulang tahun dan tadi dia meminta bantuan mama untuk memilihkan gaun. Jadi, mama pilih saja gaun yang itu."
Rebecca mengangkat bahu. "Mama tidak tahu, tapi katanya tadi teman kampusnya dulu waktu kuliah."
Karena tak ingin membahas Kensky lagi, Soraya mengalihkan topik pembicaraan mengenai hubungannya dengan Dean. "Kapan aku dan Dean akan menikah? Rasanya aku tak sanggup lagi bekerja di perusahan itu. Aku ingin secepatnya menjadi nyonya Stewart dan memecat semua karyawan yang selalu meremehkanku, termasuk Kensky dan sekertaris itu."
Rebecca meraih tangan Soraya kemudian menggenggamnya. "Yang sabar, ya. Mama juga tidak tahu kapan Dean akan melamarmu. Yang jelas setelah misinya kepada Eduardus selesai, dia pasti akan segera menikahimu."
"Tapi kan Mama bisa menyuruhnya untuk mempercepat pernikahan kami. Aku tak sabar lagi ingin hidup enak, Ma. Hidup menjadi istri CEO yang tampan dan kaya raya pasti lebih enak daripada menjadi karyawannya. Aku yakin, pasti banyak wanita yang kecewa karena akulah yang akan dipilih Dean."
Rebecca tersenyum. "Tentu saja, Sayang. Hanya kaulah wanita yang pantas untuk Dean. Kau tenang saja, mama akan bicara padanya agar dia segera melamarmu."
"Ya, sudah, kalau begitu aku keluar dulu. Aku mau cari makan malam di luar."
"Kau tidak ingin makan malam di rumah?"
"Tidak, aku ingin mencari udara segar dulu."
"Ya, sudah. Hati-hati, Sayang."
Di sisi lain.
"Kensky! Kenapa kau ...," Tanisa melihat gaun kusam yang dipakai sahabatnya saat ini, "Kau sudah gila, ya? Masa kau memakai gaun___"
"Jangan dulu mengomel, Tan. Waktunya tidak banyak, cepat bantu aku dandan."
Kensky langsung menerobos masuk, sementara Tanisa masih menatap bingung dengan penampilan Kensky yang sangat tidak pantas.
"Ini gaun pilihan Rebecca," jelas Kensky seraya mencari-cari pengering rambut yang ada di dalam laci.
"Dan kau memakainya?" Tanisa terbahak kemudian berjalan mendekati lemari. Ia mengeluarkan paper bag putih dengan label pakaian terkenal, "Tadi anak buah Dean mengantarkan ini. Aku ingin menghubungimu, tapi lupa kalau kontakmu yang baru tidak ada padaku."
Kensky menghentikan aktivitasnya. "Apa itu?" Ia menatap Tanisa yang sedang mengeluarkan gaun hitam mahal yang atasannya terbuka. Bagian bawahnya agak sempit dan di bagian samping tampak terbelah hingga membuat gaun itu terlihat seksi.
"Wow, gaun ini indah sekali, Sky," kata Tanisa kemudian mengambil kotak kecil dari paper bag yang lain. Dikeluarkannya heels hitam bertali yang tingginya sekitar limat belas senti, "Sepertinya dia tipe lelaki yang tahu segalanya, Sky."
Gadis itu kemudian mendekati Tanisa. "Kau tahu dari mana ini dari Dean?"
"Tadi saat pria itu datang dan memberikan ini, dia sendiri yang langsung mengakui bahwa Dean yang telah menyuruhnya untuk memberikan bingkisan ini kepadamu," Tanisa menatap Kensky, "Sepertinya dia memang ingin kau tampil sempurna malam ini. Secara dia kan akan memperkenalkanmu kepada ibunya."
Wajah Kensky kontan memerah. "Sudahlah. Ayo, sekarang bantu aku. Jam delapan dia akan menjemputku di sini."
Tanisa begitu antusias. Dengan langkah cepat ia menuju lemari dan mengeluarkan semua perlengkapan make-upnya maupun alat-alat yang akan digunakannya untuk men-styling rambut Kensky.
Sementara di posisi lain Kensky sedang sibuk memakai gaun yang diberikan Dean. Dalam hati ia sangat bahagia, karena lelaki itu memberikannya gaun yang cantik dan begitu pas di tubuh indahnya.
"Oke, sekarang tinggal make-up. Tapi aku ingin make-up natural saja, biar tidak kelihatan menor."
Kensky mulai mengambil spons beserta bedak cair. Saat mengoleskan secara tipis ke wajahnya yang cantik, tangannya tampak gemetar. "Tan?"
"Hmm?" Wanita itu sedang sibuk menggulung rambut Kensky dengan alat penggulung rambut.
"Entah kenapa rasanya aku sangat gugup."
Tanisa menatap Kensky dari cermin. "Itu artinya kau sedang jatuh cinta."
Kensky hanya tersenyum. Ia tahu kalau Tanisa memang suka jahil, tapi di satu sisi perkataan sahabatnya itu benar. Ia sudah jatuh cinta kepada bosnya. Jatuh cinta yang setiap hari ia rasakan ketika hendak bertemu lelaki itu.
Bersambung___