
Kensky pun segera menyudahi mandinya. Dengan cepat ia membilas diri kemudian kembali ke kamar. Ia meraih ponsel dari atas nakas, mencari kontak ceo kemudian mengirimnya pesan.
"Aku tunggu kau di kantor Kitten Group jam dua belas siang. Jika ada yang melarangmu masuk, bilang saja kau sudah buat janji temu denganku, Kensky Oxley."
Selepas mengirim pesan itu Kensky menekan lama tombol samping untuk mematikan ponselnya.
Zet!
"Maafkan aku, Dean. Maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini."
***
Di dalam gedung kantor yang tinggi, Dean baru saja menyelesaikan pekerjaannya. "Matt?"
"Iya, Bos?"
"Hubungi Eduardus, katakan aku akan mengajaknya makan siang."
"Siap, Bos."
Sambil menunggu sang supir menghubungi calon mertua, Dean menyandarkan kursi sambil menatap layar ponsel. Begitu nama Kensky terpampang di layar itu, Dean langsung menekan radial untuk menghubunginya.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan cobalah___"
Tut! Tut!
Alis Dean mengerut. Dilihatnya logo jam di pojok atas ponsel. "Tumben jam begini ponselnya tidak aktif."
"Bos, kata Mr. Oxley beliau akan menunggu Anda di restoran langganan," kata Matt tiba-tiba.
Dean hanya mengangguk dan kembali menatap layar ponsel untuk menghubungi Kensky lagi.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah___"
Tut! Tut!
Dean memutuskan panggilannya kemudian berdiri. Karena tidak ingin Eduardus menunggu lama, ia pun segera mengajak Matt keluar untuk pergi makan siang bersama mereka.
Di sisi lain.
Kensky melirik jam tangan yang lima belas menit lagi menunjukan pukul dua belas siang. Karena janji temunya bersama ceo jam dua belas, ia segera berdiri, meninggalkan pekerjaan dan keluar dari ruangan.
Clek!
"Mr. Bon?" panggil Kensky saat melihat lelaki itu sedang berdiri di dekat meja asistennya.
Lelaki itu menunduk hormat lalu mendekat. "Iya, Bu?"
"Kalau ada tamu yang mencari saya langsung suruh masuk saja, ya?"
"Baik, Bu."
Kensky tersenyum. "Terima kasih, Mr. Bon."
"Sama-sama, Bu. Tapi, maaf ...."
Kensky menoleh. "Ada apa, Mr. Bon?"
"Barusan pak Dean menghubungi saya. Beliau menanyakan Anda, karena ponsel Anda katanya tidak aktif."
"Lalu Anda menjawab apa?"
"Saya bilang Anda sedang sibuk di dalam."
Kensky tersenyum. "Terima kasih. Nanti kalau beliau menghubungi lagi, katakan saja ponsel saya batreinya sudah lowbat dan saya lupa mengisi daya."
Lelaki itu tersenyum. "Baik, Bu."
Selepas mengatakan itu Kensky masuk kembali ke dalam ruangannya. Ada rasa bersalah dalam dirinya karena telah melanggar janji dan membohongi Dean. "Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku."
***
Begitu selesai makan siang Dean dan Eduardus akhirnya keluar dari restoran. Karena Eduardus hanya naik taksi, Dean menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang.
Saat ini mereka sudah berdiri di depan restoran yang tepatnya di depan jalan besar. "Biar aku saja yang mengantarkan Anda pulang."
Eduardus menggeleng. "Tidak usah, Nak. Aku bisa naik taksi."
Dean menolak. "Jangan, kecuali aku tidak membawa mobil baru Anda bisa menolaknya. Tapi kan aku membawa mobil, sangat tidak pantas jika aku membiarkan calon mertuaku pulang hanya naik taksi."
Eduardus terkekeh. "Baiklah."
Tepat di saat itu angin meniup kencang. Eduardus yang kebetulan mengenakan topi tiba-tiba benda itu terlepas akibat tiupan angin.
Baru saja ingin melangkah, Eduardus tiba-tiba lari ke tengah jalan untuk mengambil topinya.
Dean terkejut, di saat bersamaan sebuah mobil sedang melaju ke arah Eduardus. "Papi awas!" Dean berteriak, tapi karena Eduardus tidak mendengarnya. Ia segera berlari untuk menghampiri Eduardus dan ...
Brak!
Di sisi lain.
Kensky yang sedang duduk di kursinya pun tiba-tiba gelisah. Diliriknya jam tangan yang sudah menunjukan pukul satu siang. "Aneh, kenapa dia belum datang? Apa mungkin dia tidak tahu lokasiku di mana?" Dengan cepat ia segera mengambil ponsel dan mengaktifkannya.
Ting! Ting! Ting!
Rentenan notifikasi masuk ke dalam ponsel Kensky. Karena pikirannya saat ini adalah ceo, ia segera membuka pesan dari laki-laki itu dan mengabaikan pesan dari Dean.
"Aku ada janji temu siang ini. Mungkin selepas makan malam nanti aku baru bisa menemuimu."
Kensky merasa bodoh dengan tindakannya sendiri. Seandainya ia tidak mematikan ponsel tadi setelah mengirim pesan kepada ceo, mungkin sekarang ia tak perlu segelisah ini karena menunggu kedatangannya. Dengan cepat ia pun keluar dari gelembung pesan ceo dan membuka pesan Dean.
"Kenapa ponselmu tidak aktif? Aku baru saja selesai meeting dan akan mengajak ayahmu makan siang. Kau sendiri jangan lupa makan, ya. Aku cinta kamu, Sky."
Kensky tersenyum haru membaca pesan itu. Matanya bahkan berkaca-kaca karena dilanda rasa bersalah akibat sikapnya kepada Dean yang telah melanggar janji. Dan untuk menebus kesalahannya ia segera menekan radial untuk menghubungi sang pujaan hati.
"Halo?" sapa Kensky begitu panggilan terhubung.
"Halo, Nona."
"Matt! Mana Dean?"
"Bos ditabrak mobil, Non. Sekarang bos ada di rumah sakit dan tidak sadarkan diri."
Zet!
Ponsel di tangan Kensky langsung terjatuh.
"Halo, Non? Halo?" Suara Matt terdengar dari balik ponsel, tapi Kensky mengabaikannya.
Dengan tubuh gemetar dan rasa bersalah Kensky duduk sambil menangis. Merasa hal itu adalah kesalahannya, ia segera berdiri dan meraih tasnya.
Clek!
Mr. Bon yang selalu standbye di depan ruangan pun terkejut melihat Kensky sedang menangis. "Ada apa, Bu? Apa yang terjadi? Kenapa Anda menangis?"
"Pak Dean ... Pak Dean kecelakaan."
"Ya, Tuhan, kenapa bisa, Bu?"
Air mata Kensky semakin merebak. "Aku juga tidak tahu, Mr. Bon. Aku harus ke sana, aku harus menemaninya. Aku takut terjadi apa-apa kepadanya."
"Anda akan ke Amerika sekarang?"
"Iya, Mr. Bon, aku harus menemuinya sekarang. Ini semua karenaku, aku telah melanggar perintahnya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadanya, Mr. Bon. Sekarang tolong antarkan aku ke bandara."
Lelaki itu cukup kaget. Tapi karena ia tahu Kensky adalah pujaan hatinya Dean, tanpa berkata apa-apa lagi ia langsung setuju. "Baik, Bu."
***
Di depan ruangan operasi yang ada rumah sakit terbesar dan terkenal di kota itu, sosok Eduardus sedang duduk sambil berdoa. Airmatanya bahkan merebak setiap mengucapkan doa yang ia panjatkan demi kesembuhan Dean. "Tuhan, sembuhkan Dean. Sembuhkan dia Tuhan. Aku berjanji, Tuhan. Jika Engkau menyembuhkan Dean, aku tidak akan pernah lagi berbuat jahat kepada orang-orang. Aku janji, Tuhan, sembuhkan dia. Sembuhkan Dean, Tuhan."
Tepat di saat itu suara dentuman sepatu terdengar semakin dekat. Eduardus yang kebetulan sudah selesai berdoa segera menoleh. Dilihatnya seorang wanita tua yang berjalan sedikit membungkuk dengan rambut yang dipenuhi uban bersama pria berjas yang mengekor di belakangnya.
Matt segera mendekat dan menunduk untuk memberi hormat kepada wanita itu.
Eduardus pun segera berdiri dan menatap wanita yang kini sedang balas menatapnya.
Mrs. Stewart mengalihkan pandangan dari Eduardus lalu menatap Matt. "Apa yang terjadi pada putraku?"
Eduardus mengambil alih. "Maafkan aku, Nyonya. Ini semua kesalahanku."
Mrs. Stewart menatapnya dengan mimik wajah kebingungan. "Apa maksud, Anda?"
Eduardus menelan ludahnya. "Tadi siang aku dan Dean sedang makan siang. Pas sudah bubar, Dean menawarkan diri untuk mengantarku. Aku menolak, tapi dia memaksa. Dan saat topiku melayang tertimpa angin, aku berlari ke tengah jalan untuk mengambilnya. Aku pikir Dean sudah mengambil mobil di parkiran, ternyata tidak. Aku kaget saat dia berteriak dan menghalang mobil yang hendak menambrakku hingga dirinya terlempar."
Mata Mrs. Stewart yang berkaca-kaca kini beralih kepada Matt. "Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Tuan mengalami pendarahan otak. Jadi dokter segera mengambil tindakan untuk mengoperasinya dan sekarang sudah setengah jam lebih operasi sudah berjalan."
"Kensky! Apa Kensky tahu masalah ini?"
Bersambung___