Mysterious CEO

Mysterious CEO
Merindukan CEO.



Setelah menadaptkan keterangan dari Mr. Hans, Kim pun menutup kembali gagang interkom itu lalu menatap Kensky. "Kata beliau file-nya dibawa kembali saja, biar nanti___"


"Kenapa tidak kita simpan saja?" potong Soraya, "Nanti kan kalau pak Dean datang kita bisa langsung memberikan file ini kepada beliau. Jadi Kensky tidak harus ke sini lagi untuk bolak-balik."


Kim tidak setuju. "Tapi sesuai perkataan Mr. Hans file ini harus dibawa kembali, Soraya. Dan sebagai karyawan baru kau seharusnya jangan melanggar perintah, baik dari pak Dean maupun Mr. Hans. Ingat, mereka sama-sama atasan kita."


Kensky menahan tawa saat melihat sikap Kim yang begitu membelanya. Sedangkan Soraya langsung memasang cemburut dan merah karena perkataan Kim yang cukup membuatnya marah. Kensky tahu Soraya memang tidak ingin dirinya bertemu Dean, tapi di satu sisi ia juga ingin melihat reaksi Soraya begitu melihat ia bersama Dean di dalam ruangan yang hanya berdua saja. "Baiklah, aku permisi dulu. Terima kasih ya, Bu Kim."


"Sama-sama, Kensky."


Gadis itu pun pergi meninggalkan mereka berdua. Dan saat memasuki lift, saat itulah pikiran dan hatinya merindukan sosok Dean yang begitu nakal dan romantis terhadapnya. "Kenapa dia belum datang? Apa terjadi sesuatu kepadanya?"


Di sisi lain.


Dalam restoran yang sama dengan tadi pagi, Dean baru saja selesai makan siang bersama seorang lelaki yang bernama Mr. Pay, beliau adalah kuasa hukum Kapleng Group yang sebenarnya. "Ini adalah bukti rekaman pembicaraanku dengan Rebecca." Dean meletakan ponselnya dan memutar rekaman suara yang ternyata adalah pembicaraan terakhir antara Dean dan Rebecca.


'Aku ingin secepatnya kau membayar Kapleng Group agar aku dan Soraya bisa kabur dari sini. Aku sudah tidak peduli dengan rumah ini, Eduardus, maupun Kensky. Karena meskipun aku istrinya, belum tentu aku bisa mendapatkan warisan selama Kensky masih hidup. Jadi daripada tenagaku hanya sia-sia mengurus lelaki tua itu, lebih baik aku menjual perusahan dan rumahnya kepadamu kemudian menikmati uangnya. Biarkan Kensky saja yang mengurus Eduardus. Toh dia adalah anak kandungnya, bukan Soraya.'


Suara Rebecca di balik rekaman itu membuat Mr. Pay sangat terkejut. "Saya tidak menyangka jika selama ini Rebecca memang mengingkan perusahan itu. Dia tidak punya hak sama sekali atas kepemilikan Kapleng Group, Pak Dean. Dan kalaupun dia ingin menjualnya, harus ada persetujuan langsung dari putri kandung pak Eduardus yaitu nona Kensky."


Dean menyeringai. "Sebenarnya aku tidak ingin membelinya. Tapi begitu Rebecca menawarkan akan menjualnya kepadaku, aku langsung teringat pada Anda dan segera menghubungi Anda. Aku tahu perusahaan itu milik istrinya yang pertama dan kalaupun aku jadi membelinya, aku ingin ada persetujuan langsung dari semua pihak, yaitu Eduardus dan Kensky yang selaku ahli warisnya."


"Saya sangat berterima kasih kepada Anda karena sudah memberitahukan kabar ini, Pak Dean. Seandainya Anda tidak memberikan informasi ini, mungkin saya tidak akan pernah tahu bahwa klien saya sedang dalam masalah. Sebab selama ini yang aku tahu Kapleng Group baik-baik saja dan tidak ada masalah."


"Kapleng Group memang tidak ada masalah, karena para penghuninya adalah orang-orang hebat. Dan soal masalah yang dikatakan Rebecca, semua itu hanya akal-akalannya. Aku sempat mengorek sedikit soal persetujuan Kensky jika perusahan itu akan dijual, dan kata Rebecca Kensky telah setuju."


"Apa? Itu tidak mungkin."


"Memang, tapi kata Rebecca dia telah menyewa orang untuk menjadi pengacara Eduardus. Jadi begitu mendengar pengakuan pengacara gadungan itu, Kensky langsung setuju. Intinya mereka telah membohongi Kensky, Mr. Pay. Rebecca bahkan memintaku berpura-pura agar mengakui kepada Kensky bahwa ayahnya punya hutang yang sangat banyak padaku, padahal sepeserpun tidak ada."


Mr. Pay menggeleng-gelengkan kepalanya. "Benar-benar manusia kejam, mungkin Rebecca pikir negara ini bebas hukum sampai tidak berpikir terhadap dampak yang nantinya akan dia terima."


Dean berdecak. "Oh, iya, jika Anda berniat akan membantu Kensky dan melaporkan masalah ini ke kantor polisi, aku bisa menghadirkan saksi kuat untuk memberatkan Rebecca."


"Itu sudah pasti, Pak Dean. Aku pasti akan membantu Kensky dan klien saya. Kasus ini sangat berat, tapi sebelum itu saya harus mengumpulkan semua bukti-buktinya secara jelas. Saya harus bertemu dengan klien saya untuk mengkonfirmasi semuanya. Jika memang beliau setuju akan menuntut perbuatan istrinya, saya akan minta bantuan Anda untuk menghadirkan saksi tersebut."


"Tentu saja. Dan jika ada sesuatu yang memang perlu melibatkanku, jangan sungkan untuk mengatakannya kepadaku secara langsung."


"Itu pasti, Pak. Sekali lagi terima kasih banyak atas bantuan dan informasi Anda. Setelah ini saya akan langsung ke rumah pak Eduardus untuk mengkonfirmasi masalah ini."


Dean mengangguk. "Iya."


"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak Dean. Sekali lagi terima kasih banyak."


"Kembali kasih, Mr. Pay."


Mereka pun berjabat tangan lalu berpisah. Setelah Mr. Pay pergi dan keluar dari restoran itu, Dean segera melebarkan seringainya. "Sebentar lagi kejutan akan menantimu Rebecca."


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel mengejutkan Dean. Dengan cepat ia meraih benda portable itu dari saku jasnya yang mahal dan menatap layar. "Mami?" senyum lebar kini tampak di wajah Dean, "Halo, Mami?" sapanya begitu panggilan terhubung.


"Tentu saja tidak. Aku bahkan sudah menyiapkan kejutan untuk Mami tepat di hari spesial itu."


"Kejutan? Kejutan apa itu, Dean?"


"Kalau aku bilang sekarang itu berarti bukan kejutan lagi dong, Mami."


Sosok di balik telepon tertawa. "Ya, ampun, kenapa mami jadi lalod, sih?" ia tertawa lagi, "Ya, sudah, kalau begitu mami akan tunggu kejutan itu. Tapi sebenarnya meskipun tidak ada kejutan, kehadiranmu sudah cukup membuat mami senang, Dean."


"Mami tenang saja, aku pasti akan datang."


"Ya, sudah, lanjut kerja sana. Mami jadi tidak sabar lagi menunggu hari lusa."


Dean tertawa dan hendak membalas, tapi wanita di balik telepon itu sudah memutuskan panggilannya. Ia tertawa. "Baiklah, sekarang aku harus mempersiapkan kejutan itu untuk mamiku tercinta."


Di sisi lain.


"Hei, kau sedang memikirkan apa?" tanya Kim kepada Kensky. Saat ini mereka sedang menikmati makan siang di kantin kantor, "Sejak tadi aku lihat kau tidak bersemangat, kenapa?"


Kensky mengaduk-ngaduk minumannya dengan pipet. Karena terus memikirkan Dean sejak tadi, ia bahkan tidak punya nafsu makan dan hanya memesan minuman. "Entalah, sepertinya hatiku sedang kacau."


Kim tertawa geli. "Lagi bertengkar dengan pacar, ya?" ledeknya.


Kensky hanya menggeleng. Namun dalam hati ia bertanya-tanya kenapa Dean membuatnya galau, padahal hubungan pun mereka tidak ada. "Apakah itu berarti aku telah jatuh cinta kepadanya?" lirih Kensky.


"Hah?" pertanyaan yang keluar dari mulut Kensky membuat Kim terkejut. Tapi karena kantin cukup berisik dan suara gadis itu sangat pelan, Kim tak sempat mendengar jelas apa yang diucapkan Kensky barusan, "Apa katamu tadi?" tanya Kim lagi.


Kensky pun terkejut. "Hah? Soal apa?"


"Tadi kau bilang apa?"


Alis Kensky berkerut. "Bilang apa? Aku tidak bilang apa-apa, kok."


"Ada. Tadi kau bilang cinta atau apa kalau tidak salah."


Kensky terdiam. "Memangnya kau dengar aku bilang apa?"


"Justru itu aku bertanya, Sky. Suaramu tidak jelas, tapi aku sempat menangkap ada kata cinta yang kau ucapkan tadi dalam kalimatnya."


Mata Kensky terbelalak. "Masa, sih? Ya, ampun," kata Kenky dengan wajah merah merona. Ia tertawa.


Kim pun ikut tertawa. "Kau sedang jatuh cinta, ya?"


Wajah Kensky semakin memerah. "Entalah. Tapi aku sendiri bingung, Kim."


"Bingung kenapa? Jangan bilang kalau kau menyukai pacar orang?"


Bersambung____