Mysterious CEO

Mysterious CEO
Pertemuan Antara Mr. Pay dan Eduardus.



Soraya terdiam, sedangkan Rebecca beranjak dan berdiri di samping ranjang. "Kalau sampai aku di penjara, aku tidak akan mengakuimu sebagai anak."


Soraya yang cukup terkejut akibat tamparan tadi, kini menatap punggung sang ibu hingga berlalu di balik pintu.


Di sisi lain.


Karena sudah berjanji akan menemui Kensky, Eduardus sudah berpakaian rapi dengan kemeja biru berlengan pendek serta celana jins yang senada.


"Aku akan mengantar Anda," kata Mr. Bla menawarkan diri.


Eduardus tersenyum. "Tidak usah, terima kasih."


Mr. Bla mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku celana. "Ini buat Anda. Kalau perlu bantuan, hubungi aku. Kontak aku sudah terprogram di dalam benda ini."


Eduardus melihat sebuah ponsel canggih berwarna hitam. "Anda memberikanku ini?"


"Iya, bukankah benda ini termasuk kebutuhan? Bagaimana Anda bisa menghungiku jika tidak ada benda ini?"


Eduardus terkekeh. "Terima kasih banyak. Selama ini Anda sudah sangat baik kepadaku, Mr. Bla."


Lelaki itu menggeleng. "Bukan aku, Mr. Oxley, tapi atasan akulah yang sangat baik." Tanpa menunggu jawaban Mr. Bla masuk meninggalkan Eduardus.


Sedangkan Eduardus berdiri dengan tubuh diliputi rasa penasaran yang semakin tinggi. "Atasannya?" tanya Eduardus dalam hati, "Siapa atasannya itu dan kenapa dia begitu baik padaku?"


Tak ingin Kensky menunggu lama Eduardus segera meninggalkan mension itu untuk mencari taksi. Sambil menunggu sambil berdiri ia terus bertanya-tanya siapa orang yang begitu baik kepadanya. "Kenapa dia menolongku dari maut? Dan kenapa dia menyuruh orang untuk merawatku hingga sembuh?" Eduardus terus memikirkan tentang siapa orang itu hingga tak terasa taksi pun datang. Ia segera naik dan mengatakan kepada supir di mana alamat tujuannya.


Di sisi lain.


Karena pusing semalam Kensky tidak mengangkat teleponnya, Dean tidak tidur demi menunggu panggilannya direspon. Tapi nyatanya sampai matahari sudah tinggi pun Kensky tidak merespon panggilannya. Dengan kondisi lemas ia berdiri. Tapi belum sempat melangkah, tubuh Dean terhuyung hingga kembali terduduk.


"Bos, Anda tidak apa-apa? Mungkin ini pengaruh karena Anda tidak tidur sejak semalam, ditambah seharian kemarin Anda tidak makan."


Dean memijat kepalanya. "Kensky, Matt, dia ada di mana? Aku ingin bertemu dengannya. Dia tidak membalas teleponku, mungkin dia marah padaku. Aku harus bertemu dengannya, aku harus menjelaskan semua ini padanya."


Dengan cepat Matt meraih ponsel dari saku jas untuk menghubungi seseorang. Sambil menatap sang atasan yang kini terkulai lemas di atas kursi, ia menunggu panggilannya terhubung.


"Halo?" sapa seseorang dari balik telepon.


"Kalian sudah melacak di mana nyonya Kensky berada?"


"Semalam nyonya Kensky menghilang di dalam apartemen dekat kompleks perkantoran, Pak Matt. Pagi ini juga kami belum menemukan tanda-tanda ... Oh, tunggu, tunggu. Nyonya Kensky baru saja keluar bersama seorang wanita berkulit gelap."


"Baik. Pantau terus ke mana pun nyonya Kensky pergi, begitu juga dengan Soraya dan Rebecca."


"Siap, Pak Matt."


Tut! Tut!


Matt memutuskan panggilannya. "Bos, kata mereka nona Kensky baru saja keluar dari apartemen. Aku rasa itu mungkin nona Tanisa, karena mereka bilang apartemen itu berada di kompleks perkantoran dan wanita yang bersama nyonya Kensky kulitnya gelap."


Dean mengerang. "Ya, sudah, antar aku ke mension. Hubungi Kim, katakan bahwa kami sudah tiba. Dan jika hari ini Soraya tidak masuk, besok suruh Kim untuk mengusirnya dari kantor."


"Siap, Bos."


Di sisi lain.


"Pak Eduardus?"


Eduardus menoleh dan menatap sosok lelaki berpakaian rapi. Dengan alis berkerut ia mencoba untuk mengenali orang itu. "Mr. Pay?"


Lelaki itu menghampiri Eduardus lalu mengulurkan tangannya. "Oh, Pak Eduardus, senang bertemu lagi. Selama ini Anda ke mana saja? Saya terus mencari Anda, tapi tidak pernah kutemukan."


Mereka saling berpelukan. "Ayo, kita minum kopi dulu," ajak Eduardus, "Nanti akan kuceritakan padamu."


"Kebetulan sekali, pagi ini saya memang belum minum kopi."


Kedua lelaki itu berjalan masuk ke dalam kedai. Setelah mendapatkan posisi yang nyaman untuk keduanya, Mr. Pay mengutarakan tujuannya kepada Eduardus.


"Menemui Rebecca, untuk apa?" tanya Eduardus dengan nada penasaran.


"Beliau sudah pernah janji akan mengajak saya bertemu Anda. Tapi hari ini saya bersyukur bisa bertemu Anda, Pak Eduardus. Banyak hal-hal aneh yang terjadi selama Anda tidak ada dan saya ingin menanyakan semua itu secara langsung kepada Anda. Tapi sebelumnya saya bertanya soal itu, saya ingin tahu ... sebenarnya Anda dari mana? Saya dengar dari nyonya Rebecca, bahwa Anda sedang melakukan pengobatan tradisional di desa kecil yang jauh dari kota. Benar, begitu?"


Eduardus berdecak. Tepat di saat itu sang pelayan datang. Setelah menyebutkan pesanan mereka, Eduardus kembali bercerita. "Sebenarnya aku tidak melakukan pengobatan apa-apa. Tapi soal kesehatan aku mengakui bahwa diriku benar-benar sakit, bahkan nyaris mati kalau saja tidak ada orang yang menolongku."


Mr. Pay menatap bingung. "Maksud, Anda?"


Eduardus menatap sedih. "Ada seseorang yang memperalat Rebecca untuk membunuhku. Dia menyuruh istriku untuk memasukan obat ke dalam makananku, hingga akhirnya kondisiku tidak berdaya. Aku lumpuh, bahkan tidak bisa bicara sampai akhirnya ada seseorang berhati malaikat datang ke rumah dan membawaku pergi dari sana, namanya Mr. Bla. Seandainya tidak ada Mr. Bla waktu itu mungkin sekarang aku sudah mati, karena persekongkolan yang dilakukan Rebecca bersama orang itu."


Alis Mr. Pay mengerut. "Anda tahu dari siapa cerita ini? Dan siapa orang itu?"


Eduardus membuang napas panjang. "Aku tahu dari Rebecca, dan orang yang memanfaatkannya adalah pemilik Kitten Group."


Zet!


Mr. Pay terkejut. "Maksud Anda pak Dean Bernardus?"


Eduardus juga ikut terkejut. "Anda mengenalnya?"


Mr. Pay tersenyum. "Tentu saja, Pak Eduardus, saya bahkan sangat mengenalnya. Justru berkat bantuan beliau-lah saya sampai tahu apa yang dilakukan oleh nyonya Rebecca terhadap Anda."


Eduardus menatap bingung. "Maksud, Anda?"


"Jadi begini," Mr. Pay memulai, "Waktu itu tangan kanan pak Dean mencari saya di kantor. Beliau mengajak janji temu di restoran dan memberikan bukti-bukti yang ada. Sebentar," kata Mr. Pay. Ia menoleh dan mengambil beberapa file dari dalam tas dan memperlihatkannya kepada Eduardus, "Semua ini adalah bukti pemalsuan data yang dilakukan istri Anda untuk menjual Kapleng Group kepada pak Dean."


Eduardus meraih semua lembaran-lembaran itu dan membacanya. Di saat matanya menangkap semacam surat pernyataan yang pernah ditandatangan olehnya, Eduardus melototkan mata dan berkata, "Ini aku ingat. Malam itu Rebecca menuntutku untuk menandatangani kertas ini," kata Eduardus. Ia membaca isi surat itu, "Brengsek! Jadi dia memalsukan surat ini seakan-akan aku yang membuatnya?"


"Benar. Dan pak Dean memberikan semua ini kepada saya, karena beliau tidak mau membeli perusahan itu jika tidak ada persetujuan dari Anda maupun nona Kensky."


Eduarsus menyipitkan mata menatap Mr. Pay, "Tapi kata Rebecca dia yang telah menyuruhnya, Dean ingin merebut Kapleng Group dariku."


Mr. Pay tersenyum lagi. Kali ini ia merogoh ponsel dari saku celana kemudian mencari file di dalam rekaman. "Anda dengar baik-baik ya, Pak."


Eduardus memasang telinga dengan ekspresi wajah penasaran. Matanya bahkan tanpa berkedip menatap ponsel Mr. Pay yang diletakan di atas meja.


'Itulah yang membuatku takut, Dean. Aku ingin secepatnya kau membayar Kapleng Group agar aku dan Soraya bisa kabur dari sini. Aku sudah tidak peduli dengan rumah ini, Eduardus, maupun Kensky. Karena meskipun aku istrinya, belum tentu aku bisa mendapatkan warisan selama Kensky masih hidup. Jadi daripada tenagaku sia-sia mengurus lelaki tua itu, lebih baik aku menjual perusahan dan rumahnya kepadamu kemudian menikmati uangnya. Biarkan saja Kensky yang mengurus Eduardus sendiri, toh dia adalah anak kandungnya.'


Bersambung___