Mysterious CEO

Mysterious CEO
Sebuah Tips.



Mata Dean berubah sayu. Perlahan ia mulai membuka kancing kemeja Kensky hingga semuanya terlepas. Setelah semua kancing terlepas, ia membuka lebar kemeja itu hingga terlihat bagian subur Kensky yang tegas. Perlahan Dean mulai membenamkan wajah di sana untuk menghirup aroma di balik pelindung tipis yang masih melekat di tubuh Kensky.


Gadis itu mendesah saat Dean menyentuh bagian itu dengan lidahnya. "Dean ...."


Lelaki itu mendongak menatap wajah Kensky. Tangannya perlahan menyusup ke balik punggung untuk membuka pengait yang menghalanginya.


Kensky pasrah dan sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari wajah Dean. "Aku ingin sesuatu yang beda di malam pengantin kita nanti."


Tepat di saat itu pengait bra gadis itu terlepas. Sambil mengangkat pelindung itu dengan pelan Dean berkata, "Kau ingin apa?" Dean menunduk dan mencium pucuknya yang berwarna cokelat kemerahan.


Kensky memejamkan mata sambil mengusap punggung kepala Dean. Setelah lelaki itu kembali mendongak dan menatap wajahnya yang sedang menahan gairah, ia menjawab dengan mata sayu, "Kita kan sudah sering melakukan pemanasan di dalam ruangan. Jadi di saat malam pertama, aku ingin kita melakukannya di luar ruangan."


Dean tersenyum samar sambil memijat dada Kensky dengan penuh kelembutan. "Kau serius mau melakukannya di luar ruangan?"


Kensky balas tersenyum. "Iya, aku ingin sesuatu yang berbeda. Kalau perlu malam itu kita tidak usah tidur dan melakukannya sampai pagi."


Dean terkekeh. "Aku sudah merencanakan soal itu sebelumnya, kau tenang saja. Sekarang kita pikirkan saja kapan dan di mana kita akan melangsungkan pernikahannya, oke?"


Kensky menggigit bibir saat Dean mencium dadanya yang lain. "Lebih cepat lebih baik agar kita cepat melakukannya."


Dean tersenyum samar. Tanpa menjawab perkataan Kensky lagi ia segera beranjak dari ranjang kemudian melepaskan pakaiannya.


Kensky pun demikian. Dengan cepat ia bangun dan melepaskan semua pakaiannya hingga tak tersisa. Meskipun hanya saling bermesraan seperti ini, tapi ia tahu kalau Dean akan menjelajahi semua tubuhnya dengan serangan bibir yang mampu membuat semua urat dalam dirinya ikut merespon.


***


"Kau ingin minum apa?" tanya Tanisa kepada Kensky.


"Hot cokelat saja."


Saat ini ia sudah berada di apartemen Tanisa keesokan harinya. Karena Dean melarangnya untuk bekerja selama persiapan pernikahan mereka, ia terpaksa ke apartemen sahabatnya untuk meminta saran. Dan begitu Tanisa kembali sambil membawa nampan berisi dua cangkir hot cokelat dan beberapa potong sandwich di atas piring, mereka saling berhadapan dan mulai berbagi pengalaman.


"Sekarang katakan apa yang membuatmu gelisah?" tanya Tanisa begitu dirinya menatap Kensky.


"Aku sebenarnya tidak enak jika dia saja yang terus melayaniku. Aku juga ingin melayaninya, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya."


Tanisa mengerutkan alis seraya menyesap minumannya. "Maksudmu melayani apa? Melayani Dean sebagai suamimu?"


"Iya," balas Kensky seraya meletakan kembali minumannya di atas meja, "Sebagai istri kan aku harus melayaninya."


"Aku rasa Dean tidak terlalu menuntut soal itu. Lagi pula kalian kan sangat kaya. Jadi, sangat mustahil dia tidak akan mampu membayar pelayan rumah untuk membantu meringankan pekerjaanmu sebagai istri."


Kensky menahan tawa. "Ya ampun, Tan. Maksud aku melayani di ranjang, bukan sebagai ibu rumah tangga yang baik."


Tawa Tanisa terlepas. "Astaga, aku pikir kau ingin ... Baiklah, baiklah. Jadi ceritanya kau ingin melakukan perlawanan agar Dean senang, begitu?"


"Iya, tapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kau sendiri tahu kan laki-laki pertama yang kekencani adalah Dean. Jadi, aku tidak punya pengalaman apapun soal seksualitas."


Tanisa menarik napas panjang. "Sebenarnya pengalaman seksualitas itu tidak berdasarkan berapa banyak laki-laki yang kau kencani, Sky. Buktinya meskipun hanya Dean tapi kalian tidak pernah melakukannya, kan? Jadi pengalaman itu bisa kau dapatkan dari pengetahuan dan pengalaman teman atau seberapa besar keingintahuanmu dari situs atau pun sebuah bacaan."


"Jadi aku harus membeli buku dan membaca dulu baru bisa tahu soal itu?" kata Kensky dengan nada jengkel.


Kensky tertawa. "Oh, Tanisa, akhirnya penantianku selama ini akan terwujud. Rasa penasaranku terhadap hal itu akan segera terlaksanakan."


Tanisa tersenyum. "Kau pasti akan ketagihan, percaya padaku. Kau pasti akan meminta Dean untuk melakukannya setiap hari."


"Itu sudah pasti, meskipun aku belum merasakan. Tapi hanya dengan lidah saja dia mampu membuatku ketagihan, apalagi dengan keperkasaannya."


Mereka sama-sama tertawa. Setelah menyesap minuman masing-masing, Tanisa pun memulai memberikan tips untuk Kensky.


"Meskipun Dean tidak memintanya, tapi sebagai istri kau harus melakukannya, Sky. Sudah sepantasnya kita harus berperan seperti pelacur ketika bersama suami."


"Kenapa?"


"Karena salah satu faktor penyebab retaknya rumah tangga itu adalah seksualitas. Coba kau lihat di luar sana, banyak sekali suami-suami yang istrinya cantik dan baik, tapi mau mengeluarkan uang ribuan dolar demi memuaskan diri mereka dengan wanita malam yang sudah jelas bukan hanya mereka satu-satunya lelaki yang diajak di atas ranjang. Nah, ketika hal itu sudah terjadi, di situlah akan timbul ketidakcocokan lagi dengan istri sampai akhirnya rumah tangga mereka hancur."


"Tapi lelaki setia tidak akan seperti itu, Tan."


"Benar. Tapi selama kita hidup di dunia sebagai manusia, sudah pasti banyak ujian yang akan kita hadapi, Sky. Laki-laki akan mendapatkan ujian ketika dia kaya dan Tuhan akan memberikan ujian kepadanya berupa wanita, apakah dia bisa setia bersama pasangannya dan tidak tergoda dengan wanita lain? Begitu juga sebaliknya, wanita akan mendapatkan ujian ketika pasangannya tidak punya apa-apa. Apakah wanita itu akan setia dengan suaminya meski hidup mereka melarat? Itulah hidup, Sky. Sebagai perempuan kita tidak boleh menyalahkan laki-laki ketika mereka selingkuh. Memang benar, jika laki-laki setia mereka akan selamanya bersama wanita yang dia cintai bagaimanapun keadaannya. Tapi jika istrinya malas mandi, hobinya hanya makan, tidur, tanpa memperhatikan bentuk tubuh dan wajahnya, apakah suami akan betah? Memang dia mencintaimu apa adanya, tapi ingat ... setiap orang punya batas kesabaran. Coba sebaliknya terjadi padamu, apa kau mau suamimu seperti itu?"


Kensky menatap ngeri. "Sudah pasti aku tidak akan mau, Tanisa."


"Nah, jadi sebagai istri kau harus melayaninya dengan baik. Meskipun dia tidak memintanya, tapi itu semua tergantung kesadaranmu. Jangan pernah menolak ketika dia ingin bercinta, kalau perlu kau yang selalu menggoda untuk melakukannya lebih dulu. Sebab itu bisa menjaga agar dia tidak akan terlena ketika ada wanita nakal yang menggodanya. Kau harus ingat, di luar sana banyak wanita-wanita cantik yang mengincar lelaki kaya. Bahkan mereka tak peduli meski lelaki itu sudah berkeluarga."


"Itu dia, Tan. Makanya cepat katakan padaku tips apa yang harus aku lakukan agar Dean tidak menduakanku?"


Tanisa tersenyum nakal. "Pertama kau harus selalu bersih dan cantik di depannya. Kau harus bersikap lembut dan perhatian kepadanya. Kau juga harus merawat bagian itu di salon-salon terkenal guna membuat suamimu semakin betah dan ketagihan kepadamu."


"Kalau soal perawatan aku memang selalu merawatnya, Tan."


"Perawatan rumah saja tidak cukup, Sky. Kau harus ke salon untuk melakukan waxing atau diuapkan biar tekstur dan aromanya selalu wangi. Kemudian kau harus sering mengonsumsi herbal untuk menjaga elastisitasnya, agar setiap hari Dean merasa seperti meniduri gadis perawan. Dan untuk membuatnya semakin betah__ seperti yang kubilang tadi__ kau harus berperan seperti pelacur."


"Caranya?"


"Apa yang dia lakukan padamu, kau harus membalasnya."


Kensky menatap bingung. "Maksudmu?"


Tanisa meraih gelasnya. "Kau bilang dia paling suka main lidah, kan?"


"Iya."


"Nah, berarti kau juga harus demikian padanya. Meskipun dia tidak meminta, tapi kau harus tahu diri. Masa kau saja yang dibuat enak, sementara dia tidak merasakan balasan yang enak."


Zet!


Mata Kensky melotot. "Maksudmu aku harus ...."


Tanisa menahan tawa. "Itu harus, Sky. Kalau perlu kalian pakai gaya enam sembilan, biar sama-sama enak."


Bersambung___