Mysterious CEO

Mysterious CEO
Tiba Di Eropa.



Kensky duduk di pangkuannya lalu menghapus air mata Dean. "Lebih baik kita jangan membahas itu, sekarang aku ingin menikmati kebersamaan kita berdua di sini."


Saat itu juga Dean baru sadar kalau tubuh Kensky sudah telanjang. Darah yang tadi surut dalam dirinya kini kembali seakan menyusuruh sel-sel dalam tubuhnya untuk bekerja lagi. Organ-organ yang tadinya tidak berfungsi kini merespon saat bibir Kensky yang lembab mengenai lehernya. Dalam hati Dean senang dan dengan hati-hati ia pun membawa tubuh Kensky ke atas ranjang. Sambil tersenyum nakal ia bertanya, "Siapa yang menyuruhmu telanjang, hah?"


Wajah Kensky merona merah. "Tadi aku panik saat melihat wajahmu pucat, aku pikir hanya dengan cara ini bisa menghilangkan rasa takutmu."


Dean tersenyum. "Berarti sekarang aku tahu cara untuk membuatmu bisa telanjang di depanku."


Kensky tersenyum lebar. "Aku mencintaimu, Dean."


Lelaki itu memindahkan posisinya. Jika tadi dia berada di samping tubuh Kenksy, saat ini dia sudah berada di atas tubuhnya. Dengan lembut dan penuh cinta ia mengusap wajah Kensky menggunakan sebelah tangan, sementara tangan yang lain menopang tubuh agar tidak menindih gadis yang ada di bawah tubuhnya. "Kau ingin kita melakukan apa malam ini?" goda Dean.


Kensky mengalungkan kedua tangannya di tengkuk Dean. "Bukannya kau ingin bercinta?"


"Kau yakin?" bisik Dean sambil menarik bibir Kensky dengan bibirnya.


Kensky mengangguk. "Aku yakin, kau kan calon suamiku."


Dean tersenyum samar. "Meskipun kita sudah dijodohkan dan sudah bercinta, tapi seandainya Tuhan tidak menyatukan kita, bagaimana?"


Mata Kensky melotot. "Maksudmu apa, hah?"


Dean menjadi gemas. "Aku hanya becanda, Sayang," ia mengecup bibir Kensky lalu kembali menatap gadis itu, "Sebenarnya tanpa minta ijin pun aku pasti sudah menidurimu, tapi aku mau kita melakukannya setelah menikah."


Kensky sangat bahagia mendengar kata-kata itu. Jika saja Dean adalah lelaki lain, mungkin waktu malam acara kantor lelaki itu sudah merebut keperawanannya. Namun karena lelaki itu adalah Dean, sampai malam ini pun keperawanannya masih terjaga. Dan hal itu membuat Kensky percaya soal pilihan ibunya, bahwa Dean adalah lelaki yang tepat untuk masa depannya. "Terima kasih, mami, papi. Terima kasih karena kalian telah menjodohkanku dengan lelaki seperti Dean," katanya dalam hati.


***


Mereka pun akhirnya tiba di Eropa, lebih tepatnya di Jerman. Matt yang selalu standbye kini membawa semua barang bawaan mereka menuju mobil. Sedangkan Dean membopong tubuh Kensky dalam keadaan tidak sadar karena sudah tertidur.


"Selamat malam, Pak. Bagaimana perjalanan Anda?" sapa seorang lelaki yang ternyata adalah supir Dean sekaligus orang kepercayaannya untuk memantau keadaan perusahan di Jerman.


Saat ini pukul sebelas malam. Sejak naik di pesawat mereka hanya terus bicara selama perjalanan tanpa istirahat. Akhirnya begitu pesawat terbang ke Jerman kantuk berat melanda Kensky hingga melenyapkan kesadarannya. Gadis itu tertidur dan Dean tidak ingin membangunkannya.


"Perjalanan kami sangat menyenangkan. Terima kasih, Mr. Bon."


Mereka pun masuk ke mobil. Matt duduk di bangku depan, di samping Mr. Bon, sementara Dean duduk di bangku belakang bersama Kensky. Selama perjalanan mata Dean terus menatap wajah damai gadis itu. Ada rasa bahagia tersendiri dalam hatinya ketika melihat Kensky tertidur dengan lelap di atas pangkuannya. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Sky. Tidak akan pernah."


Tak berapa lama mereka tiba di sebuah mension mewah milik keluarga Stewart. Mension itu sudah dibangun sejak Dean kuliah di sana. Dan begitu selesai kuliah, Dean masih tinggal di mension itu sampai akhirnya dia bisa membuat Kitten Group meluas hingga ke Amerika. Meski bangunannya sudah lama, tapi tempat itu masih bagus dan selalu bersih berkat pelayan-pelayan rumah yang begitu telaten dalam mengurusnya. Dan karena malam ini sudah sangat larut, Dean pun ikut berbaring di samping Kensky sampai kegelapan melenyapkan kesadarannya.


Matt tidur di kamar tamu. Mr. Bon sudah pergi, sementara Dean dan Kensky kini terlelap di dalam kamar besar yang ternyata adalah kamar Dean dulu waktu dia tinggal di sana saat kuliah.


***


Bias cahaya mentari dari balik cermin membuat wajah Kensky terasa panas. Ia terbangun, menggeliat, kemudian perlahan-lahan membuka matanya.


Zet!


Clek!


Kensky terkejut mendengar pintu terbuka. Dengan cepat ia menoleh ke arah pintu berwarna putih dan melihat sosok yang menghambur masuk.


"Guten Morgen, Schade," sapa Dean sambil membawa nampan berisi sarapan.


Kensky langsung tersenyum. Wajahnya bahkan merona merah saat menyadari bahwa mereka sudah tiba di Jerman. "Kenapa kau tidak membangunkanku?"


Dean meletakan nampan itu di atas meja yang kebetulan ada di dalam kamar. "Kau terlelap dan aku tidak ingin membangunkanmu," ia menghampiri Kensky dan membantunya turun dari ranjang, "Ayo, kita sarapan."


Gadis itu menurut. Rasa bahagia kini semakin meluap-luap dalam dirinya ketika Dean selalu memperlakukannya seperti putri kerajaan. Dalam hati Kensky bertanya-tanya, "Apakah dulu Dean juga memperlakukan pacarnya seperti ini?"


Lelaki iti mengajak Kensky duduk di kursi tepat di sampingnya. "Mau disuapi?"


Kensky menggeleng. "Tidak usah, terima kasih. Aku bisa makan sendiri."


Di meja itu terdapat menu sarapan yang sangat disukai Kensky.


"Dari mana kau tahu aku suka sandwich?" tanya Kensky saat melihat menu sarapan yang ada di atas meja.


"Aku tidak tahu, sungguh. Aku memang suka makan sandwich kalau sarapan. Jadi, aku pikir tidak ada salahnya mengajakmu sarapan dengan menu kesukaanku."


Kensky terkekeh. "Itu tandanya kita berjodoh, hampir semuanya kita banyak kesamaan. Apalagi makanan. Kau suka ayam tepung, aku juga. Dan sekarang kau suka sandwich dan aku juga sangat suka sandwich."


Dean tersenyum sambil menatap Kensky. "Kalau pun nanti Tuhan tidak akan menjodohkan kita ke dalam ikatan pernikahan, aku juga tidak akan mengijinkanmu menikah dengan siapapun kecuali aku."


Kensky balas tersenyum. "Aku juga tidak akan menikah kalau bukan denganmu, Dean."


Dean menepiskan rambut yang menjuntai di bahu Kensky. "Boleh aku bertanya?"


Kensky menatapnya dengan alis sebelah terangkat.


Hal itu membuat Dean tertawa dan mencubit pipinya karena gemas. "Aku ingin tahu, seberapa besar cintamu kepadaku? Maaf, tapi bukannya aku tidak yakin ... aku hanya takut kehilanganmu. Aku tidak mau kau memilih lelaki lain dan meninggalkanku, Sky."


Kensky bisa melihat keseriusan di balik nada Dean. Dia bahkan bisa melihat ketakutan lelaki itu saat matanya yang begitu indah berkaca-kaca waktu mengatakan hal itu. Perlahan sebelah tangannya meraih tangan Dean dan menggenggamnya. "Jujur, selama ini aku belum pernah jatuh cinta. Hanya padamulah aku jatuh cinta, dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah menggantikan posisimu dengan orang lain dalam hatiku."


"Benarkah?" tanya Dean seakan tak percaya.


Kensky mengangguk pelan. "Aku bersumpah, Dean. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menghapus nama Dean Bernardus dari dalam hatiku. Nama itu akan terukir selamanya dalam hati dan pikiranku."


Dean berdiri dan memeluk Kensky. "Terima kasih, Sky, terima kasih. Aku juga tidak akan pernah mencintai perempuan lain selain dirimu. Sama sepertimu, hanya kaulah gadis satu-satunya yang pernah hadir dalam hidupku. Dan itulah yang membuatku takut jika kau pergi dan meninggalkanku."


Bersambung__