
Hari pun berlalu. Dengan bias cahaya terang akibat cuaca yang begitu cerah pagi itu, Dean sekarang sudah berada di dalam apartemennya dengan suasana hati yang tidak secerah langit. Ia sedang duduk sambil menatap layar laptop dengan wajah garang bagaikan hewan buas siap menerkam mangsa yang berani melewatinya. "Hubungi Mr. Bla, Matt. Katakan aku ingin bicara," kata Dean tanpa menatap pria yang kini berdiri di hadapannya dengan setelan jas rapi.
"Baik, Bos," dengan cepat pria itu merogoh ponsel dari saku jas dan mencari kontak Mr. Bla. Dan begitu panggilannya terhubung, Matt segera memberikan benda pipih itu kepada Dean, "Ini, Bos."
Dean meraihnya. "Halo?"
"Iya, Bos?"
"Apa Eduardus masih bersamamu?"
"Iya. Dia sedang istirahat, Bos."
"Bagus. Jangan sampai dia mendengar pembicaraan kita," Dean beranjak dari kursi dan berdiri di depan dinding kaca, "Apa dia pernah menanyakan alasan kenapa kau menculiknya?"
"Ada, Bos. Tapi aku menjawab seperti yang sudah pernah Anda katakan sebelumnya, bila mana aku membawanya karena ingin menyelamatkannya dari Rebecca."
Dean mengangguk mantap. "Lalu apa lagi yang dia katakan?"
"Dia sangat berterima kasih, Bos. Dan ternyata dia masih mengingat apa yang dilakukan Rebecca terhadapnya."
Dean berdecak. "Dia pasti sangat membenci Rebecca."
"Tapi, Bos ... dia sempat bertanya siapa yang menyuruhku."
"Lalu apa yang kau jawab?"
"Aku tidak menjawabnya. Aku hanya bilang kepadanya hal itu tidak penting, yang terpenting keselamatannya yang utama."
Dean menyeringai. "Bagus, Mr. Bla, kau memang jenius. Aku akan memberimu bonus tambahan," katanya pelan, "Tapi besok dia tidak tahu kan kau akan membawanya untuk menemui Rebecca?"
"Tidak, Bos. Anda tenang saja."
"Bagus, pokoknya kalian berdua harus standbye. Begitu aku mendapat informasi mengenai pertemuan itu, aku ingin kau membawa Eduardus ke rumahnya agar dia bisa bertemu Rebecca dan Kensky."
"Siap, Bos. Tapi, apa aku harus mengajaknya pulang dan kembali ke mansion setelah itu atau bagaimana?"
"Tidak usah, kau biarkan saja dia kembali bersama keluarganya. Tapi kalau dia ingin kembali bersamamu, kau harus menerima dan merawatnya seperti saat ini."
"Siap, Bos, Anda tenang saja."
Dean pun memutuskan panggilannya. Sambil menyeringai dengan sebelah tangan di saku celana ia berkata, "Kita lihat saja siapa yang lebih pintar, Rebecca," lelaki itu berbalik menatap Matt untuk mengembalikkan ponsel itu. Sambil menatap si supir ia berkata lagi, "Usahakan Kim dan Soraya tidak tahu kalau saat ini kita sudah tiba di Amerika."
"Anda tenang saja, Bos."
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel membuat mata Dean menoleh ke arah meja. Perlahan ia mendekat dan meraih benda itu lagi. Senyumnya bahkan langsung terlihat lebar saat melihat nama si penelepon. "Halo, Sayangku?" sapanya dengan suara pelan.
"Dean, aku sudah tiba. Kau di mana? Aku ingin sekali bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu."
Dean mendudukan diri di kursinya. "Aku juga. Kau di mana sekarang? Bagaimana kalau aku menyuruh Matt untuk menjemputmu?"
"Tidak usah, biar aku saja yang menemuimu. Aku baru saja tiba di bandara ini, tapi sepertinya aku akan pulang ke rumah dulu untuk menemui papi. Kalau sudah bertemu dengannya hatiku pasti akan tenang."
"Baiklah, kabari aku kalau ada apa-apa."
"Tentu saja. Kalau begitu aku pulang dulu, nanti begitu tiba di rumah aku akan mengabarimu, ya."
"Iya."
Tut! Tut!
Kensky memutuskan panggilannya.
Sedangkan Dean yang wajahnya tadi begitu ceria, kini kembali menjadi datar. "Aku penasaran ... apa ya yang telah direncanakan Rebecca dan Soraya tentang Eduardus? Dan apa alasan mereka jika nanti Kensky menanyakan keberadaan Eduardus yang sebenarnya?" katanya pelan. Ia menatap Matt, "Kau sudah mengirim mata-mata untuk memantau mereka?"
"Bagus, kita tinggal menunggu permainannya dimulai."
Di sisi lain.
Rebecca sedang mondar-mandir di ruang tamu dengan pakaian serba hitam. Karena tahu hari ini Kensky akan datang, ia sudah memikirkan apa yang akan dia katakan ketika gadis itu menanyakan Eduardus.
"Ma, apa dia sudah tiba?" tanya Soraya yang kebetulan baru turun dari tangga.
"Belum, kalau dia sudah dudah mana mungkin mama bisa sesantai ini. Mama akan menangis kalau dia sudah tiba."
"Memangnya Mama bisa menangis?" ledek Soraya.
"Mama sudah siapkan cairan sakti," katanya seraya memperlihatkan botol kecil itu kepada Soraya, "Ini adalah campuran air dan lada. Jadi begitu mengenai mata, air mata mama akan terus mengalir dan merah karena perih."
Soraya terbahak-bahak. Begitu tubuhnya menghampiri sofa, ia segera mendudukkan dirinya di tempat itu. Dengan gaun hitam panjang, serta lipstik merah yang selalu cetar membahana, ia menatap sang ibu dan berkata, "Mama yakin ini akan berhasil? Aku tidak yakin Kensky akan percaya jika ayahnya sudah meninggal."
"Kau tenang saja, mama sudah mengatur semuanya. Jadi kau tidak perlu khawatir. Percayalah, semua ini pasti akan berjalan lancar. Kau mainkan saja peranmu dan mama pun akan memerankan peran mama. Oke?"
Ting! Tong!
Bunyi bel pintu mengejutkan mereka.
"Itu pasti dia," pekik Rebecca, "Mama akan mulai berakting. Kau buka pintunya dan jangan dulu bilang apa-apa, biar mama yang akan bicara kepadanya. Kau cukup bicara seperti yang sudah kita rencanakan."
Soraya pun berdiri dan beranjak menuju pintu.
Sementara Rebecca meraih sebuah botol kecil berupa obat tetes dari saku yang tadi ia tunjukan kepada Soraya kemudian meneteskan ke matanya. "Ya, Tuhan, semoga ini akan berhasil."
Wanita itu mulai berakting. Ia meraih sapu tangan dan menghapus air mata yang perih akibat cairan yang ia teteskan tadi. Rebecca bahkan mengeluarkan suara tangis saat melihat sosok Kensky dan Soraya kini menghambur masuk ke ruangan itu.
"Mama?" panggil Kensky. Dilihatnya Rebecca sedang menangis dengan mata yang memerah.
Rebecca tidak menoleh. Ia menunduk dan berpura-pura tuli agar Kensky tahu pikirannya sedang terbebani.
Kensky menatap Rebecca dan Soraya secara bergantian. "Apa yang terjadi? Kenapa kalian mengenakan pakaian hitam?"
Soraya ikut berakting. Sambil berdiri di depan Kensky yang jaraknya tidak jauh dari Rebecca, ia mulai menguras emosi agar bisa meneteskan air mata lalu berkata, "Ayah, Sky ... ayah ...."
Mata Kensky terbelalak. "Papi kenapa, Soraya? Papi kenapa?"
Soraya semakin menangis. Dengan air mata yang merebak ia menjawab pertanyaan Kensky, "Ayah sudah tidak ada, Sky. Ayah sudah meninggal."
Zet!
Kepala Kensky tersentak menatap Rebecca. "Apa itu benar, Ma? Apa benar papi sudah meninggal?"
Rebecca hanya diam. Ia terus menunduk sambil menangis tanpa menjawab pertanyaan Kensky.
Soraya mengambil alih. "Mama nyaris gila, Sky. Kau lihat kan keadaan mama. Malam setelah mama menghubungimu, aku menemukan ayah di dalam kamar mandi dengan kondisi tidak sadarkan diri. Sepertinya ayah akan bunuh diri malam itu."
Zet!
Lagi-lagi Kensky terkejut. Dengan ekspresi yang campur aduk ia berkata, "Bunuh diri? Kenapa?"
"Sepertinya ayah mengira kau telah meninggalkannya, padahal malam itu aku dan mama sudah menjelaskan semuanya. Tapi ayah tidak mau percaya, dan merasa bersalah karena pernah bersikap jahat kepadamu. Aku dan mama juga sudah membujuk ayah untuk meneleponmu, tapi ayah tidak mau. Dia malah menuduh kami berbohong hanya untuk menyenangkan hatinya. Saat itulah ayah menghilang entah ke mana dan mama meneleponmu agar kau cepat ke sini. Tapi ...." Soraya sengaja menghentikan perkataannya untuk memicu ketertarikan Kensky dan itu berhasil.
"Tapi apa, Soraya?" Mata Kensky mulai nanar.
Soraya menatapnya. "Begitu selesai bicara denganmu, mama sangat antusias menemui ayah di kamar untuk memberitahu bahwa dirimu akan pulang. Tapi begitu masuk di kamar, mama tidak menemukan ayah. Mama mencari-cari keberadaan ayah, tapi tidak ada. Sampai akhirnya aku ikut membantu dan menemukan ayah di kamar mandi belakang. Di sana ayah masuk ke bak dan merendam dirinya ke dalam air."
Bersambung__