
Rebecca menunduk sesaat. Apa yang dikatakan Soraya ada benarnya. Apalagi saat ini Mr. Lamber, selaku pengacara gadungan yang diperintahkannya juga sudah hilang entah ke mana. Sertifikat rumah serta bukti-bukti sah dari Eduardus juga sudah lenyap bersama suaminya. "Menurutmu apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?" tanya Rebecca pelan.
Soraya menatap ke arah lain. "Mama harus menagih janji Dean."
"Tapi kita belum menyerahkan Kapleng Group kepadanya, Soraya. Dan dia tidak akan membayar Kapleng Group kalau tidak ada bukti sah dari Eduardus, sementara bukti-butki itu ada pada Mr. Lamber yang entah sekarang ada di mana," Rebecca berubah kesal, "Brengsek, kalau sampai aku menemukannya, akan kubunuh laki-laki itu."
Soraya kembali menatapnya. Kali ini tatapannya penuh kebencian saat menatap Rebecca. "Aku tak menyangka ternyata Mama egois, Mama lebih mementingkan urusan uang daripada anak Mama sendiri."
Rebecca menatap marah. "Jadi maksud kamu aku harus bagaimana? Aku melakukan semua ini juga demi kamu, Soraya!"
"Kalau begitu suruh Dean menikahiku secepatnya."
Rebecca mengendus dan mengalihkan pandangannya. "Itu tidak mungkin, Soraya."
"Bagi Mama itu tidak mungkin, karena dalam pikirkan Mama hanyalah uang. Mama hanya memikirkan uang, bukan? Mama sudah kehabisan pikiran untuk membantuku, karena kesempatan Mama untuk mendapatkan uang dari penjual Kapleng Group juga sudah tidak ada."
"Soraya!"
Wanita itu berdecak. "Apa? Kenyataannya memang begitu, kan? Kalau memang kesempatan itu sudah hilang dan tidak mungkin ada harapan lagi, lebih baik Mama mendesak Dean untuk segera menikahiku. Dengan begitu meskipun kita tidak mendapatkan keuntungan dari Kapleng Group, tapi setidaknya kita bisa menjadi kaya dengan uang Dean setelah dia menikahiku."
Rebecca tampak berpikir. "Kau benar, Soraya. Lagi pula Eduardus hilang kan bukan kesalahan mama."
"Iya, karena percuma Mama akan melakukan perintah Dean, sementara ayah sudah tidak ada. Jadi sekarang kesempatan Mama untuk menagih janjinya dan suruh dia segera menikahiku."
"Baiklah. Mama akan menemui dan membicarakan hal ini secara langsung, tapi tunggu setelah dia kembali dari Eropa."
***
Di dalam kamar apartemen yang luas dan mewah, Kensky sedang duduk diam di sofa kamar dengan gaun tidur hitam transparan. Pikiran akan dirinya sudah dijodohkan membuatnya terus gelisah. Gelisah bukan karena siapa dan kenapa dirinya dijodohkan, tapi apa benar lelaki yang telah mereka jodohkan itu adalah Dean?
Clek!
Terdengar pintu kamar terbuka dari luar dan tertutup lagi. Kensky terkejut. Ia menoleh dan melihat sosok tampan dengan tubuh bagian atasnya telanjang kini muncul dengan celana pendek berwarna hitam. Lelaki itu tersenyum manis saat menatapnya.
"Ada masalah apa?" Dean bisa merasakan kegelisahan dalam diri Kensky. Raut wajahnya yang biasanya ceria kini lenyap entah kenapa dan itu membuat Dean penasaran.
Kensky balas tersenyum. Jika biasanya ia akan selalu senang melihat sosok lelaki itu, kini pikiran yang terus membebaninya membuat keceriaan itu hilang. "Boleh aku bertanya padamu?"
Dean mendekati dan duduk di sampingnya. Dengan penuh cinta ia menatap Kensky lalu berkata, "Silahkan, kau ingin bertanya apa?"
Kensky menarik napas panjang. "Apa ibumu tahu kalau kita sudah dijodohkan?" Kensky sengaja melontarkan pertanyaan itu sebagai topik pembukaan. Sebenarnya ia ingin Dean menceritakan masalalunya dan alasan sampai kenapa mereka dijodohkan. Ia bahkan masih sangat ingat waktu Mrs. Stewart bilang kalau Dean bukanlah anak kandungnya, dan itu berarti Dean punya sejarah dengan Mrs. Stewart sampai akhirnya keluarga itu bertemu dengan keluarganya dan akhirnya menjodohkan mereka.
Wajah Dean sulit diartikan. Wajah tampan itu kini menatap Kensky tanpa ekspresi apa-apa. "Iya, mami tahu soal perjodohan itu."
Dalam hati Kensky senang, karena lelaki itu berkata jujur. "Bisa kau ceritakan kenapa kita bisa dijodohkan?"
Dean terperanjat. Perlahan ia berdiri dan mendekati jendela. "Aku tidak bisa menceritakannya kepadamu, Sky."
"Kenapa?"
Dean berbalik menghadapi gadis itu. "Belum waktunya."
Alis Kensky berkerut-kerut. "Apa itu artinya kau pernah bertemu keluargaku?"
Kensky menggeleng. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Dean," katanya dengan suara pelan.
Dean menelan habis isi gelasnya, menuangkannya kembali, lalu berjalan mendekati Kensky. Setelah ia duduk di samping gadis itu, gelas yang tadi sudah terisi anggur diberikan kepada Kensky. "Baiklah, aku akan menceritakannya."
Kensky pun tak bisa menolak. Ia menelan habis isi gelas itu kemudian mengembalikannya kepada Dean. "Bukankah kau bilang bahwa aku ini calon istrimu? Berarti sudah sepantaskan kan kalau aku tahu segalanya tentangmu sebelum kita menikah?"
Dean meletakkan gelas kosong itu di atas meja kemudian berbalik memeluk Kensky. Ia menyusupkan kepala gadis itu ke dadanya yang telanjang dan berbulu. "Itu memang harus, hanya saja aku takut menceritakannya kepadamu."
Kensky bisa merasakan ketakutan dalam diri Dean saat telinganya menangkap detak jantungnya yang begitu cepat. "Apa yang membuatmu takut?" Kensky mengusap dada itu dan memainkan bulu-bulu dengan jemarinya yang lembut.
"Aku punya masa lalu yang kelam. Aku takut jika menceritakannya, kau akan membenci dan tidak mau lagi menikah denganku."
Jemari Kensky terdiam. Ia menjauhkan wajahnya dari dada Dean lalu menatap lelaki itu. "Apa alasanmu berkata begitu, Dean?"
"Aku punya masa lalu yang sudah pasti akan membuatmu membenciku, Sky."
Kepala Kensky menggeleng-geleng. "Tidak, Sayang. Aku tidak akan membencimu. Selama kau mau menceritakan semuanya kepadaku dan jujur, aku janji tidak akan membencimu."
Dean mengecup dahi Kensky. "Kau percaya padaku, kan?"
Kensky merasa nyaman. "Aku selalu percaya padamu, Dean."
"Kalau begitu peluk aku dan jangan lepaskan aku."
Gadis itu menurut. Perlahan ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang dan menempelkan kembali telinganya di dada Dean untuk merasakan ketakutan yang diciptakan detak jantung Dean yang begitu cepat dari sebelumnya. Rasa penasaranpun muncul dalam hati Kensky. "Kira-kira apa yang menimpa Dean di masa lalu sampai dia begitu takut?" katanya dalam hati. Kensky melepaskan pelukannya lagi dan menatap Dean.
Zet!
"Dean?" Kensky terkejut melihat wajah lelaki itu yang kini berubah pucat, "Dean! Kau kenapa?"
Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya diam dengan wajah pucat pasih dan bibir gemetar.
Kensky merasa bersalah. "Maafkan aku, Dean. Aku minta maaf kalau sudah membuatmu teringat pada masalalumu," Saat itulah Kensky paham kenapa Dean tidak mau menceritakannya. Dan sekarang dia langsung percaya bila mana lelaki itu tidak membohonginya, "Baiklah, sekarang lupakan soal itu, aku tidak akan membahasnya lagi."
Mata Dean nanar. "Kumohon jangan tinggalkan aku, Sky."
"Aku ada di sini bersamamu, aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu sampai kapanpun."
"Kumohon peluk aku lagi."
Kensky memeluknya semakin erat. Dalam hati ia menangis dan berkata, "Maafkan aku, Dean. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu kembali mengingat semua itu, aku hanya ingin tahu siapa kau sebenarnya dan apa hubunganmu dengan keluargaku sampai mereka mau menjodohkan kita berdua."
Tak ingin lelaki itu semakin hanyut dalam masa lalu yang membuatnya trauma, Kensky melepaskan pelukan kemudian berdiri di depan Dean. Ia melepaskan gaunnya hingga tubuhnya telanjang.
Dean tak merespon. Pikirannya terlalu dalam saat mengingat kembali masa lalu yang membuatnya merasa sakit dan sesak.
Kensky tak mau menyerah. Ia menunduk, mencium dan memeluk Dean, tapi lelaki itu tetap tidak merespon. "Maafkan aku," bisiknya pelan. Kensky hendak menangis.
Namun, saat itu juga kesadaran Dean di masa sekarang langsung kembali dan balas memeluk Kensky di saat air mata bahagia lolos jatuh ke pipinya. "Aku juga minta maaf. Aku minta maaf karena belum bisa menceritakannya kepadamu. Tapi aku janji, suatu saat meskipun berat aku pasti akan menceritakannya kepadamu. Aku janji, Sky."
Bersambung___