
"Kau harus berhasil membujuk bos kamu itu agar bisa memberikan toleransi kepada kita. Kalau perlu kau bilang padanya, bahwa kau dan Soraya akan setia mengabdi di perusahaannya demi melunasi hutang-hutang ayahmu."
"Apa Soraya mau?" tanya Kensky.
"Dia pasti akan mau. Biar nanti mama yang akan membujuknya."
"Baiklah, besok akan kucoba bicara dengan pak Dean."
Rebecca memeluknya. "Oh, Sayang. Yang sabar, ya. Sekarang kau istirahatlah. Kau pasti capek, kan? Atau kau ingin mama buatkan makanan?"
Kensky menggeleng. "Tidak usah, Ma. Terima kasih. Aku tidak lapar, aku hanya ingin istirahat."
"Ya, sudah, kalau begitu tidurlah. Nanti mama akan membangunkanmu kalau sudah waktunya makan siang."
Kensky mengangguk lalu berdiri. Setelah berpamitan pada Rebecca dan Mr. Lamber, ia pun berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar.
Mata Rebecca terus mengawasi kepergian Kensky. Setelah memastikan wanita itu sudah masuk ke kamarnya, Rebecca segera menatap Mr. Lamber dan berkata, "Kerja bagus. Ini bagianmu," Rebecca mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal dari balik bajunya, "Sekarang pergilah sebelum wanita sialan itu kembali lagi."
Mr. Lamber meraih amplop itu dari tangan Rebecca. Setelah memeriksa isinya ia menatap Rebecca lalu berkata, "Senang bekerja sama dengan Anda, Nyonya Rebecca."
"Sudah, sana pergi. Aku akan menghubungimu lagi kalau sudah waktunya untuk datang."
"Oke, oke. Sampai nanti."
Setelah Mr. Lamber pergi dan suasana kembali sepi, Rebecca dengan cepat berjalan menuju halaman rumah. Ia kemudian meraih ponsel untuk segera menghubungi Dean. Wanita itu memang sengaja memilih halaman samping rumahnya, karena di sana ia bisa sepuasnya bercerita tanpa ada yang mendengarnya.
"Halo, Dean?" sapa Rebecca begitu mendengar suara lelaki itu, "Kau masih tidur, ya? Maaf mengganggu, tapi aku punya kabar baik untukmu."
"Kabar apa?" Suara Dean terdengar berat.
"Aku sudah berhasil membayar orang untuk berpura-pura menjadi pengacara Eduardus."
"Lalu kabar baiknya apa?"
"Lelaki itu baru saja datang ke rumah saat Kensky pulang. Dia mengaku kepada wanita sialan itu dengan selembar kertas karangan yang merupakan surat pernyataan dari Eduardus mengenai hutang-hutangnya. Dan di dalam kertas itu terdapat pernyataan yang sudah ditandatangani Eduardus semalam."
"Isi pernyataannya apa?" tanya Dean.
"Intinya Kapleng Group adalah jaminan untuk melunasi hutang-hutang Eduardus kepadamu."
"Wow! Lalu apa respon Kensky?"
"Awalnya dia terkejut. Tapi setelah aku menyarankan padanya cara untuk mengatasi masalah itu, dia akhirnya bisa menerimanya. Kemungkinan besok dia akan membujukmu untuk meminta keringanan."
"Memangnya apa yang kau katakan padanya?"
"Aku bilang dia harus menemuimu dan memohon agar kau mau memberikan toleransi atas apa yang sudah ayahnya perbuat. Toleransi perpanjangan waktu untuk melunasi hutang itu. Aku juga bilang kepadanya, kalau perlu dia harus mengabdi seumur hidup di perusahanmu agar bisa melunasi hutang-hutang ayahnya."
"Tapi itu hanya formalitas, bukan? Kau sendiri yang akan menjual perusahan itu kepadaku, kan?" tanya Dean.
"Bagus, kau memang ibu tiri yang kejam, Rebecca."
Rebecca tertawa. "Aku tak peduli, yang terpenting bagiku sekarang hanyakah uang."
"Oke. Jadi bagaimana, apa sebaiknya aku kirim sekarang saja uangnya kepadamu? Cepat atau lambat kan Kapleng Group pasti akan menjadi milikku."
"Jangan, Dean. Aku tidak mau rencana ini gagal hanya karena kecerobohan kita. Aku mau kita harus mengikuti prosedur. Tidak masalah aku bersabar sedikit, yang penting kau harus menolak di saat Kensky membujukmu untuk meminta toleransi. Kau harus berpura-pura bila mana Kapleng Group adalah jaminan satu-satunya untuk melunasi hutang Eduardus. Dan yang terpenting kau harus meyakinkan Kensky, bahwa ayahnya benar-benar punya hutang kepadamu."
"Aku mengerti maksudmu. Kalau begitu suruh gadis itu sekarang datang padaku. Dengan begitu keputusannya sudah jelas dan aku akan segera menggantikan Eduardus sebagai pemilik Kapleng Group selanjutnya."
"Baiklah, akan kusuruh dia ke tempatmu sekarang."
"Apa kau perlu supir untuk menjemputnya?"
"Tidak perlu, Dean. Biarkan dia naik taksi untuk ke sana."
"Baiklah, aku akan menunggunya. Suruh dia ke mensionku sekarang juga."
"Oke."
Di sisi lain.
Di dalam kamar Kensky teringat akan masalah yang ia hadapi saat ini. Kenangan-kenangan masa kecilnya kembali hadir dalam benaknya. Dengan tubuh yang masih dibalutkan gaun putih yang ia pakai saat pesta semalam, gadis itu berdiri menghadap jendela melihat indahnya pemandangan kota pagi. "Mami ... seandainya mami masih hidup, papi pasti tidak akan seperti ini," lirih Kensky dengan air mata yang mulai menetes, "Papi sedang sakit, Mami. Meskipun papi membenciku, tapi aku takut kehilangan papi. Sejahat-jahatnya perbuatan papi kepadaku, tapi dia tetap ayahku. Dan meski aku marah kepadanya, tapi aku juga sangat mencintai papi seperti aku mencintai mami," Kensky terdiam sesaat kemudian menarik cairan hidungnya dan berkata lagi, "Seandainya mami dan papi hidup akur sejak dulu, aku yakin kalau mami masih ada bersama kami dan hidup kita akan sangat bahagia."
Mata Kensky beralih ke nakas di mana ada foto dirinya yang masih anak-anak. Foto itu diabadiakan oleh Barbara saat ulang tahunnya yang ke enam tahun. Di dalam foto itu terlihat ia sedang duduk di atas pangkuan ibunya sambil memeluk hadiah dalam ukuran besar. Melihat foto itu sontak membuat Kensky teringat pada kotak merah yang diberikan Barbara saat usianya tujuh tahun. Dengan cepat Kensky berlari mendekati lemari, membuka dan mengambil kotak merah yang keadaannya masih sama seperti pertama kali dilihatnya. Ia juga masih ingat kata-kata Barbara malam itu sebelum pergi hingga kecelakaan menimpanya.
'Kensky harus janji ya pada mami, janji bila mana Kensky boleh membuka kotak ini di saat usia Kensky sudah dua puluh tiga tahun.'
Dan kemarin adalah usianya yang ke-dua puluh tiga tahun. Itu artinya ia sudah bisa membuka kotak itu untuk melihat isinya. Kotak yang selama bertahun-tahun membuat Kensky penasaran. Sambil menghela napas panjang Kensky mulai menarik pita berwarna emas itu hingga kotak itu terlihat polos. Perlahan Kensky mulai menyentuh bagian tutup dari kotak itu dan membukanya. Jantungnya bahkan berdegup tak karuan saking penasaran apa yang ada di dalam kotak tersebut.
Zet!
Dilihatnya buku harian kecil berwarna kuning serta foto seorang anak laki-laki yang sedang duduk di samping Barabara. "Siapa ini?" kata Kensky seraya meraih foto yang berukuran sedang. Di dalam foto itu terdapat seorang anak lelaki yang mengenakan jaket tebal berwarna merah dan celana panjang berwarna cokelat. Anak yang usianya sekitar delapan tahun itu sedang duduk di samping Barbara dan mereka sedang tertawa.
"Apa ini foto mami waktu masih muda?" Kensky tersenyum sayang, "Mami sangat cantik."
Tiba-tiba senyum di bibirnya lenyap begitu matanya kembali menatap bocah yang sedang tertawa bersama ibunya. Karena wajah anak itu dalam posisi menyamping saat menghadap Barbara, Kensky tidak bisa melihat dengan jelas wajah anak tersebut. Tapi rambutnya yang cokelat dan hidung mancung membuat Kensky tersenyum.
"Dia tampan, mami. Apa dia adiknya, mami?" lirih Kensky.
Entah kenapa rasa rindu tiba-tiba menyerangnya. Dan saat menatap kosong ia berkata, "Apa kotak ini adalah jawaban dari misteri keluarga mami?"
Kensky pun meletakkan kembali foto itu, kemudian mengambil buku harian berwarna kuning yang merupakan benda kedua yang ada di kotak itu. "Aku heran, kenapa hanya karena buku dan foto ini mami harus membuatku menunggu belasan tahun?"
Kensky pun menggeleng kepala heran dan mulai membolak-balikan lembaran-lembaran buku itu dan membacanya.
Bersambung___