
"Aku justru senang mendengarnya. Ternyata meskipun belum bertemu, tapi kau menghargaiku dan meminta ijin sebelum melakukan hal itu."
"Itu memang harus," Kensky diam sejenak, "Apa boleh aku mengajukan satu pertanyaan lagi kepadamu?"
"Jangankan satu, seribu pun aku tidak akan keberatan."
Kensky tertawa. "Kapan kau akan melamarku?" Pertanyaan bermagna ganda itu membuat Kensky menggigit bibirnya.
"Kau mau sekarang, besok, lusa? Atau___"
"Aku serius," sergah Kensky.
Mereka sama-sama tertawa.
"Maksudku jika aku sudah tahu kapan tepatnya kita akan menikah, segera mungkin aku akan mengajukan resign kepada atasanku," bohong Kensky. Ia sengaja mengajukan pernyataan itu untuk mencari tahu keseriusan lelaki itu, apakah benar dia akan menikahi Kensky?
"Karena saat ini kau akan pergi ke Jerman, aku rela menunggu sampai tahun ini berakhir. Awal tahun depan aku akan melamarmu dan kita akan menikah."
"Tahun depan? Lalu Kapleng Group bagaimana?" Membawa Kapleng Group ke dalam pembicaraan memang sengaja dilakukan Kensky agar ia bisa tahu kejelasan soal bantuan yang telah dikatakan lelaki itu tempo hari.
"Mengenai perusahan itu kau tidak usah khawatir. Soal hutang ayahmu juga kau tidak usah terlalu memikirkannya, karena sekarang semua itu adalah tanggung jawabku. Oke?"
"Tapi apa kau sudah menghubungi atasanku untuk melakukan pelunasan? Aku takut kalau jatuh temponya lewat, mereka tidak akan mau menerima uangmu lagi."
"Sayang, kau tidak usah memikirkan hutang itu lagi. Sekarang sebaiknya kau fokus dulu dan cepat resign dari pekerjaanmu. Awal tahun depan kita akan menikah, dan waktunya sisa enam bulan lagi. Soal keperluan biar aku yang akan mengurusnya, kau tenang saja."
Kensky tak tahu lagi harus berkata apa. Sejak tadi ia ingin mengutarakan keputusan yang sudah ia ambil, tapi mulutnya seakan terkunci. "Baiklah. Sekali lagi terima kasih, ya."
"Sama-sama. Jangan lupa minum obat, ya. Jaga kesehatanmu. Bye."
Tut! Tut!
Untuk saat ini mungkin sebaiknya dia tidak membahas soal itu. Tapi suatu saat Kensky harus melakukannya, ia harus melepaskan laki-laki itu dan mengatakan bahwa Dean-lah yang dipilih untuk menjadi suaminya. "Maafkan aku, Ceo."
Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu kamar mengejutkannya. Ia menoleh dan belum sempat menyahut, suara Rebecca sudah terdengar dari balik pintu.
"Sky, makan malamnya sudah siap."
"Iya, Ma. Aku akan segera turun."
Kensky melepaskan foto dan ponselnya di atas ranjang. Karena rambutnya belum di sisir. Ia beranjak ke meja rias untuk merapikan dirinya yang masih acak dan menghapus bekas airmatanya. Karena perutnya juga sudah lapar, ia langsung menghambur keluar tanpa menyimpan foto dan ponselnya seperti yang biasa ia lakukan.
Clek!
"Mama!" Kensky terkejut mendapati wanita itu masih berdiri di depan pintu, "Aku pikir Mama sudah turun."
"Mama kan ingin menunggumu."
Karena tahu ponsel dan foto itu hanya diletakkan begitu saja di atas ranjang, Kensky segera menutup pintu kamar dan menguncinya dari luar.
Rebecca menurut dan mengikutinya dari belakang. Tapi dalam dirinya kini terbesit rasa penasaran yang tinggi tentang sikap Kensky. "Aneh, tidak biasanya dia mengunci kamarnya. Apa ada yang dia sembunyikan di kamar itu, ya?"
Mereka pun tiba di ruang makan. Seperti biasa, Rebecca mengambil posisi di kepala meja sedangkan Kensky mengambil posisi di samping kanannya kemudian duduk.
"Dia sedang mandi. Sedikit lagi dia pasti turun."
Tak hitung menit pun Soraya muncul. "Masak apa, Ma?" tanya Soraya sembari duduk di depan Kensky, "Hai, Sky."
"Hai," balasnya pelan. Dalam hati Kensky merasa aneh dengan sikap Soraya yang suka berubah-ubah. Kadang gadis itu tidak menegurnya, suka marah, tapi kadang juga tanpa angin dan hujan Soraya bersikap baik kepadanya seperti sekarang ini, "Apa mungkin dia ada sedikit gangguan jiwa kali, ya?" pikir Kensky.
Mereka pun mulai mengambil menu masing-masing dan menikmati makan malam dengan keheningan yang berkepanjangan.
Soraya melirik Kensky yang sedang serius menikmati makanannya. Dalam hati ia berkata, "Apa jangan-jangan kabar itu bohong, ya? Kenapa dia sampai sekarang tidak membahas soal keberangkatannya ke Eropa?"
Rebecca pun demikian. Sesuai dengan kabar yang didengarnya dari Soraya, saat ini ia bahkan masih menunggu suara Kensky tentang keberangkatan itu secara langsung. Ia tak sabar lagi ingin menanyakan apa maksud Dean mengajak anak tirinya itu ke Eropa. Tapi kenyataannya sampai makan malam selesai pun Kensky tidak membahas soal kepindahannya ke Eropa dan hal itu membuat Rebecca dan Soraya semakin penasaran.
"Sky, kau sudah selesai?" tanya Rebecca basa-basi saat melihat gadis itu menutup sendok dan garpunya.
"Iya, Ma. Aku sudah kenyang. Aku ke atas dulu, ya. Ada pekerjaan yang harus aku kerjakan."
Rebecca dan Soraya saling melirik. Tapi demi menjaga agar Kensky tidak curiga, wanita itu mengangguk sambil menatap Kensky.
"Kenapa makanmu sedikit sekali, Sky. Apa kau sakit?" tanya Soraya yang sikapnya sengaja dibuat-buat.
"Aku baik-baik saja, hanya saja malam ini aku sedang tidak nafsu makan."
"Ya, sudah. Cepatlah naik dan selesaikan pekerjaanmu biar kau cepat istirahat," balas Rebecca.
"Baik, Ma. Aku ke atas dulu, ya." Sebenarnya Kensky masih ingin berlama-lama di ruang makan bersama mereka berdua, sekaligus memberitahukan soal kepindahannya ke Eropa. Tapi karena ia meninggalkan ponsel dan foto itu begitu saja di dalam kamar, hal itulah yang membuatnya tidak tenang dan cepat mengakhiri makan malamnya.
Soraya dan Rebecca sama-sama menatap Kensky yang kini pergi meninggalkan ruang makan.
"Kau yakin dia akan ke Eropa?" tanya Rebecca memecahkan keheningan, "Atau mungkin itu hanya akal-akalan si sekertaris itu untuk meledekmu?"
Soraya menatap ibunya. "Entalah, Ma. Tapi kalaupun itu benar, kenapa dia tidak memberitahukannya kepada kita, ya?"
"Itu juga yang mama tunggu-tunggu," tiba-tiba Rebecca teringat sesuatu, "Tapi sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu di dalam kamarnya. Coba saja kau lihat, dia bahkan cepat sekali naik ke atas."
"Menyembunyikan sesuatu?" Alis Soraya mencuat menyiratkan minat.
"Iya, tidak biasanya dia mengunci pintu kamar saat turun makan. Tapi tadi saat mama memanggilnya, dia segera keluar dan mengunci pintu itu dari luar."
"Itu hanya pikiran mama. Kensky kan orang yang introvert pada kita," balas Soraya yang kini meraih puding cokelat buatan Rebecca. Ia mencuilnya dengan ujung sendok kemudian menikmati sambil menatap Rebecca yang wajahnya masih kebingungan, "Apa lagi yang mama pikirkan?"
"Mama tidak memikirkan apa-apa. Mama hanya penasaran, apa yang dia sembunyikan di kamar itu? Padahal biasanya dia akan membiarkan mama masuk ke dalam. Tapi tadi setelah mengetuk pintu dan ingin membukanya, pintu itu terkunci. Mama berdiri lama di depan kamarnya, menunggu sampai dia membukanya dan menyuruh mama masuk, tapi ternyata tidak. Dia malah langsung keluar, mengunci pintu itu dan langsung mengajak mama turun. Aneh, bukan?"
"Mama terlalu mengada-ngada," Soraya mencuil lagi pudingnya.
"Tidak, Soraya. Mama rasa pasti ada yang dia rahasiakan dari kita. Ada yang dia sembunyikan dari kita, Soraya."
Kali ini Soraya mengambil potongan puding itu dalam ukuran yang besar. Belum langsung menjawab perkataan sang ibu, Soraya melahap habis semua puding itu baru menjawab perkataan Rebecca. "Kalau begitu apa yang ingin Mama lakukan untuk menghilangkan rasa penasaran itu?" Soraya tahu apa yang ada di otak ibunya; selama ada hal yang menganjal, Rebecca tidak akan tinggal diam dan terus memikirkan cara untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Mama akan membongkar kamarnya. Mama akan mencari tahu apa yang dia sembunyikan dari kita."
Soraya berdecak. "Daripada Mama pusing memikirkan dia, sekarang Mama ceritakan apa rencana Mama ke depannya untuk Kensky dan dokter Harvey?"
Bersambung___