Mysterious CEO

Mysterious CEO
Merencanakan Pertemuan.



"Jadi kau yang telah membuat papi sembuh hingga sehat kembali?" tanya Kensky yang masih tak percaya.


"Iya."


Kensky ternganga.


Sedangkan Dean seakan tak peduli dan terus menceritakan semuanya. "Aku memang ingin balas dendam kepada ayahmu, tapi aku tidak ingin memberikan satu juta dolar itu kepada Rebecca. Seandainya dia tidak mendesakku untuk menikahi Soraya, mungkin ayahmu saat ini sudah menderita. Dan soal hutang ayahmu kepadaku itu semua idenya Rebecca, aku sampai terkejut waktu dia bilang ayahmu punya hutang padaku dan aku harus menyetujuinya. Aku bahkan kebingungan saat dia memaksaku untuk memberikanmu toleransi, itu sebabnya aku tidak membahas apa-apa saat kau datang padaku karena aku sendiri tidak tahu harus berkata apa."


"Tapi faktanya aku tidak minta toleransi, bukan?" Kensky terkekeh, "Lalu selanjutnya bagaimana?"


Dean mengusap pipinya. "Di samping aku bicara dengan Rebecca, aku juga bicara dengan pengacara asli ayahmu. Beliau bernama Mr. Pay."


"Oh, iya? Jadi di sisi lain kau bersikap jahat, di satu sisi kau bersikap baik?" Kensky menahan tawa.


Dean mengangguk sambil tersenyum. "Aku ingin mendapatkan pembelaan dari Mr. Pay ketika masalah ini terungkap. Jadi aku menceritakan kepada baliau semua yang direncanakan Rebecca. Aku bilang kepada Mr. Pay bahwa menjual rumah dan perusahan itu adalah idenya Rebecca."


"Kau benar-benar manipulator kejam, Dean," ledek Kensky, "Tapi aku bersyukur dan berterima kasih padamu, berkat dirimu dan masalah ini hubunganku dan papi menji akur. Mungkin kalau tidak ada masalah ini sampai sekarang dan selamanya aku tidak dianggap seperti anak kandungnya, karena dia akan lebih sayang kepada Soraya dan istri tercintanya itu."


Dean mengusap bibir bawah Kensky. "Kau tidak usah khawatir soal ayahmu, beliau aman bersama anak buahku"


Kensky balas memegang wajah Dean. "Apa alasanmu melakukan semua ini? Kenapa kau mau menolong ayahku, padahal dia sudah banyak menyakitimu?"


"Kau ingin tahu jawabannya?"


Kensky mengangguk.


"Karena aku mencintaimu, Sky. Alasannya karena aku sangat mencintaimu."


"Tapi aku anak dari laki-laki yang telah menyakitimu, Dean."


Bukannya menjawab pertanyaan gadis itu, Dean langsung memagut bibir Kensky. Tangannya yang besar menyusup masuk ke dalam baju dan meraup bagian suburnya lalu melakukan pijatan dengan penuh kelembutan.


Kensky mendesah dan merespon. Tangannya perlahan mulai terangkat dan mengalung di leher Dean kemudian membalas ciumannya.


Dean membawanya ke atas ranjang, memberikan ciuman, kecupan dan serangan lain hingga gadis itu mencapai puncak dengan sapuan lidahnya yang sangat menggetarkan.


***


Hari itu pun tiba, hari di mana Kensky akan meninggalkan Amerika dan kembali ke Eropa untuk menjalankan tanggung jawabnya. "Boleh aku minta satu permintaan?" tanya Kensky. Saat ini ia sedang sarapan bersama Dean di dalam mansion.


"Jangankan satu, miliaran pun akan kuberikan untukmu."


Kensky tersenyum manis. "Aku ingin bertemu papi sebelum ke bandara."


Dean tak menjawab. Ia hanya menatap Kensky dalam diam dan cukup lama tanpa berkata apa-apa.


Wajah Kensky cemberut. "Tidak apa-apa jika kau tidak mau, tapi sebaiknya ucapanmu yang miliran pun itu ditarik kembali."


Sambil menatap Kensky yang sedang menjajalkan roti ke dalam mulut Dean menahan tawa. Sejenak ia menatap Matt yang berdiri tak jauh dari mereka. "Hubungi Mr. Bla, suruh dia mengajak Eduardus ke kedai kopi dekat bandara."


"Baik, Bos."


Kensky terkejut dan menatapnya. "Mr. Bla, siapa dia dan untuk apa kau menyuruh papi ke kedai kopi?"


Dean meraih sebelah tangan Kensky kemudian menggenggamnya. "Untuk sementara kau harus merahasiakan ini dari ayahmu, aku tidak ingin dia tahu kalau akulah yang menyuruh Mr. Bla untuk mengurusnya. Dan kenapa harus di kedai kopi? Biar kesannya kita yang menyapa ayahmu. Kita akan ke sana seakan-akan bertemu mereka secara kebetulan."


Kensky mendorong kursinya. Tanpa berkata apa-apa ia langsung mendekati Dean dan menciumnya. Setelah ciuman mereka terlepas, Kensky berkata, "Kau benar-benar lelaki yang misterius, Dean. Aku semakin cinta padamu."


Di sisi lain.


"Tuan Oxley, apa kau tidak ingin minum kopi pagi ini?" tanya Mr. Bla sambil memegang koran. Ia sedang duduk di ruang tamu di saat Eduardus muncul dengan pakaian yang sudah rapi.


"Sungguh kebetulan, aku juga ingin jalan-jalan pagi ini untuk mencari kopi."


Lelaki itu berdiri. "Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi bersama. Tapi, apa ada tempat kopi enak yang bisa Anda referensikan pagi ini?"


Eduardus terkekeh. "Aku tidak tahu jika tempat itu bagus menurut Anda, tapi kalau soal rasa kopinya sudah pasti tidak akan mengecewakan."


"Benarkah? Di mana tempatnya?"


"Di dekat kompleks pertokoan."


Mr. Bla tampak berpikir. "Bagaimana kalau kita ke tempat kopi yang biasa aku kunjungi? Di sana kopinya sangat enak, tempatnya juga sangat nyaman. Anda tidak keberatan?"


Eduardus tersenyum lebar. "Ternyata Anda penikmat kopi juga, ya? Kalau tahu begitu, sudah sejak dulu kita keluar dan minum kopi bersama setiap pagi."


Kedua lelaki itu pun keluar dari mansion lalu masuk ke dalam mobil audy hitam yang terparkir di halaman depan. Eduardus mengambil posisi di bangku penumpang, sedangkan Mr. Bla mengambil posisi di balik kemudi.


"Anda siap?" ledek Mr. Bla.


Eduardus tertawa, entah kenapa hari ini ada kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahagia penuh kedamaian yang muncul untuk pertama kali ke dalam hidup seorang Eduardus Oxley.


Di sisi lain.


Dean memanggil supirnya. "Kau sudah menghubungi Mr. Bla?"


"Sudah, Bos. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sini."


Dean menatap Kensky. "Kita tunggu saja, sebentar lagi mereka pasti datang."


"Mereka datang, Bos," kata Matt tiba-tiba.


Kensky langsung mengedarkan pandangan begitu mendengar hal itu. "Di sana! Itu papi. Tapi, siapa yang bersama papi itu? Apa dia yang kau bilang Mr. Bla?"


Dean tersenyum. "Iya."


Kensky sangat antusias. "Bisa aku menemui papi sekarang?"


Dean mengulurkan tangannya. "Silahkan."


Dengan senyum terbaik Kensky segera berdiri. Ia mendekati Dean dan mencium lelaki itu lagi. "Aku cinta kamu, Dean. Aku sangat mencintaimu."


Lelaki itu tersenyum dan hendak membalas, tapi Kensky sudah meninggalkannya. Sambil duduk sendiri ia pun menatap tubuh Kensky yang berlalu untuk menemui Eduardus.


"Matt?"


Pria itu mendekat dan menunduk. "Iya, Bos?"


"Menurutmu apa yang kulakukan ini sudah benar?"


Matt tersenyum. "Sangat benar, Bos."


Di sisi lain.


"Anda ingin pesan apa?" tanya Mr. Bla kepada Eduardus.


"Aku kopi susu saja."


Mr. Bla menatap pelayan yang berdiri di dekat mereka. "Dua kopi susu dan dua roti bakar."


"Baik, Pak."


"Ternyata Anda benar, di sini tempatnya nyaman sekali," kata Eduardus seraya mengedarkan pandangan. Begitu matanya menatap sosok gadis yang sangat ia kenali, dengan cepat Eduarus berdiri dan menyambutnya, "Kensky?"


"Papi!"


Mereka berpelukan sesaat. Setelah Kensky melepaskan pelukannya, Eduardus menatap dan berkata, "Sedang apa kau di sini, Nak?"


Kensky tersenyum. "Maafkan aku karena tak sempat memberitahukannya kepada Papi, hari ini aku akan ke Jerman, Pi."


Ekspresi Eduardus berubah. "Ke Jerman? Untuk apa?"


Kensky ingat bahwa tempo hari ayahnya tidak tahu soal keberangkatannya. "Sebaiknya kita duduk dulu."


Eduardus menurut dan langsung memperkenalkan Kensky kepada sosok lelaki yang duduk di hadapannya. "Mr. Bla, ini putri kandungku."


Kensky yang sudah mengenali sosok itu pun langsung tersenyum dan mengulurkan tangan. "Hai, Mr. Bla, aku Kensky."


"Hai juga, Nyonya," lelaki itu berdiri dan pamit, "Maaf, aku tinggal dulu sebentar. Aku ingin ke kamar kecil."


Eduardus dan Kensky sama-sama mengijinkan. "Silahkan."


Setelah lelaki itu pergi meninggalkan mereka, saat itulah Eduardus kembali menatap Kensky dengan ekspresi wajah yang menyedihkan. "Kau ke Eropa untuk apa? Kau akan meninggalkan papi?"


Kensky menunjukan tempat di mana Dean berada. Dilihatnya lelaki itu sedang melambaikan tangan ke arahnya dan ia membalasnya.


Eduardus ikut menatap. "Itu kan Dean, Nak. Apa kau ke sini bersamanya?"


Pandangan Kensky beralih ke ayahnya. "Iya, Pi. Dia yang mengantarkan aku ke sini. Papi mungkin belum tahu kalau aku dipilih Dean untuk menjadi supervisor di perusahannya yang ada di Jerman."


"Benarkah?" Ekspresi Eduardus terlihat bahagia.


"Benar, tapi baru beberapa hari aku di sana Rebecca menghubungiku dan menyuruhku pulang."


Alis Eduardus berkerut. "Kenapa?"


"Katanya Papi sekarat dan mungkin malam itu Papi akan meninggalkan kami untuk selamanya."


Ekspresi Eduardus berubah marah. "Wanita itu memang jahat. Papi sudah membuat keputusan, Sky, papi akan menceraikan dia."


Kensky terkejut. "Bercerai?"


"Iya."


Bersambung__