
Alis kepala kepolisian itu terangkat sebelah, "Benarkah? Jadi selama ini Anda tidak tahu apa-apa soal perusahan itu?"
"Iya, benar," balas Rebecca. Matanya secara bergantian menatap Mr. Pay dan polisi itu, "Suamiku bahkan tidak pernah menceritakan soal perkembangan perusahan atau berapa penghasilan omset perbulannya kepadaku. Jadi di saat dia jatuh sakit seperti ini, tidak ada salah satu dari kami yang bisa menggantikan posisinya di perusahan itu. Aku rasa dia melakukannya, karena tidak ingin aku ikut campur."
Mr. Pay berdeham. "Itulah alasannya kenapa waktu itu saya ingin bertemu suami Anda, Nyonya. Para petinggi di perusahan terus-terusan menanyakan kabar beliau. Sementara saya mendapat kabar, bahwa Anda melarang mereka untuk bertemu sang atasan. Tidak hanya mereka, bahkan tempo hari Anda juga melarang saya untuk bertemu pak Eduardus, kan?"
Lagi-lagi Rebecca terperanjat. Tapi demi membenarkan keterangannya ia kembali menggunakan alasan yang sama. "Aku tidak mau kalian mengganggu suamiku sampai masa penyembuhan selesai, dia sedang dalam pengobatan dan aku tidak ingin kedatangan kalian hanya akan mengganggu pikirannya."
Mr. Pay melirik kepala kepolisian itu sesaat. "Baiklah, kalau begitu. Kapan Anda bisa membawa saya bertemu dengan beliau? Saya harus mengkonfirmasi keadaan beliau secara langsung, agar saya bisa menjelaskan kepada petinggi-petinggi perusahan bahwa beliau baik-baik saja."
Rebecca tidak ada pilihan lain. Saat ini posisinya benar-benar tersudut. "Minggu depan. Mungkin hari Kamis aku akan mengajak Anda ke sana. Iya, hari Kamis."
"Oke, kalau begitu Kamis nanti saya akan jemput Anda," kata Mr. Pay lalu berdiri.
"Tunggu!" sergah Rebecca. Alisnya berkerut, "Kalau hanya ingin menanyakan keadaan suamiku, kenapa Anda mengajakku bertemu di kantor polisi?"
Mr. Pay kembali duduk. "Mungkin hanya dengan cara ini Anda bisa membawa saya menemui pak Eduardus. Karena tempo hari saya menanyakan di mana keberadaan beliau, Anda bahkan sempat hardik kepada saya. Anda masih ingat itu, kan?"
"Brengsek, benar-benar berani orang ini. Belum tahu apa dia berhadapan dengan siapa?" ketus Rebecca dalam hati.
"... jadi supaya Anda mau bertanggung jawab akan perkataan Anda sendiri, ada baiknya saya menghadirkan polisi sebagai saksi atas apa yang baru saja Anda katakan bahwa Anda akan membantu saya menemui pak Eduardus. Jadi jika Anda melanggarnya___"
"Anda bisa di penjara, Nyonya Rebecca," timpa kepala kepolisian.
Rebecca tersentak. "Apa-apaan ini? Apa kalian ingin menjebakku, hah?"
"Kami tidak menjebak Anda, Nyonya. Sebagai kuasa hukum perusahan saya harus bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang terjadi di Kapleng Group, termasuk hal yang menimpa klien saya. Jadi kalau memang beliau ada di tempat yang Anda sebutkan tadi, saya hanya ingin Anda membawa saya ke sana untuk bertemu beliau dan memastikan keadaannya. Itu saja."
"Gawat kalau begini. Aku harus mencari Eduardus di mana? Sial, suami gila itu pakai acara hilang, lagi," katanya dalam hati, "Baiklah, Kamis pagi aku akan menunggu Anda di rumahku."
Mr. Pay berdiri. "Baik, kalau begitu sampai ketemu hari Kamis."
"Aku sudah bisa pulang?" tanya Rebecca.
"Silahkan. Apa Anda ingin di antar?"
Rebecca menggeleng kepala. "Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri."
Kepala kepolisian itu mengodekan kepada kedua anak buahnya untuk mengantar Rebecca.
Setelah wanita itu pergi, saat itulah kepala kepolisian menatap Mr. Pay dan mulai berbicara lagi. "Anda yakin tidak akan membuat laporan atas perbuatannya?"
Mr. Pay kembali duduk. "Saya akan menunggu sampai hari Kamis. Kalau memang dia tidak bisa menepati janjinya, hari itu juga saya akan menghubungi Anda dan langsung membuat laporan. Saya mau dia dihukum sesuai dengan perbuatannya, Pak."
"Anda tenang saja. Selama ada bukti yang bisa memberatkannya, dia pasti akan dihukum sesuai undang-undang yang belaku."
"Baiklah, kalau begitu sampai ketemu lagi."
***
"Gawat, aku harus bagaimana ini?" Rebecca mondar-mandir di ruang tamu tanpa memperdulikan dapurnya yang berantakan. Beberapa menit yang lalu kedua polisi itu sudah pergi setelah mengantarnya pulang. Dan sekarang dengan jantung berdetak ia tak bisa berpikir apa-apa lagi, "Mereka pasti akan menuduhku menyembunyikan Eduardus," rengeknya, "Tidak! Aku tidak menyembunyikannya. Aku bahkan tidak tahu di mana dia berada!" Rebecca semakin frustasi, "Oh, Eduardus, di mana kamu sekarang?"
Rebecca terus mondar-mandir sambil berpikir. Dan begitu ide muncul dalam benaknya, saat itulah langkahnya terhenti. "Dean! Aku harus meminta bantuannya." Dengan cepat ia meraih ponsel untuk menghubungi lelaki itu.
Sambil menunggu panggilan terhubung ia kembali mondar-mandir dan berkata, "Aku tidak mau di penjara. Aku tidak mau. Kau harus membantuku, Dean. Kau harus membantuku," kata Rebecca seraya menempelkan ponsel itu telinga.
"Ada apa lagi?" sapa Dean begitu panggilan terhubung.
Rebecca langsung terkejut saat suara berat lelaki dari balik telepon itu menyapanya. "Dean, kumohon bantu aku!"
"Bantu apa lagi?"
"Kuasa hukum? Siapa?"
"Aku lupa namanya. Yang jelas dia adalah pengacara aslinya Kapleng Group. Dia memaksa ingin aku mengantarkannya bertemu Eduardus. Dia ingin tahu keadaan Eduardus yang sebenarnya, Dean. Seandainya dia ada di sini, aku tidak peduli meski mereka akan tahu keadaannya yang sebenarnya. Tapi masalahnya sosok yang ingin mereka temui saat ini tidak ada. Jadi aku takut, Dean. Aku tidak mau mereka mengira kalau aku yang menyembunyikan Eduardus."
"Kau ingin aku membantu apa?" Suara Dean terdengar berat.
"Aku ingin kau mencari Eduardus. Aku ingin membuktikan kepada mereka bahwa Eduardus benar-benar masih hidup."
"Itu tidak mungkin. Aku sudah menyuruh semua anak buahku tempo hari saat kau bilang dia hilang, tapi sampai sekarang pun tidak ada salah satu dari mereka yang menemukan suami tercintamu itu. Lagi pula kalau dia ada, tidak mungkin aku akan memanfaatkan Kensky sebagai objek balas dendamku."
"Lalu aku harus bagaimana, Dean? Aku harus mencarinya di mana?" Rebecca nyaris menangis.
"Mungkin si penculik itu sudah membunuh suamimu."
Rebecca semakin takut. "Kau harus membantuku, Dean. Kau harus membantuku, aku tidak mau di penjara."
"Kau mau aku melakukan apa, hah?"
Wajah Rebecca tiba-tiba berbinar ketika mendapat ide. "Kau serius mau membantuku, Dean?"
"Aku serius."
Rebecca menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. "Kalau begitu aku ingin kau menyuruh orangmu untuk melenyapkan pengacara itu."
"Melenyapkan? Kau yakin?"
"Iya, aku yakin. Karena hanya dengan cara itu dia akan berhenti mengganggu kehidupanku. Aku tidak ingin dia bertanya-tanya soal Eduardus padaku lagi, Dean. Dan masalahnya dia sudah menghadirkan saksi seorang polisi. Jadi kalau aku melanggarnya, aku akan di penjara."
"Baiklah, tapi dengan satu syarat."
Mata Rebecca berbinar-binar. "Kau serius mau melakukannya, Dean?"
"Iya, tapi dengan satu syarat."
"Katakanlah. Apa syarat itu, Dean?"
"Kau yakin bisa memenuhi syaratnya?"
"Aku yakin seratus persen, Dean. Asalkan kau mau membantuku terhindar dari pengacara itu. Aku akan melakukan apa saja, yang penting aku tidak akan masuk penjara."
"Baiklah, kalau begitu. Sepertinya kau memang sangat takut di penjara."
"Bukan hanya sangat, Dean. Tapi juga sangat, sangat takut. Dan sekarang cepat katakan apa yang harus kulakukan?"
"Kau tidak perlu melakukan apa-apa, Rebecca. Kau hanya cukup menyetujui saja syarat yang akan aku katakan."
"Oh, demi Tuhan. Katakanlah, Dean."
"Melenyapkan seseorang itu bukan perkara yang gampang, bukan?"
"Aku tahu, itu akan sangat berisiko."
"Sama juga dengan pernikahan, bukan?"
Rebecca terkejut. "Apa maksudmu, Dean?"
Bersambung___