
Di sisi lain.
Tanisa dan Kensky sedang duduk di ruang tamu. Karena lusa dirinya akan kembali ke Jerman, Kensky menghabiskan waktu bersama sahabatnya itu untuk meluapkan apa yang selama ini menjadi beban dalam hatinya. "Ayahku sudah mengakuinya, Tan. Dia juga sudah minta ijin kepadaku untuk memberikan perusahan serta rumah itu kepada Dean."
Tanisa mengedipkan mata sekali sambil menatap Kensky. "Tapi kalau kau menikah dengannya, sudah pasti perusahan dan rumah itu akan menjadi milikmu lagi, kan?"
Kensky berdecak. "Itu dia masalahnya, Tan. Entah kenapa sekarang ada keraguan yang muncul dalam diriku. Aku merasa ragu dengan Dean."
"Kenapa?" tanya Tanisa dengan alis berkerut-kerut.
"Entalah, tapi itulah yang kurasakan saat ini. Aku ragu kepadanya, tapi di satu sisi aku tidak tega meninggalkannya. Kemarin dia sakit dan tidak mau makan karena aku."
"Dia pasti sangat frustasi saat itu. Saat ini kau hanya termakan oleh kata-kata Rebecca dan Soraya, hingga kau menjadi ragu padanya. Kalau memang Dean tidak tulus padamu, tidak mungkin dia sampai sakit karenamu."
Kensky diam sesaat. "Hari ini ayah akan menemuinya di kantor, aku takut dia akan marah dan menyakiti ayah."
"Itu tidak mungkin, Sky," kata Tanisa, "Sejahat-jahatnya ayahmu, dia tetap ayahmu dan kau adalah kekasihnya. Percayalah, ayahmu pasti akan baik-baik saja."
Di sisi lain.
"Dia memecatku, Ma. Kalau sudah begini lantas kita akan dapat uang dari mana?" keluh Soraya. Saat ini dia sudah pulang ke rumah dan duduk di ruang tamu bersama ibunya.
"Bukannya mama sudah peringatkan kemarin untuk masuk, tapi kau tidak mau mendengarkan mama dan bersikap seenaknya saja. Sekarang apa akibatnya? Tapi sudahlah, semua sudah terjadi."
Ting! Tong!
Bunyi bel membuat mereka terkejut. Rebecca yang moodnya lagi senang langsung berdiri dan membuka pintu.
Soraya terus diam. Sambil memikirkan rencana apa selanjutnya yang akan dilakukan ia terus menatap kosong dan menguras otak.
"Kumohon, Eduardus, beri kami kesempatan. Aku dan Soraya akan mencari orang itu dan mengambil kembali sertifikat rumah ini."
Suara ibunya membuat Soraya terkejut dan menoleh.
"Percuma, Rebecca. Aku baru saja bertemu Dean, aku sudah memberikan perusahan dan rumah ini kepadanya. Jadi sebaiknya kalian segera bergegas dan pergi dari rumah ini sebelum dia mengusir kalian."
Soraya berdiri. "Ayah pembohong! Ayah bilang akan mewariskan Kapleng Group kepada kami, tapi kenapa sekarang ayah malah memberikan perusahan itu kepada Dean? Aku tidak setuju, Ayah. Aku ingin minta bagian."
"Diam kau Soraya!" bentak Eduardus, "Kau tidak punya hubungan darah denganku. Jadi, jangan harap kau dan ibumu bisa mendapatkan sepeserpun dariku. Apalagi setelah perbuatan kalian kepadaku, jangan mimpi jika kalian bisa kumaafkan dan mendapat bagian."
"Kumohon, Eduardus. Kumohon," rengek Rebecca, "Jangan usir kami. Kami akan tinggal di mana kalau kau mengusir kami? Kami sudah tidak punya uang, Soraya baru saja dipecat. Jadi kalau mengusir kami, kami tidak tahu lagi akan pergi ke mana, Eduardus."
"Aku tidak peduli, Rebecca. Kalian mau ke kolong jembatan pun aku tak peduli. Jadi sebaiknya dari sekarang kalian bergegas, sebelum anak buah Dean datang dan mengusir kalian secara tidak hormat."
Soraya mengepalkan tangan. Dilihatnya tubuh Eduardus yang kini keluar dari ruangan itu. "Dasar laki-laki tidak tahu diri, tidak bertanggung jawab. Sudah sepantasnya kau diberi racun oleh Dean karena perbuatanmu seperti itu."
Rebecca terus menangis. "Kita harus bagaimana, Soraya? Kita harus bagaimana?"
"Aku tahu apa yang harus kita lakukan, Ma. Aku tahu," kata Soraya penuh penekanan. Pandangannya kosong ke arah dinding.
Rebecca berhenti menangis dan menatapnya. "Apa yang akan kau lakukan?"
Kepala Soraya tersentak menatap ibunya. "Dean dan Eduardus ... mereka harus merasakan apa yang kami rasakan saat ini, Ma."
"Maksudmu?"
Soraya berdiri mendekati jendela. "Kita jadi begini karena Dean, Mama. Kalau bukan karena janji Dean kita tidak akan mungkin menjahati Eduardus. Begitu juga dengan lelaki tua itu ... kalau bukan karena ingin membalas dendam kepadanya, Dean tidak mungkin membohongi kita. Jadi jalan satu-satunya adalah membantai mereka berdua."
Rebecca terkejut. "Kau gila! Mama tidak setuju. Kau pikir Dean bisa dikalahkan begitu saja, hah?"
Soraya menyeringai. "Jika dia bisa melakukan apa saja, kenapa aku tidak? Bedanya dia melakukan semua itu dengan memanfaatkan uang, sedangkan aku dengan otak."
Rebecca berdiri. "Jangan cari masalah dengannya, Soraya. Kalau kau gagal, mama juga yang akan kena imbasnya."
Soraya berbalik menatap Rebecca. "Mama tenang saja, aku sudah memikirkan soal itu. Sebelum kita diusir dari sini, aku harus melenyapkan mereka berdua. Dean dan Eduardus."
***
"Papi?"
Suara perempuan dari sebelah kanan menghentikan langkahnya. "Kensky. Dari mana saja kamu, Nak?"
"Aku baru dari rumah Tanisa. Lusa aku akan kembali ke Jerman, jadi aku berpamitan kepadanya."
Eduardus memasang wajah ceria. "Oh, iya? Ngomong-ngomong apa kau sudah makan siang?"
"Belum, tapi aku ada janji dengan Dean untuk makan siang bersama," Eduardus menunduk sedih dan hal itu membuat hati Kensky tergerak, "Tapi aku rasa Dean tidak akan marah jika aku makan siang bersama Papi."
Lelaki itu menatapnya. "Jangan, nanti kau akan dipecat. Soraya baru saja dipecat."
Kensky terkejut. "Soraya dipecat?"
"Iya."
"Bagaimana ceritanya, Pi?"
Eduardus menatap keliling. "Nanti saja, papi tidak mau Dean marah padamu, karena terlambat makan siang. Pergilah dan temui dia."
Kensky menggeleng. Dengan cepat ia merogoh ponsel dari saku celana dan menghubungi Dean. Sambil menunggu panggilan terhubung ia menatap sang ayah.
"Halo, Sayang," sapa Dean dari balik telepon.
"Maafkan aku, Dean. Tapi bisakah kau ijinkan aku hari ini saja untuk makan siang bersama ayahku?"
Perkataan Kensky membuat Eduardus terharu. Selama ini dia selalu menjahati gadis itu, tapi gadis itu sama sekali tidak pernah menunjukan rasa benci kepadanya. Eduardus pun menyesali semua perbuatannya, karena gadis yang selalu ia sakiti adalah putri kandungnya sendiri.
"Baik. Terima kasih, Sayang."
Tut! Tut!
Kensky memutuskan panggilannya. "Ayo, Pi, kita makan siang bersama."
Sambil berjalan Eduardus berkata dengan nada girang tanpa menatap Kensky. "Kau dengan Dean berpacaran?"
Zet!
Kensky terkejut. Ia ingat bahwa tadi sempat melontarkan kata sayang kepada Dean.
"Tidak masalah, Sky. Papi tidak akan keberatan."
Kensky menyipitkan mata menatap sang ayah. "Papi setuju aku bersama Dean?"
Eduardus mencari posisi yang nyaman untuk mereka makan dan berbicara. Begitu mendapatkan tempat tersebut, ayah dan anak itu langsung memesan menu kesukaan mereka masing-masing.
"Pesanlah sesukamu, papi yang traktir."
Setelah selesai menyebutkan menu pesanan kepada pelayan, mereka saling bertatap. Eduardus memasang wajah ceria, sedangkan Kensky menatap ragu ke arah lelaki itu.
"Papi punya uang dari mana?"
Eduardus terkekeh. "Dulu waktu jatuh sakit, dompet dan semua kartu papi diambil oleh Rebecca. Tapi begitu papi diculik, papi dirawat hingga sembuh. Setelah sembuh papi diberikan kartu ini," Eduardus mengeluarkan black card dari dalam dompetnya, "Orang itu memberikan ini kepada papi, katanya papi bisa menggunakan kartu ini sesuka hati."
"Baik sekali peculik itu," balas Kensky sambil tertawa.
"Lebih sopannya dia bukan penculik, tapi dia membebaskan papi dari Rebecca. Hanya saja setiap kali papi bertanya soal dia, beliau selalu bilang kalau dia hanya seorang bawahan. Dia punya atasan yang sengaja menyuruhnya untuk merawat papi."
Kensky tersenyum sayang. "Aku penasaran dan ingin tahu siapa orang itu. Ya, Tuhan ... siapapun dia, tolong lindungi dan jaga orang itu seperti dia menjaga papi."
"Amin," balas Eduardus, "Sky, ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaan papi tadi ... apa benar kau dan Dean sedang berpacaran? Apa hubungan kalian lebih dari sebatas atasan dan bawahan?"
Bersambung__