Mysterious CEO

Mysterious CEO
Keterangan Mr. Bla.



Rebecca mendekatinya. "Maafkan mama, Nak. Ini semua mama lakukan demi kita juga. Lagi pula soal hubungan Kensky dan Dean itu kan tidak benar, jadi kau tidak perlu marah seperti itu. Maafkan mama, ya?"


Soraya terdiam sesaat sebelum akhirnya menoleh untuk menatap Rebecca. "Sebenarnya tujuan Mama menyangkut-pautkan Kensky dengan Dean untuk apa? Apa Mama tidak takut kalau Dean akan jatuh cinta kepada Kensky, hah? Dia bisa menendangku jika itu hal itu sampai terjadi, Ma."


Rebecca mengajak Soraya duduk di ranjang. Setelah keduanya duduk berhadapan Rebecca pun menjelaskan maksud dari tujuannya selama ini. "Jadi begini. Sebagai istri kedua dan anak tiri Eduardus sudah pasti kita tidak akan mendapat bagian sedikit pun dari perusahan maupun rumah ini, karena Eduardus masih punya anak kandung. Tapi sebagai istri yang sudah bertahun-tahun menemaninya, mama tidak mau hidup ini sia-sia. Itu sebabnya mama membayar orang untuk berpura-pura jadi pengacara Eduardus demi meyakinkan Kensky, bahwa ayahnya itu terlilit hutang yang banyak kepada bos kalian. Kenapa mama memilih Dean? Agar supaya Kensky lebih yakin dan percaya jika masalah itu benar. Karena jika mama memilih orang lain, mama harus keluar biaya banyak dan Kensky pasti akan tahu bahwa sebenarnya semua ini tidak benar."


"Jadi Mama dan Dean bersekongkol untuk mendapatkan keuntungan dari perusahan ayah?"


"Sebenarnya ini idenya mama. Dean hanya bersedia membeli perusahan itu dan membayarnya kepada kita. Dengan begitu meskipun kita tidak akan mendapatkan warisan dari Eduardus, setidaknya kita bisa menikmati uang dari hasil penjualan perusahan itu."


Soraya menatap Skeptis. "Lalu apa hubungannya dengan Kensky? Kenapa dia harus berpacaran dengan Dean?"


"Kalau itu mama tidak tahu, Soraya. Mama juga kaget saat Kensky bilang dia menolak tawaran Dean untuk mengajaknya berpacaran."


Soraya menatap garang. "Aku curiga, jangan-jangan Dean sudah jatuh cinta kepada Kensky?"


Rebecca meletakkan tanggannya di bahu Soraya lalu berkata, "Jangan berpikir macam-macam. Hal yang tidak mungkin Dean akan jatuh cinta kepada gadis yang ternyata adalah anak musuhnya sendiri."


"Tapi buktinya dia mengajak Kensky untuk berpacaran, kan?"


Rebecca bergerak-gerak gelisah, "Mama yakin itu tidak mungkin, Sayang. Dan kalaupun itu mungkin, mama rasa Dean pasti punya tujuan buruk untuk Kensky. Secara dia kan anaknya Eduardus, anak dari orang yang pernah membuatnya menderita dan Dean tidak mungkin akan mencintainya."


"Menderita? Maksud Mama?" tanya Soraya dengan alis berkerut-kerut.


"Kemarin mama telah berhasil membujuk Kensky untuk memberikan sertifikat rumah ini kepada mama. Dan seperti yang terjadi sebelumnya, sertifikat itu sekarang ada di tangan orang suruhan mama. Jadi sebentar lagi mama akan memberikan sertifikat itu kepada Dean sepulangnya dia dari Jerman. Dan itu artinya ... sebentar lagi Kensky dan ayahnya akan tinggal di pinggir jalan, sama seperti yang Eduardus lakukan dulu terhadap Dean dan ibunya. Sedangkan kita? Kita akan pergi ke luar negeri dengan uang hasil penjualan perusahan dan rumah mereka untuk bersenang-senang."


Soraya terdiam sambil menatap Rebecca. Ia tak menyangka ternyata ibunya sejahat itu. Namun sebagai anak yang begitu sayang kepada ibunya, Soraya hanya bisa setuju dengan apa yang dilakukan Rebecca terhadap Kensky dan Eduardus. "Tapi kalau seandainya kejahatan Mama diketahui, aku tidak mau Mama menyangkut-pautkan diriku ke dalam masalah ini, ya?"


"Kau tenang saja, Sayang. Lagi pula semua ini juga Mama lakukan demi kamu."


"Ya, sudah. Kalau begitu aku siap-siap dulu, aku tidak mau terlambat."


"Mama juga akan siap-siap ke salon. Rasanya hari ini mama perlu perawatan kepala agar otak mama semakin sehat untuk berpikir."


Soraya terkejut dan menggeleng-geleng kepala. Ia pun berdiri lagi lalu meraih pakaian kantornya. Namun sambil menatap Rebecca yang baru saja keluar kamar, entah kenapa tiba-tiba pikiranya tertuju kembali kepada Dean dan Kensky.


"Aneh. Tapi jika dia ingin mencelakai Kensky, masa dia harus mengajak gadis itu berpacaran?" Soraya berpikir keras, "Aku harus menyelidikinya. Aku rasa ada yang tidak beres di antara Dean dan Kensky."


***


"Akhirnya selesai juga." Rebecca baru saja membersihkan bekas-bekas piring kotor yang dipakai Kensky dan Soraya saat sarapan. Dan sekarang setelah kedua gadis itu pergi, Rebecca pun mulai menyiapkan sarapan untuk Eduardus dan membawanya ke dalam kamar.


"Selamat pagi, Sayang," sapanya begitu masuk ke dalam kamar, "Bagaimana keadaanmu, Sayang?" ledeknya lagi, "Sepertinya kau sangat menikmati kehidupanmu sekarang ini, ya?" Rebecca tertawa licik kemudian mengeluarkan botol yang berisi obat.


Seperti yang sudah sering ia lakukan setip hari, Rebecca meletakan bubuk obat tersebut ke dalam bubur suaminya setiap pagi dan malam hari. Ia bahkan tidak peduli meski suaminya itu melihatnya.


Eduardus yang memang tahu apa yang dimasukan ke dalam makanannya pun langsung menatap tajam ke wajah Rebecca. Kondisinya yang kini lumpuh total menyebabkan lelaki itu tak bisa melakukan apa-apa selain hanya bisa melihat dan pasrah oleh keadaan.


Lelaki itu tidak mau. Ia mengatupkan bibirnya semakin rapat, sementara Rebecca sekuat tenaga mendorong sendok itu agar bisa menembus bibirnya.


"Cepat buka mulutmu, Eduardus!"


Dengan cepat Eduardus membukanya dan hal itu membuat Rebecca senang. Namun bukannya menelan bubur itu, Eduardus malah menyemburnya keluar hingga mengenai tubuh Rebecca.


"Apa-apaan kau, Eduardus?!" Rebecca marah dan segera meletakkan mangkuk tersebut kemudian membiarkan suaminya, "Aku akan menghukummu, Eduardus. Aku akan membiarkanmu kelaparan satu hari ini. Aku tidak akan memberimu makan, biar kau mati sekalian."


Brak!


Rebecca membanting pintu kamar saat ia keluar. "Dasar suami tidak tahu terima kasih. Masih untung aku mau mengurus dan memberinya makan," Rebecca membersihkan bekas-bekas bubur yang disemburkan Eduardus tadi, "Andai saja bukan demi uang, sudah lama aku membunuhmu dengan tanganku sendiri, Eduardus!"


Ting! Tong!


Rebecca terkejut dari omelannya. Ia menghentikan tangannya saat membersihkan bagian depan baju dan meyakinkan apa yang baru saja ia dengar.


Ting! Tong!


"Siapa lagi, sih?" ketus Rebecca. Dengan kesal ia pun turun dari tangga untuk membuka pintu.


Clek!


"Selamat pagi, Nyonya Rebecca," sapa seorang lelaki tampan yang berpakaian serba hitam.


"Pagi," balas Rebecca seraya melihat beberapa orang yang berpakaian sama sedang berdiri di belakang lelaki itu, "Kalian siapa?"


Lelaki itu mengulurkan tangan kepada Rebecca untuk berkenalan. "Nama saya Mr. Bla, Nyonya."


"Mr. Bla?" ulang Rebecca yang sama sekali tidak mengenal lelaki itu. Ia bahkan melirik orang-orang yang berdiri tepat di belakang Mr. Bla untuk memastikan bahwa salah satu dari mereka ada yang dikenalnya atau tidak, tapi ternyata tidak. Dalam hati ia bertanya-tanya, "Siapa mereka, ya?"


Lelaki itu tersenyum. "Pasti Anda bertanya-tanya siapa dan maksud kedatanganku ke sini, bukan?"


Rebecca balas menatapnya. "Itu benar. Siapa Anda dan ada urusan apa Anda ke sini?" Nada Rebecca sedikit tinggi. Sambil berdiri di depan pintu dia bahkan tidak menyuruh mereka masuk, karena baginya mereka sosok yang mencurigakan.


Mr. Bla tersenyum lagi. "Aku ingin bertemu dengan suami Anda, Rebecca. Kata orang kantor dia sudah berapa hari tidak masuk, jadi aku ke sini untuk mencarinya. Mereka bilang dia di rumah, benar?"


"Kalau boleh tahu, apa tujuan Anda mencari suami saya?"


"Aku ingin menagih hutang kepadanya," balas Mr. Bla.


Mata Rebecca terbelalak, terkejut mendengar kata itu. "Hutang, hutang apa? Setahu saya suamiku tidak punya hutang kepada siapa-siapa."


Bersambung__