
"Abang?" Lala melirik Farel dengan wajah bingung.
"Kasian aku sama kamu, La. Giliran berita negatif cepat meresap. Dikasih spanduk sebesar ini gak dilirik. Besok kamu jangan cuma ke dokter kandungan doang, tapi ke spesialis mata sekalian. " keluh Farel seraya meninggalkan Lala
"Rel, serius Abang narasumber? Tadi dia anter aku. Kenapa gak bareng saja masuk kampusnya. Biar mereka tahu siapa bapak anak aku!" Lala bersemangat.
"Kenapa? Kamu ingin balas dendam?"
"Haha.. Enggak. Aku mau pamer." ucapnya. Lala sambil cekikikan.
'Tunggu pembalasanku!' batin Lala bersorak.
"Sudah sana, kamu katanya gak mau ikut seminar."
"Ikut. Masa suami sendiri gak di suport sih?" Lala masih penuh semangat.
"Tapi aku gak bawa jas almamater, Rel?"
"Sana pulang lagi."
"Fareeell, masa tega sih sama Ibu hamil. Aku aduin ke Abang loh." Lala menarik almamater yang Farel kenakan.
"Sumpah kelakuan kamu pagi-pagi, La." Farel melepas jas almamater miliknya.
"Ah, adik iparku yang tampan, baik sekali. Nanti aku traktir ayam penyet, ya?"
"Seminggu full." tawar Farel.
"Deal." Lala sumringah
"Ah sial! Kamu kan istrinya orang kaya. Aku minta ayam penyet + es jeruk sebulan."
"Yang benar saja, Malih! Pakai almamaternya juga cuma beberapa jam!" keluh Lala.
"Dah sana, masuk. Aku masih ada perlu." ujar Farel meninggalkan Lala.
Lala mulai masuk ke dalam gedung, dia duduk di pojok baris ke lima. Lala baru ingat, saat tadi pagi mereka sempat bertengkar kecil. Gengsi kalau Keenan tahu Lala ikut dalam seminar tersebut. Lagipula, Keenan dirasa menyebalkan. Dia sama sekali tak memberi tahu Lala bahwa dia menjadi salah satu narasumber disana. Sesaat dia menyesal telah duduk di acara tersebut, namun ada rasa penasaran bagaimana perform suaminya saat dimuka umum.
Seorang moderator mulai membuka acara seminar dengan berdiri di tengah panggung. Tak berapa lama, nama Keenan dipanggil untuk naik ke atas panggung.
Dengan wajahnya yang tegas, Keenan berjalan ke atas panggung, dia memberi hormat dan tersenyum manis kemudian duduk di antara moderator dan satu narasumber lainnya.
'Ya Tuhan, tampannya suamiku.' Lala tersenyum sendiri.
Moderator memberikan mic pada narasumber pertama. Cukup muda, namun tidak setampan Keenan suaminya. Lala jadi tersenyum sendiri membandingkan Keenan dengan lelaki lain.
Lama narasumber pertama menyampaikan materinya membuat Lala menguap saat mendengarkannya berbicara. Nampak monoton dan tidak menarik.
Selesai dengan narasumber pertama, kini Keenan memberikan materinya. Saat Keenan membawakan materi, semua seakan terhipnotis. Pembawaannya tidak sekaku narasumber pertama. Lebih santai dan bahkan beberapa kali melemparkan joke recehnya membuat suasana menjadi lebih hidup. Hingga Keenan menutup materinya dengan ucapan terima kasih.
Beberapa dari mereka bahkan mengagumi Keenan yang terdengar langsung oleh telinga Lala. Seketika dia berbangga diri telah menjadi wanita pilihan suaminya.
Kini saat yang dinanti Lala tiba yaitu sesi tanya jawab. Lala sangat berharap ada yang bertanya tentang status Keenan. Dan.. Ya, moderator menanyakan hal tersebut karena teriakan yang di lontarkan para peserta.
Dengan rasa dag dig dug, Lala mendengarkan jawaban Keenan. Dia membayangkan Keenan akan menunjukan bahwa Lala adalah istrinya dan mengajaknya naik ke atas panggung. Tapi ternyata nihil. Keenan hanya menjawab bahwa dia telah menikah tanpa memberi keterangan lain. Lala seketika kecewa dengan jawaban Keenan. Dia merasa sedikit kesal dengan sikap Keenan yang seolah menyembunyikannya.
Rasa kesalnya membuat Lala ingin menangis saat itu juga. Lala segera meninggalkan gedung tersebut saat acara selesai.
'Masa bod*h dengan kamu! Aku benci kamu Keenan!' Lala membasuh wajahnya.
Dia melewati orang-orang beberapa orang yang sedang berkumpul seperti biasa. Namun, kini mereka menatap Lala dengan raut wajah seolah tak menyangka. Tidak ada desas desus atau sindiran saat Lala berjalan. Hanya beberapa orang meliriknya kemudian kembali menatap ponsel.
"Laaaaa... " teriak Farel sambil melambaikan tangan.
Lala segera menghampiri Farel untuk memberikan almamater miliknya.
" Sudah lihat gosip terkini?"
"Gosip apa lagi? Sudahlah aku capek." ucap Lala seraya memberikan almamater ke tangan Farel.
"Duh, yang ditunggu Abang, sampai gak sabar begitu."
"Haha lucu! Aku pulang naik ojek online kali!" ketusnya
"Kan ada Yayang yang jadi nara sumber. Gilaa Yayang Keenan pembawaanya oke banget." puji Farel.
"Oke dari mana? Ngeselin tahu gak! Boro-boro ngelirik aku atau senyum kek. Datar begitu kayak pantat teflon!" gerutu Lala
"emang kamu ngarep apa? Ngarep Yayang Keenan klarifikasi soal gosip itu?"
"Eh? Hmm..enggak!" Lala gugup saat pikirannya terbaca oleh Farel.
"Dah ah, aku mau pulang."
"Aku anter. Sekalian mau bicara sama si Abang."
"Bicara apa? Dia gak mungkin masih disini." gerutu Lala.
Farel masih mendampingi Lala berjalan menuju gerbang kampus. Namun, Farel menarik lengan Lala agar masuk ke area parkir. Dari kejauhan, terlihat Keenan bersandar di depan mobilnya sambil memainkan ponsel miliknya.
"Tuh si Abang nungguin kan?"
"Terserah!" ketus Lala.
"Bos Keenan keren deh, ternyata dia tidak sekaku kanebo lagi." ucap Farel seraya menghampiri Keenan.
Keenan menyambut kedatangan Lala, dia memeluk pinggang Lala walau Lala sesaat menolaknya, tapi akhirnya dia membiarkan tangan Keenan memeluknya.
"Takut amat diambil aku, Abangnya." protes Farel melihat kelakuan Keenan.
"Ngomong mulu ni bocah!" ketus Keenan.
"Tahu gak Bang? Si Lala tadi ngarep Abang manggil namanya naik ke atas panggung tuh saat ada yang tanya status Abang."
"Siapa juga yang ngarep, orang lihat seminar juga enggak."
"Yakin? Yang duduk di pojokan sambil senyum-senyum siapa ya?" goda Keenan. Keenan dan Farel nampak tertawa sementara wajah Lala terlihat kesal.
"Mana ku tahu!" ketus Lala.
Tanpa mereka sadari, perbincangan mereka diamati oleh seseorang dengan kamera di tangannya.
***
Keenan melajukan mobilnya setelah berbincang dengan Farel. Sementara Lala masih kesal dengan sikap Keenan yang nampak ceria.
Lala membuka ponselnya karena tak ada percakapan diantara keduanya. Disana terdapat chat dari nomor asing dan juga Farel serta grup di kelasnya. Lala membuka chat dari nomor asing tersebut. Sesaat dia membelalakan matanya tak percaya.
Lala menggeser setiap foto dari nomor yang tidak dikenalnya itu. Beberapa foto Keenan saat hendak turun dari mobil dengan setelan yang dikenakannya hari ini, foto pernikahan mereka, foto saat akad nikah dengan keterangan tanggal dan tahun pernikahan mereka, foto mobil Keenan, foto Keenan dan Farel memakai jersey saling merangkul satu sama lain. Bahkan satu foto terbaru saat Lala, Keenan dan Farel berada di tempat parkir barusan. Gila!
Foto yang tanpa Lala duga menjadi sebuah klarifikasi tersendiri tanpa harus mengumbarnya.
Keenan tersenyum melihat ekspresi wajah Lala. "Puas dengan klarifikasinya Nyonya Keenan?"
"Apa sih!" ketus Lala masih kesal pada Keenan.
"Kita balas sesuai dengan permainan mereka, sayang." Keenan menatap Lala sepintas.
"Maksud Abang?" Lala yang kesal dibuat penasaran dengan ucapan Keenan.
"Mereka menyebarkan rumor dengan foto kamu kan? Ya kita ikuti dengan cara yang sama."
"Memangnya foto-foto ini tersebar juga?"
Keenan hanya tersenyum.
"Abang!"
"Yes honey."
"Jawab!"
"Jawab apa, Honey?"
"Aku tanya kamu Keenan Wijaya! Ngeselin mulu!"
"Ya tanya apa?"
"Tahu ah!" ketus Lala membuat Keenan terbahak.
Lala yang kesal membuka satu persatu chat lainnya. Salah satunya dari Farel. "Bagaimana permainan kita? Cukup menarik bukan?"
"Jadi ini ide kamu sama Abang? Abang sudah tahu?" Lala menulis pesan pada Farel.
"Tanyain Yayangnya dong, masa tanya aku! Ganggu saja, orang lagi enak-enak juga!"
"Hah? Kamu lagi mes*m! Gila dasar!"
"Emang yang enak-enak mes*m doang? Makan ayam penyet plus es jeruk, enak-enak juga."
"S*alan Farel!"
"hahaha.. "
Lala menatap Keenan." Jadi Abang tahu dari mana? Farel cerita?"
"Hmm.. Insting seorang suami."
"Dih! Bohong!" ketus Lala, Keenan terbahak.
"Intinya, Farel laporan, Abang yang gerak."
"Terus itu foto-foto?"
"Sengaja dong ada paparazi. Biar terlihat real kita lagi dibuntuti."
"Abang..seniat itu."
"Mereka juga seniat ini sampai plat nomor mobil Abang juga kena sasaran. Kasihan kan dia, jadi ikutan ngetop deh." Keenan memgusap-ngusap stir mobilnya.
"Apa sih Abang gak jelas!"
Lala kembali membuka ponselnya, dia sedikit tak percaya teman kelasnya mengajaknya bicara dalam grup.
"Lashira, Farel siapa kamu?"
"Farel saudara suami kamu, La?"
"Lashira jawab dong!"
"Iya penasara nih."
Percakapan dalam grup kelas tersebut bersahutan satu persatu.
"Abang tahu siapa pelakunya?"
"Hmm..yang jelas, ini cukup untuk membungkam mulut mereka."
"Maaf, Abang gak bisa umumkan atau teriak-teriak mengaku kamu istri Abang. Abang punya beban lebih besar, sayang. Bukan Abang malu, tapi Abang tidak mau bertindak gegabah."
"Apalagi, kamu tahu sendiri Abang punya ribuan karyawan. Setidaknya sikap Abang juga dilihat oleh mereka. Kalau Abang bersikap konyol, mungkin mereka gak bakalan hargai Abang lagi."
"Makanya Abang melakukan hal itu, tadinya sih Abang mau sisipkan foto kita di kolam renang juga."
"Jangan gila!" potong Lala cepat. Tak oerbayang kalau foto di kolam renang tersebut terselip disana, mungkin orang-orang akan makin membenci Lala.
Keenan tertawa puas. "Kamu nasih marah?" Keenan melirik Lala.
Lala kemudian menangis.
"Kok nangis, Honey?" Keenan menepikan mobilnya.
Dia membawa Lala bersandar di dadanya. "Abang minta maaf, sayang. Abang minta maaf. Kamu nanggung ini sendirian. Maafkan Abang ya, Abang pikir di kampus semuanya baik-baik saja."
"Abang sudah bereskan semuanya. Kamu gak perlu khawatir. Besok mereka bakalan lebih iri sama kamu."
"Iri kenapa lagi?" Lala yang penasaran, mendongak seraya menghapus jejak tangisnya.
"Ada artikel yang sengaja membahas profil Abang serta harta kekayaan Wijaya. Biarkan mereka melotot sampai matanya copot."
"Pertahanan Abang runtuh cuma demi kamu nih." ucapnya kemudian
"Pertahanan apa?"
"Abang kan gak buka jati diri Abang selama di kampus. Cuma demi kamu, Abang bongkar semuanya siapa Abang sebenarnya." Keenan mengecup puncak kepala istrinya.
"Kenapa kamu lakukan itu? Aku juga gak minta! Apa aku ngeluh sama kamu soal ini? Apa aku minta bantuan kamu juga?" Lala keluar dari pelukan Keenan. Dia makin kesal menatap Keenan.
"Karena Abang gak rela istri Abang dihina orang. Biar mereka tahu, mobil kamu itu bukan pemberian dari sugar Daddy dan kamu juga bukan sugar Baby."
Lala mendelik sebal. "Emang kamu mau jadi Daddy, bukan!"
"Haha iya ya, Abang Gula Daddy bukan om-om girang." Keenan membawa kembali kepala Lala di dadanya.
"aku benci Abang! Benci banget."
"Kenapa lagi?"
"Sana jauh-jauh. Kamu gak perlu punya anak istri."
"Abang salah apa lagi?"
"Salah apa? Gak sadar apa, kamu cuek banget selama ini! Aku sebel banget sama Abang!"
"Cuek gimana sayang? Abang chat iya, telepon iya, kalau fisik Abang gak bareng kamu, ya karena Abang lagi ngumpulin pundi-pundi buat kita. Toh, gak selamanya Abang sibuk. Masa kamu gak pengertian sih sama Abang?"
Lala terdiam.
"Kalau kita cuma kelonan doang, Abang gak bisa ajak kamu naik onta dong karena gak punya duit."
Ya tapi aku sebel! Mana ada obrolan kita kayak begini. Aku berasa kehilangan Keenan Wijayaku, tahu gak?"
"Hahaha.. Terus aku siapa?"
"Om girang!"
"Astaga.. Jahat banget sama suami."
"Ya sudah, yuk jalan lagi. Kita mau kemana?" ajak Keenan.
"KP! Aku mau kopi." ketus Lala.
"Siap Nyonya Muda."
***
Keenan dan Lala menikmati life musik di KP mereka. Keenan sesekali mengajak Lala berbicara, namun Lala hanya menjawab singkat bahkan ketus pada Keenan. Keenan akhirnya berdiri, dia berjalan menuju stage. Dan berbicara dengan vokalis tersebut.
'astaga dia mau ngapain.' Lala menatap Keenan tak percaya, sementara Tiara menghampiri Lala saat Keenan mulai duduk dan memangku gitar.
"Mbaak, Mas Keenan Mbak..wah dia mau nyanyi."
"Entahlah dia mau ngapain? Gak tahu malu dasar."
"Selamat petang semua, izinkan saya menghibur istri saya. Agar dia tahu, dia segalanya bagiku."
Tepuk tangan riuh dan suitan bersahutan. Tak hanya pengunjung KP mereka, karyawan merekapun seketika menghentikan pekerjaannya.
Keenan mulai bernyanyi.
"Kadang kukesal dengan sikapmu
Yang selalu bertanya, mana perhatianku?
Mungkin kau tak pernah merasakan
Apa yang kulakukan di setiap pengorbananku"
"Selalu jadi yang kau mau
Menjaga di setiap saat
Tapi kau tak melihatnya"
"Mana ada aku cuek
Apalagi gak mikirin kamu
Tiap pagi malam ku selalu
Memikirkan kamu"
"Bukalah pintu hatimu
Agar kau tahu isi hatiku
Semua perjuanganku
Tertuju padamu"
~Cuek - Rizky Febian~
Keenan menatap Lala dan mengedipkan sebelah matanya seraya tersenyum. Tiara mengguncang tubuh Lala, dia begitu terpesona dengan perilaku Keenan. Sementara Lala, menahan senyumnya.
"Ah.. Sumpah Bang Keenan bikin aku jatuh cinta." Tiara masih mengguncang tubuh Lala.
"Enak saja! Dia udah mau jadi bapak-bapak." ketus Lala.
"Mbaaakk rasanya aku ingin menikungmu kalau calon bapaknya kayak Bang Keenan."
"Gila! Sana kerja lagi!" ketus Lala.
"Lagi.. Lagi.. Lagi.. " teriakan pengunjung yang nampak ketagihan dengan suara Keenan saat Keenan menyudahi nyanyiannya.
"Saya kembalikan sama vokalisnya karena istri saya sudah tersenyum. Terima kasih semua. Selamat petang." ujar Keenan membuat sorak sorai semakin meriah.
Langkah kaki Keenan tak luput dari pandangan mereka yang penasaran pada Keenan.
"Keren bosku" teriak Budi
Karyawan mereka nampak mengoloknya membuat Lala malu.
"ayo pulang." Lala menarik lengan Keenan.
"Gaes, pamit yaa.. Lala malu nih." Keenan dengan sengaja mengumbarnya.
"Astaga Abang!" buru-buru Lala masuk ke dalam mobil.
Keenan tersenyum menggoda Lala.
"Abaaang!" Lala memukul-mukul Keenan.
"Kok di pukul sih, Hon? Kenapa? Malu ya? Abang yang nanyi masa kamu yang malu." Keenan tak hentinya menggoda.
"Kenapa kelakuan Abang selalu gak bisa aku tebak sih! Rese! Nyebelin!" Lala masih memukul-mukul Keenan.
"Ngangenin, bikin cinta, bikin sayang, bikin kepelek-kelepek." cibir Keenan.
"Enggak!"
"Enggak apa? Enggak salah?"
"iyaa... " putus Lala seraya tersenyum malu. Keenan terbahak mendengarnya.
"Love you Unlimited, Mommy." Keenan mengecup bibir Lala sepintas. "Mari kita celup-celup." bisik Keenan.
Lala memukul lengan Keenan seraya melotot. "Abang!"
.
.
.
Yuhuuu ada yang bener gak tebakannya? Jangan lupa like dan votenya yaaa... Terima kasih ^^