
"Siapa yang gak bisa move on?" ketus Keenan
"kamu"
"Justru aku benci sama dia, Hon!" Keenan menatap marah Lala
"Kalau benci dia, kenapa kamu marah sama aku?" ketus Lala
"Aku.. Aku gak marah sama kamu, honey" Keenan mengatur nafasnya. Kilatan amarah sudah tak nampak dari dirinya.
Lala meraih jemari Keenan.
"Kamu sekarang yang butuh minum, Bee" Lala menarik Keenan menuju gerai es boba. Dia memesan minuman sementara Keenan duduk menunggunya.
"Minum Bee"
"Terima kasih Hon" Keenan menyeruput es boba miliknya.
"Kenapa kamu menghindar?" tanya Lala
"Aku sudah muak melihat wajahnya."
"Harusnya kamu tunjukkan kalau kamu sudah bahagia Bee" gumam Lala
Keenan tak mendengar suara Lala yang begitu pelan.
"Cantik ya Bee" Lala tersenyum menatap Keenan
"Biasa saja"
"Pantas kamu tergila-gila" ucap Lala. Hatinya terasa sakit saat mengucapkan kalimat itu. Tak dipungkiri Lala merasa cemburu.
"Yuk pulang" ajak Lala
"Hon.."
"Aku lelah Bee" ucap Lala tak bergairah.
"Ya sudah. Ayo" ajak Keenan.
Di perjalanan mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Keenan masih merasa tak percaya bisa bertemu dengan mantan cinta pertamanya. Terlebih dia menabrak seorang anak yang dia yakini sebagai anak dari mantannya itu. Semetara Lala merasa menciut setelah melihat cantiknya mantan Keenan. Dia merasa tak percaya diri saat ini. Terlebih lagi melihat sikap Keenan yang berubah drastis saat bertemu dengan mantannya.
"aku turun disini saja Keen"
"Aku antar Hon"
"Gak perlu Keen. Aku mau ke minimarket dulu" Lala mencari alasan
"Aku antar Hon." Keenan bersikukuh
"Gak usah. Terima kasih."
"Tapi Hon.."
"Nanti aku kembalikan baju kamu Keen. Aku pulang duluan ya" ucap Lala seraya membuka pintu mobil.
Dia keluar dari mobil dan buru-buru masuk ke dalam minimarket sementara Keenan masih terdiam disana. Lala berlama-lama didalam minimarket hingga Keenan pergi.
Lala keluar dengan sekotak es krim ditangannya. Dia duduk di depan mini market sambil memasukan es krim ke dalam mulutnya.
"Kalau makan es krim lagi sedih, rasanya jadi adem, La" ucapan Izam terngiang ditelinganya.
Dia tersenyum sendiri saat mengingat hal itu. Semetara Lala tidak menyadari bahwa Izam kini berdiri disampingnya, memperhatikan dirinya yang masih larut dalam lamunannya.
"Hilang sedihnya?" ucap Izam tiba-tiba setelah memperhatikan raut wajah Lala
"Mas Izam, bikin aku kaget saja" ucap Lala
"Hehe sorry, La"
"Bukannya pulang, dicariin Bu Tita tuh. Kasihan dia sendirian dirumah" ucap Izam
"Hehhe.. Bu Tita mah sudah biasa dirumah sendirian"
Izam duduk disamping Lala.
"Dari mana La?"
"Dati tadi Mas" Izam mendengus.
"Hehe. Malam mingguan mas Izam. Masa aku harus curhat sih"
"Mas Izam gak malam mingguan?" tanyanya lagi
"Ini lagi kan?"
Yee Mas Izam mah"
"Kenapa? salah? Kan ini lagi malam minggu, bukan malam senen apa lagi malam.. Pir." ucapnya seraya tertawa
"Dih grandong dasar"
"haha.. Bisa saja Nengnya"
"Sana pulang" titah Izam
"Mas Izam ngapain?"
"Mau beli es krim"
"Itu doang?"
"Hu'um."
"Mas Izam lagi sedih?"
"Sedih kalau lihat kamu sedih" ceplosnya
"Dih Mas Izam, ditanya serius juga" Izam hanya tersenyum.
"Sana Mas Izam beli dulu, aku tungguin aja"
"Kenapa? Mau nganterin aku pulang ya, La?" tanyanya
"Ge'er deh. Buruan Mas. Mau gak?"
"mau lah" Izam segera masuk ke dalam minimarket.
Izam memberikan es krim dan cokelat pada Lala.
"Loh Mas?" Lala nampak heran.
"Kata orang, makan coklat bisa ngembaliin Mood." ucap Izam
"Ketara banget memang Mas?"
"Haha.. Kamu jujur juga. Iya. Muka kamu kusut kaya jemuran yang abis diremas-remas"
"Mas Izam jahat banget!" gerutu Lala
"Udah, nih makan" Izam membuka cokelat kecil untuk Lala
"Mas Izam?" Lala menawarkan cokelat pada Izam
"Enggak. Aku lagi gak sedih. Aku cuma temani yang lagi bersedih" ucap Izam
"Terima kasih ya Mas, Mas baik banget sama aku" ucap Lala tulus
"Sudah pasti dong, aku yang terbaik" Izam membanggakan dirinya.
Izam dan Lala berbincang hangat di depan minimarket. Lala tak henti tertawa saat mendengar candaan yang terlontar dari mulut Izam.
"Mas, yuk pulang. Sudah lama kita disini" ucap Lala seraya berdiri. Dia meregangkan tubuhnya.
"Kayaknya spot favorit nih ngobrol depan minimarket" ujar Izam
"haha.. Bukan favorit, tapi karena kita ketemunya ya disini terus"
"Hehe iyalah. Untung rumah kita deketan ya La"
"Memang kalau jauh kenapa?"
"Ya gak bisa ketemu La. Gimana sih?"
"Hehe iya ya"
***
"Assalamu'alaikum Bu"
"Wa'alaikumussalaam."
"Keenan mana?"
"Aku suruh pulang bu, dia gak enak badan" bohong Lala
"Lagian kalian main gak tahu waktu"
"Yee.. Ibu juga dulu pernah muda."
"Ibu tapi gak kayak kamu"
"Memang ibu gimana?"
"Ya nginep aja sekalian. Haha"
"haha.. Dasar Ibu. Aku kira mau sok anggun, gak boleh keluar malam segala macem"
"Ya iya lah.jaman dulu mau pacaran saja ngumpet-ngumpet dari orang tua. Boro-boro terang-terangan kayak anak jaman sekarang. Baru ketemu saja sudah gemetaran." ucap Ibu
"Kayak ngapain saja pakai gemetaran. Haha..aku mandi dulu ah."
Setelah berlama-lama dikamar mandi, dia masuk ke dalam kamarnya dengan lebih segar. Lala membuka ponselnya, terdapat tiga panggilan dan beberapa pesan dari Keenan. Lala merasa tak tertarik untuk membukanya. Dia sengaja mematikan ponselnya. Dan merebahkan dirinya.
'Apa jalan yang ku tempuh salah? Baru segini rasanya beraf sekali buatku.'
'Apa kamu cinta aku, Keen. Kok aku sakit ya, lihat kelakuan kamu kayak tadi.'
'Lelah juga pacaran. Banyak makan hati daripada senangnya.'
Tak butuh waktu lama, Lala terlelap.
***
"Laaaaaa.. Banguuuuunnn.. Kumat lagi kamu sekarang bangun siang." Ibu membuat Lala tersadar dengan terpaksa.
"Astaga.."
"Aku lelah Buu." Lala menarik selimutnya kembali menutupi kepala.
"Laaaa.." Ibu mendekat. "Kamu sakit?"
"Aku lemas Ibu. Sudah ah. Mumpung libur. Aku mau istirahat"
"Tumben kamu gak pacaran? Lagi marahan?" tebak Ibu
"Aku lemas Ibuu. Kan sudah aku bilang" bohongnya
"Oh ya sudah." Ibu tak banyak bicara. Dia membiarkan putrinya tertidur kembali.
Keenan berkali-kali menghubungi Lala namun ponselnya tidak aktif. Dia baru tersadar, kalau Lala marah kepadanya.
Keenan nampak frustasi. Dia merutuki dirinya sendiri yang larut dengan perasaannya saat melihat mantan kekasihnya.
Keenan segera mandi lalu bersiap ke rumah Lala.
"Mau kemana pagi-pagi gini?" tanya Mama
"Ada urusan sebentar Ma"
"Sarapan dulu Keen" pinta Mama
"Keenan" Pak Wijaya memanggilnya.
"Iya." Dia mengerti, Keenan segera menarik kursi dan sarapan bersama orangtuanya.
"Papa nanti mau bicara." ucapnya
"Setelah urusanku selesai Pa"
"Setelah sarapan" tegas Pak Wijaya membuat Keenan menghembuskan nafasnya.
Selepas sarapan, Keenan mengikuti Pak Wijaya masuk ke dalam ruang kerjanya. Disana menumpuk beberapa buku tebal yang terlihat sedikit usang.
"Baca semua." ucap Pak Wijaya.
"Apa itu Pa?" tanya Keenan
"Baca saja. Nanti kamu akan mengerti" ucapnya
"Papa harap kamu bisa meneruskan perjuangan Papa. Bukan Papa gak percaya sama kakakmu. Hanya saja, untuk saat ini dia masih seperti itu. Dan Papa juga tidak membedakan antara kamu dengan kakakmu." ucap Papa
"Kenapa Papa gak coba jelaskan pada Kakak biar dia mengerti."
"Percuma, sejauh apa Papa dan Mamamu berusaha meyakinkannya, sejauh itu dia menarik diri dari kami."
"Tolong bantu Papa. Cuma kamu harapan Papa" ucapnya seraya menepuk bahu anaknya
Keenan hanya mematung. Rasanya berbannya bertambah berkali-kali lipat.
***
Keenan menepikan mobilnya di samping pagar rumah Lala. Dia membuka kaca mata hitam miliknya kemudian membawa parcel buah ditangannya.
Dia mengetuk pintu rumah Lala. Tak ada jawaban disana. Beberapa kali dia mengetuk pintu rumahnya seolah tak sabar.
Hingga terlihat knop pintu bergerak Keenan berdiri mematung.
"Keenan"
"Honey? Kamu baru bangun?" tanyanya
"Hehe Iya."
"Aku boleh masuk?" tanya Keenan
"Oh. Iya" Lala membuka pintunya.
"Tunggu sebentar" ucap Lala
Dia segera masuk ke dalam dan membuatkan teh hangat untuk Keenan.
"Di minum Keen" ucap Lala. Mereka nampak sedikit canggung. Terlebih Keenan melihat mata Lala yang sedikit membengkak.
"Kenapa ponsel kamu mati Hon?"
"Aku mandi dulu ya Keen. Tunggu sebentar." Lala tak mengindahkan pertanyaan Keenan. Dia segera masuk ke dalam. Lala membiarkan Keenan menunggunya berlama-lama dikamar mandi.
Sudah satu jam lebih Lala membuat Keenan menunggu. Lala masih berdiam diri di kamarnya, dia enggan bertemu dengan Keenan. Sementara Keenan masih setia menunggunya walau sebenarnya dia bosan. Dia tahu Lala sedang marah kepadanya.
Lala sengaja tak berdandan didepan Keenan. Dia bahkan memakai kaos dan celana hot pans yang biasa dia pakai di rumah.
"Ibu kemana? Kok sepi?"
"Ibu dirumah tetangga, bantu hajatan" ucap Lala begitu menghampiri Keenan.
Lala duduk bersebrangan dengan Keenan. Dia menyalakan ponselnya.
"Maafkan aku ya Hon
"Buat apa?"
"Kalau kelakuanku kemarin menyakiti hati kamu"
Lala menatapnya malas.
"Kamu cocok sama dia kok, Keen"
"Kamu kok bilang gitu? Sudah jelas-jelas dulu dia selingkuh. Kamu gak lihat apa yang kemarin tabrakan sama aku itu anaknya dia."
"Aku sih gak tahu, dia anaknya atau bukan."
"Aku kan cerita sama kamu kalau dia hamil sama orang lain." Keenan mulai tersulut.
"Ya siapa tahu, dia sekarang jadi janda muda"
"Lashira! Kamu bicara apa!" bentak Keenan
Lala hanya terdiam.
"Pulang saja Keen." usir Lala
"Kamu ngusir aku?"
"Aku sudah malas bertemu denganmu."
"Tapi La, kamu lupa aku cintanya sama kamu. Kamu gak percaya sama aku?"
"Gimana aku mau percaya? Sikap kamu sendiri seperti itu."
"Sikap yang mana?"
"Kamu malu kalau pacarmu yang sekarang tidak sebening mantanmu? Sampai-sampai kamu menarikku menjauh darinya!" ketus Lala
"Hon, kamu salah faham! Aku gak malu sama sekali! Aku hanya muak melihat wajahnya!"
"Aku tahu kamu belum bisa move on dari dia. Buktinya, kamu lebih suka menghindar daripada menghadapinya."
Keenan terdiam. Keduanya memalingkan mukanya masing-masing.
"Pulang saja Keen. Aku lelah"
"Kamu masih ngusir aku?"
"bisa dibilang iya" jawab Lala datar
Keenan berdiri sambil berkacang pinggang, Keenan mendongakan kepalanya ke atas sambil memejamkan matanya.
Keenan mendekati Lala yang masih duduk. Dia berjongkok dihadapan Lala.
"Honey, please. Aku minta maaf. Aku kemarin gak berpikir kesana. Yang aku pikir, gimana caranya agar tak pernah bertemu wanita itu lagi" Keenan meraih jemari Lala.
"Hon, sumpah demi apapun semalaman aku kepikiran kamu, Hon. Aku tahu, aku salah. Aku melarikan diri dari wanita itu. Tapi demi apapun, aku gak pernah malu berdampingan denganmu. Kamu terlalu jauh berpikirnya kalau kamu mengira aku malu."
Lala membisu.
"Hon, aku gak mau hubungan kita retak gara-gara wanita yang sudah aku buang dalam pikiranku" ucap Keenan
"Trush me, please. Honey?" Keenan sedikit putus asa
"Maaf kalau aku salah, aku menghindar. Tapi aku gak malu punya pacar kamu. Kamu lucu, kamu unik, kamu baik, kamu buat aku nyaman, kamu segalanya buat aku" Keenan membujuknya.
"Hon, percaya kan? Sumpah demi apapun aku.. "
" Sumpah aja terus" potong Lala sambil menangkup muka Keenan menjauh dari dirinya hingga Keenan hilang keseimbangan dan jatuh terduduk ke belakang.
"Aduh.."
"Iya gak apa-apa kalau kamu begitu sama aku, asak kamu gak marah lagi." ucap Keenan seraya mendekat kembali.
Lala menggigit lengan Keenan. Keenan hanya terdiam menahan sakitnya gigitan Lala yang sedang melampiaskan emosinya.
Lala merasa heran, tak ada protes Keenan disana. Dia memukul dada bidang pacarnya seraya meneteskan air mata.
"Aku benci sama kamu!" Lala terus memukul dada Keenan
Keenan memeluknya seraya mengusap lembut kepala pacarnya.
"Maaf honey. Maafkan aku, aku pengecut" ucapnya lembut. Mendengar hal itu membuat Lala semakin sakit.
"Aku cinta kamu Lashira. Cuma kamu yang aku tuju sekarang" Keenan menatap manik Lala. Dia mengecup lembut kening Lala.
"Udah dong, jangan nangis. Kamu tuh galak iya, cengeng juga iya" ucapnya lembut seraya menghapus jejak-jejak air mata Lala.
"Kamunya jahat. Aku benci sama kamu"
"Maaf. Aku pengecut. Aku gak niat apapun sama kamu. Kalau ketemu dia lagi, bila perlu aku sedot kamu di depan dia" ucap Keenan yang membuat Lala memukul lengannya.
"Mesum!" ketus Lala
"Biar dia tahu kan, aku cintanya sama kamu."
"Aku benci kamu"
"Yakin?"
"Ih kamu!" Lala meraih lengan Keenan dan menggigitnya kembali.
"Aw.. Sakit hon." Keenan mengusap dua bekas gigitan Lala di lengannya. Dia pura-pura mengendusnya
"Hooeekk.. Bau"
"Enak aja! Aku udah gosok gigi tahu!" ketus Lala.
"Sana ganti baju ah" pinta Keenan
"Mau kemana?"
"Makan diluar. Kamu belum makan kan?"
"Gak mau. Sana pulang."
"Gak mau. Mau ketemu Ibu kader"
"Mau apa?" Lala nampak heran
"Mau ngawinin anaknya" ucap Keenan. Lala langsung menoyor kepala Keenan.
"Kawin-kawin" ketus Lala membuat Keenan tertawa.
"Sana ganti baju"
"Enggak. Males"
"Ya udah, makan disini aku temani' ajaknya
"Enggak."
"Kamu mau apa memangnya?" tanya Keenan
"Gak mau apa-apa"
"Ayo ganti baju" Keenan menarik lengan Lala agar mau berdiri.
Lala berdiri, Keenan menariknya kemudian mendorong tubuh Lala.
Lala berbalik "Aku bisa sendiri Bee!" kesalnya.
Keenan tak menyiakan kesempatan. Dia memeluk Lala erat. Lala membalas pelukan Keenan. Mereka mendapatkan kenyamanannya masing-masing.
"Ehem.. Assalamu'alaikum" suara lantant Ibu mengagetlan keduanya.
.
.
.
Yuhuuu yang nunggu HonBee.. Absen kehaduarn yaaa like dan komentarnya yaa..
Jangan lupa vote juga. Terima kasih^~