
Keenan menepikan mobilnya di taman kota. Lala tak banyak bicara, dia tahu tujuan Keenan menepikan mobilnya untuk apa.
"Honey, Aku minta maaf" sesal Keenan
"Setiap ada masalah, kamu tuh selalu emosi terlebih dahulu Bee. Kamu itu gak percaya sama aku. Padahal aku sudah berusaha jujur dan terbuka sama kamu. Tapi apa tanggapan kamu?"
"Maaf. Aku hanya trauma Hon. Aku takut dibohongi lagi."
"Berarti kamu memang tidak percaya sama aku. Percuma Bee, aku meyakinkanmu sekuat tenagaku, kalau hati kamu sendiri tak yakin sama aku."
"Bukan begitu Hon"
"Lantas bagaimana? Aku gak suka Bee, kamu sangkut pautkan dengan masa lalumu. Sekalipun itu menyakitkan buatmu. Tapi aku harap hanya ada kita. Aku dan kamu. Cukup traumamu jadi pelajaran untukmu. Bukan menjadi bahan curiga kepadaku."
"kalau kamu tak siap menanggung resiko pacaran, sebaiknya kita hentikan sampai disini" ucap Lala yang membuat Keenan sedikit tersentak.
"Kenapa kamu bicara begitu?"
"Sekarang kalau aku balikan sama kamu, kenapa kamu menjalin hubungan denganku kalau ada bayangan rasa sakitmu saat bersamaku." ucap Lala
"Harusnya hadirnya aku dihidupmu menyembuhkan lukamu. Bukan membuatmu lebih waspada dan ketakutan seperti itu" Lala mencoba memberi pemahamannya.
Keenan membisu. Dia sedikit membenarkan letak kesalahannya. Memang seharusnya dia percaya pada Lala.
"Bagaimana? Apa kita sudahi saja sampai disini Keen?" tanya Lala tegas
"Enggak hon. Aku minta maaf" ucapnya cepat
"Aku lelah Bee. Aku gak nyaman dengan ketakutanmu yang berlebihan seperti itu. Apalagi itu disangkut pautkan dengan masalalumu" ucap Lala
"Bantu aku, Hon. Bantu aku agar lepas dari rasa traumaku" pinta Keenan dengan wajah frustasi
"Bukan aku yang bisa membantumu, tapi diri kamu sendiri yang harus menyelesaikan segalanya. Kalau kamu belum siap, kita break aja dulu" pinta Lala
"Kamu kok bahasnya itu terus?"
"Ini bukan kali pertama kamu kayak begini kan. Aku harus jelasin ke kamu berapa kali? Jangan kayak anak kecil."
"Bukan kayak anak kecil, tapi aku tahu kayaknya tetanggamu itu ada rasa sama kamu."
"Apa urusannya denganku?"
"Ya jelas ada lah, kalau kamu balik cinta sama dia bagaimana?"
"Tuh kan! Kamu itu gak yakin sama aku! Sudahlah. Aku malas Bee!" Lala hendak turun dari mobil. Namun Keenan menahannya.
"Tolong yakinkan aku, Honey. Aku takut kamu berpaling" Keenan tertunduk lesu
Lala memgubah posisi duduknya. Mereka lama terdiam.
"Aku suka kesal kalau kekanakanmu kumat kayak begini" Lala mengubah posisinya kembali menghadap Keenan
"Lihat aku Bee, aku tuh sayang kamu. Cintanya sama kamu. Bukan dia atau siapapun itu. Aku hanya fokus sama hubungan kita. Aku belajar memantaskan diri untuk kamu, Bee. Aku sedang memupuk rasa percaya diri aku untuk bisa sejajar denganmu, Bee. Tolong jangan memperumit dengan masalah lain, kalau diantara kita sendiri ada jurang pemisah." ucap Lala
Keenan mendekatkan diri pada Lala. Dia menarik tubuh Lala dalam dekapannya.
"Maafkan aku. Maaf aku yang gak peka" Keenan melepas pelukannya kini tangganya bertengger dikedua bahu Lala.
"Honey dengar, kamu ada aku. Kamu harus percaya diri, harta bukan segala buat aku, Hon. Kalau dengan melepas semuanya buat aku bahagia sama kamu, aku rela" ucap Keenan
"Jangan ngaco Bee! Jangan jadi anak durhaka deh, nanti aku juga yang kena!" ketus Lala. Dia melepaskan kedua tangan Keenan
"Iya. Aku cuma bilang seandainya saja" Ucap Keenan seraya tersenyum
"Kamu mau cemburu lagi kalau aku bicara sama dia?" tanya Lala
"Aku coba biar gak cemburu ya Hon. Aku percaya sama kamu" ucap Keenan
"Yakin?"
"Aku belajar gak cemburu. Tapi kamu juga jangan manas-manasin aku juga!" ketus Keenan
"Enggak, Bee. Kapan coba aku manasin kamu"
"Itu tadi?"
"Manasin dari mana? Kamu lihat aku ganjen manggil-manggil dia gak?" tanya Lala
"Ya enggak. Cuma aku gak suka lihat kamu kayaknya happy banget ketawa sama dia"
"Makanya kamu bikin aku ketawa dong. Jangan pinter bikin marah terus"
"Aku pinter bikin kamu melayang tahu" ucap Keenan
"Ayo pulang."
"Kangen Hon. Diem dulu" pinta Keenan
"Bee, beli kacang rebus Bee. Daripada diem gini" ucap Lala saat melihat pedagang melewati mobil mereka.
Keenan segera membuka pintu.
"Bang.. Kacang" teriaknya. Lala tertawa saat mendengar Keenan berteriak.
"Dompet aku Hon." pintanya. Dia segera mendekat ke pedagang kacang tersebut.
"Astaga.. Banyak sekali dia belinya" gumam Lala yang melihat pacarnya dari dalam mobil.
"Seumur-umur aku baru beli kacang beginian" gerutu Keenan
"Haha.. Enak tahu, Bee. Harusnya sambil nonton layar tancep, Bee" ucap Lala seraya tertawa
"Apa tuh?"
"Ih kamu gak tahu?"
"Apa?"
"Ya itu layar tancep"
"Enggak. Udah jangan dibahas. Kamu suka ngetawain" keluh Keenan
"haha.. Susah hidup jadi tuan muda. Monoton kayaknya."
"Emang. Makanya bikin berwarna dong" pinta Keenan seraya membuka kacang.
Mereka sibuk memakan kacang.
"Sumpah deh Hon, pacaran sama kamu nyemilnya beginian"
"Suka juga Malih! Jangan protes."
"Hahaha.. Iya enak sih. Cuma diluar ekspetasi aku" ucapnya
"Makan yuk?" ajak Keenna
"Habisin ini deh"
"Hon, ini banyak banget."
"Lagi kamu gak kira-kira belinya. Kamu gak tanya harga emang?" tanya Lala
"Enggak. Aku kasih aja duitnya segitu. Dia kasih segini"
"Kamu mah mau aja di bod*hi sama Kang kacang" ucap Lala
"emang kenapa?"
"Uang segitu harusnya lebih banyak lagi tahu. Gak segini!"
"Ini udah banyak Hon. Jangan maruk."
"Ih kamu mah! Ini tuh kurang tahu, kalau uangnya segitu! Kamu di bohongi tuh sama Kang kacang" ketus Lala
"Udah biarin sih Hon. Kasihan juga dia jam segini jualannya masih banyak."
"Astaga! Dia emang jualannya malam, Bambang! Wajar kalau masih banyak"
"Haha.. Aku kira gak laku Hon"
"Susah emang gaul sama Tuan Muda mah!" gerutu Lala
"Makanya kamu jajan jangan yang aneh-aneh deh!"
"Ini apa?" tanya Lala
"Kacang"
"Aneh gak?"
"Ya Enggak. Cuma ya aku gak biasa beli beginian Hon."
"Waktu itu apa? Di taman kota beli minum" ucap Lala
"Aku disana beli air doang, Honey. Gak pernah jajan yang lain kecuali sama kamu doang waktu itu. Udahnya juga aku sakit perut tahu!" ketus Keenan
"Perut Tuan Muda gak bisa sembarangan masuk kali ya. Kamu jangan makan ini, nanti sakit perut lagi" ketus Lala
"Gak gitu juga Honey. Aku cuma jarang jajan saja kecuali beli kopi sama anak-anak." ucapnya
"Terus selama kuliah sama teman-teman kamu, emang kamu gak jajan apa? Di kampus kan banyak jajanan enak."
"Iya makan sekali-kali Hon. Gak tiap hari aku jajan sembarangan juga."
"Waktu magang kamu mau saja jajan bakso pinggir jalan sama aku."
"Astaga semua dia bahas. Ya aku lapar, honey!" gerutunya membuat Lala tertawa
"Kamu gak suka lihat aku marah. Tapi kamu yang suka buat aku kesal!"
"Hahaha.. Kalau marah kamu begini, bikin gemes" Lala menangkup kedua pipi Keenan
"Hon, sakit tahu" ucapnya, masih sibuk memakan kacang
"Perasaaan dari tadi kamu deh yang gak berhenti makan kacangnya" ucap Lala
"Haha.. Susah mau berhenti Hon."
"Ayo pulang, Bee. Nanti Ibu ngomel deh."
"Habis ini ya." pintanya.
***
"Maa..cepat dong Ma, nanti telat" teriak Keenan pada Mamanya. Dia tak hentinya menatap jam yang melingkar ditangannya.
"Iya iya ini Mama sudah." ucapnya.
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil dengan setelan formal.
"Undangannya Ma?" tanya Keenan.
"Ada ini."
Tiba di kampus, suasana sudah sangat ramai. Keenan mencari keberadaan teman-temannya.
"Bro Keen. Wisudaa Kita" Mas Pram merentangkan tangannya. Dia menghampiri Keenan dan memeluknya.
"Dih, lepas gak? Gatel nih!" canda Keenan yang menyita perhatian Mama Keenan.
Mas Pram menyalami kedua orangtua Keenan.
'Keluarga Sultan, gayanya saja sudah beda' batin Mas Pram
"Bang Al mana?" tanya Keenan
"Aku disini" ucapnya seraya menunjuk pipinya seperti biasa. Mama Keenan nampak tersenyum melihat tingkahnya. Mira iikut menghampiri mereka.
"Oya Ma, ini juga teman aku" ucap Keenan mengenalkan Bang Al pada Mamanya.
"Aku juga teman Keenan, tante." ujar Mira
"Oh, hai" mereka bersalaman saling menempelkan pipi
"Tante cantik sekali" puji Mira
"Dia pacarnya Bang Al, Ma" ujar Keenan tak suka membuat Mira nampak tersenyum kikuk
"Oh, kalian cocok" ucap Mama Keenan asal seraya tersenyum.
"Terima kasih, Tante" jawab Bang Al cepat.
"Orangtua kalian mana?" tanya Keenan.
"Sudah masuk ke dalam" ucapnya
"Ma, ayo masuk" ajak Papa Keenan
"Mama tinggal ya sayang" ucapnya lembut pada Keenan.
"Gilaaa.. Emak aku boro-boro manggil begitu" keluh Bang Al
"Iri bilang Bos" ucap Keenan santai.
"Haha.. Mending sih dari pada si Mas Pram. Masa emaknya manggil dia Lele" sindir Bang Al
"Maksudnya? "
"Ibu masuk dulu yo, Le" Bang Al memperagakan dengan logat khas Mas Pram
"Haha..anda terlalu kuno Bang Al. Le itu panggilan. Kalau bahasa inggris Boy itu maksudnya" Mas Pram menjelaskan
"Lele lele, licin dong aku Bang" gerutu amas Pram membuat mereka terbahak.
"Mama kamu cantik banget Keen." ujar Mira
"Terima kasih"
"Sayang calon mantunya gak ikut" Ucap Bang Al sengaja.
"Gak apa-apa, mereka punya waktu khusus nanti." ucap Keenan
"Si Lala mau kamu kenalkan, Bro?" tanya Mas Pram
"Gini banget punya teman udah tua. Masa dia lupa. Mereka kan sudah kenal. Besok, nyokap ngajak ketemuan sama Lala." ucap Keenan melirik Mira sepintas.
"Wiiihh.. Lampu hijau, gas pool" ujar Bang Al
"Halalkan segera" sambung Mas Pram
"Maunya gitu lah Mas, biar gak usah nganterin dia ke rumah orangtuanya." ucap Keenan
"Pacaran baru sebentar jangan dulu deh menurutku Keen, nanti kamu menyesal" ucap Mira
"Nyesel kenapa gak dari dulu." ucap Mas Pram. Ketiganya tertawa
"Mir, ayo Abang halalkan" ajak Bang Al
"Apa sih Bang, gak lucu deh yang begitu dipakai mainan" ucapnya kesal.
***
"Selamat wisudaaa pria tampanku, kesayangannya aku.. Semoga makin dewasa, gak ambekan, makin sayang akuuu" Keenan tersenyum saat membaca pesan dari Lala
"Terima kasih gadisku. I love you" balasnya singkat
Keenan dan teman-temannya menikmati hari wisuda mereka.
"Mau makan dimana kita?" ajak Papa Keenan setelah acara wisuda Keenan selesai.
"Yang lulus maunya dimana?" tanya Mama Keenan.
"Aku ikut saja, Ma"
Mereka tiba di restoran Hotel bintang lima sesuai keinginan Papa Keenan.
"Teman kamu lucu semua Keen, kenapa gak pernah dibawa kerumah?" tanyanya
"Waktu Mama Papa gak ada, aku bawa sekali ke rumah."
"Ajak saja lagi ke rumah, mereka rame juga" ucap Mama Keenan
"Bukan saatnya main-main lagi sekarang" Papa Keenan memberi peringatan
"Aku tahu Pa" jawab Keenan singkat.
Tak ada lagi percakapan diantara mereka.
***
"Mau kemana kamu, Nak?" tanya Mama Keenan saat melihat anaknya hendak keluar rumah
"Ada perlu, Ma. Aku berangkat" ucapnya
Keenan melajukan mobilnya menuju kantor Lala. Dia memunggu Lala keluar. Saat melihat Lala keluar gerbang, Keenan keluar dari mobilnya dengan tergesa.
"Hon" Keenan melambaikan tangannya.
Lala nampak kaget, dia menghampiri tukang ojek yang baru tiba kemudian memberikan uang padanya.
Lala segera menghampiri Keenan.
"Kamu kok gak bilang mau jemput sih Bee?" ucap Lala seraya meraih tangan Keenan dan mencium punggung tangannya.
"Surprise dong" ucapnya
"Tahu gitu aku gak usah pesan ojek tadi!" kesal Lala
"Maaf-maaf Hon. Kan Surprise judulnya. Ayo masuk" ajaknya
"ih aku dekil gini, kamu seger banget Bee. Kesel deh aku!" ucap Lala
"Haha.. Dari dulu kali"
"Enak saja! Kamu emang mau pacaran sama orang dekil. Rabun berarti kamu"
"Haha. Diguna-guna tahu, bukan rabun"
"Sembarangan!"
"Bee..selamat sayangku" Lala melingkarkan tangannya dilengan Keenan.
"Jalan dulu Hon, gak enak ini dipinggir jalan" ucap Keenan seraya melajukan mobilnya. Lala masih menempel dilengannya.
"Sana ah, bau tahu kamu itu" canda Keenan
"aku tadi semprot parfum dulu tahu"
"Ganjen. Mau pulang semprot parfum! Cuma di bonceng kang ojek juga" gerutu Keenan
"Please, kamu jangan dibutakan cinta. Masa sama Kang Ojek saja kamu cemburu juga" ucap Lala
"Haha.. Iya juga"
Keenan menepikan mobilnya.
"Kamu gak ngasih kado ke aku?" tanya Keenan
"Baru mau beli, kamu udah datang duluan" polosnya
"Aku mau kadonya, kamu besok ketemu Mama saja ya" ucap Keenan
"Yakin Bee?" tanyany
"Iya dong"
"Besok aku jemput ya jam 7 pagi" ucap Keenan
"Kuy dari sekarang aja sekalian" ajak Lala
"Haha.. Yakin?"
"lagian kamu, jam 7 pagi aku harus disana. Mau ngapain coba?"
"Buatkan sarapan kek, Hon"
"pembantu dirumah kamu ada banyak"
"Kan beda Hon, kalau dibuatkan sama orang yang kita sayang." ucapnya
"Iya deh biar cepet. Yuk pulang. Aku mau siap-siap buat besok" ucap Lala
***
Lala menunggu Keenan datang menjemputnya. Dia nampak sangat gugup. Beberapa kali, Lala melihat cermin.
"Ngaca teruus..kayaknya itu kaca sudah bosan ngelihat kamu La" ucap Ibu
"Ih ibu sirik aja. Aku cantik gak Bu?" tanya Lala
"Biasa aja"
"Ibu! Jangan bikin aku gak percaya diri dong" ucapnya.
"Mau kemana sih? Keenan juga pasti sudah tahu buluknya kamu"
"Astaga, anak sendiri dikatain buluk"
"Lah, kata kamu dulu teman kerja kan? Pasti dia tahu dong buluknya kamu seharian ditempat kerja" ucap Ibu
Ditengah-tengah perdebatan mereka, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Ibu buka dulu pintunya, Bu" ucap Lala
"Ya ampuuunn.. Sudah dari tadi juga. Cepet kamu ke depan! Malah nyuruh orangtua bukain pintu!" gerutu Ibu
Lala membuka pintunya, disana Keenan tersenyum.
"Memandangmuu.. " Ujar Keenan
.
.
.
Haha.. Keenan ketularan yang lagi viral tuh. Gimana nih nanti reaksi Mama Keenan ketemu Lala? Yang mau lanjut, vote dulu dong. Jangan lupa like dan komentarnya. Terima kasih