My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Apa Kamu Bersungguh-sungguh?



Keenan dan Lala melepaskan diri mereka.


"Baguuusss yaaa.. Kalian malah asyik-asyikan pelukaaann" Ibu mendekat kemudian menjewer telinga Keenan


"Buu.. Ampun Buu.. Maaf.. " Keenan nampak kesakitan sementara Lala hanya tertawa.


"Kamu juga tertawaaa. Sini kamu Laaaa" teriak Ibu


Lala berhenti tertawa. Tak lama ibu melepaskan tangannya dari telinga Keenan yang nampak memerah.


"Asyik berduaan yaaa..pakai pelukan segala" ucap Ibu


"Maaf Bu, tadi Lala marah sama aku. Makanya aku peluk dia"


"Kamu lagi, ganjen banget! Gak tahu malu kamu!" ibu menatap Lala tajam


"Cuma peluk doang Bu" gerutu Lala


"Terus kamu ngarep apa? Apa ibu nikahkan kalian berdua?" tanya Ibu


"Jangan Bu"


"Iya bu" ucap mereka bersamaan.


"Hon, kok kamu bilang jangan?" tanya Keenan heran.


"Duduk kalian" titah Ibu


Keduanya patuh. Keenan sedikit menciut. Suasana hening seketika semetara Ibu mengatur amarahnya.


"Maafkan saya bu yang sudah lancang." ucap Keenan membuka percakapan diantara mereka seraya tertunduk.


"Kalian sudah sejauh apa?" tanya Ibu


"Maksudnya bagaimana Bu?" tanya Keenan


'Dasar bod*h! Gitu saja gak ngerti" batin Lala


"Gak jauh Bu, cuma pelukan saja. Itu pun baru tadi. Eh sudah ke pergok duluan sama Ibu" gerutu Lala sambil berbohong.


"Hhh... Ibu takut. Takut kalian kebablasan."


"Keenan mengerti kan maksud Ibu?"


"Mengerti Bu, maafkan aku yang sudah lancang."


"Apa ibu harus ikut kalian tiap kalian kencan?" tanya ibu


Keenan dan Lala terbelalak kaget.


"Bu, kita bukan anak kecil Bu. Masa ibu gak percaya sama kita?" protes Lala


"Ibu curiga, jangan-jangan dibelakang ibu, kalian sudah melakukan lebih" Ibu menatap Keenan


"Enggak Bu. Saya gak berani melakukan hal lebih jauh sebelum menikah." ucap Keenan tegas


"Orang tuamu sudah tahu kamu punya pacar?" tanya Ibu


"Sudah Bu. Lala sudah bertemu keluargaku, Bu. Dan keluargaku merestui hubungan kami" ucap Keenan


"Kayak anak sultan saja kamu, pakai restu segala" ketus Ibu


'Astaga.. Ibu kader kalau tahu Keenan tuan muda bisa kejang-kejang' batin Lala


"Maaf bu, maksud saya, keluarga saya suka sama Lala" ralat Keenan


"Kamu kenapa gak cerita sudah ke rumah Keenan?" Ibu balik menatap Lala


"Ya ampun Bu, cuma kenalan saja. Gak macem-macem." Lala membela diri


"Kamu kenal sudah lama sama Lala?" tanya Ibu


"Bu, dulu kan sudah dijelaskan" protes Lala


"Ibu gak tanya kamu"


"Iya Bu, sudah lama. Pacarannya saja yang baru."


"Cuma pacaran?" Ibu menatapnya heran. Mengharapkan jawaban yang lain dari Keenan.


"Ehm.. Saya mau serius sama Lala Bu. Walaupun saya gak tahu apa yang terjadi ke depannya bagaimana antara saya dan Lala. Tapi saya menjalani hubungan ini serius dengan Lala."


Ibu mendengarkan Keenan.


"Maaf, untuk saat ini saya tidak bisa menjanjikan akan menikahi Lala secepatnya. Mengingat saya baru lulus kuliah dan ada beberapa hal yang harus saya urus terlebih dahulu. Tapi saya mohon Ibu merestui hubungan kami yang tidak main-main ini" ucap Keenan tegas menatap manik Ibu.


"Kenapa kamu memilih Lala? Lala segini adanya Keenan. Kamu tentu tahu tabiat Lala seperti apa."


'Ibu masih saja menjelekan anaknya' batin Lala


"Saya mengikuti apa kata hati saya bu. Lala membuat saya nyaman berada disisinya. Dan saya terima Lala apa adanya. Saya mohon, Ibu juga terima saya apa adanya Bu. Maaf kalau tadi saya lancang. Tapi saya tidak akan merusak Lala Bu. Maksudnya melakukan hubungan suami istri." ucap Keenan


"Apa kamu bersungguh-sungguh?"


"Iya Bu"


"Baiklah. Ibu percaya. Ibu tidak akan menghalangi hubungan kalian. Ibu harap kalian bisa jaga diri karena setan datangnya tanpa permisi. Mengerti kan maksud ibu?"


"Iya Bu. Terima kasih Bu" Keenan bangkit kemudian mencium punggung tangan Ibu.


Ibu merasa haru melihat keberanian Keenan yang dilihatnya pemalu itu. Ibu merengkuh bahu Keenan kemudian memeluknya.


"Tolong jaga kepercayaan ibu buat kamu ya Nak. Cuma Lala yang Ibu punya saat ini. Harta Ibu yang paling berharga. Harapan Ibu satu-satunya." Mata Ibu terlihat berkaca-kaca


"Ibu..bicaranya kayak aku mau nikah saja" Lala mengelus punggung Ibu. Dia merasa terharu dengan ucapan Ibu


"Iya Bu. Saya akan jaga Lala samampu saya. Doakan kami berjodoh ya Bu" pinta Keenan.


"Hhh.. Ya sudah bangun kamu" Ibu mengerjapkan matanya. Nada bicaranya kembali seperti semula


"Ibu tinggal dulu, lupa ibu kesini cuma mau ngambil wajan" ucap Ibu seraya berlalu meninggalkan mereka.


Keenan dan Lala saling pandang. Lala sedikit takjub dengan keberanian Keenan.


"Ibu tinggal ya, kalau mau makan, ibu sudah masak. Sana, kamu jangan sungkan" ucap Ibu pada Keenan.


"Siap Bu. Nanti barangkali kita pergi keluar juga bu. Saya izin ajak Lala ya Bu"


"Iya. Hati-hati sjaa dijalannya." ucap Ibu seraya berlalu.


Keenan dan Lala masih mematung ditempatnya masing-masing.


"Hon, dengar kan barusan aku bicara apa sama Ibu?"


"Iya lah aku dengar. Aku gak tuli kali" ucap Lala


"Percaya kan sama aku sekarang?" ucapnya kemudian.


Lala yang malu, kini menganggukan kepalanya.


"Ibu masak apa Hon?" Keenan menengok ke dalam. Berharap Lala mengajaknya masuk.


"Kamu mau makan?" tanya Lala.


"Ya udah sini." Lala berjalan, Keenan segera mengekorinya. Dia mengedarkan pandangannya melihat rumah Lala.


"Kenapa? Jauh ya sama istana kamu?" tanya Lala


"Kok begitu? Aku cuma ingin lihat, barangkali ada foto kamu waktu kecil" ucap Keenan berjalan menuju bingkai foto. Lala segera menarik Keenan agar tak mendekatinya. Keenan yang iseng, menabrakan tubuhnya pada tubuh Lala.


"Ih kamu sengaja kan!"


"Kamu yang tarik aku. Ya aku balik lagi ke kamu lah" Bohong Keenan


"Kesempatan! Gak dengar tadi Ibu bilang apa?"


"Kata Ibu asal jangan kebablasan honey, jadi boleh kalau peluk doang. Kan kamu gak bakalan hamil"


"Ih kamu ngomongnya" Lala menyubit pinggang Keenan.


"Sakit Hon." Keenan mengelus pinggangnya


"Jangan lihat foto aku" ucap Lala saat Keenan mulai mendekat kembali untuk melihat foto yang terpajang.


Keenan tak mendengarkannya. Dia terus berjalan, Lala menariknya. Hingga keduanya saling tarik menarik.


"Aku gak lihat asal kamu peluk aku"


"Astaga kamu ih. Sudah ketahuan ibu juga"


"Sekarang aku sudah dapat restu dong" ucap Keenan bangga.


Keenan yang panasaran mencari cara agar Lala menjauh.


"Hon, aku haus" pinta Keenan.


"Ya udah, aku ambil minum dulu" ucap Lala


Keenan segera berlalu melihat foto Lala waktu kecil. Dia mengeluarkan ponselnya kemudian memotretnya.


"Beeee" Lala menaruh gelas di atas meja makan.


"Hapus gak? Sini. Sini" Lala berjinjit hendak mengambil ponsel Keenan.


Tak habis akal, dia naik ke atas sofa sementara Keenan hendak menjauh. Sayangnya, Lala keburu mencengkram belakang kaos Keenan hingga Keenan tertarik ke belakang. Keenan masih mengacungkan ponselnya. Sementara Lala melingkarkan tangannya di leher Keenan kemudian naik ke tubuhya seolah Keenan menggendong dirinya.


"Astaga Hon. Berat banget kamu"


"Bodo"


"Turun. Banyak dosa ya kamu sampai berat begini"


"S*alan!" Lala menoyor kepala Keenan.


Keduanya tertawa.


"Astagaa kamu keras kepala ya" Keenan berdecak sebal. Kini tangannya menahan kaki Lala agar dirinya tidak tercekik.


"Bilang dong kalau mau aku gendong begini"


"haha enak aja. Udah aku mau turun" Lala menepuk bahu Keenan.


Keenan yang iseng memutar tubuhnya membuat Lala terlonjak dan mengeratkan pelukannya.


"Keenan udah. Pusing Bee.." ucap Lala. Seketika Keenan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Mereka saling menindih dari samping.


"Hah! Capek banget. Lebih capek gendong karung beras daripada futsal" ucap Keenan


"Kurang asem kamu bilang apa!" Lala berteriak sementara Keenan terbahak.


Lala menindih Keenan. Dia memukul-mukul Keenan secara liar. Keenan menutup mukanya dengan kedua tanyannya hingga akhirnya dia berontak dengan menggenggam tangan Lala. Keduanya saling memandang dengan nafas memburu.


Keenan mendekatkan wajah Lala, dia mengelus lembut pipi Lala membuat Lala tersipu malu. Sejurus kemudian dia menyubit pipi Lala keras.


"Keenan!" Lala yang malu kini memukulnya kembali hingga Keenan mengaduh meminta ampun.


"Manusia jahat!" Lala turun dari tubuh Keenan kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan Keenan yang tertawa pelan.


"Dasar rese! Nyebelin! Amit-amit kenapa aku bisa pacaran dengan lelaki kayak dia" Lala mengumpat kesal. Dia mencuci mukanya yang terasa panas. Rasanya dia sungguh malu saat membayangkan Keenan akan menciumnya.


"Otakku lagi udah ngarep yang iya-iya. Dasar bod*h!" gerutunya kembali.


Lala keluar dari kamar mandi, dia tak melihat Keenan.


'Kemana dia?' batin Lala


Dia berjalan mendekati sofa.


"Astaga, enak-enakan dia tiduran" gumam Lala


Lala melambaikan tangannya di depan muka Keenan.


"Masa sudah pules lagi?" Lala bermonolog.


Dia menusuk-nusuk pinggang Keenan, Keenan tak bereaksi apapun. Lala melambaikan tangannya kembali di dekat wajah Keenan.


Tiba-tiba Keenan menarik tengkuk Lala, dia membuka matanya dan..


Cup


Lala sedikit menarik tubuhnya. Tapi Keenan menahannya. Mereka hanya menempelkan bibir. Sejurus kemudian Keenan menutup matanya, dia mengecup lembut bibir Lala kemudian menarik bibirnya menjauh dari Lala. Keduanya membuka mata.


"Nakal!" Lala memukul dahi Keenan


"ssshhhh.. Sakit Hon" ucapnya seraya menggosok-gosok dahinya.


"Kamu mau mengecewakan Ibu?"


"Enggak lah. Aku tahu batasan."


"Gak boleh. Nanti kebablasan"


"Kamu mikirnya kejauhan. Aku cuma sun sayang"


"Dih alesan" Keenan hanya tersenyum


"Kamu juga nutup mata tadi" Keenan meliriknya seraya tersenyum


"Kata siapa? Enggak. Aku narik juga, kamu tahan aku" Lala enggan mengakui


"Iya. Iya. Sana ganti baju"


Mau kemana? Tanya Lala


"Ngurus ruko Honey, sama Mas Pram." Ucapnya


"Jadi Bee?"


"Iyalah. Takutnya keburu disewa orang. Itu lokasinya strategis.


"Depan swalayan yang aku pegang Hon" ucapnya lagi membuat Lala melirik ke arahnya.


"Kamu kerja di swalayan itu?" tanya Lala


Keenan tersenyum.


"Sesekali nanti aku kesana Hon. Kalau kantorku gak di swalayannya juga" ucap Keenan


"aku pikir kantor kamu juga di swalayan itu." ucap Lala


"Enggak Hon. Kantorku di Menara Ex. Itu kantor pusat kami."


Lala sedikit terkejut mendengarnya.


"Jadi nanti kerja disana?"


"Iya. Kamu mau pindah kesana?"


"Enggak."


"Kenapa? Kan punya orang dalam" Keenan menyeringai.


"Aku betah kerja di Petani Maju. Lagipula orang dalamnya kan pacar aku. Nanti orang-orang bikin rumor." ucap Lala


"Rumor apa?"


Lala duduk di samping Keenan.


"Scandal karyawan menggoda Bos Muda nan tampan dan kaya raya" ucap Lala membuat Keenan terbahak.


"Jauh banget mikirnya sih" Keenan mengacak rambut Lala


"Pasti kan begitu, apa lagi tahu Bosnya masih muda" ucap Lala


"Muda juga aku gak bisa sembarangan jatuh cinta tahu"


"Iya tahu, tuan muda memang pemilih"


"Nah tahu kan? Makanya kamu beruntung aku pilih" ucap Keenan bangga


"Apa beruntungnya coba? Tukang ngambek begitu"


"Tapi suka kan?" tanya Keenan


"Gak usah ditanya" Lala berlalu masuk ke dalam kamar.


***


"Kita sekarang kesana lagi Bee?" tanya Lala dari dalam kamar


"Iya. Makanya buruan dandannya." Keenan menunggunya diambang pintu sembari melipat kedua tangannya dan menyandarkan tubuhnya disamping pintu.


Keenan melihat Lala yang sedang menyisir rambutnya.


"Yuk" ajak Lala mendekat ke arah Keenan. Namun Keenan tak bergeming. Keenan mengecup lembut kening Lala. Keduanya tersenyum.


"Nikah lah besok Hon" ucap Keenan


"Tadi kamu sendiri yang bilang gak janjiin nikah"


"Ya masa aku bilang nikah tapi orangtuaku belum tahu. Ngaco kamu" Keenan menggenggam lengan Lala.


"Aku nganterin kunci dulu sama Ibu ya? Kamu tunggu di mobil"


"Iya. Buruan"


***


"Bee, kamu percaya sama Mas Pram?" tanya Lala


"Kenapa memangnya?"


"Ya gak apa-apa sih. Cuma ya jangan asal juga."


"Tenang Hon, aku lebih percaya Mas Pram ketimbang Bang Al" ucap Keenan


"Kenapa?"


"Mas Pram lebih ngertiin aku daripada Bang Al."


"Pokoknya Mas Pram itu enaklah orangnya" ucap Keenan


"Ya sudah kalau kamu percaya"


"Kamu mau ngelola kedai kopi bareng Mas Pram?" tanya Keenan


"Yakin boleh?"


"Eh, enggak. Enggak boleh"


"hahaha.. Aku mau Bee"


"Enggak. Kamu di petani maju saja"


"Kenapa sih? Tadi kamu yang tawarin?"


"Enggak jadi. Gak boleh kamu sama dia"


"Dih cemburu Abangnya"


"Pastinya. Abang gak mau Neng dekat-dekat dia."


"Iya sayang" Lala menyandarkan kepalanya di bahu Keenan.


Mereka masuk ke dalam ruko, Mas Pram dan pemilik toko tengah berada disana menunggunya.


"Maaf telat" ucap Keenan


"Nempel teruus" sindir Mas Pram


"Pengantin baru biasanya begitu Mas" ucap pemilik toko membuat Keenan dan Lala saling pandang seraya tersenyum sementara Mas Pram hanya tertawa mengejek.


Lala menunggu mereka melakukan transaksi. Tak berapa lama, pemilik toko memberikan kunci ruko tersebut dan pergi meninggalkan mereka.


"Pengantin baru, sini bisa kasih ide gak?" tanya Mas Pram pada Lala


"Tuh Hon, kita udah cocok. Yuk besok kita ke KUA" ajak Keenan


"Dasar gil*" Lala mendekat ke arah mereka yang sedang membahas konsep kedai kopi mereka.


Ketiganya nampak berdiskusi dengan serius. Lala menyumbangkan ide untuk mereka. Keenan menatap Lala yang terlihat mempesona dengan skill yang dimilikinya.


"Jadi ingin" ujar Keenan


"Apa Bro?"


"Enggak. Ingin kopi" ucap Keenan asal.


"Eh, Bang Al tahu kalian kerjasama begini?" tanya Lala


"Sepertinya belum. Dia sedang merana." ucap Mas Pram


"Merana kenapa Mas?"


"Putus Cinta."


"Serius?" tanya Keenan dan Lala kompak.


.


.


.


Lanjuuutttt? Vote dulu dong. Hehe absen kehadiran juga seperti biasa dengan like dan komentarnya. Terima kasih ^^