My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Pertemuan Tak Terduga



"Bee, kapan kamu mulai kerja?" tanya Lala


"Aku bilang sama Papa setelah ijazahku keluar Hon" ucapnya


"Bentar lagi dong?" tanya Lala


"Enggak lah. Masih lama"


"Kok begitu? Dari wisuda biasanya cepet itu keluar ijazahnya" ucap Lala


"Ya kan gak aku ambil Hon. Jadi gak keluar-keluar" Keenan tertawa


"Dasar kamu!" Lala ikut tertawa


"Jujur aku belum siap sih Hon. Anak kemarin sore, sudah dilimpahkan beban berat."


"Iya. Anak kemarin sore emang kamu tuh. Tapi giliran bahas nikah sok-sok-an sudah berumur" ucap Lala


"Haha.. Gak apa-apa kali Hon."


"Aku harus banyak belajar sih. Tapi nanti juga ada yang mendampingi. Aku gak dilepas gitu aja." lanjutnya


"Terus sekolah kamu gimana?"


"Nah itu, aku bingung Hon."


"Lanjut aja Bee. Aku yakin kamu bisa."


"Reward buat aku apa dong Hon, kalau aku bisa keduanya?" tanya Keenan


"Kok minta ke aku sih?"


"Kan kamu penyemangat aku"


"Apa hubunganya coba?"


"Ada lah hubungannya. Aku kalau berhasil, masa pacar aku gak kasih reward apapun sih?"


"Aku kasih ucapan selamat" Lala tersenyum


"Dih! Apaan!"


"Apa dulu dong Hon?" rengek Keenan


"Kamu mah maksa."


"Ya udah kalau kamu gak ngasih, aku nyerah aja!" kesal Keenan


"Ya udah kalau kamu nyerah merjuangin aku" ketus Lala


"Kok jadi merjuangin kamu? Gak nyambung."


"Aku kan sudah janji buat kamu lebih fokus untuk handle perusahaan Papamu, Wijaya! Kalau kamu nyerah, berarti aku gak bisa nepati janji aku sama Mama kamu. Ngerti gak sih?"


"Bilang aja aku yang nyerah. Simple"


"Terus kamu mau apa? Kumat deh kalau kamu sudah begini!" kesal Lala


"Ga usah! Udah lewat!"


"Oh ya udah!" Lala ikut kesal


"Hon! Rayu aku kek!" Keenan memintanya dengan ketus


"Astagaaa.. Mulai rumitt mulai deh ngajak berantem.. Kamu mah ambekan Wijaya! Sebel aku"


"Tapi cinta kan!" ketus Keenan


"Kalau iya kenapa! Masalah!"


"Baguslah! Aku tinggal ngawinin!"


"Enak aja! Aku gak mau kawin!"


"Nikah, nikah! Elaah, salah dikit aja protes!"


"Jauh lah salahnya! Noh, kawin sama kucing sana!" kesal Lala


"Ogah! Ngapain ngawinin kucing. Mending bunt*ngin gadis sebelah aja!"


"Bee..ih ngomongnya rese" Lala menyubit Keenan


"Aw! Sakit Munaroh!" Lala tertawa saat Keenan memanggil namanya


"Enak aja namaku jadi Munaroh!"


"Kalau kamu galak, namamu jadi Munaroh" ucap Keenan.


"Ngeselin banget sih kamuuuuu" Lala mencubit kedua pipi Keenan.


"Yang.. Sakit Yang..ampun" Keenan memukul pelan lengan Lala. Dia mengusap kedua pipinya yang memerah setelah Lala melepaskan cubitannya.


"Jahatnya punya pacar. Bisanya cuma melakukan kekerasan." gerutu Keenan


"Habis kamu mah gak bisa dilembutin!"


"Kapan coba kamu lembutin aku Hon?"


"Kapan?" Lala balik bertanya.sesaat dia berpikir.


'Iya juga ya, aku gak bisa selembut Bu Tasya' batin Lala


"Kata kamu kan be your self."


"Alesan deh". Keduanya terdiam.


"Bee, jajan yuk. Ingin ngemil cantik nih" ucap Lala


"Ngemil cantik, ngemil rakus kamu mah!"


"Haha.. Bodo."


"Kemana jadinya?"


"Mall yuk sayang?" ajak Lala menggelayut manja dilengan Keenan.


"Ada maunya saja manja kek kucing"


"Haha.. Biarin. Cepat jalan tuan muda" ajak Lala


Lala menyalakan musik untuk mengusir rasa bosannya. Mereka bernyanyi mengikuti alunan musik yang menggema di dalam mobil. Keduanya terhanyut dalam alunan lagu. Sesekali Lala nampak sedikit berjoget.


"Hon.. Hon.. Itu si Mas Pram bukan?" Keenan segera menghentikan mobilnya. Dia melirik kaca spion.


"Gak kelihatan Bee." ucap Lala.


"Udah sih Bee. Kamu salah lihat kali." ucap Lala


Keenan tak mendengarkan ucapan Lala. Dia menghubungi Mas Pram.


"Mas, kamu lagi dimana?"


"Ada apa Bro Keen? Diriku sedang cek lokasi."


"Kamu di seberang swalayan bukan?" tanya Keenan


"Loh? Kamu lihat toh? Kuy sini" ajaknya


"Mas, parkirin dong. Biar aku mundur." ucap Keenan. Lala hanya menatapnya.


Dari kejauhan nampak Mas Pram menghampiri mereka. Dia mendadak jadi tukang parkir sesuai permintaan Keenan.


"Hon, kita turun yuk." ajak Keenan


"ada apa sih Bee?" Lala nampak bingung


"Nanti aku cerita" ucapnya


Keenan turun dari mobil menghampiri Mas Pram lebih dulu, sementara Lala baru turun setelah merapikan bajunya.


"Hai Lalaaa" Sapa Mas Pram


"hai Mas, lagi apa sih?" tanya Lala


"Sini, ikut saja La" ajaknya


"Bro, kenalkan ini pemiliknya" ucap Mas Pram seraya menghampiri pemilik ruko tersebut. Keenan dan pemilik ruko bersalaman.


Keenan mengedarkan pandangannya melihat ruangan tanpa sekat tersebut. Dia banyak bertanya dengan pemilik ruko berlantai dua.


Mereka berbincang bertiga, sementara Lala hanya sebagai pendengar setia. Lala nampak kagum pada Keenan. Dia terlihat lebih dewasa saat berbicara mengenai bisnis bersama mas Pram. Hingga ketiganya menyudahi perbincangan mereka.


"Mas, kita ngobrol dulu saja." ajak Keenan.


"Kuy dimana?"


"Cafe depan sajalah. Biar gak susah" ajak Keenan


"Boleh kan Hon?" pinta Keenan


"Iya Bee." Lala tak banyak bicara.


Lala dan Keenan masuk kembali ke dalam mobil.


"Bee, Mas Pram mau buka kedai kopi?" tanya Lala


"Iya Hon. Bisnis awet yang sekarang lagi hits juga" ucap Keenan


"Terus kamu?"


"Kalau dia kurang modal, aku mau invest"


"Kamu memang ada dananya Bee?" tanya Lala polos. Sesaat dia lupa siapa pacarnya. Sementara Keenan hanya mengulas senyumnya.


"Lihat dulu, honey. Kalau sesuai budget aku. Ya aku invest. Kalau dana aku kurang, ya enggak" ujar Keenan.


'Astagaa.. Beg* dipelihara! Gak mungkinlah tuan muda kekurangan uang' Lala merutuki dirinya sendiri.


Mereka tiba ditempat yang dituju. Keenan dan lala keluar dari mobilnya menghampiri Mas Pram yang telah lebih dulu tiba disana.


"Bro" Mas Pram melambaikan tangannya. Mas Pram sengaja mengambil tempat duduk paling pojok.


"Lesehan Mas? Kayak di rumah makan" sindir Keenan


"Haha.. Biar santai. Iya gak, La?" Mas Pram melirik Lala


"Mau minum apa kalian?" tanya Mas Pram


"Dih gayanya Hon. Calon CEO dia" sindir Keenan


"Haha.. Aku cuma pesan, urusan bayar membayar kembali lagi pada Tuan Muda" Mas Pram berucap dengan enteng membuat Lala terbahak.


"Ketawa kamu, Hon."


"Habis lucu banget Mas Pram"


"Pramono sana balik! Kesel! Kalau ada kamu, pacar aku tuh kayak terhipnotis sama kamu!" gerutu Keenan


"Haha..mungkin aku lebih mempesona" Mas Pram membanggakan dirinya.


"Iya gak La?"


"Mas, kamu kayaknya cocok ikut acara komedi di televisi deh". Keenan terbahak mendengarnya


"Lala tuh baru lihat mukamu saja sudah ketawa dia. Unik ya Hon, kayak ada badutnya gitu"


"Gak kira-kira dia bang badut, manusia perak aku tuh" ucapnya diaambut tawa oleh Lala.


"Astaga Hon, kamu malah pesan Mie" ucap Keenan melirik Lala saat pesanan mereka tiba. Dia tak memperhatikan saat Lala menuliskan pesanan mereka.


"Hehe biarin sih Bee" Lala mengaduk mie miliknya


"Wangi La, jadi lapar" ujar Mas Pram


"Kamu doang ya Hon yang aku bayarin. Dia kan tajir Hon" sindir Keenan membuat Mas Pram tertawa.


Mas Pram mulai berbicara lebih serius dengan Keenan. Sementara Lala sibuk dengan mie kuahnya sambil sesekali menyimak mereka. Keenan sendiri, menanggapi ucapan Mas Pram sambil melirik Lala yang memasukan mie kedalam mulutnya. Tak lama, Keenan merebut mie milik Lala.


"Bee ih"


"Bagi dikit. Kamu gak nawarin aku sih"


"Tadi saja, bilang astaga. Sekarang kamu makan juga!" gerutu Lala


"Gak pernah mau biasanya dia makan mie, La" ucap Mas Pram


"Kenapa Mas?"


"Tuan muda makannya harus higienis" sindir Mas Pram


"Gak juga. Aku kalau sama dia, bisa makan apa saja" ucap Keenan memberikan kembali mienya pada Lala kemudian mengelap bibirnya dengan tisu.


Mereka terdiam sejenak.


"Mas, modal sama rata, tapi kamu yang kelola. Gimana?" tanya Keenan kembali ke topik pembicaraan mereka.


"Tiga puluh lima persen ke aku lah. Enam puluh lima, kamu. Gimana?" usul Keenan


"Kamu tiga puluh lah Bro? Kalau aku semua yang handle" ucap Mas Pram"


"Kamu bersih segitu Keen. Sedangkan aku? Urus karyawan, dan lainnya" ucap Mas Pram


"Tapi aku murni cuma terima laporan" ucap Keenan. Mas Pram mengangguk setuju seraya menyeruput kopi miliknya.


"Deal" jawab Keenan dengan cepat.


"Serius kalian?" tanya Lala


"Iyalah. Masa main-main" ucap Mas Pram disertai anggukan Keenan.


"Jadi setuju tempat tadi?" tanya Mas Pram


"Setuju. Stategis juga."


"Oke kalau begitu. Deal" Mas Pram mengulurkan tangannya.


"Aku trasnfer nih Mas" ucap Keenan


"Sekarang?" Mas Pram nampak kaget


"Kita belum tulis hitam di atas putih, Bro."


"Kamu yang urus semuanya Mas. Aku terima beres saja." pinta Keenan


"Laksanakan Tuan Muda."


Lala tak berkomentar atas perjanjian mereka. Dia tahu Keenan sebenarnya membantu Mas Pram dengan caranya sendiri.


"Mas, lantai atas buat kamar juga ya. Biar aku bisa istirahat kalau aku kesana" ucap Keenan


"Siap. Rencananya aku akan tinggal disana saja Bro." ucapnya


"Lanjutkan Mas."


"Design gimana?" tanya Keenan


"Aku sudah ada sih gambarannya. Nanti ku kirim soft filenya saja" ucap Mas Pram


"Bee.." Keenan melirik Lala


"Aku ingin brownies" Lala menunjuk meja di seberangnya dengan dagunya.


"Gak kenyang kamu, La?" tanya Mas Pram


"Tadi makannya dibantu Keenan. Gimana kenyang coba" Lala memberi alasan


"Sana pesan." titah Keenan


"Kamu mau?"


"enggak"


"Awas ya kalau nanti minta" ancam Lala membuat Keenan teetawa


Mas Pram dan Keenan masih berlanjut membahas bisnis mereka. Sesekali, mereka tertawa saling melempar canda.


"Kalian dari mana sih tadi?" tanya Mas Pram


"Rumah lah."


"Kapan dong di halalin?" tanya Mas Pram


"emang kita haram apa, Mas" timpal Keenan


"Haha.. Biar bisa sekamar maksudnya Bro"


"Tadi kita dikamar bareng ya Hon?" Keenan mengerling nakal sementara Lala menyubit lengannya.


"Jangan percaya sama dia Mas."


"Haha.. Iya juga gak apa-apa, La"


"Tuh kan Hon, dia mah suka-suka aja." Keenan merasa ada yang membelanya.


"nyebelin banget sih kamu!"


"Haha.. Canda Honey. Mas Pram juga ngerti kok" ujar Keenan


Setelah lama berbincang, mereka akhirnya membubarkan diri.


"Malam minggu ini Hon" ucap Keenan.


"Siapa yang bilang malam jumat, Wijaya!"


"Heh! Nama bapak aku dibawa terus" ucap Keenan


"haha.. Maaf Bee. Aku lupa terus. Lagipula nama kamu juga kan ada Wijaya-nya" Lala membela dirinya


"Sekali lagi bilang Wijaya, aku cium gak pake berhenti" ucao Keenan


"Ih kamu ngomongnya gitu terus. Menjurus-menjurus terus"


"Iyalah. Kan jurusan aku ke pelaminan, honey" ujarmya.


Mereka memainkan ponselnya masing-masing. Keenan menyandarkan kepalanya di bahu Lala. Sementara Lala mengelus lembut pipi Keenan.


"Ngantuk kan kalau kamu lembut kayak begini" Keenan menguap


"Katanya aku gak pernah lembut"


Keenan terdiam menikmati elusan di pipinya.


"Mau pulang?" ajak Lala


"Enggak Hon. Nanti aja."


"Kuy kita main game." ajak Keenan menegakan tubuhnya. Dia melajukan mobilnya kembali.


Keenan menggenggam tangan Lala menuju lantai atas Mall. Sesekali dia merangkulnya seraya becanda.


"Aku aneh gak sih Bee?" tanya Lala melihat baju yang dikenakannya.


"Enggak Hon. Kenapa emang? Aku suka kamu pakai baju kayak gini" ucap Keenan


"Besok-besok kamu pakai baju aku semua Hon"


"Ngaco kamu!"


Mereka tiba dilantai atas. Disana penuh dengan muda-mudi yang bermain. Begitupun dengan anak-anak yang didampingi keluarganya.


"Rame banget gini Bee"


"Malam minggu kan ini"


"Kamu tunggu disini, aku isi saldonya dulu" pinta Keenan.


Lala memperhatikan pemuda yang berjoget dengan lentur seraya menatap layar. Dia nampak kagum melihatnya. Tak hanya Lala, pemuda tersebut mwnjadi bahan tontonan yang berada disekitarnya.


"Yuk Hon" ajaknya


"Bee, main capit boneka dong"


"Dih apaan! Gak seru ah. Kamu kayak Mas Pram aja"


"Kita kan sehati, Bee" icap Lala yang membuat Keenan menghentikan langkahnya.


"Kamu bilang apa?" Keenan menatapnya serius


"Ngambek.. Gitu aja ngambek".


"Tau ah! Gak asik becandanya" Keenan kesal.


"Aku sehati masalah permainan doang ih! Kalau sama kamu kan sehati sehidup sesurga. Aamiin"


"Kalau sepi, aku sedot kamu" ketus Keenan seraya memguncupkan tangannya ke mulut Lala


"Haha.. Abangnya kaya vacum, maen sedot."


Mereka menghentikan perdebatan mereka setelah berhenti di salah satu permainan.


"Aku dulu Bee" pinta Lala. Keenan menggesekan kartu pada bagian bawah mesin. Lala memijit tombol merah, seketika bola masuk ke dalam lobang jackpot. Keduanya ber-tos ria saat mendapatkan jackpot tiket.


"Haus Bee" pinta Lala


"Ya udah ayo, kita beli minum dulu" ucap Keenan


Saat mereka berbalik, tak sengaja Keenan menyenggol seorang anak perempuan yang sedang berlari. Dengan sigap, Lala segera menangkap anak tersebut agar tak terjatuh. Keenan ikut berjongkok bersama Lala


"Maaf ya, Dek" ucap Lala


"Kamu gak lihat-lihat" ketus Lala


"Dia yang lari juga!" keenan enggan disalahkan.


"Queen, kata Bunda jangan lari kan" suara seorang wanita mendekat ke arah mereka membuat Keenan seketika mematung.


Lala mendongakan kepalanya, dia segera berdiri.


"Maaf ya Mbak. Kita gak sengaja. Tapi gak sampai jatuh kok" ucap Lala


"Oh, gak apa-apa" wanita tersebut tersenyim lada Lala. Keenan segera bangun.


"Keenan" ucap wanita tersebut. Dia nampak kaget melihat Keenan.


Seketika Keenan memasang wajah datar.


"Kita permisi" Keenan menarik lengan Lala menjauh dari wanita tersebut.


"Bee.. " Lala memanggil Keenan namun tak disahutinya. Keenan terus menarik lengan Lala sedikit kasar.


" Keenan!"


"Apa?" suasana hati Keenan seketika memburuk.


"Kenapa? Kamu belum bisa move on?" tebak Lala yang mengerti saat melihat pertemuan mereka.


.


.


.


Temaaansss terima kasih masih setia mendukung HonBee. Silahkan share di sosmed teman-teman jika berkenan. Jangan lupa absen kehadiran dengan like dan komentarnya. Jangan lupa bantu vote juga. Terima kasih ^^