
"Ibu, aku minta maaf atas kesalahan orangtuaku pada Ibu. Sejujurnya aku malu ketemu Ibu. Maaf kalau aku gak punya harga diri kembali lagi ke rumah ini. Tapi aku sayang sama Lala, Bu" ujar Keenan dengan mata berkaca-kaca
"Kamu sehat?" Ibu tak menjawab ucapan Keenan
"Hmm.. Sehat Bu." Lala menjawabnya "Iya kan Bee?" kini Lala menatap Keenan
"Keenan mau nginep Bu. Aku sudah izin sama orangtuanya."
"Nginep? Mau tidur dimana?"
"Di kamar aku aja, aku tidur sama Ibu." usul Lala.
"Hhh.. Ya sudah."
"Kamu belum makan lagi Bee." ucap Lala, dia berjalan ke meja makan.
"Ibu gak masak?" Lala membuka tudung saji.
"Kenapa gak makan dirumahnya saja sih?" gerutu Ibu dengan suara pelan
"Aku gak enak Bu makan dirumah Keenan." ucapnya dengan suara pelan.
"Iya jangan, nanti kamu di racunin lagi." ucap ibu asal.
"Ih Ibu"
"Beli seafood saya yuk Bee." ajak Lala melirik Keenan
"Yuk, Hon"
"ibu, kita makan disana yuk Bu?" ajak Keenan.
"Makan dirumah saja. Tinggal beli lauknya saja. Nasi bisa ambil sepuasnya tanpa bayar." ucap Ibu
"Ya udah. Yuk Bee."
"Ibu mau apa, Bu?" tanya Keenan.
"Apa aja lah." ketus Ibu
"eh Hon, aku ikut ke toilet dulu" Keenan segera masuk ke dalam toilet.
"Ibu kok ketus sama Keenan. Aku kasihan Bu, dia ketara banget depresinya. Aku sedih ngeliatnya. Ibu jangan ketus-ketus. Kalau dia gak sembuh gimana?"
Ibu terdiam.
"Yuk Hon" Keenan menggenggam tangan Lala.
Keduanya pergi meninggalkan Ibu. Keenan tak melepaskan pegangannya dari Lala.
"Bee.. Tangan kita keringetan." Keenan melepaskan pegangannya. Dia pindah ke sebelah kiri Lala kemudian menggenggam tangan Lala yang bebas.
"Yang itu biar gak keringetan Hon" ucapnya seraya tersenyum
"Kamu takut aku pergi banget?" tanya Lala sembari tersenyum. Keenan hanya mengangguk.
'Tuhaan kasihan anak orang jadi kayak gini' batin Lala
"Aku merasa sangat dicintai, Bee. Terima kasih ya. Aku sangat tersandung." ucap Lala
"Tersanjung Hon."
"Apa? Terbendung?" Lala sengaja memancing Keenan namun Keenan hanya tersenyum.
"Dengarkan aku Bee. Aku gak akan lari, aku gak akan pergi. Aku tetap disamping kamu. Kamu jangan takut. Kamu ada disini aku" Lala memegang dadanya. "Fahamkan?" Keenan mengangguk.
***
"Kamu makan yang banyak ya Bee" Lala meladeni Keenan. Ibu hanya memperhatikan mereka.
Tak banyak percakapan di meja makan seperti biasanya.
"Hon, gak apa-apa aku tidur dikamar kamu?" tanya Keenan. Mereka kini duduk menonton televisi.
"gak apa-apa Bee."
"Bee, nanti kamu harus mau ya ke psikiater? Aku mau kamu cepet sembuh. Aku kangen kamu yang dulu, Bee."
"Iya, Honey."
Lala mengelus pipi Keenan. Ada rasa bersalah dari hati Lala.
"Maaf aku egois ya Bee"
"Enggak Hon. Kamu baik. Aku sayang kamu"
"Iya aku tahu. Besok pagi kita ke taman kota ya? Eh, ajak Mas Pram dan Bang Al juga. Mau?"
Keenan menggeleng. "Aku maunya sama kamu"
"Udah jam segini, kamu tidur ya." Lala mengantarkan Keenan ke kamar miliknya.
Keenan mengedarkan pandangannya, melihat kamar Lala.
"Honey"
"ya Bee?"
"Cincinnya kenapa gak di pakai?"
"Oh. Besok ya sudah malam. Masa tidur pakai cincin" Keenan mengangguk. "Sayang cincinnya mahal kalau kena iler" Lala tertawa sedangkan Keenan hanya tersenyum simpul.
"Sudah tidur ya. Baca doa dulu. Love you Bee." Lala berlalu, dia masuk ke kamar Ibunya.
"La, Keenan kenapa jadi begitu?"
"Keenan kan depresi Ibu."
"Depresi apa? Depresi ringan? Berat? Atau sedang?"
"Aku gak tanya Bu. Mudah-mudahan depresi ringan."
"Kalau berat lumayan juga pengobatannya agak lama. Kasihan dia La. Ibu pikir dia biasa saja. Harusnya dibawa ke rumah sakit jiwa. Biar di cek kejiwaannya seperti apa. Bukan berarti yang masuk rumah sakit jiwa itu orang gila semua."
"Gak salah ibu kader dikit-dikit rapat ternyata ada hasilnya."
"Iya dong. Gak cuma bungkusin konsumsi doang"
"Bu, kasihan deh Keenan. Dia jadi anti sosial, nangis terus, gak mau makan juga. Badannya jadi kurus begitu. Kerjanya cuma tiduran saja tanpa melakukan apapun. Aku jadi ngerasa berdosa juga sama dia, Bu."
Mereka terdiam.
"Aku gak tahu Keenan selemah itu." ucap Lala dengan nada sedih
"Dia mau psikoterapi?" tanya Ibu
"Mau Bu. Itu juga kan dia lagi jalani. Mereka orang kaya Bu, pasti melakuan segala cara buat kesembuhan Keenan. Tapi respon Keenannya sendiri yang agak susah. Mudah-mudahan sekarang jadi cepet."
"Kalau ke depannya dia kambuh lagi gimana La? Kamu yakin mau nikah sama dia?" Lala diam sejenak.
"Kalau aku gak nikah sama dia. Apa dia bakal baik-baik saja, Bu?" Lala sedikit cemas.
"Kamu mau mengorbankan masa depanmu, La? Ibu jadi ragu. Ibu kasihan saja sama kamu kalau nanti kedepannya kambuh lagi."
"Nanti aku coba ikut dia ke psikiater, Bu. Aku mau tanya-tanya juga detil masalah dia apa."
"Ibu terserah kamu, La. Apapun yang kamu lakukan Ibu hanya bisa mendoakanmu."
"Bu kaderku so sweet sekalii" Lala memeluk Ibunya manja.
"Berat ah sana! Sudah tua gak tahu malu."
"Setua-tuanya aku, tetep ibu paling tua Bu. Aku mah ngalah aja lah"
"Kurang asem."
***
Lala kini mengajak Keenan berjalan kaki di taman kota. Mereka berangkat sebelum matahari terbit agar udara masih terasa segar.
"Bee, tuh ada yang futsal. Sana ikutan."
"Enggak Hon, nanti kamu ngilang."
"Astaga. Trush me, please. Aku selalu disini. Sumpah."
"Nanti saja, Hon. Aku mau jalan kaki saja berdua sama kamu."
"Bee, aku lapar."
"Kamu mau makan apa?" tanya Keenan.
"Aku mau jajan batagor deh. Kamu mau?"
Keenan nampak berpikir.
"Percaya deh kamu gak bakalan sakit perut. Mau ya?"
"Aku mau bakpau saja ya?"
"Ya udah"
Keenan dan Lala duduk di bawah pohon rindang sambil menikmati makanan mereka.
"Bee.. Hirup yang dalam. Udaranya segar."
"Aku lagi makan, honey."
"Gak asyik deh kamu sekarang."
"Iya. Aku emang gak asyik. Makanya kamu ninggalin aku kan, Hon?" raut wajahnya kini sedih kembali.
'Astaga salah bicara.'
"Bee, lihat aku. Kamu harus berpikir positif. Kamu lawan aku bicara Bee..biasanya kita sahut-sahutan. Ayo jangan mau kalah sama aku dong."
"Enggak. Aku takut kamu pergi."
"Ya Tuhan. Aku cium juga kamu disini"
Keenan hanya tersenyum.
"Bee, kamu olahraga ya? Siapa tahu makin rileks pikiranmu."
"Olahraga apa?"
"Renang yuk? Kamu kan suka."
"Dimana?"
"Di bak mandi. Ya dirumah kamu Bee. Di tempat lain bayar, mana kena kenc*ng orang juga airnya." Keenan tersenyum.
"Bee.. "
" ya? "
"Iya Hon."
"Astagaaa gemeesss sama kamu yang jadi cool begini" Lala menyubit pipi Keenan.
"Yuk, mumpung belum terlalu panas. Kamu berenang dulu." ajak Lala
Keduanya naik g-car untuk pulang ke rumah Keenan. Keenan masih tak mau melepaskan pegangannya dari Lala hingga tiba di rumah.
"Lala maaf ya, Keenan merepotkan."
"Enggak kok Tante."
"Bee, sana straching dulu."
Mama Keenan menatap mereka bergantian.
"Aku suruh dia olahraga tante. Biar lebih rileks. Maaf aku sok tahu, Tan. Aku cuma baca-baca sedikit tentang masalah Keenan."
"Tante bersyukur sekali kamu mau menerima Keenan. Keenan gak salah milihkan calon menantu untuk Tante." Lala hanya tersenyum kikuk.
Lala duduk di gazebo menunggu Keenan yang sedang berenang.
"Kamu juga berenang Hon?"
"Enggak ah. Kamu aja."
Mama Keenan menghampiri Lala.
"La, tante boleh ke rumah kamu?"
Lala menatapnya seolah bertanya
"Tante mau diskusi soal pernikahan kalian." ucapnya seraya tersenyum.
"Nanti saja tante. Aku mau fokus ke penyembuhan Keenan dulu."
"Oya, jadwal psikoterapi kapan tante?"
"Jadwal Keenan seminggu dua kali, La. Hari senin dan kamis. Tante yang minta sih, agar cepet pulih."
"Boleh nanti aku ikut tante. Aku izin dulu ke kantor."
"Boleh."
"Keenan mau bicara sekarang, La?"
"Mau sih karena akunya bawel tante. Hehe."
Keenan keluar dari kolam. Dia mengusap rambutnya ke belakang dan berjalan mendekati mereka.
'Astaga seksi sekali dia' batin Lala
"Hon, aku mandi dulu ya."
"Iya."
***
Satu bulan sudah Keenan dan Lala lebih intens bertemu. Kini Keenan terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.
Dukungan medis dan orang disekitarnya membuat Keenan dapat merespon lawan bicaranya lebih baik. Bahkan kini Keenan sudah mau berdebat dengan Lala seperti dahulu.
Keenan juga sekarang tidak terlalu bergantung pada Lala. Namun sisi posesifnya masih tercurah sepenuhnya. Tanpa lelah Keenan mengantar jemput Lala pergi ke kantor. Sementara dia sendiri masih belum diperbolehkan untuk bekerja oleh orangtuanya karena kekhawatiran akan kambuh dan kondisinya lebih memburuk dari sebelumnya.
Lala berjalan masuk ke dalam mobil Keenan begitu keluar gerbang. Dia sudah biasa mendapati mobil Keenan terparkir ditempat yang sama setiap hari.
"Hon, pulang ke rumahku dulu yuk, ponsel aku ketinggalan."
"Loh? Memang kenapa? Kan kita ketemu sekarang?"
"Aku nginep di rumah ya? Besok kan weekend. Besok pagi aku mau olahraga bareng kamu."
"Kamu gak malu Bee, nginep terus? Gak enak sama tetangga juga."
"Enggak. Ibu juga gak ngelarang. Cuek aja. Kan aku sama kamungak melakukan apapun." jawabnya enteng.
Keenan melajukan mobilnya menuju rumahnya.
"La, ayo makan bareng." ajak Pak Wijaya melihat Lala dan Keenan tiba dirumah mereka.
"Enggak Om, silahkan."
"Sudah ayo bareng. Kamu kan pulang kerja. Sini duduk sama Tante." ajak Mama Keenan
"Yuk Hon." ajak Keenan
Lala kini duduk bersama mereka untuk makan malam. Lala nampak lebih santai dengan keluarga Keenan karena mereka jadi lebih sering bertemu.
Suasana di meja makan nampak lebih ramai saat Lala bersama mereka. Biasanya, dirumah mewah ini hanya suara dentingan piring dan sendok saat mereka makan bersama, tapi kali ini mereka sedikit berbincang hangat.
Selesai makan, Keenan mengajaknya naik ke kamar pribadinya. Lala yang sudah biasa menemani Keenan nampak tak canggung masuk ke ruangan tersebut.
"Bee, aku kok ngeri ya lihat kolam malam-malam gini." Lala berada di balkon kamar Keenan menatap ke bawah.
"Kenapa?" Keenan berjalan mendekat, dia berdiri dibelakang Lala.
"Takut ada yang dadah-dadah dari bawah sambil tersenyum."
"Kebanyakan nonton film suzana kamu tuh."
"Bukan suzana, tapi pocong mumun" Lala tertawa
"Masa pocong dadah-dadah? Kan tangannya diiket."
"Kan kamu yang bukain. Makanya kamu jadi tajir begini" Lala terbahak.
"Dasar Mumun Maemunah!" Mereka tertawa renyah.
Tiba-tiba Keenan memeluk Lala dari belakang kemudian mengecup bahu Lala.
"Bee?" Lala nampak kaget dengan perlakuan Keenan. Pasalnya selama sakit, Keenan tak pernah melakukan hal yang mengundang ga*rah. Keenan hanya memegang tangan Lala dan memeluknya sebagai tanda sayang.
"Hon, nikah minggu ini mau ya?"
"Bee? Masa ngedadak?" Lala membalikan tubuhnya.
Keenan mengecup lembut kening Lala membuat jantung Lala berdegup lebih kencang.
'Apa dia benar-benar sembuh?' batin Lala heran.
Lala teringat akan ucapan psikater Keenan bahwa gairah s*ksualitasnya hilang saat mereka mengidap depresi. Tapi ini pertama kalinya Keenan bersikap demikian.
"Kamu gak mau ya?" tangan Keenan kini mengurung tubuh Lala dengan bertumpu pada tembok pembatas.
"Kamu gak tanya Ibu?" Lala memancingnya dengan mengelus pipi Keenan untuk memastikan.
Keenan meraih jemari Lala kemudian mengecupnya "Sekarang aku bilang, honey" ucapnya seraya mengembalikan tangan Lala untuk mengelus pipinya.
'Dia sembuh total gak sih?' Lala bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Gak semudah itu, Bee. Kamu tahu sendiri Ibu bagaimana? Pasti Ibu ngomel deh sama kamu kalau ngedadak begini. Kamu mau disambel Ibu?"
"Ya enggak lah Maemunah!"
"Aku suka kamu kayak dulu, Bee." Lala tersenyum senang
"Apa?"
"Ya kayak gini. Nyeplos bikin ketawa, bikin kesel aku juga."
"Aku suka kamu semuanya." Keenan menatap intens bibir Lala. Dia mendekatkan wajahnya sedikit demi sedikit.
'Astaga dia sembuh Tuhan. Dia sembuuh.'
"Kamu sembuh Bee!" pekik Lala dengan suara lantang membuyarkan hal romantis yang sedikit lagi terjadi.
"Sembuh apa sih!" Keenan kesal karena niatnya gagal.
"Kamu sekarang berani mau ngecup aku. Ya Tuhan terima kasih kamu sudah sembuh." Lala tersenyum senang.
"Apa si! Brisik banget Hon!" Keenan masuk ke dalam kamarnya kesal dengan tingkah Lala.
Keduanya kini berada di dalam mobil menuju rumah Lala.
"Minggu ini kita sibuk, Hon."
"Sibuk apa?"
"Cari hantaran sama mas kawin."
"Kamu serius?"
"Astaga masih tanya. Mau besok libur kita nikah juga ayo" tantang Keenan
"Dih Abangnya gak sabar"
"Habis nikah tinggal di rumah aku aja ya Bee?"
"Apartemen aku aja Honey. Aku lagi ganti interiornya."
"Yang kemarin kamu ajak aku itu?"
"Iya. Itu punya aku."
"Ibu gimana? Kasihan sendirian." Lala memangku tangannya
"Ya udah nanti kita pikirkan lagi. Atau ajak ibu saja ke apartemen."
"Mana mau Bee."
"kenapa"
"Dia kan kader. Masa lupa?" mereka tertawa
Setibanya dirumah mereka berbincang dengan Ibu. Ibu dan Keenan nampak telah mencair seperti dulu.
"Bu, aku nikah minggu depan sajalah Bu, biar status aku nginep disini juga jelas." ujar Keenan tanpa malu
"Apa? Nikaah?" suara Ibu lantang
"Memangnya nikah itu kayak tahu bulat apa bisa dadakan!"
"Ma*pus lo" Lala meledek Keenan tanpa suara.
.
.
.
Yang ribut pakai tagar #KAWALSAMPAIHALAL mana suaranya? Kok aku senengnya bikin kalian penasaran. Haaa..
Jangan lupa like, komentar, dan vote yang buanyaaakk. Oke jamaah? Terima kasih ^^