My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Rasanya Bukan Kamu



"Yakin ibu mau ketemu dia?" tanya Lala


"Memang kenapa? Ada yang aneh sama dia?" tanya Ibu


"Ada Bu, dia ganteng banget. Nanti ibu terpesona." Lala memejamkan matanya seraya menyilangkan tangan di dadanya.


"heh kelakuanmu! Awas kamu ganjen depan dia." ancam Ibu


"Gak apa-apa kali Bu, kan sama pacar sendiri" ucap Lala


Belum Ibu menjawab, sebuah panggilan telepon masuk ke ponselnya.


"Tuh kan. Yayang sudah telepon." ucap Lala sambil mengacungkan ponselnya.


"Hai sayangku.. " ucapnya dibuat semanja mungkin depan Ibu dengan sengaja.


" Lalaaaa" teriak Ibu yang membuatnya kaget setengah mati karena Ibu berteriak tepat disampingnya.


"Astaga.. Ibu kader." Lala mengelus dadanya.


"Laa..itu Ibumu?" tanya Keenan yang mendengar teriakan Ibu Lala. Dia sedikit menciut saat mendengarnya.


"Hehe..Iya Keen." Lala malu sendiri.


"Kamu dimarahi La?" tanya Keenan


"Enggak. Aku bilang sayang ke kamu depan Ibu." Lala cekikikan.


"Wah, aku kesana harus siapkan mental kalau begitu" ucap Keenan


"Siapkan sajen saja Keen." ucap Lala seraya tertawa


"Sajen?" Tanya Keenan heran. Andai Lala melihat, kini dia menautkan kedua alisnya seraya berpikir.


"Maksudnya kesukaan ibu. Ih masa kamu gak ngerti" Protes Lala


'Hehe.. Sorry."


"Bee..kamu kebiasaan deh, suka gak ada kabar" Ucap lala cemberut


"Maaf Honey, tadi pulang nganterin kamu langsung mandi, eh ketiduran. Ini baru bangun. Padahal tadinya ingin ngajak kamu makan, tapi kamu sudah dirumah, Hon." ucap Keenan


"Iya, aku pikir kamu sengaja" ucap Lala


"Enggak, honey. Kamu pulang sama siapa?" selidik Keenan.


"Samaa... " Lala mengerling nakal


"Kalau aku bilang sama dia, kamu gimana?" pancing Lala seraya tersenyum sendiri


"O saja" ucap Keenan datar.


"Dih nyebelin tahu!"


"Yang nyebelin duluan siapa?" ucap Keenan


"Kamu cemburu kek Bee" pinta Lala


Keenan menarik nafasnya. Dia ingin sekali memaki Lala yang sangat menyebalkan baginya, namun dia tahan karena mengingat perjanjian mereka.


"Hon, kamu tahu kan aku cemburuan banget. Kamu tahu kan kalau aku marah, aku takutnya ketus atau teriak sama kamu." ucap Keenan tegas


"Kalau kamu minta aku cemburu, aku sudah cemburu dari tadi Hon. Kamu jangan mancing aku terus, mengerti?" titah Keenan


"Iyaa sayaaang" ucap Lala manja


"Kamu sudah makan Bee?" tanya Lala


"Belum. Nanti sajalah." ucapnya


"Kamu makan dulu Hon" titah Keenan


"Iya, aku mandi dulu ya Bee. Nanti aku telepon" ucapnya


"Iya. Mandi yang wangi" Keenan tertawa


"Iya bawel. Byeee" Lala menutup sambungan teleponnya.


Lala mengambil handuk miliknya, dia segera masuk ke kamar mandi.


***


"La, besok anterin pesenan sama Bu Gunawan ya." titah Ibu saat Lala beres makan


"Siapa Bu Gunawan, Bu?" tanya Lala


"Ibunya Izam. Masa kamu lupa sih" ucap Ibu


"Ih, deket ini. Ibu saja yang nganterin. Aku besok kuliah Bu" ucap Lala


"Sekalian kamu jalan kan" ucap Ibu


"Enggak ah." Lala cemberut.


"Di suruh sama orangtua selalu ngebantah." gerutu Ibu.


"Ish! Iya iya" ucap Lala kesal.


Lala segera masuk kamar karena kesal pada Ibu.


"Bee lagi apa?" Lala mengirimkan pesan


Tak lama, sebuah panggilan telepon masuk dari Keenan. Lala segera menerimanya.


"Sudah makan Hon?" tanya Keenan saat panggilan terhubung


"Sudah. Bee sudah makan?" tanya Lala


"Sudah. Besok kuliah jam berapa?"


"Biasa Bee"


"Aku jemput ya sayang" ucap Keenan.


"Dengan senang hati Bee."


"Yasudah tidur sana." titah Keenan


"Kamu mau ngapain Bee?"


"Maen gitar atau maen game."


"Ih kamu, bukannya tidur si Bee"


"Aku kan baru bangun, honey. Sana kamu tidur. Mimpi indah yaa. Mimpiin aku" ucap Keenan


"Dikata radio Bee, bisa request mimpinya. Dasar aneh" ucap Lala yang membuat Keenan tertawa puas.


"Ya sudah, aku tidur ya Bee. Bye"


Lala mematikan ponselnya.


"Gimana gak meleleh Eneng, Bang. Abang manis begitu. Dari dulu kek, kayak begini. Ini harus pake syarat dulu" gumam Lala.


Lala segera memejamkan matanya.


***


"Laaaaa... Cepetan ini anterin ke rumah temanmu. Sudah ditunggu Bu Gunawan dari tadi" titah Ibu seraya berteriak.


"Ibu apaan sih! Masih pagi jugaa. Aku kan belum siap-siap!" gerutu Lala menghampiri Ibunya


Tok.. Tok.. Tok..


"Siapa tuh? Sana lihat" titah Ibu


"Aku kebelet Bu" Lala segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Dasar! Gak bisa diandelin jadi anak!" gerutu Ibu seraya berjalan untuk membuka pintu.


"Assalamu'alaikum Bu" sapa Izam


"Waalaikumsalam, eh Nak Izam" Ibu tersenyum ramah.


Saya mau ambil pesanan Ibu" ucap Izam


"Iya, sebentar ya" Ibu bergegas masuk ke dalam mengambil pesanan.


Tak lama, ibu membawa kotak berbungkus plastik.


"Maaf ya jadi diambil kesini. Lala suruh nganterin, tapi masih di kamar mandi." ucap Ibu.


"Iya gak apa-apa Bu" ucap Izam.


"Saya permisi kalau begitu, Bu. Assalamu'alaikum" pamitnya.


"Waalaikumsalam. Terima kasih ya Nak Izam." Ibu tersenyum ramah.


"Siapa yang datang, Bu?" tanya Lala begitu keluar dari kamar mandi.


"Izam ngambil pesanan. Kamu bikin malu Ibu, disuruh nganterin kesana" gerutu Ibu


"Loh, yang semalam bilang sekalian aku berangkat ke kampus siapa? Kan aku masuk jam delapan. Ini baru juga jam setengah tujuh" ucap Lala


"Iya tapi Ibu gak enak sama Izam" gerutunya


"Kata Ibu kan, Izam anaknya baik. Manfaatkan Bu, kenapa gak enak segala." ucap Lala enteng.


"Kalau jadi mantu Ibu pastilah" Ibu tak mau kalah


"Apa sih Bu, pagi-pagi bicaranya ngelantur" ketus Lala


Dia masuk kedalam kamar. Tiba-tiba Keenan meneleponnya.


"Hon, sudah sarapan?" tanya Keenan tiba-tiba


"Belum. Aku beres mandi. Kenapa Bee?"


"Sarapan bareng yaa.." pinta Keenan


"Kamu dimana?" tanya Lala


"Di depan"


"Depan mana?" Lala tak paham


"Tempat jemput kamu, sayang" ucapnya


"Hah? Aku dibaju dulu kalau begitu." Lala kaget tak menyangka Keenan menjemputnya sepagi ini.


"Honey.. "


"Ya?"


"Video Call sekarang" goda Keenan


"Ih dasar mes*m." seketika Keenan terbahak. "Sudah ah, aku dibaju dulu" ucap Lala seraya mematikan ponselnya.


Dengan tergesa, Lala memakai baju lengan panjang, mengikat rambut pendeknya dan berdandan tipis.


"Aku berangkat buuuu. Assalamu'alaikum" teriaknya dengan tergesa. Tak ada jawaban dari Ibu.


'Bu kader paling lagi setor di kamar mandi' batinnya.


Lala berjalan cepat ke depan minimarket hingga melihat mobil Keenan terparkir disana.


"Loh, mana orangnya?" gumam Lala.


"Honey.." Keenan memanggilnya membawa air mineral dan kantong plastik ditangannya.


"Ih, aku haus Bee" Lala mengambil air mineral ditangan Keenan dan meminumnya.


"Kamu di kejar anjing, Hon?"


"Enggak. Kenapa?"


"Datang-datang kehausan begitu."


"Aku tadi jalan cepet, kasihan kamu kalau harus nunggu lama. Ini sudah jam tujuh lebih." ucap Lala seraya melihat jam ditangannya


"Yuk, cepetan Bee. Aku telat ini. Mana belum sarapan. Lagian kamu kenapa gak bawa motor saja sih! Pakai mobil kan lama" gerutu Lala bicara tanpa jeda.


"Kenapa?" tanya Lala heran


"Gak capek apa Hon, kamu bicara tanpa jeda gitu." Keenan meledeknya


"Jahat banget kamu." lala bersungut.


"Tumben di iket gitu rambutnya."


'Duh abaang, Eneng jadi malu kan' batinnya.


"Kenapa memangnya?"


"Gak apa-apa honey, lebih dewasa saja terlihatnya." ucap Keenan masih memandangnya


Blush.


"Bee, ayo jalan. Kan sudah jam segini." Lala tak sabar


"Iya bawel." Keenan menyubit pipi Lala gemas.


'Ya ampun. Sweet banget sih' batin Lala berbunga-bunga.


Keenan mulai melajukan mobilnya.


"Hon, kamu makan itu dulu, aku sengaja beli itu, takutnya kamu memang gak keburu sarapan." ucap Keenan sambil menunjuk plastik yang dibawanya


"apa?" Lala membuka plastik tersebut.


"Onigiri? Beli di minimarket barusan?" tanya Lala


"Iya, Honey. Makan dulu." titah Keenan


"Makasih Bee. Ciee diperhatiin pacar." Goda Lala. Keduanya tersenyum.


Lala membuka onigiri tersebut. Dia memasukan onigiri ke dalam mulutnya. Semetara Keenan hanya melihatnya sepintas.


'Suapin dia jangan ya? Duuh kok aku deg-degan begini' batin Lala


Lala menelan onigiri yang dikunyahnya. Dia nampak ragu mau memasukan ke dalam mulutnya lagi.


"Bee" Lala menyodorkan onigiri di depan mulut Keenan. Keenan memundurkan wajahnya, melihat onigiri tersebut sepintas lalu melahapnya.


'Sumpah deg-degan banget. Gini kalinya rasanya pacaran yang sesungguhnya.' batin Lala senang.


"Hon, kamu gak suka?" tanya Keenan


"Eh, apa Bee?"


"Kamu kenapa? Melamun?" tanya Keenan kemudian


"gak apa-apa" Lala menyuapi dirinya kembali kemudian menyuapi Keenan hingga satu buah onigiri tersebut habis.


"Lagi Hon." pinta Keenan


Lala membuka onigirinya tersebut dan kembali memakannya berdua.


'Ya Tuhan, ini ciuman secara gak langsung. Jantungku terasa mau copot.' batinnya


Kini mereka minum bergantian.


'Waktu itu pernah minum gantian juga, tapi kenapa sekarang malah deg-degan begini ya?' Batinnya.


Lala membersihkan bekas makan mereka. Dia mengelap tangannya dengan tisu basah.


"Ih, kok macet sih." gerutu Lala


"Sabar Hon" ucap Keenan


Keenan menarik jemari Lala dan menautkannya. Seketika jantung Lala terasa mau loncat dari tempatnya.


'Ya Tuhan, ini kenapa lagi. Kita sudah biasa pegangan tangan tapi kenapa sekarang rasanya beda.' batin Lala.


Keenan mengecup punggung tangan Lala dengan lembut, nampak jelas kasih sayang dari sorot matanya. Namun pandangannya masih lurus ke depan. Keduanya membisu hingga tiba di kampus Lala.


"Bee, aku turun disini saja" ucap Lala


"Aku parkir saja Hon, nanti mau ke toilet dulu" ucapnya


Lala merapihkan rambutnya dan memakai bedaknya lagi. Sementara Keenan melihatnya dengan menyandarkan kepalanya di stir mobil sambil tersenyum.


"Bee, kenapa sih?" tanya Lala. Dia merasa malu karena Keenan memandangnya.


"Gak apa-apa. Senang saja lihat kamu" ucapnya


"Kamu malu ya?" goda Keenan


"haha.. Kamu tahu saja bee. Aku deg-degan tahu" ucap Lala seraya menutup mata Keenan dan tertawa.


Keenan memegang tangan Lala.


"Sama aku juga" ucap Keenan. Mereka tertawa.


"ih kita konyol banget" ucap Lala.


"Gak usah masuk kelas lah Hon" ucap Keenan.


"Ih kamu ngajarin yang gak bener terus."


"Habis aku masih kangen." jujur Keenan


"Nanti kan kita ketemu lagi" ucap Lala


"Iya siang. Masih lama" ucap Keenan


"Ih kamu tumbenan kenapa kayak gini." ucap Lala


"aku juga gak tahu. Maunya sama kamu terus" Keenan tersenyum.


"Habis dari sini kemana?" tanya Lala


"Biasa ketemu dua manusia aneh."


"Ketemu Mira dong" Lala cemberut.


"Apa sih, sayang. Cemburu kamu merakyat banget. Masa si Mira. Dari awal juga sudah gak suka banget sama dia" Keenan begidig


"Ih jangan gitu, dia kan pacarnya temen kamu."


"Lagian, si Bang Al sudah dibilang lepasin Mira tapi masih saja dipacarin" ucap Keenan


"Sama kayak kamu, sudah dikasih syarat, masih mau saja." Lala tertawa


"aku kan beda. Yang aku suka kan wanita lucu dan cerewet kayak kamu" Keenan tertawa


"Jujur banget sih Bee." Lala cemberut


"Gak apa-apa. Kamu cerewet saja aku suka, balance kan sama aku yang cool gini" ucapnya


"Ih dasar" Lala menekan pipi Keenan.


Keenan memegang kedua tangan Lala. Kemudian mengecupnya lagi. Dan mereka lagi-lagi tertawa.


"Ih, ini kayak bukan kamu tahu." ucap Lala


"Sama. Kayak bukan kamu juga."


"Sudah aku masuk dulu ya"


"Jangan." Keenan tak melepaskan pegangannya


"Apa sih kamu Bee. Nanti aku telat"


"Biarin, biar bolos sekalian" ucap Keenan


"Enak saja. Dah ah, aku ke kelas dulu ya." ucap Lala


"Hon" keenan menunjuk pipinya


"Muah" Lala mengerucutkan kelima jarinya di pipi Keenan dan menekannya.


"Awas ya hon, aku balas" keenan tersenyum.


"Hati-hati ya bee. Nanti kasih tahu kalau sudah sampe. Byee" Lala keluar dari mobil Keenan.


'Ya Tuhan.. Keenan ih gemes bangeeett' batin Lala riang.


***


Keenan melajukan mobilnya keluar dari kampus Lala. Dia tak henti tersenyum. Seraya mengacak rambutnya.


'Gila.. Aku kenapa bisa begini. Si Lala tadi cantik banget. Masa sih aku baru sadar' batin Keenan


Dia masih tersenyum sambil melajukan mobilnya. Keenan membuka ponselnya lalu menelepon Mas Pram.


"Broooo bahagianya hatiku kamu menelepon begini." Mas Pram mengawali percakapan mereka


"Dimana?" tanya Keenan singkat.


"Masih dirumah lah."


"Kuy basecamp. Ajak si Babang" ucap Keenan


"Tumben pagi-pagi gini. Gak ngapel toh?" tanya Mas Pram


"Dia lagi kuliah."


"Oh bagooss, jadi aku itu tempat pelarianmu Bro? Sungguh teganya" ucap Mas Pram


"Ngapain lari segala? Capek tahu." sela Keenan.


"Aku tunggu d bascamp pokoknya Mas. No debat." Keenan segera mematikan teleponnya.


***


"Brooooo" Mas Pram memeluknya dari belakang.


"Duh.. Meriang aku disentuh kamu" ucap Keenan seraya mengibaskan tangannya


"Bukannya sentuhanku menjadi candu buatmu?" ucap Mas Pra


"Idih amit-amit tujuh turunan."


"Bang Al belum kesini?" tanya Mas Pram


"Aku disini" Bang Al menunjuk kedua pipinya sambil memiringkan kepalanya


"Dosa apa aku Tuhan, bisa berteman dengan dua makhluk seperti kalian" ucap Keenan


"Kita pulang saja yuk, Bang" Mas Pram dan Bang Al hendak pergi.


"Kopi kopi kopi gratiiisss.. Di gratisin.. Di gratisin. Beli kopi bonus Tuti" ucap Keenan


Ketiga terbahak.


"Kuuy Bang, gratis katanya. Sana kamu pesankan sama si Entut." ucap Mas Pram


"Anj*r Entut dia bilang." Keenan dan Bang Al terbahak


"Entutiiii" ucap Mas Pram. Mereka terbahak


"Sssttt..kalau dia tahu, nanti kopi kita dicampur sianida. Mau kalian?" ucap Keenan


"Haha.. Bener. Ssstt.. Sana Bang pesenin" titah Mas Pram


Bang Al memesan kopi untuk mereka. Kemudian kembali duduk ditempatnya.


"Eh, aku mau bicara serius nih.." ucap Mas Pram membuat keduanya menatap lelaki berwajah manis itu.


.


.


.


Temaaannss dukung terus karyaku yaaa.. Jangan lupa absen like dan komentarnya yaaa..


Yang punya koin dan poin, bolehlaah bantu vote juga. Terima kasih ^^