My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Ospek



"Sukur! Memang enak! Ngeyel sih mau jadi mahasiswa reguler." Keenan tertawa dari balik kemudinya saat melihat sang istri sedang mengalungkan kerdus di lehernya.


Sementara Lala mendekati Pria tersebut dengan rasa gugup.


'Tuhan, sudah ganteng wangi pula' racaunya dalam hati. Lala berjalan mengikuti Pria berjas itu. Aroma parfum pria tersebut mampu menghipnotis Lala hingga dia menghirupnya lebih dalam sambil memejamkan mata.


BRUKK


"Aw.." Lala menubruk punggung pria tersebut.


"Kamu gak punya mata!" ketusnya.


"Apa kamu buta?" Lala balik bertanya.


'Astaga! Cari mati si Lala!' Lala menyadari kesalahannya.


"Maksud kamu, apa!"


"Kamu gak lihat mata aku?"


'Mulut.. Maunya nimpali terus. Ingat kamu sedang ospek, La!'


"Yang gak lihat siapa? Sampai kamu nabrak saya segala!"


"Ya maaf, aku tadi lihat ke samping." jawabnya cuek.


Pria tersebut mendengus kesal sambil berkacak pinggang. "Kamu bisa sopan sama senior?"


"Iya maaf, Kak."


'Dih belagu senior, umur aku lebih senior dari kamu tahu!'


Lala merutuki kebijakan Kampus yang mengharuskan mahasiswa baru dan mahasiswa pindahan mengikuti ospek.


"Kamu kenapa masih berdiri disini? Tuh gabung sama mereka!" ketusnya


"Salah saya apa, Kak?" tanya Lala tak faham dengan kesalahannya.


"Kamu gak baca peraturan?" Pria itu mengangkat sebelah alisnya


"Jalan dari pintu gerbang!" ketusnya saat Lala masih berpikir akan kesalahannya.


"Pantes Kakak diam disitu, kayak tukang parkir."


"Kamu bilang apa?"


"Enggak Kak."


"Sana!"


"Astaga, punya penyakit darah tinggi, ganteng-ganteng!" gerutu Lala seraya bergabung masuk ke dalam barisan mahasiswa yang kena hukum.


Tanpa sadar, pria tersebut tersenyum menatap punggung Lala.


Lala kini sedang menunggu giliran untuk mendapat hukuman. Dia mengambil kertas kocokan dan membukanya.


"Cepat baca hukuman apa buat kamu?" ujar senior wanita berambut panjang saat Lala sedang berdiri di depan.


Sebagian temannya ada yang menyanyi, dance, membaca puisi cinta untuk senior, dan merayu senior.


"Nyatakan cinta pada Kak Farel." ucap Lala lantang. Seketika suasana riuh.


'Permainan bod*h macam apa ini!' Rutuk Lala dalam hati.


"Kamu cari Kak Farel ajak kesini." pinta seniornya.


"Farel yang mana?" tanya Lala polos


"Song*ng banget jadi mahasiswa baru." sindir senior wanita


"Maksudnya yang mana Kak Farel, Kak?"


"Kamu cari sendiri dong. Kalau tidak ketemu dalam sepuluh menit, kamu bersihkan gudang!" ucapnya


"Astaga... Sumpah bikin naik darah!" gerutu Lala seraya berjalan mencari seniornya.


Lala mendekati satu persatu senior pria berjas almamater, hingga salah satu senior menunjuk ke suatu ruangan.


Lala mengetuk pintu bertuliskan ruang senat. Dia membuka pintu dengan perlahan. "Permisi."


Seorang pria tertidur di meja. 'Astaga.. Ternyata Pria tadi'


"Kak..Kak Farel." Lala mengguncang tubuhnya.


"Kak.."


Pria tersebut mendongak dengan mata memerah. Sontak dia terkejut dan mengangkat kepalanya. Seketika Lala tertawa.


"Eh, maaf." 'Sereceh itu aku, Ya Tuhan. Lucu banget lihat ekspresi kaget dia.'


"Kamu!" Farel menatapnya tajam. "Ada apa!" ketusnya.


"Kak Farel, boleh minta tolong? Aku dapat hukuman harus menyatakan cinta pada Kak Farel depan mereka. Tolong bantu aku ya Kak?" ucap Lala tanpa basa basi.


'Masa bod*h dengan permainan ini daripada harus bersihkan gudang.'


"Imbalan buat aku, apa?"


"Aku kasih kakak cokelat."


"Aku gak suka cokelat."


"Rokok, kak?"


Farel menatapnya. "Kamu pikir aku merokok?"


"Ya mana aku tahu, Kak!"


"Yang lain."


"Jajan di kantin."


Farel menyunggingkan sebelah bibirnya. "Deal."


'Bilang dari awal Maliih! Suruh tebak-tebak kayak kuis!'


Lala berjalan kembali menuju teman-temannya. Semua bersorak saat mereka melihat Lala berhasil membawa pria tersebut. Tapi tidak dengan senior wanita berambut panjang, dia nampak tak suka.


"Tumben kamu mau sih, Rel?" ucapnya masih bisa didengar Lala.


"Aku ada perjanjian dengannya." ucap Farel datar.


"Hei, siapa nama kamu?" tanya wanita berambut panjang.


"Lashira, Kak."


Mereka bertiga berdiri di depan. Sementara maba duduk lesehan di lantai.


"Oke, Lashira nyatakan cinta pada Kak Farel, sekarang."


Seketika Lala merasa gugup. 'Astaga. Depan para bocah harus main beginian.'


"Pakai ini" ucapnya kemudian seraya memberikan pengeras suara.


' Gila..'


Suasana semakin ramai. "Tembak.. Tembak.. Tembak.."


"Saya gak mau mati." ucap Farel datar membuat mereka tertawa senang.


Beberapa mahasiswi memanggil nama Farel. Mereka sama seperti Lala tadi, terpesona dengan ketampanannya.


"Menghwningkan ciptaaa!" teriak wanita berambut panjang.


Kode yang dia berikan, sukses membuat suasana menjadi hening seketika. Lala semakin gugup. Dia menarik nafas panjang untik menghilangkan gugupnya.


"Kak Farel mau gak jadi pacar aku?" ucap Lala tanpa basa basi.


"Huuuu gak romantis."


"Gak seru.. "


" Ulang.. Ulang..Ulang.." Teriak mereka yang mendengarkan Lala.


"Mereka minta ulang, Lashira." tantang senior wanita. Sementara Farel berdiri di samping Lala menunggunya dengan wajah datar.


"Ehm..Kak Farel, aku gak kenal Kakak siapa, maaf kalau ini mendadak, tapi mau gak Kakak jadi pacar aku?"


"Kenapa aku harus jadi pacar kamu?"


"Ya karena hukuman ini."


"Huuuu.." sorakan dari temannya karena Lala bersikap cuek.


"Kalau aku gak mau?"


"Gak masalah."


"Huuu..." mereka mencibir Lala.


"Jual mahal."


"Sok cantik"


"Buat aku aja Kak Fareel" teriakan demi teriakan bersahutan.


"Mengheningkan ciptaaaa" sontak semua patuh.


"Kalau aku mau terima?" tanya Farel memecah keheningan.


Lala memutar bola matanya. "Biasa saja."


"Oke aku terima."


Semua berteriak histeris. Ada yang kecewa, ada yang kesal, bahkan ada juga yang menyukainya. Lala sedikit terkejut dengan jawaban lelaki tersebut. Senior wanita berambut panjang meliriknya tak percaya.


" Kenapa kamu terima dia?" tanya wanuta berambut panjang.


"Dia jujur." balasnya simple.


"Sudah kan, Kak?" tanya Lala pada wanita tersebut.


Farel mendekati Lala, dia berbisik di telinga Lala. "Ingat janji kamu!" ucapnya. Lala hanya mengangguk.


Waktu istirahat tiba, semua membuka makanan mereka masing-masing.


"Ciee.. Diterima Kak Farel." goda teman baru Lala yang bernama Arabella.


Lala tersenyum "Dih cuma mainan doang." balasnya cuek.


"Kalau gak mau, buat aku saja La."


"Barter sama cokelat, boleh deh." mereka tertawa.


Farel menghampiri Lala yang baru saja membuka kotak makannya. "Kamu ikut aku." ucapnya.


Lala menitipkan barangnya pada Arabella. Semua mata tertuju pada Lala dan Farel.


"Aku mau tagih janji kamu. Jangan lupa bawa dompet kamu."


Lala mengikuti Farel menuju kantin. Disana bergerombol rekan Farel sesama senat.


"Gaes, pacar baru aku." ucap Farel membuat Lala menajamkan matanya.


"Pacar hukuman, kakak." ralat Lala.


"Pacar lama kemana Rel?" tanya temannya


"Simpan dulu dong." jawabnya santai.


'Oh, modelan playboy ceritanya.'


"Pacarku mau traktir kalian untuk hari jadi kita, silahkan pesan satu porsi makan masing-masing." ucap Farel pada kelima rekannya yang berada disana.


Rekan Farel bersorak riang memesan makanan mereka.


"Kak, perjanjiannya kan gak begitu!" ketus Lala


"Kamu traktir aku kan? Aku traktir mereka. Jadi suka-suka aku dong" Farel mengangkat bahunya acuh.


Lala mengeratkan giginya. 'Br*ngsek! Aku dikerjai!'


"Terima kasih, selamat yaa kalian smeoga lanvgeng sampai kakek nenek" suara teman Farel bersahutan.


Lala menghampiri penjaga kantin, dia membayar makanan Farel dan temannya tanpa basa-basi.


'kalau bukan acara ospek s*alan ini, sudah aku ajak duel si bocah lakn*t!' Lala masih tak terima dengan perlakuan lelaki bernama Farel, namun dia takut menjadi bulan-bulanan mereka. Mengingat acara ospek masih berjalan empat hari lagi.


"Impas ya!" ketus Lala, dia hendak meninggalkan kantin.


"Hei, kamu mau kemana, Sayang?" suara lantang Farel membuat riuh temannya.


"Kembali kesana lah!" ketus Lala


"Kamu pacar aku, disini saja."


"Maaf Kak Farel, saya tidak mau kena hukuman lagi. Permisi!"


"Gilaaa.. Galak banget itu cewek. Farel turun pamor sampai dia tak tertarik." ujar temannya.


Farel menatap kepergian Lala. "Menarik." gumam Farel.


Tiba di ruangan, Lala dipanggil oleh wanita berambut panjang yang menghukumnya tadi.


"Lashira, sini sebentar." dia melambaikan tangannya.


'Famous banget aku hari ini.'


"Iya Kak."


"Kamu habis apa sama Farel?"


"Bayar hutang, kak"


"Kok bayar hutang? Kamu kenal dia?"


"Enggak Kak. Dia mau bantu aku, asal aku traktir dia di kantin." wanita tersebut tersenyum senang.


"Aku pikir kalian ngapain. Ingat ya, yang tadi cuma main-main."


'Ya iyalah beg*! Aku juga sudah bersuami!' racaunya dalam hati.


"Iya Kak, dia cocoknya sama Kakak loh."


Wanita tersebut tersenyum. "Masa sih?"


'Dih! Aku tahu modelan kayak kamu Nona!'


"Maaf, nama Kakak siapa?"


"Masa kamu lupa sih! Ingat. Aku Andine"


"Hehe.. Maaf Kak Andine. Serius deh Ka Andine cocok banget sama Kak Farel. Chemistry kalian uh banget." Lala tertawa dibuat-buat.


"Serius ih kamu." Andine tersipu malu.


'Modelan kamu tuh, aduh.. Di elus dikit juga basah! Astaga! Aku kenapa jadi mes*m begini!'


"Hehe.. Iya Kak. Kak Farel kayaknya suka juga sama Kak Andine."


"Ih tahu dari mana kamu?" Andine mendadak bersemangat.


"Kelihatan Kak. Masa Kakak gak bisa merasakan sih?"


'Lanjut Laaa.. Biar dia terbang ke angkasa terus meletus di udara. Hip hip horee.'


"Eh.. Sssttt.. Jangan gitu ah, Lashira."


'Idih naj*s!'


"Panggil aku Lala saja, Kak"


"Ih kamu buat aku geer deh, La." Andine tertawa senang. "Ya sudah, kamu kesana saja. Gak enak sama yang lain."


'Mari kita cari kartu As. Biar aman posisimu, La! Semangat!'


Lala kembali ke asalnya.


***


"Huuh! Capek banget hari ini" keluh Lala seraya mengambil air minum dari kulkas.


"Wajarlah. Namanya juga ospek."


"Iya Bu. Seru sih, mainnya sama dedek gemes semua." Lala terbahak. "Lagi pula, pengalaman pertama juga ikut beginian. Dulu kelas karyawan sih. Jadi gak ada ospek."


"Ya bersyukur saja Keenan masih memikirkan masa depan kamu, La."


"Iya Bu. Malah nanti aku disuruh latihan mobil." Lala tersenyum senang.


"Serius?"


"Iya dong."


"Bagus laaah, biar Ibu kalau ke pasar gak usah nyewa becak."


"Astaga si Ibu. Anaknya jadi kang ojek."


"Bu, kalau aku hamil bagaimana?" tanya Lala ragu.


"Ya mau gimana lagi? Toh kalian sudah sah."


"Terus perjanjian Ibu dengan orangtua Keenan.. " Lala nampak ragu


"Itu kan dibuat kalau pihak Keenan yang paksa kamu, karena kamu menikmati semuanya, yaa.. Selama kamu bahagia, La." Lala mengangguk-mengangguk.


"Ibu, gak marah kalau aku hamil?"


"Memang saat ini kamu hamil?"


"Belum sih, Bu. Cuma seandainya aku hamil, apa Ibu gak marah? Ibu kan ada perjanjian itu. Maksud aku begitu."


"Ya kalau rezeki kalian cepat, mau bagaimana lagi. Tapi Ibu gak mau kamu tinggal disana."


"Iya..iya.." Lala merasa lega dengan penuturan Ibu.


"Tumben Keenan jam segini belum pulang, La?"


"Tadi bilangnya ada meeting dulu, Bu."


Tak berapa lama, terdengar suara pagar rumah terbuka. Lala segera keluar. Dia tersenyum saat melihat suaminya tiba.


"Abang, aku kangen." Lala memeluk Keenan.


Keenan tersenyum. "Tumben kamu."


"Dih, centil banget kamu, La."


"Yee..jomblo sirik." cibir Lala


"Heh kurang asem! Ibu sendiri dibilang jomblo!"


"Terus apa? Oya, janda semakin di depan!" Keenan terbahak mendengar ocehan Lala.


"Ibu kutuk jadi tajir kamu!"


"Aamiin." sahut Keenan dan Lala bersamaan. Keduanya masuk ke dalam kamar.


"Usil banget kamu sama Ibu."


"Ibu yang duluan bilang aku centil."


Keenan mengecup bibir Lala. "Gimana tadi?"


"Besok jangan masuk kampus! Aku di hukum, tahu! Dari gerbang harus sudah jalan kaki!" ketus Lala


Keenan terbahak. "Iya, aku lihat tadi pas mau keluar."


"Terus?"


"Sukurin!"


"Jahat Abangnya!"


"Malem banget sih Bee, pulangnya."


"Iya, meetingnya lama, sayang." Keenan membuka kancing bajunya.


"Abang sudah makan?"


"Sudah. Abang mau mandi dulu."


Lala merebahkan kepalanya di dada Keenan saat Keenan sudah membersihkan tubuhnya.


"Tahu gak Bang, masa tadi aku di suruh nyatakan cinta."


"Sama siapa?" tanya Keenan masih fokus bermain game di ponselnya.


"Jadi pas dihukum dapat kocokan gitu. Nah, punya aku dapatnya ya itu, nyatakan cinta."


"Siapa sih ketua senatnya?"


"Haha.. Aku gak tahu."


"Dih beg*! Masa gak tahu."


"Bodo amat, gak penting."


"Kamu jangan cemburu ya Bee."


"Iya, asal kamu jujur. Jangan genit. Jangan make up-an juga. Ingat, umur mereka di bawah kamu. Kamu sudah tante-tante."


"Enak aja! Mana ada baby face gini tante-tante. Dari tadi gak ada tuh yang tanya umur aku berapa, sudah nikah atau belum. Pasti mereka mikirnya aku seumuran mereka.


"Awas saja kalau kamu ketahuan ganjen. Aku perk*sa di tempat."


Lala terbahak seketika. "Astaga. Mes*mnya si Abang."


"Tapi terima kasih sayang, aku akhirnya merasakan yang namanya ospek." Lala mengecup pipi Keenan.


Keenan menunjuk bibirnya. Lala segera mel*mat bibir Keenan hingga Keenan menghentikan permainanya.


"Dasar si Oneng! Kalah kan ah!"


"Kamu yang minta! Lagian Game aja terus! Aku dianggurin." ketus Lala keluar dari pelukan Keenan. Dia memunggungi suaminya.


Keenan segera menutup ponselnya. Dia memeluk Lala dari belakang.


"Sana! Peluk aja ponsel kamu."


"Keras Hon gak ada yang kenyalnya." usil Keenan.


"Sana!"


"Dih marah."


"Bodo amat, besok aku ketemu dedek gemes di kampus!" ketus Lala


"Awas ya, macem-macem aku keluarin langsung kamu dari sana!" ancam Keenan.


"Bodo! Percuma sama kamu juga di anggurin."


"Sini kamunya kalau mau dijamah." Keenan membalikan tubuh Lala.


Keenan mengungkung tubuh Lala, mengelus lembut rambut istrinya. Dia mendekatkan wajahnya, dengan refleks Lala menutup mata. Keenan seketika tersenyum menatap Lala yang terpejam. Lala yang menunggu kemudian membuka matanya.


"Nungguin yaa.." Keenan terbahak.


"Keenan reseeeee!"


.


.


.


Jamaah Honbee mana suaranyaaaa.


Jangan lupa like, komentar, vote, vote, vote yang buanyaaakkk.


Follow my igeh : only.ambu


Terima kasih ^^