My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Ngidam



"Kayaknya seger gitu, Mom. Beli yuk?"


"Serius?"


"huum. Emang kenapa?"


"Masa sih kamu mau itu? Jangan becanda Bambang. Kamu mana bisa makan begituan." Lala menatapnya tak percaya.


"Aku gak becanda, Mom. Agak siang kita beli ya?"


"Serius? Kamu memangnya gak ngantor, Bee? Perasaan kamu akhir-akhir ini males-malesan deh."


"Gak apa-apa, Mom. Aku ke kantor, cuma gak pernah lama kalau gak ada yang penting."


"Daddy anter kamu kuliah, terus beli ini, terus kita ke kantor, oke?"


"Siap tuan muda. Tapi aku mau cinnamon rolls seperti biasa ya, Bee?"


"Siap Mom. Buat mininya Daddy apa sih yang enggak?" Keenan mengelus perut Lala.


Lala keluar kamar, menuju dapur.


"Sarapan dulu, La. Ibu bikin nasi uduk."


"Tumben, Bu. Ada angin apa pagi-pagi bikin masi uduk. Biasanya nasi goreng."


"Sudah lama gak buat kan, gak tahu kenapa kemarin tiba-tiba saja ingin makan nasi uduk." ucap Ibu


"Masa ibu ikutan ngidam juga?" Tanya Lala heran.


"Haha.. Bisa jadi. Baguslah siapa tahu Ibu ngidamnya makan-makanan enak."


"Idih si Ibu ngaco."


"Bu, risol ada gak?" Keenan mendekat ke arah mereka.


"Ada di lemari es. Stok buat kamu saja seperti biasa." Ibu menatap Keenan sepintas.


"Mom, goreng risol sekarang ya, Daddy mau siap-siap dulu." pinta Keenan sambil membuka lemari es, memberikan risol pada Lala.


"Sejak kapan nama kamu ganti, Keen?"


"Ganti gimana?"


"Nama kamu sudah bagus Keenan kenapa jadi Dedi?"


Lala terbahak sementara Keenan melongo.


"Ya ampun si Ibu. Terus aku dipanggil apa Bu? Aku bilang ayah, kata Lala gak cocok. Aku bilang Papa, ingetnya sama Papa aku, dia bilang. Terus apa? Masa Bapak? Please lah, aku masih muda, Bu. Daddy kan keren tuh, Bu." ucapnya seraya tersenyum.


"Suka-suka kamu lah. Tapi ibu malah inget sama si Dedi tukang kredit panci." Ibu tersenyum.


"Hahahaha... Ternyata kamu sekarang ganti profesi, Bee."


"Bu, coba lihat wajah tampan nan rupawan mantu Ibu ini. Bisa-bisanya disamakan dengan tukang panci. Kredit lagi." gerutunya


"Lagian manggilnya Dedi. Ya Ibu ingatnya dia."


"Sudah. Sudah. Sana Dedi mandi dulu" usil Lala seraya menahan tawanya.


Keenan berlalu ke kamarnya.


"Kelakuan kalian ada-ada saja."


***


Keenan memberikan ponselnya pada Lala saat diperjalanan menuju kampus.


"Stel lagu yang kemarin di video kamu itu, Mom." pinta Keenan tiba-tiba.


"Video mana?"


"Yang kamu tunjukin ada mini di perut kamu. Yang.. Lagu dangdut itu." pinta Keenan.


Lala terbahak seketika kemudian dia menyanyi "Sungguh aku bahagia..." "yang itu?" tanya Lala seraya tersenyum.


"Iya."


"Haha.. Kenapa? Tumben."


"No comment." Keenan cemberut merasa di olok-olok.


"Oke. Oke." Lala segera memutar lagu dangdut tersebut.


Diam-diam, Lala tertawa kembali. " Kenapa Mom?"


"Lucu saja. Mobil sport, nyetelnya lagu dangdut." Lala tak kuasa terbahak kembali.


Keenan hanya mendelik sebal.


"Aku heran deh sama kamu. Kok kamu aneh sih Bee?"


"aneh gimana?"


"Aneh saja. Gak kayak biasanya semenjak aku hamil. Kayaknya kamu melakukan hal yang gak biasa kamu lakukan gitu loh, Bee." ucap Lala.


"Masa sih?"


"Lah buktinya sekarang tiba-tiba mau dengerin lagu dangdut." Lala tertawa


"Aku juga gak ngerti, kenapa terngiang-ngiang terus di telinga, lagu itu." ucap Keenan.


"Mungkin, si mini mau Daddynya ingat dia terus." Keenan tersenyum bangga.


"Mobil sport, panggilan Daddy, hobby baru dengerin musik dangdut. Hahahhaa..."


Keenan meliriknya sebal. "Sana turun." ucap Keenan saat tiba di kampus Lala dengan nada kesal.


"Maaf Daddynya mini, jangan marah-marah, nanti mininya cedih."


"Mommy kamu yang rese sama Daddy."


"Astaga Abang." Lala terbahak. "Kok kamu jadi lucu sih, Bang?" Lala segera turun saat Keenan sudah menatapnya dengan tak ramah.


Lala mengetuk kaca mobil Keenan.


"Apa lagi?" ketusnya.


"Aku belum salim, lupa." Lala nyengir sambil mengulurkan tangannya.


"Masuk aja dulu. Susah." ketus Keenan.


Lala masuk ke dalam mobil. "Aku menuntut ilmu dulu ya, biar anaknya kebawa pinter." Lala mengecup punggung tangan suaminya.


Keenan mendekatkan wajahnya pada Lala. Kemudian menciumnya dengan liar. Lala yang kaget hendak berontak namum ditahannya hingga Lala memukul-mukul lengan Keenan saat dia merasa kehabisan nafas.


"huh.. Huh.. Huh.." Lala menghembuskan nafasnya. "Gila kamu, Bee!"


"Sukurin! Ngeselin mulu sih!" ketus Keenan.


"dah ah, aku masuk kelas dulu." ucap Lala yang malas menanggapi Keenan.


Lala berjalan menuju kelasnya tiba-tiba dari belakang Farel merangkul bahunya.


"La, kantin yuk?" ajaknya


"Baru datang. Aku mau ke kelas."


"Di anter si Abang?" tanyanya


"Huum. Nganter doang."


"Ya sudah, biar adik ipar yang nganter sampai kelas." ucapnya mengikuti Lala.


Lala sudah biasa dengan sikap Farel yang selalu seenaknya. Apalagi setelah tahu Farel dan Keenan teman akrab sejak dulu, dia merasa tidak terlalu canggung.


"Aku mau ke toilet dulu ah." ucap Lala. Entah kenapa, semenjak hamil, dia lebih sering buang air kecil.


"Oke siap. Aku anter kakak ipar." Tangan Farel masih bertengger dibahu Lala.


"Turunin tuh tangan! Gak enak tatapan mereka seolah mengintimidasi aku."


"Cuek aja lagi"


"Awas yaa kalau Keenan tahu, terus ngamuk sama kamu. Aku gak mau ikut campur."


"Lagian dia dari dulu ambekan. Aku suka godain dia" Farel terbahak.


"Gila memang kalian ini."


Farel menunggu Lala di luar toilet berbarengan dengan Arabella yang juga masuk ke dalam toilet.


"Hai. Arabella.. Apakabar?" tanya Lala merasa senang bertemu dengan teman ospeknya.


"Baik. Kamu belum jadi janda kan, La?" pertanyaan Arabella membuat Lala sedikit menohok. Tiba-tiba saja dia bersikap demikian.


"Hah? Maksud kamu apa?"


"Itu, ketua senat sampai nunggu kamu di luar gitu."


'Kenapa tuh bocah tiba-tiba?'


"Biasa dia mah. Curhat." Lala mengeles. "Memang kenapa?"


"Gak apa-apa sih, cuma kamu kayak selingkuh."


'Apa maksud nih anak bicaranya kagak difilter! Kebanyakan makan rawit nih bocah! Pedes banget omongannya.'


"Dia temannya suami aku, kok. Kenapa? Kamu suka sama Farel?"


"Heh? Eng.. Enggak."


'Dari cara bicaramu saja sudah ketahuan. Iri bilang Bos!'


"Aku duluan La." ucap Arabella


Lala segera menyusulnya.


"Rel, Arabella tuh cantik. Gebet Rel." suara Lala terdengar kencang saat menghampiri Farel.


'Bodo amat, dia juga ngomong seenaknya.'


"Apaan sih La. Aneh-aneh saja kamu." Farel nampak bingung.


"Rese deh tuh anak. Masa bilang aku janda, aku godain kamu. Lagian kamu juga ngapain ngikut-ngikut segala! Gak ada kerjaan apa!" semprot Lala pada keduanya.


"Kamu kenapa sih? Kesambet? Keluar toilet ngomel-ngomel gak jelas."


"Ayo buruan anter ke kelas." Lala kini memeluk lengan Farel karena kesal.


Tatapan orang-orang nampak aneh saat melihat Lala menggandeng Farel. Farel sendiri tersenyum senang. Gak biasanya Lala bersikap demikian padanya.


"Dah sana pergi!" usir Lala saat mereka tiba di depan kelas.


"Sudah di anter, di usir pula." ucap Farel.


"Haha.. Sorry. Aku kesel sama bocah tadi."


"Kenapa sih?"


"Haha..sudah sih, cuek saja."


"Kamu juga, sana jauh-jauh. Aku gak mau jadi bahan gosip mereka!"


"Iya iya kakak ipar bawel. Aku ke markas ya, jangan nyari aku." ucapnya.


***


Keenan menunggu Lala di kantin. Entah kenapa, dia tiba-tiba ingin menikmati es cappucino buatan Tuti tempat nongkrongnya dulu bersama teman mereka.


"Abang.." Andine mendekati Keenan yang sedang duduk sendirian.


Teman Andine nampak berbisik seolah bertanya. Mereka saling memberikan kode hingga akhirnya Andine dibiarkan sendiri menemani Keenan.


"Sudah lama Bang?"


"Lumayan. Kamu belum pulang?"


"Belum Bang. Masih ada jam nanti habis ini."


"Oh."


Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Abang dimana? Aku ke parkiran, Abangnya gak ada." tanya Lala dibalik telepon.


"Abang di kantin, Hon." ucapnya sambil melirik sekeliling. Keenan masih tahu tempat dengan panggilannya.


"Buruan." pinta Lala.


"Siap Nyonya." ucap Keenan membuat Andine mendelik sebal.


"Aku duluan ya, Ndine." Keenan bangkit dan pergi meninggalkan Andine begitu saja.


Lala menunggu di depan mobil Keenan dengan cemberut. "Lama banget sih! Ngapain coba kamu ke kantin? Tebar pesona?"


"Enggak, Sayang. Tadi beli es cappucino di kantin. Rasanya kangen saja sudah lama gak minum itu disini."


Lala masih cemberut kesal. "Gak mikir apa aku kepanasan nungguin kamu!" gerutunya


"Iya maaf sayang-sayangku." ucapnya seraya mengelus perut istrinya.


Sesuai dengan ucapan Keenan tadi, kini dia tengah membaca GPS menuju ke tempat yang ingin dia kunjungi.


"Tuh yang itu." ucap Lala


"Iya. Duh sudah gak sabar." timpal Keenan dengan wajah berbinar.


Seorang petugas parkir mengarahkan mobil Keenan untuk menepi disana.


"Rame begini." Lala menyisir rambutnya dengan tangan.


"Yuk buruan, Mom" ajak Keenan.


Keenan tersenyum senang saat menginjakan kakinya di kedai baso aci yanh dilihatnya di sosial media.


"Mommy pilih tempat duduk, Daddy mau pesan." ucapnya


"Pesan di meja saja, Abang. Nanti juga pelayannya nyamperin."


Keenan tak mendengarkan Lala. Dia menghampiri mas-mas yang sedang meracik baso aci milik orang lain.


"Mas, saya mau baso aci tapi harus sesuai dengan gambar ini ya." Keenan memperlihatkan gambar tersebut.


Si Mas tersenyum. "Siap Mas." ucap penjual baso aci.


"Serius Mas. Istri saya sedang hamil. Dia ingin yang sesuai dengan gambar ini." Keenan memberi alibi dengan menjual nama Lala. "Kasihan anak saya kalau nanti gak sesuai, dia gak makan baso acinya."


"Itu foto yang di sosial media kita ya?" tanya Mas Baso Aci. Dia membuka ponselnya. "Yang mana Mas?" tanyanya pada Keenan seraya menscroll ponsel miliknya.


"Nah itu. Yang itu." ucap Keenan.


"Please. Yang sesuai ya Mas."


'Si Abang ngapain sih? Lama amat.' Lala mengamati suaminya yang saling memperlihatkan ponsel.


"Mas, bikin dua ya." ucap Keenan kemudian


"Pedes dua-duanya?"


"Aku tanya istriku dulu." Keenan mendekat pada Lala.


"Lama banget ngapain sih, Bee?"


"Mommy mau pedes atau enggak?" Bukannya menjawab, Keenan malah balik bertanya.


"Heh?" Lala sedikit heran


"Buruan. Pedes gak?"


"Iya pedes."


Seketika Keenan kembali memghampiri Mas-Mas tadi.


"Abang sudah pesan?" tanya Lala


"Iya sudah."


"Loh? Aku gak dipesenin?" Ketusnya.


"Sudah. Sama kayak punya Abang."


"Kok gitu sih? Aku kan mau milih dulu. Sok tahu sih!"


"Heh? Ya sudah kalau mau pilih dulu. Pesan lagi saja, Yong."


"Gak usah!"


"Maaf Mom. Tadinya punya kita itu komplit isinya, jadi bisa coba semuanya." ucap Keenan


Dan tak berapa lama pesanan Mereka pun tiba. Keenan membuka ponselnya, membandingkan dengan gambar yang ada di sosial media, kemudian dia tersenyum senang. "Lihat Mom. Mirip kan?" Keenan memberikan gambar dari sosial media.


Sementara Lala nampak melongo melihat isi dari kedua mangkuk yang sama percis. "Abang gak salah?" tanya Lala masih merasa heran.


"Apa?" tanyanya, dia sibuk mengambil gambar baso aci dihadapannya.


"Abang gak mual? Gak mau muntah?"


"Kenapa memangnya?"


"Itu ceker?"


"Enggak. Kayaknya enak malah. Yuk makan." ajak Keenan mulai mengambil sendok. Dia nampak cuek.


Lala masih menatap suaminya yang sedang menyeruput kuah baso aci.


"Pas, mantap." ucapnya seraya tersenyum. Dia melirik pada Lala. "Kok kamu diam saja?" tanyanya.


"Eh? Aku heran sama Abang. Kok Abang gak jijik? Dulu Abang sampai ngajak ngungsi ke apartemen loh?"


"Masa sih?" Keenan masih sibuk dengan baso aci dihadapannya. "Abang juga gak ngerti kenapa mau ini, kayaknya enak, seger." Dia masih sibuk menyeruput kuah baso aci.


"Itu juga baso acinya? Bukannya kata abang cuma tepung?"


"Enak, Mom. Gurih. Coba deh. Keburu dingin ntar." titahnya.


Keduanya sibuk makan baso aci. Keenan terlihat lebih lahap makan baso aci mereka.


"Ini makannya gimana?" tanya Keenan pada Lala saat hendak memakan ceker.


Lala tertawa. "Di pegang, Bee." ucapnya kemudian.


"Pakai tangan?" tanyanya lagi.


"Huum" ucap Lala seraya mengunyah toping baso aci yang lain.


Lala mengambil ponselnya saat melihat Keenan mulai memegang ceker. Dia merekam suaminya yang nampak menikmati ceker tersebut.


"Buang kemana tulangnya?"


Lala menyodorkan tisu di hadapan Keenan. "Taruh sini saja." dia tersenyum kembali melihat Keenan mengeluarkan ruas-ruas ceker.


"Astaga Abang."


"Kenapa?"


"Tuan Muda turun derajat. Kenapa jadi Abang yang ngidam?"


"Heh? Iya ya?" Keenan tersenyum tak ambil pusing ocehan istrinya. Yang penting keinginanya terpenuhi.


"Aku pikir, bakalan aku yang rewel minta ini itu sama kamu, Bang. Ternyata malah kamu yang ingin ini itu." Lala menggelengkan kepala. "Amazing."


Lala tak sanggup menghabiskan baso aci miliknya, sementara mangkok Keenan telah kosong, tak menyisakan kuah sedikit pun.


Keduanya beranjak dari tempat duduk hendak membayar.


" kamu duluan saja, biar Abang yang bayar." ucap Keenan.


Lala menyalakan mesin mobil kemudian pindah memutar tubuhnya pindah ke samping kemudi.


Tak berapa lama, Keenan tiba membawa plastik.


"Loh, dibungkus buat siapa?" tanya Lala saat mencium aroma baso aci.


"Ibu." ucapnya singkat kemudian melajukan mobilnya menuju kantor.


"Serius Abang, ini mobil gak pernah loh ada makanan aneh-aneh. Sekarang aromanya jadi baco aci." Lala masih tak habis pikir dengan tingkah suaminya.


***


Lala segera merebahkan tubuhnya setelah seharian berada diluar ruangan. Apalagi tadi di kantor, Lala bosan menunggu Keenan yang sibuk dengan staffnya.


"Laaa... Itu punya siapa?" teriak Ibu.


"Apa buuu?" Lala tak kalah berteriak.


"Apa ya? Itu kaya cilok gitu loh La" Ibu menghampiri Lala, dia berdiri diambang pintu kamar.


"Oh, baso aci? Keenan beli buat Ibu katanya."


"Tapi kok, itu.. "


" Punyaku satunya lagi, Bu." ucap Keenan memotong percakapan mereka.


"Astaga Abang!"


.


.


.


Yuhuuuu.. Jamaah jangan lupa ritual kitaa.. Bantu mereka manjat, yeesss.. Dengan **like, komentar, vote yang buanyaaakkk.


Oya, follow my igeh : only.ambu**


Terima kasih^^