My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Kamu Dimana?



"Maksud kamu apa? Hah!" Keenan menautkan alisnya. Tatapan matanya begitu tajam.


Lala mengatur nafasnya. "Kamu muak sama aku kan? Kamu juga muak sama Ibu kan? Kita cerai saja Keenan! Silahkan hidup sesuai keinginanmu."


"Selama ini aku harus mengerti kalian. Aku harus mengerti keinginan Ibu dan juga kamu. Tapi, apa ada yang mengerti dengan keinginan aku? Selama ini aku cuma jadi penengah diantara kalian. Kalian gak pernah tahu perasaan aku kayak gimana! Apa kalian pernah tanya aku? Kalian hanya mengikuti ego masing-masing. Kamu pikir aku gak lelah!" Lala meluapkan emosinya seraya menitikan air matanya.


"Orang bilang, hamil itu enak, dimanja suami. Di turuti keingiannya sama suami. BULLSHIT tahu gak!"


"Kita hidup masing-masing saja Keenan! Bukan hanya kamu yang capek dengan semua ini!" Lala keluar dari mobil Keenan.


"Aarrggghhh!!" Keenan memukul stir mobil, dia menelungkupkan wajahnya disana.


Lala berjalan keluar kampus sambil menunduk.


'Air mata sialan! Gak bisa apa, berhenti menetes! Kan malu sama orang!' kesalnya.


Lala bingung harus pergi kemana saat ini. Dia tak punya tujuan untuk sekedar berbagi cerita. Selama ini, dia simpan segalanya sendiri.


***


Dan disinilah Lala kini berada. Disebuah hotel bintang tiga sekedar untuk melepas rasa lelahnya.


Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk kabur dari rumah, namun semuanya terjadi begitu saja. Saat dia dilanda kebingungan harus pergi kemana, begitu melintasi sebuah hotel, tiba-tiba saja dia ingin bermalam disana.


"Hanya semalam La, mari kita manfaatkan baik-baik untuk berpikir jernih." Lala menguatkan hatinya.


"Maaf ya Sayang. Mommy terlalu lelah menghadapi Oma dan Daddymu. Kesabaran Mommy juga ada batasnya. Mommy harap, kamu mengerti dan tidak rewel." ucapnya seraya mengelus lembut perutnya sendiri. Lala menumpahkan semua rasanya dengan tangisan hingga membuatnya lelah dan tertidur.


Rasa sakit kram yang dideritanya tadi menguap seketika. Saat hatinya mulai mengeras dan bertekad pergi meninggalkan Keenan. Entahlah, dia merasa ajaib dengan kondisinya saat ini.


Sementara disisi lain, Keenan pulang ke Apartemen mereka. Dia berharap Lala ada disana. Keenan mencari ke kamarnya, namun rasa kecewa yang dia dapati.


'Paling pulang ke rumah Ibunya.' batin Keenan tak mau ambil pusing. Dia segera ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya disana.


***


Pagi-pagi sekali, Keenan sudah berada di depan minimarket dekat rumah Lala. Semalaman dia tak bisa tidur, memikirkan perkataan Lala.


Keenan masih kesal dengan sikap Ibu, namun dia iba terhadap istrinya. Walau bagaimanapun, memang benar Lala berada diantara keduanya.


Lama menanti, Lala tak kunjung menampakan batang hidungnya. "Apa sakitnya berlanjut? Kenapa dia gak ke kampus?" gumamnya.


"Kemarin Farel telepon karena Lala kram perut. Oh astaga! Bod*hnya aku." Keenan merutuki dirinya. Dia merasa cemas pada Lala dan juga calon anaknya.


Tak pikir panjang, Keenan bergegas ke rumah kontrakan Ibu. Dia mengetuk pintu dengan tak sabar. Ibu membuka pintu rumah.


'Ternyata Ibu belum pindah ke rumahnya.'


Tatapan mereka beradu. "Ada apa?" ketus Ibu.


"Hmm.. Aku mau ambil barang, Bu." bohong Keenan.


'Ada apa? Berarti Lala gak disini?'


"Lala kuliah?" tanya Ibu basa basi tanpa menatapnya.


"Em.. Iya Bu." bohongnya lagi.


Hatinya semakin resah. 'Astaga! Kemana dia?'


Keenan masuk ke dalam kamar. Dia pura-pura mengambil barang. "Aku langsung pergi ya Bu."


"Ibu baru mau buatkan kamu kopi."


" Maaf aku buru-buru, Bu." Keenan setengah berlari keluar rumah.


Ibu melihat tingkah Keenan. "Kenapa dia? Aneh."


"Astaga.. Kamu kemana, La?" Keenan kalut.


Keenan segera pergi ke kampus mereka. Dia mencoba menghubungi Farel.


"Apa Bang" Farel membuka percakapan dibalik telepon tanpa basa basi.


"Kamu dimana?"


"Kampus. Kenapa?"


"Ketemu Lala?" tanya Keenan.


"Hah? Dia ada kelas pagi?" Farel balik bertanya.


"Kamu lihat dia gak?" Keenan tak menjawab pertanyaan Farel.


"Enggak. Aku gak tahu dia ada kelas. Dia udah sehat lagi memangnya?" tanya Farel


'aargghh.. Kemana kamu, La.'


"Bang.."


"Aku tutup Rel."


"bang..bang.."


"Apa!"


"Jangan bilang kalian bertengkar. Kemar..."


Tuutt..tuutt..tuu.ttt..


Keenan memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Keenan ingin turun ke dalam kampus, namun dia sadar. Saat ini dia memakai celana pendek. Walau bagaimanapun Keenan tak mau gegabah dengan penampilannya.


Keenan melajukan mobilnya kembali, dia menyusuri jalanan menuju KP miliknya barangkali Lala bermalam disana. Tak butuh waktu lama untuk Keenan tiba di KP. Dia turun dari mobilnya dan melihat kunci gembok dari luar.


"kalau dia di dalam, gak mungkin ini di gembok. Astaga.. Kemana dia." Keenan frustasi.


"T*lol, bod*h, b*go!" Keenan menjambak rambutnya sendiri.


Dia masuk kembali ke dalam mobil. "Astaga, aku lupa belum meneleponnya."


Kini dia mencoba menghubungi Lala.


'Nomor yang anda tuju sed..'


"aaarrhhgghhh!" Keenan mengusap kasar wajahnya. "kamu dimana sayang. Kamu dimana, La." Keenan begitu panik.


"Maaf La.. Maafkan aku.. Aku egois." ucapnya seraya melajukan mobilnya.


'Gimana kalau Lala kecelakaan. Gimana kalau Lala ternyata..'


Keenan melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat. Dia tak sabar, ingin segera masuk ke dalam rumah sakit setelah mobilnya terparkir disana. Dengan langkah panjang, Keenan segera ke bagian informasi.


"Mbak, ada pasien yang bernama Lashira Ayumi." tanya Keenan tergesa.


"Pasien.."


"Barangkali masuk igd kemarin atau tadi malam.. "potong Keenan.


"Hmm.. Saya cek dulu.." wanita tersebut nampak sibuk. Keenan memperhatikan semua gerak gerik wanita dihadapannya.


"Serius Mbak?" harapan Keenan dia segera bertemu dengan istrinya.


"Iya. Tidak ada pasien masuk yang bernama Ibu Lashira."


"Lala ada gak, Mbak?" tanyanya lagi


"Hmm.. Tidak ada juga, Pak."


"Oh Astaga!" gumam Keenan.


"Cari saja di rumah sakit lain, Pak. Barangkali tidak disini." ujarnya.


"Ya Tuhan..kamu dimana La."


Disisi lain, Lala kini tengah menyendokan makanan ke dalam mulutnya. Dengan tertunduk dan tergesa. Lala begitu lahap menikmati sepiring nasi goreng dan lemon tea dihadapannya. Dia begitu lapar setelah menangis semalaman hingga energinya terkuras.


Sebenarnya dia terlalu malu bertatap muka dengan orang lain karena matanya yang begitu sembab. Kelopak matanya nampak membesar akibat semalaman dia menumpahkan rasa kesalnya melalui tangisan. Namun karena mengingat ada makhluk mungil dalam perutnya. Mau tak mau Lala harus mengalahkan gengsinya.


"Sepertinya Mommy sanggup kalau kita harus hidup berdua, sayang." ujar Lala seraya mengelus perutnya sendiri.


"Dulu Ibu juga sama begini, kan? Eh, dulu aku sudah lahir saat Ayah meninggal" Lala terkekeh sendiri.


'Terserahlah, hidup akan membawaku kemana. Yang jelas untuk saat ini aku sudah pusing dengan semuanya. Aku tak mau lagi terlibat dengan mereka. Mati-matian aku membela Ibu dan suamiku. Tapi hasilnya? Aku juga yang tersakiti.'


'Habis ini kemana ya?' Batinnya. 'Mari kita nikmati hidup sendiri.' Lala mengoceh untuk menyemangati dirinya sendiri.


Setelah check out, kini Lala berjalan-jalan di Mall. Dia sengaja menonton bioskop hanya untuk mengisi waktunya. Lala tak menikmati tontonan di layar lebar. Pikirannya terasa bimbang.


'Apa aku pulang? Ah, aku tapi aku males ketemu ibu.' batinnya.


***


Keenan seharian ini tengah berkeliling mencari Lala. Dia terlihat berantakan karena beberapa kali menjambak rambutnya sendiri. Wajahnya terlihat begitu tegang dengan lingkaran hitam dimatanya. Pikriannya kacau, hingga dia memaki Sekertarisnya saat sang sekretaris mencoba menghubunginya menanyakan keberadaannya.


"Aku harus cari kamu kemana lagi, Mom" gumamnya. Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipi. Mood swing kali ini membawanya ke titik paling melow sepanjang hidupnya.


"Mom, pulang please. Aku.. Aku gak bisa tanpa kamu." air matanya mulai tak tertahan. Dia mengusapnya dengan punggung tangannya sendiri.


***


Setelah meyakinkan hatinya, kini Lala duduk di sebuah taksi. Ternyata, dalam keramaianpun hatinya tetap merasa tak nyaman. Kali ini, dia mantap pulang ke rumah Ibu, pelabuhan terakhirnya. Kemana lagi dia akan melangkah setelah Keenan dirasanya sebaga orang lain saat ini?


Lala masuk ke dalam rumahnya dengan hati berdebar.


"Kamu sendiri, La?" tanya Ibu. Ibu sedikit menatapnya heran, namun dia kembali fokus menatap layar televisi.


"Hmm.. " Lala berusaha menghindar


" Tadi juga Keenan kesini." Lala seketika menoleh. "Tadi?" tanya Lala


"Iya. Pagi-pagi lah, katanya cuma ngambil barang, Ibu gak tahu juga barang apa tapi buru-buru pergi lagi. Mau ngantor kali" ucap ibu. Kini nada bicara Ibu nampak biasa.


'Apa dia mencariku? Gak mungkin. Kemarin saja aku keluar mobilnya dia diam saja. Jangan luoa, dia sudah muak dengan kamu La.' batin Lala


"Kamu mau ambil bukumu?" tanya ibu tanpa curiga.


"Enggak. Aku mau tinggal disini"


"Terus Keenan? Dia mau tinggal disini juga?" Ibu sekarang menatapnya penuh harap. Ibu melihat mata Lala terlihat seperti habis menangis. Namun, ibu menahan diri untuk tidak bertanya.


Lala duduk dihadapan Ibu. Tanpa ada drama air mata. Dia merasa begitu lelah, mau tak mau Lala harus bicara pada Ibu.


"Bu, selama ini aku mendengarkan keinginan Ibu. Aku juga mendengarkan keinginan Keenan. Aku coba menetralkan gejolak diantara Ibu dan Keenan."


Ibu hanya diam mendengarkan Lala.


"Aku tahu, beda orang, beda lagi isi kepalanya. Aku sadar, Keenan dan ibu punya keinginan masing-masing. Tapi kali ini, jujur aku sudah lelah. Untuk menyatukan dua kepala itu tidaklah mudah, Bu."


Lala menatap raut wajah ibu yang berubah.


"Sepertinya aku harus cerai dari Keenan." ucapnya mantap tanpa tangisan.


"maksud kamu? Kata cerai bukan permainan La." hardik Ibu


"Terus aku harus bagaimana? Satu sisi, Ibu. Orang yang melahirkan aku. Satu sisi Keenan, suami aku. Terus aku harus bagaimana kalau kalian ounya ego masing-masing."


Ibu terdiam. "Kamu ikut saja suamimu, La."


"Tetap saja hati aku gak tenang meninggalkan Ibu sendirian."


'Emang aku gak bisa baca apa, raut wajah ibu kalau aku dan Keenan ke Apartemen?'


"Kamu ikuti saja langkahnya, kamu dampingi dia. Ibu gak apa-apa sendiri di rumah, La"


"Gak usah, Bu. Keenan pasti bisa sendiri. Gak apa, aku sudah mantap untuk cerai. Nanti ibu bisa urus anakku dan aku akan bekerja kembali." ucap Lala dengan mantap.


"Ibu minta maaf buat ucapan Ibu kemarin, La."


"Sudahlah bu. Aku lelah." Lala segera masuk ke dalam kamar. 'Toh selama ini, gak ada yang dengar suara hati aku inginnya bagaimana.' Lala tak berani mengungkapkan isi hatinya.


Ibu duduk termenung di depan televisi. Tak menyangka dengan keputusan sang anak yang berpikir pendek. Rasa bersalah kini menghinggapi dirinya.


'Apa Lala kabur? Atau bagaimana?'


Ibu bergegas masuk kedalam kamarnya. Dia mencoba menghubungi Keenan.


"Hallo" suara berat bangun tidur terdengar dibalik telepon sana.


"Keenan, mana Lala?" tanya Ibu tanpa basa basi.


Nyawanya masih belum terkumpul benar, namun seketika Keenan duduk terperanjat, kepalanya begitu berat. "Hmm.." Keenan menatap layar ponsel miliknya. 'Sudah jam segini, gak mungkin aku bilang kalau Lala masih kuliah.'


"Keenan!"


"Aku minta ma.. "


" Cepat kesini! Bereskan semuanya!" ketus Ibu seraya memutus sambungan teleponnya.


"Lala dirumah?" gumamnya.


Keenan meloncat dari sofa, dia bergegas ke kamar mandi.


"Kalau mandi? Nanti dia lihat aku bahagia." gumamnya seraya keluar dari kamar mandi.


"Sudahlah berangkat sekarang." ucapnya mantap.


.


.


.


Jamaah, kuuy ramein dengan like dan komentarnyaaa.. Jangan lupa votee yang buanyaakk..


Oya, follow my igeh : only.ambu


Terima kasih ^^