
Lala merebahkan tubuhnya disamping Keenan setelah menggunakan skin care miliknya.
"Sayang.." Lala melirik Keenan.
"Hmm.. " Keenan menyautnya asal. Matanya tak lepas dari layar ponsel, jemarinya bergerak lincah.
"Tadi aku keceplosan, astaga." Lala cekikikan sendiri.
"Keceplosan apa?" tanya Keenan masih fokus dengan ponselnya.
"Anakmu yang kepo itu minta diceritakan kisah kita dulu, aku cerita panjang lebar gimana kita jaman dulu."
"Termasuk cerita aib aku juga." ketus Keenan saat teringat olokan anaknya sewaktu di toko tadi.
"Haha.. Sorry. Aku cuma ingin dia berfikir kalau nikah tak hanya enaknya saja, bisa berduaan terus, happy-happy terus. Gitu maksudnya."
"Terus keceplosannya sebelah mana? Keceplosan bongkar aib aku yang lain?" Keenan menghentikan aktivitasnya. Dia mematikan ponsel kemudian menaruhnya di atas nakas.
"Enggak sayang. Jadi aku bilang, setelah terakhir kita berantem hebat itu, kamu sekap aku di apartemen tiga hari." Lala tertawa.
"Astaga. Mulut Mommy memang perlu pake saringan." gerutunya menatap Lala tak percaya.
"Haha.. Maaf, namanya juga keceplosan. Dasar masih polos, dia malahan tanya kenapa Daddy sekap Mommy."
"Jangan-jangan kamu cerita, lagi!" tebak Keenan.
"Enggaklah sayang." Lala tertawa riang. "Dalam hati sih, aku cuma bilang. Jelas-jelas kita lagi bikin dia." keduanya tertawa.
"Ya Tuhan.." Lala mengusap matanya yang berair karena tertawa. "Gak terasa, dia sekarang sudah gadis." Lala tersenyum.
"Kirei Adelin Wijaya." Keenan melafalkan nama anaknya. "Daddy masih ingat waktu gendong dia pertama kali. Tangan mungilnya tuh gerak-gerak. Lucu banget. Lihat wajahnya udah ketebak, pasti mirip kamu. Eh bener kan? Ampe berisiknya mirip kamu."
"Enak aja berisik!"
"Bisa mencairkan suasana maksudnya, Honey."
Lala bergerak mendekati Keenan. Dia mengecup bibirnya sepintas. "Tidur ah. Aku ngantuk."
Keduanya memejamkan mata. Namun sesaat, Keenan membuka kembali matanya dan tersenyum sendiri mengingat kejadian penyekapan itu.
***
Flash Back On
Keenan Pov
Tiga hari setelah aku dan Lala berdamai pasca pertengkaran hebat, aku masih tak bisa menyentuh Lala dengan bebas seperti semula.
Lala sudah memaafkanku, tapi dia masih menjaga jarak denganku. Aku tak mengerti kenapa wanita selalu begitu? Seolah tak tulus memaafkanku. Dia masih saja menghindar dan jual mahal kepadaku. Padahal, aku sudah benar-benar kapok dibuatnya.
Apalagi waktu masuk rumah sakit. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Aku yang sedang sakit, tambah sakit saat dia cuek saja. Dia datang kerumah sakit. Tapi dia sama sekali mengacuhkanku.
Aku memancingnya dengan pergi ke toilet, dia hanya melihatku dengan ekor matanya, tanpa membantuku sama sekali. Aku makanpun, dia gak ada inisiatif untuk menyuapiku. Rasanya, dia begitu puas melihatku menderita.
Aku terus berpikir bagaimana caranya agar Lala bersikap seperti Lala yang biasa aku kenal. Hingga akhirnya aku mendapatkan ide briliant.
Aku lagi-lagi berakting, memintanya agar menemaniku pergi ke luar kota dengan dalih aku membutuhkan bantuannya untuk mempersiapkan segala keperluanku. Dia tentu saja menolak tak langsung mengiyakan ajakanku. Ingatannya masih pada Jesica.
Aku terus merayunya hingga akhirnya dia mau. Aku minta agar Kenzie dititipkan pada Ibu dan Mbak Nani karena kalau Kenzie ikut, semua rencanaku pasti gagal. Lagi-lagi dia menolak, apalagi harus meninggalkan Kenzie.
Untungnya Ibu mertua masih mau membantuku. Dia meminta Lala untuk mengikuti kemauanku, agar rumah tanggaku kembali seperti semula. Ah, Aku harus berterima kasih pada Ibu. Untuk itu, aku bertekad semua rencanaku harus berhasil.
Akhirnya hari itu tiba, aku mengajaknya membeli semua makanan yang dia suka. Kemudian mulai menjalankan misiku.
Aku membawanya ke Apartemen, aku berbohong padanya dengan mengatakan bahwa dokumenku tertinggal disana. Tiba di Apartemen, aku langsung menerkamnya.
Awalnya Lala merasa heran dengan tingkah lakuku, tapi dasar perempuan, dibujuk rayu saja langsung luluh. Apalagi saat berduaan seperti ini, pengaruhku masih begitu besar untuk dirinya.
Aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Rasanya aku begitu merindukannya hingga membuatku lagi dan lagi melakukan penyatuan dengannya. Aku harus membuatnya mengandung lagi anakku. Itulah misiku.
Tapi diluar misiku, ternyata hatiku terasa akan meledak saat didekatnya. Rasanya, cintaku tumbuh berkali-kali lipat padanya bersamaan dengan rasa bersalahku. Ah, Lashiraku ternyata kau membuatku segila ini.
Setelah kejadian itu, aku dan Lala kembali seperti semula. Aku berharap usahaku tidak sia-sia. Hingga pada hari Wisudaku tiba, saat hendak berangkat, tiba-tiba Lala muntah-muntah. Dan yes, usahaku tidak sia-sia. Lala mengandung anak keduaku. Aku sangat bahagia. Kehamilannya menjadi kado terindah dengan status Magister yang kusandang.
Selama menjalani kehamilan, Lala merengek untuk mengikuti cakes and cookies academy. Aku yang awalnya menolak karena takut dia merasa lelah, akhirnya hanya bisa mengalah dengan keinginannya. Ku penuhi keinginannya dengan syarat dia tak boleh terlalu lelah.
Setiap hari yang dilakukannya hanya membuat berbagai macam kue. Dan akulah yang menjadi kelinci percobaannya hingga saat itu, berat badanku naik drastis.
Lala cukup pintar dalam membuat aneka kue. Sampai pada akhirnya aku memberikan surprise untuknya dengan membuatkan toko kue di sebelah KP, sebagai hadiah atas kelahiran putri kedua kami.
Lala cukup serius menekuni hobbynya. Hingga dia bisa melebarkan sayapnya sendiri, membuka beberapa cabang toko kue tanpa bantuanku. Pencapaiannya yang luar biasa membuatku bangga menjadi suaminya.
***
Author Pov
"Jiii... Nakal.."
Kenzie yang diteriaki namanya hanya berlari menjauh saat Kirey mengejarnya. Anak lelaki berusia 5.5 tahun itu tertawa puas setelah menghancurkan istana pasir buatan sang adik dengan sengaja.
"Ji..Jahat!" Kirei si gadis kecil tersebut terus mengejar kakaknya berlari kesana kemari membawa sekop hingga akhirnya Kenzie berlindung dibalik punggung Keenan yang sedang menunduk memainkan ponselnya.
"Jangan lari-larian terus, Kirei." Keenan menangkap tubuh anak perempuannya yang berusia tiga tahun itu untuk memisahkan mereka.
"Ji.. Jahat! Istanaku dilusak ji, Daddy. Huaaaaa..." suara cemprengnya membuat Keenan menggosokan telinganya.
"Kenzie." Keenan melirik ke samping untuk menatap anak sulungnya.
"Bohong Dad. Kiki yang rusak istana aku."
"Jiji.."
"Kiki.. "
" Jiji.. "
" Stop! Daddy pusing kalau kalian berantem terus. Kalau gini terus kita pulang saja."
"No... " teriak keduanya kompak.
"Aku jijik sama ji. Ji nakal."
"Namaku Kenzie bukan Ji." protesnya
"Jiji menjijikan.."
"Kenzie!"
"Kirei panggil Abang." titah Lala yang dari tadi hanya mengamati pertengkaran mereka.
"Gak! Ji nakal telus! Aku gak mau panggil Abang! Aku panggil jiji menjijikan." Kirei menjulurkan lidahnya.
"Gara-gara Mommy Daddy!" ketus Kenzie
Kenzie selalu marah saat dia diolok seperti itu. Dia juga gak mau dipanggil Ken karena sama dengan panggilan Daddy-nya.
"Abang, Kiki kan masih kecil, dia belum bisa bilang huruf R. Abang harusnya gak boleh marah." Lala menasehati anaknya.
"Dia manggil aku jiji menjijikan terus! Aku jadi sebel." ketusnya membuat Lala melotot ke arah Keenan seolah menyalahkannya. Kiki mendapat kata menjijikan dari Keenan. Padahal saat itu, bukan ditunjukan untuk Kenzie, tapi Kirei yang mendengar langsung teringat Kenzie. Hingga saat ini, Kirei mengoloknya tak henti.
"Terus Abang mau dipanggil apa?" tanya Lala.
.
.
.
Yang minta extrapart siapaaaaa?? Mau kasih komentar, like dan vote juga gak sama keluarga kecil Honbee? Mereka nungguin looohhh.. :p