My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Kayak Cicak



Keenan dan Lala tak percaya dengan sambutan dihadapannya. Beberapa Ibu-Ibu dengan seragam batik PKK berwarna hijau nampak antusias menyambut mereka.


"Lalaaa selamat yaaaa... Abangnya juga." satu persatu Ibu-Ibu kader posyandu menyalami mereka.


"Gak nginep disini ya?"


"Hehe.. Enggak Bu." Lala nampak kikuk menjawab pertanyaan mereka


" Takut diganggu Ibu Tita sepertinya." timpal Ibu yang lain membuat mereka tertawa


"Abangnya manis, La." pertanyaan mereka bersahut-sahutan membuat Lala bingung untuk menjawabnya.


"Iya Bu, kebanyakan gadoin gula aren kayaknya." Lala menyahuti bagian akhir dari obrolan mereka yang membuat gelak tawa


"Duh, Abangnya kasihan La kayaknya bingung di kerubuni Mamah muda."


'Astagaa gak pada ingat umur. Bilangnya mamah muda' batin Keenan.


"Ya udah ajak masuk aja La. Kita cuma pengin ucapkan selamat aja sekalian pulang posyandu tadi. Penasaran nih sama mantunya ibu Tita, kemarin kan cuma sebentar waktu kondangan. Ternyata cakep banget. Hidungnya kayak perosotan anak paud" ucap salah satu Ibu membuat Keenan refleks memegang hidungnya.


"Boleh gak megang hidungnya. Ih gemes banget." Salah satu Ibu kader nampak genit pada Keenan.


"Hus! Gak malu sama seragam." ucap Ibu menyudahi mereka


"kita permisi masuk dulu kalau begitu Bu Ibu" ucap Lala. Keduanya berjalan masuk ke dalam kamar.


"Astagaaaa.. Aku pikir mau apa. Ternyata kita dipamerin sama Ibu, Hon"


"Haha.. Wajarlah. Baru punya mantu. Jadi ya seperti itu." Lala tertawa


"Pantes Ibu begitu. Mereka semua satu modelan Ibu semua. Pusing aku Hon" keluh Keenan.


"Haha.. Iya emang. Mereka itu pada heboh tahu gak. Kalau udah becanda, kalah deh semua pelawak sama mereka."


"Rame ya Hon. Pada heboh sendiri"


"Kompak sih, kompak hebohnya. Apalagi kalau berhubungan sama makan-makan" keduanya tertawa.


Lala berjalan hendak keluar kamar.


"Mau kemana sih?"


"Bantu Ibu, Bee. Kasihan."


"Oh ya udah. Cepetan gak pake lama pokoknya."


"Seberesnya saja." ucap Lala


"Akunya masih ingin berduaan tahu." Keenan cemberut. Sebenarnya Keenan agak kesal pada Ibu karena mengganggu hari pertamanya sebagai pasangan suami istri. "Kalau beres, pulang lagi ke apartemen." ucapnya kemudian.


"Iya iya. Aku bantu Ibu dulu Bee. Biar kita cepet pulang." Lala mengelus rambut suaminya yang duduk dihadapannya.


"Ya sudah sana."


Lala bantu menyuguhkan makanan untuk Ibu-Ibu Kader yang heboh.


"La, ketemu dimana sama Abangnya?"


"Dulu dia magang di tempat aku kerja, Bu."


"Masa orang kaya magang La" Lala hanya tersenyum menanggapinya.


"Kalian seumuran?"


"Hehe.. Iya bu."


"Dia punya saudara lain gak La? Kali jodoh sama anak Ibu" mereka berebut ingin menjodohkan anaknya. Ibu sengaja memamerkan kedekatannya dengan sang mantu membuat mereka semakin iri.


"Aku pikir Ibu mau ngapain nyuruh pulang" gerutu Lala pada Ibu setelah mereka membubarkan diri.


"Mereka ingin ketemu Keenan sama Kamu. Makanya Ibu suruh saja kesini. Sekalian kan mereka pulang posyandu."


"Ibu gak enak La, sama mereka. Apalagi angpau mereka besar-besar." Ibu tertawa


"Ck.. Si Ibu.."


"Habis ini kamu mau kan anterin makanan ke Bu Gunawan?"


"Enggak ah. Aku males, suka ngajak ngobrol lama."


"Iya karena dia suka sama kamu. Bu Gunawan cerita loh, tadinya dia ingin kamu jadi mantunya. Eh keduluan Keenan. Padahal seru tuh kayaknya kalau Ibu besanan sama dia. Orangnya baik banget, kalau jadi mertua kamu pasti kayak orangtua sendiri, La. Izam juga sopan banget sama Ibu."


"Ibu!" Lala memberi kode pada Ibu karena takut Keenan mendengarnya. Ibu seketika terdiam.


Lala masuk ke dalam kamar miliknya. Dia melihat Keenan tertidur pulas di kasur miliknya.


"Enak banget bisa tidur nyenyak yang abis gadang semalam" gumam Lala


Lala menganggu Keenan dengan memainkan alis tebal dan hidung macungnya. Keenan yang merasa terusik membuka matanya.


"Hon.. "


" Bee, aku lapar. Makan yuk?"


"Sebentar lagi." Keenan menutup matanya kembali.


"Bee.. Ayo dong, kamu enak banget tidur ampe pules begini." Lala mengguncang lengan Keenan.


Keenan membuka matanya. "Mau makan apa?"


"Apa aja. Cepetan dong, Bee."


Keenan mengulat meregangkan otot-ototnya.


" Bee.. Lihat bee.." Lala menunjuk dua ekor cicak yang saling menempel di dinding. Seketika Keenan memutar tubuhnya melihat cicak tersebut.


"Kayaknya mereka juga pengantin baru seperti kita." ceplos Keenan.


"Haha.. Itu resepsinya kayaknya di ruang tamu." Lala terbahak.


"Bee, kok mereka diem sih?"


"Emang kenapa?"


"Gak maju mundur kayak kamu." Lala tertawa.


"Ck.. Ya beda kali Hon. Emang Kamu mau aku diem aja?" Keenan menyeringai seraya bangkit


"Tau ah!" Lala keluar kamar diikuti oleh Keenan


"Lagi apa Bu?" tanya Keenan saat melihat Ibu sedang mengemas makanan.


"Bagi-bagi sisa hajatan. Sayang masih ada sisa. Disini siapa yang mau makan."


"Dibagiin kemana, Bu?"


"Tetangga. Emang kemana lagi"


"Oh" Keenan berlalu menuju kamar mandi.


"Kamu mau ke apartemen lagi?" tanya Ibu begitu melihat Keenan keluar kamar mandi.


"Iya Bu. Ada kerjaan yang belum kelar."


"Bukannya kalian sama-sama cuti?"


"Aku ada kerjaan dadakan, Bu."


"Kerjaan apa Bee?" Lala menimpali.


"Ada proyekan yang harus segera digarap, Hon."


"Kok kamu gak bilang sih?"


"Heh? Hmm.. Iya aku lupa ngasih tahu."


"Honey" Lala tak menanggapi.


"Hon, nanti kamu bawa dress ya." Lala yang merasa terpancing melirik Keenan dari cermin rias miliknya.


"Buat apa?" tanya Lala


"Aku sebel deh, kamu gak terbuka sama aku. Ada proyekan gak bilang-bilang. Tahu gitu aku kerja aja sekalian gak usah cuti!" ketus Lala panjang lebar.


"Kita dinner diluar Honey. Kalau bilang Ibu nanti ribet. Pasti dilarang, suruh makan dirumah" Keenan berbisik pada Lala.


"Jadi gak ada proyekan?"


"Ada."


"Tuhkan!"


"Proyek bikin baby" Keenan menyeringai.


"Ih Kamu!" Lala menahan senyumnya.


"Kalau disini malu Hon. Gak bebas. Kamu kan mendes*hnya lumayan kenceng" goda Keenan


"Siapa juga yang mendes*h ih!" Lala mengelak.


"Makanya sstt..biar Ibu ngijinin kita disana" Ucap Keenan.


"Cepet bawa dress yang dari hantaran itu. Pokoknya nanti dandan yang cantik."


"Kita mau apa sih? Dinner apa kondangan?"


"Apa aja deh. Pokonya kamu harus cantik."


Lala mengambil mini dress miliknya yang sengaja dipilihkan Keenan sebagai hantaran kemarin. Tak lupa dia menyiapkan high heels yang senada dengan dress miliknya.


"Apa lagi?" tanya Lala pada Keenan


"Lingerie dong Hon. Yang maroon itu. Aku suka."


"Kamu mah gak tahu malu ih"


"Kenapa malu? Kita udah saling tahu ini."


Lala tak menyahutinya kembali. Dia sibuk memasukan barang miliknya kedalam tas. Tak butuh waktu lama mereka pamit pada Ibu.


"Jadi mau makan apa sekarang?" Tanya Keenan sembari memakai kacamata miliknya


"Hmm..terserah."


"Take away fast food, mau?"


"Gak mau"


"Terus apa dong? Makan dirumah aja ah. Kan nanti malem kita dinner." ajak Keenan


"Ya udah, terserah kamu aja kalau gitu."


"Hmm..soto mau?"


"Apa aja deh."


Keduanya kini tengah menunggu di depan lift dengan membawa barang bawaan dan juga makanan mereka. Keenan menatap Lala seraya tersenyum tanpa Lala sadari. Hingga lift terbuka mereka masuk ke dalamnya.


"Hon"


"Apa?" Lala menoleh. Keenan nampak senyum-senyum.


"apa si? Kamu gila?" Lala mendelik.


Begitu masuk ke dalam apartemen mereka, Keenan segera memeluk tubuh istrinya seraya mengecupnya dengan buas.


"Aku lapar ih Bee!"


"Hehe.. Maaf. Aku lapar ingin makan kamu soalnya."


"Apaan sih Bambang!" Lala merasa malu sendiri


"Habis makan lanjut yang semalam ya, biar gak sakit lagi"


"Kamu gak ada filternya itu mulut."


"Kenapa emang?"


"Gelar Tuan Mudamu aku ragukan. Tingkah kamu itu tidak mencerminkan seorang tuan muda." ucap Lala


"haha.. Lima tahun kali Hon aku belajar begini. Lagian sah-sah saja kali aku kayak gini. Halal nih kita" ucapnya


"kamu gak ada romantis-romantisnya. Kayak Pak Reza kek. Ini mah boro-boro" dumel Lala dengan suara pelan seraya membuka plastik soto dan menuangkan soto pada mangkuk.


Keenan memeluk Lala dari belakang.


"Udah makan dulu. Dingin gak enak."


"Dingin tinggal panasin lagi aja."


"Aku mau sekarang, sayang" Keenan mengecup leher istrinya


"bee ih. Akunya lapar. Kalau lagi tempur terus aku pingsan gimana?"


"Oh iya." Keenan melepaskan pelukannya kemudian duduk di kursi makan.


Keenan makan lebih lahap dari biasanya.


"Bisa gak sih gak belepotan begitu?" Lala beranjak dari tempat duduknya mengambil tisu. Dia mengelap dagu Keenan yang terkena kuah soto.


"Makasih Honey"


"Bee, kita jadi resepsi lagi?"


"Jadi. Kenapa?"


"Kok gak ada kabar?"


"Tenang aja. Semua udah beres Hon."


"kok bisa?" Lala membulatkan matanya. "eh lupa." ucapnya kemudian.


Lala kini tengah mencuci piring bekas makan mereka. Sementara Keenan menonton televisi seraya bersantai.


Sstelah selesai, Lala menghampiri Keenan. Dengan sengaja dia duduk dipangkuan suaminya. Mereka saling berhadapan.


Lala mengecup seluruh wajah Keenan.


"Kok ini enggak sih?" Keenan menunjuk bibirnya


Tak terima, Keenan kini menahan kepala Lala kemudian mel*mat bibir istrinya. Keenan berdiri masih memangku Lala menuju kamarnya tanpa melepas pagutan mereka.


"Bee ih. Nakal" ucap Lala saat dia merasa sesak. Keenan hanya tersenyum.


Keenan melancarkan aksinya lebih lancar daripada semalam. Lala sdikit demi sedikit bisa menerima penyatuan mereka walaupun tak dipungkiri dia masih merasa sedikit kesakitan.


"Bee."


"Apa sayang? Kamu udah?" tanyanya ditengah permainan mereka.


"Kamu katanya mau kayak cicak tadi Bee?" polos Lala membuat Keenan terbahak seketika.


.


.


.


September ceriaaa.. Stay healthy, stay happy semuaaa. Semoga jamaah banyak-banyak vote. Ninggalin jejak dengan like dan komentarnya. Terima kasih ^^