My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Kesabaran Lala



Sudah tujuh bulan pasca pernikahan Mas Pram, kini Keenan disibukan oleh tesisnya demi sebuah gelar Magister yang ingin dia raih.


Keenan nampak sedikit kewalahan untuk membagi waktu antara pekerjaan dan sekolahnya. Bahkan dia tak ada waktu untuk sekedar becanda dengan anak semata wayangnya. Untungnya, Lala berusaha memaklumi Keenan. Dia mengabaikan perasaannya demi melihat lelakinya menggapai puncak.


Keenan nampak memijat keningnya. Dia menyandarkan kepalanya di sofa sambil memejamkan mata.


"Kenapa Dad? Pusing?"


"Sedikit." ujarnya seraya membuka mata kemudian menegakkan tubuhnya kembali.


"Sini, aku pijat."


"Gak usah Mom. Terima kasih." tolak Keenan.


Lala yang enggan berdebat, memilih membiarkan Keenan. Dia naik ke atas tempat tidur terlebih dahulu. Sudah lama sekali rasanya dia tidak melakukan pillow talk bersama Keenan. Setelah pulang kantor, Keenan selalu berkutat dengan tesisnya. Tak ada percakapan hangat menjelang tidur seperti biasanya.


Terkadang, Lala merasa kasihan dengan Keenan. Namun tak jarang pula, dia merasa kesal pada Keenan yang seolah mengabaikannya.


***


"Aku pulang terlambat hari ini, Mom." ucapnya sambil mengusap mulutnya dengan tisu


"Hmm..." Lala masih mengunyah nasi goreng dihadapannya


"Kamu hati-hati dijalan ya, kalau ada apa-apa hubungi aku."


"hmm.."


Keenan beranjak dari meja makan kemudian mengecup kepala Lala sepintas. "Aku berangkat, Hon. Love you unlimited." ujarnya.


"Sudah berangkat lagi?" tanya Ibu pada Lala seraya menggendong Kenzie begitu Keenan keluar rumah.


"Hmm.. "


"Kamu baik-baik saja kan dengan dia?"


"Iya Bu. Dia cuma lebih sibuk saja."


"Wajar sih, kerja dan kuliah barengan. Pusingnya juga barengan." ujar Ibu yang berusaha menenangkan Lala. Ibu tahu, hati anaknya seperti apa.


"Kalau Keenan sibuk, kamu coba saja datang ke kantornya sekedar untuk makan siang bareng. Siapa tahu dia suka dikunjungi kamu." usul Ibu.


"Iya nanti kalau aku juga ada waktu kosong, Bu."


"Kenapa kamu gak barengan lulus kuliahnya sama Keenan, La? Jadi kalian bisa saling bantu."


"Ya beda Bu, beda mata kuliahnya juga. Lagipula, kalau aku sibuk kayak Keenan, aku kasihan sama Kenzie. Nanti dia gak ada yang perhatiin selain Ibu."


"Hmm..iya ya. Sekarang saja Keenan sudah jarang banget berkomunikasi dengan Kenzie. Kasihan juga sih Kenzie. Kok rasanya kurang kasih sayang dari Keenan." ujar Ibu


'Padahal dulu yang ingin segera punya anak, dia. Tapi sekarang? Haih! Sudahlah. Maklumi saja. Demi masa depan gemilang.' racau Lala dalam hati.


'Mungkin benar kata Ibu, aku harus kasih surprise. Siapa tahu, dia bakalan ada waktu walau cuma lima menit.'


Lala berpamitan pada Kenzie dan Ibu. Dia menyingkirkan segala kegundahan hatinya menuju kampus.


Seperti biasa, di kampus tidak ada hal yang menarik bagi Lala. Keputusannya masuk di kelas reguler ternyata tidak membuatnya memiliki teman dekat. Tak ada lagi kawan bicara seperti Farel, karena Farel sudah lulus terlebih dahulu.


Lala masuk ke dalam Perpustakaan. Dia mengerjajan tugas kuliahnya sebelum pulang ke rumah agar dirumah dia bisa fokus mengurus Kenzie.


Tak terasa, sore pun tiba saat dia baru selesai mengerjakan tugasnya.


"Astaga! Aku kan mau ke kantor Abang tadi" gumamnya.


"Hah sudah sore, pulang saja lah. Kasihan juga Kenzie." Lala berjalan menuju parkiran kemudian melajukan mobilnya ke rumah.


"Kenzieee, Mommy pulang.." Lala tersenyum melihat Kenzie berlari ke arahnya.


"Mi.. Dy nana?" (Mommy, Daddy mana?) tanyanya dalam gendongan Lala


"Daddy masih di kantor sayang. Kenzie mau ketemu Daddy?"


Kenzie mengangguk.


"Besok ya, besok Mommy libur. Kita kasih surprise ke Daddy." ujar Lala seraya menciumi buah hatinya.


"Kenzie nakal gak?"


"gak"


"Kenzie anak siapa?"


"Mii" (Mommy). Lala terus mengajak anaknya berbicara. Merangsang perkembangan bicara sang anak agar lebih lancar berbicara.


Malam pun tiba, Lala sengaja menunggu Keenan pulang dari kantor. Entah kenapa, dia begitu merindukan Keenan.


Ceklek


"Dad."


"Kamu belum tidur, Mom?" tanyanya.


Lala melirik jam sudah jam sebelas malam.


"Dari mana sih? Sampai malam begini?"


"Dinner sama Partner." ujarnya seraya menaruh tas di sofa.


Lala membantu Keenan membuka jas miliknya.


"Kepala aku pusing banget." ujar Keenan sambil menatap Lala.


"Habis ini langsung tidur. Mau minum obat?" manik mereka beradu.


"Enggak. Aku mau tidur saja."


Lala membuka kancing baju Keenan, berharap Keenan memberikan ciuman padanya. Tapi nyatanya? Keenan masuk ke kamar mandi.


Lala menyiapkan baju tidur milik suaminya. Dia kembali masuk ke dalam selimut menunggu Keenan keluar kamar mandi.


Keenan membuka ponselnya begitu beres memakai baju. "Tidur Bang. Katanya pusing." Lala menatapnya.


"Hmm.." Dia masih fokus pada ponselnya. Tanpa aba-aba, Lala merebut ponsel Keenan dan menaruhnya diatas nakas.


"Lashira!" bentak Keenan


"Astaga Abang! Aku hanya menaruhnya biar kamu istirahat."


"Kamu gak lihat, aku lagi ngetik!"


"Sepenting itukah? Jam berapa ini? Kamu gak kasihan sama diri kamu sendiri?"


"Itu dari partner aku!"


"Ini diluar jam kerja, Abang!" Lala mengambil kembali ponselnya kemudian membantingnya ke karpet.


"Kalau ponselku rusak. Awas ya kamu!"


"Apa? Mau apa?" tantang Lala. "Waktu kamu cuma buat kerja sama kuliah. Mana buat aku dan Kenzie. Gak ada!" ketus Lala "Kawin sana sama partner kamu."


"Kamu gak pengertian banget sih? Ini juga demi kamu dan kenzie."


"Kamu.. Ternyata gak jauh beda dengan Pak Reza."


"Maksud kamu apa? Bawa-bawa orang lain?"


"Dengan alasan demi anak istri. Nanti, kalau aku atau Kenzie celaka sampai koma atau sampai mati sekalipun, baru kamu tahu rasa. Sadar, Insyaf terus minta maaf. Najis!"


"Kamu bicara apa? Jangan ngelantur! Aku cuma balas pesan dia, apa salah?"


"Terserah kamu! Cemburu gak jelas!" Keenan tidur di ujung kasur membelakangi Lala.


"Aku selingkuh, tahu rasa kamu!" gerutu Lala.


Pagi-pagi sekali Keenan sudah bangun. Dia menatap wajah istrinya yang masih terlelap kemudian mengelus rambutnya.


Lala membuka mata saat merasa ada yang mengusiknya.


"Morning, Honey." sapa Keenan.


Lala membelakangi Keenan. Dia teringat perselisihannya semalam.


"Maaf Mom. Maaf untuk yang semalam." bisik Keenan.


"Sana!" ketus Lala


Keenan menempelkan tubuhnya pada Lala. Dia memeluknya erat. Tak dipungkiri, Lala menyukai ini. Namun dia harus jaga image. Gak boleh luluh begitu saja. "Hon.." Keenan menempelkan bibirnya di telinga Lala.


Lala menepis tangan Keenan kemudian turun dari kasur menuju kamar mandi.


"Gak mungkin kan, ciuman dalam keadaan mulut bau." gumam Lala seraya tersenyum.


"Ya ampun. Kayak jabl*y aja aku. Baru dipeluk langsung luluh. Oh astaga! Tapi emang iya juga sih, toh udah lama gak dibelai Abang." Lala cekikikan sendiri sambil menutup mulutnya.


Beres dengan aktivitasnya, Lala membuka pintu kamar mandi dengan wajah sok serius.


"Astaga, Abang!" Lala memegang dadanya saat mendapati sang suami berdiri di depan pintu.


Keenan tersenyum lebar melihat istrinya yang kaget karena ulahnya. Keenan memeluknya. "Maaf."


"Sana!" Lala melepaskan diri dari pelukan Keenan.


"Abang minta maaf, sayang. Kamu kangen kan sama Abang? Abang juga kangen kamu."


"Astaga! Kepedean! Siapa juga yang kangen!" Lala berjalan menuju nakas. Kemudian mengambil minum miliknya.


"Yakin?" Keenan menggelitik pinggang Lala.


"Abang. Apaan sih!"


Keenan mengangkat tubuh Lala ke kasur kemudian menghujaninya dengan ciuman. Lala yang awalnya menolak tak kuasa untuk mengikuti hawa n*fsunya. Keduanya larut dalam penyatuan mereka.


"Aku benci abang!" ketus Lala seraya memeluk tubuh polos Keenan.


"Masa benci peluk-peluk."


"Abang sok sibuk banget. Kesel akunya! Kamu gak ada waktu banget buat aku sama Kenzie."


"Iya maaf. Abang pusing sayang, deadline kerjaan sama tesis juga. Abang mau kelar tahun ini. Bebannya buat Abang juga kalau di lamain."


"Tapi kamu tuh...." Lala tak melanjutkan kalimatnya. "Kenapa? Kamu takut aku atau Kenzie kayak Bu Tasya sama si Pangeran? Iya?"


"Ya bukan takut juga. Cuma memang iya, Abang kurang waktu buat kalian. Nanti setelah semuanya beres. Abang janji kita jalan-jalan." ajaknya.


"Gak usah janji, kalau ujung-ujungnya gak bisa nepati."


"Kapan Abang gak bisa nepati?"


Lala terdiam. Memang betul, Keenan selalu menepati janjinya.


"Ya buktinya, kamu sekarang cuek sama aku sama Kenzie. Aku tuh kasihan sama Kenzie tahu gak? Dia kayak anak yatim."


"Astaga! Emangnya aku mati!" Keenan menoyor kepala Lala. Lala hanya tertawa.


"Lagian mana ada kamu perhatiin Kenzie. Dulu aja ribut-ribut ingin punya anak." gerutu Lala.


"Oke. Setelah tesis, kita liburan. Buat kamu, buat Kenzie juga. Abang janji." ajaknya.


***


Keenan berpamitan dengan wajah ceria, begitupun dengan Lala. Ada rasa lega dihatinya. Keenan bahkan menggendong Kenzie dan menghujaninya dengan ciumannya hingga Kenzie menangis saat Keenan meninggalkannya.


"Ya sudah ayo temani Daddy sampai mobil." ajaknya diikuti oleh Lala.


"Ah, rasanya jadi keluarga idaman. Sayangnya bisa dihitung jari jadi keluarga idamannya" gumam Lala tepat dibelakang Keenan.


"Kamu mau kita begini setiap hari?"


"Enggak. Aku gak suka sesuatu yang dipaksakan. Aku maunya semuanya pure dari hati kamu." ucap Lala yang membuat Keenan terdiam.


"Kok aku jadi rindu suami orang." gumam Lala kemudian


"Kamu rindu siapa?" Keenan menaikan sebelah alisnya.


"Pak Reza. Hahaha." Keenan mendengus sebal.


"Jaga ucapan kamu!"


"Iya maaf. Yaelah.. Becanda doang."


"Daddy berangkat ya Bro. Kamu sama Mommy baik-baik dirumah. Daddy usahakan pulang cepat. Love you unlimited." Keenan mengecup pipi keduanya bergantian.


Seperti yang sudah dijanjikan Lala pada Kenzie, Lala kini bersiap membawa makan siang untuk Keenan. Dia sudah memasak makanan kesukaan suaminya.


Dengan bersemangat, Lala mengajak Kenzie dan Mbak Nani menembus teriknya matahari menuju kantor Keenan.


Tiba di parkiran, dia mengambil makanan yang ditaruhnya di jok belakang.


"Mommy, itu bukannya Daddy Kenzie ya?" Mbak Nani menunjuk Keenan yang sedang membukakan pintu untuk seorang perempuan.


Lala mematung menyaksikan Keenan menunggu wanita tersebut masuk ke dalam mobilnya kemudian Keenan pun masuk ke dalam kursi yang sama dengan wanita tersebut.


Lala memejamkan matanya, mengatur nafasnya agar tak terlihat ada amarah disana.


"Itu partnernya kayaknya Mbak. Aku lupa, Keenan bilang dia mau pergi dengan partnernya." Lala berusaha menutupi. "Yuk, kita jalan saja ke Mall." ajak Lala kemudian.


Lala melajukan kembali mobilnya ke arah Mall. Hatinya bergemuruh, wanita mana yang tak panas melihat suaminya membukakan pintu mobil untuk wanita lain? Sementara disisi lain, bisa dihitung jari, Keenan melakukan hal manis tersebut pada Lala.


"Mari kita bersenang-senang Kenzie, kita habiskan uang Daddy." ajak Lala seraya tersenyum pada Kenzie. Mbak Nani menatapnya sedikit iba. Walau bagaimana pun Mbak Nani juga seorang perempuan. Dia ikut merasakan apa yang Lala rasakan saat ini.


"Kita ke permainan saja Mommy. Pasti Kenzie suka." usul Mbak Nani.


"Oke. Ayo sayang." ajak Lala pada Kenzie.


Lala bermain whack a mole games. Dia memukul tikus tanah yang muncul ke permukaan. Dengan sepenuh hati, Lala membayangkan bahwa tikus tersebut adalah suaminya. Kenzie yang tak mengerti hanya tertawa melihat Lala begitu bersemangat. Sementara Mbak Nani seolah faham bahwa majikannya sedang melampiaskan amarah.


Satu jam lebih dia berada di tempat bermain tersebut hingga dia merasa tenggorokannya terasa kering. Lala mengajak Mbak Nani untuk membeli minuman kesukaannya.


Begitu berjalan melintasi restoran Jepang, terlihat Keenan keluar dari sana. Manik mereka beradu, Lala menatap wanita muda dan cantik disamping Keenan.


"Mommy." gumam Keenan tanpa suara.


.


.


.


Iiihh aku sakit hati nulis ini, masaaaa.. Adakah yang sama? Semoga mereka baik-baik saja ya..


Jangan lupa, like, komen dan vote yang buanyakk..


Terima kasih


#MenujuEnding