My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Gara-Gara Ceker Ayam



Lala memegang tangan Ibunya "Bu, yang punya kedai kopi ini bukan cuma Keenan. Tapi ada Mas Pram juga." Lala menunjuk dengan dagunya pada Mas Pram yang sedang bicara dengan karyawan.


"Masa sih La, sekedar risol gak bisa di jual disini?" Ibu masih berharap akan pundi-pundi rupiah yang bisa dia hasilkan.


"Iya tahu, tapi Keenan itu cuma tanam modal saja, gak jalankan kedai ini Bu. Ibu tahu sendiri kan, mantu Ibu punya tanggung jawab yang lain. Jadi Keenan gak ngurus kedai kopi ini sama sekali, Bu"


"Ya sudah gak apa-apa Hon, nanti aku coba bicara sama Mas Pram ya Bu." pinta Keenan.


"Iya, nanti ibu bikin tester risol Ibu buat kamu dan temanmu itu."


"Aku gak usah bu, kan sering?"


"Beda. Risol premium terbuat dari bahan yang berkwalitas dong." ucap Ibu.


"Oh begitu." Keenan hanya mengangguk-ngangguk.


***


"Honey, kita mau langsung pulang atau kemana dulu?" tanya Keenan setelah mereka keluar dari KP.


"Antar Ibu beli bahan-bahan ke swalayan." Sahut Ibu yang duduk di belakang kemudi.


"Heh? Swalayan?"


"Iya."


Setibanya di swalayan, Ibu dengan semangat turun terlebih dahulu.


"Gimana dong Bee? Kalau ibu maksa terus?" Lala merapikan rambutnya.


"Nanti kita bahas di rumah." Keenan menarik tengkuk Lala, dia mendaratkan kecupan kilat di bibir istrinya.


"Ih bisa-bisanya Abang" gerutunya dengan wajah senang. Keenan hanya tersenyum.


"Sana. Kamu saja sama Ibu yang turun."


"Kamu gak mau ikut?"


"Males ah. Kapan coba aku balanja begitu." keluhnya seraya menurunkan sandaran kursinya.


"Astaga aku lupa, Bee. Kamu yang punya swalayan ini juga" Lala terkekeh. "Aku bisa gratis gak sih Bee? Aku bilang aja Nyonya Keenan Wijaya." Lala mengedipkan sebelah matanya.


"Bayar lah. Kasihan kasirnya nanti ganti rugi." Keenan mengambil ponselnya. "Udah sana. Ibu nunggu tuh."


"Kamu mau sesuatu?"


"Enggak. Eh ini." Keenan memberikan dompet miliknya. "Sekalian belanja kebutuhan lain. Kalau udah beres telepon aku." pinta Keenan


Lala menerima dompet Keenan kemudian menyusul Ibu yang telah masuk terlebih dulu.


Lala menatap punggung ibunya yang penuh semangat mengambil bahan-bahan untuk membuat risol. Dia nampak berpikir seraya menemani Ibu.


"Keenan suka makan ceker ayam gak?" tanya Ibu


Lala tersenyum. "Mana mau dia Bu, seumur hidupnya aku yakin dia belum pernah sentuh makanan itu."


" Padahal Ibu pengin buat ceker mercon." ucapnya.


"Ya kalau ibu mau, ibu buat saja. Paling dia gak ikut makan."


Dengan semangat akhirnya Ibu membeli ceker ayam.


***


"Sini Hon" Keenan menepuk bahunya saat melihat Lala telah selesai mandi sepulang dari swalayan tadi.


Lala naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya sesuai permintaan Keenan.


"Eh, rasanya aku pertama kali tidur disini kamu. Biasanya hadap-hadapan doang sambil dipeluk." Lala melingkarkan tangannya dipinggang Keenan.


"Masa sih?"


"Huum. Kamu sih gak romantis."


"Mau romantis gimana sayang?" Keenan balas memeluknya, menindih kaki Lala dengan kakinya. Keenan kemudian mengecup pipi Lala seraya memejamkan matanya.


"Bee.. Ibu gimana? Aku gak enak sama Mas Pram."


"Nanti aku coba bicara dulu sama dia." Keenan mengecup kening istrinya.


"Kalau aku sewa ruko buat Ibu jualan kue basah gimana?"


Keenan mengecup bibir Lala. "Boleh."


"Aku gak minta ke kamu, Bee. Maksudnya nanti uang pesangon aku, aku pakai modal Ibu, boleh?"


Keenan mengecup Lala kembali, kali ini dengan sedikit mel*matnya."Itu kan uang kamu, kamu bebas pakai untuk apapun tanpa seizinku."


"Bagaimbbmmmm..." Keenan kembali meraup bibir Lala dengan lebih bernafsu. Kali ini keduanya terlarut hingga Lala melepas pagutannya karena kehabisan nafas.


"Lagi ngobrol juga, Bang." protes Lala


"Wangi sih nafas kamu" keenan menyatukan keningnya.


"Bilang aja Abang pengin. Gak usah gengsi Bambang!" Lala menoyor keningnya membuat Keenan terbahak.


"itu aku yang bilang ke kamu waktu itu Yong." Keenan mengecup kembali.


"Kamu di atas." bisik Keenan seraya mengangkat tubuh Lala. Lala kini mendominasi, dia membelai lembut pipi Keenan seraya menc*mbunya.


"Laaaaaa...makan dulu" teriak Ibu dari kuar kamar


Lala melepas ciuman mereka dengan jantung beedetak.


"Tanggung Yong." Keenan menarik tengkuk Lala kembali tapi Lala menahannya. "Gak enak sama ibu."


"Secelup doang, janji gak bakalan lama" Bisik Keenan.


Lala segera bangkit walau nafas keduanya masih memburu. Lala segera menurunkan kembali kaos yang dikenakannya kemudian menyisir rambutnya yang berantakan setelah melakukan kewajiban yang membuat mereka berkeringat.


"Mau makan sekarang?" tanyanya seraya melirik Keenan yang duduk di bibir kasur. Lala mendekat, dia merapikan rambut suaminya kemudian menatapnya. Keenan yang paham segera mengecupnya singkat.


"Love you 3000" ujar Lala seraya hendak meninggalkan kamar.


"Love you unlimited." balas Keenan membuat Lala berbalik kembali.


"Uuh.. so sweet Abangnya." Lala mengulurkan tangannya mengajak Keenan keluar kamar.


"Wangi banget. Lagi bikin apa Bu?" tanya Keenan.


"Bikin isian risol. Nanti kamu coba ya." ucap Ibu


Keenan menarik kursi dan duduk disana, sementara Lala membuka tudung saji.


"La, apa sih itu?" Keenan sedikit mundur. Wajahnya nampak jijik.


Lala terbahak. "Ceker ayam." ucapnya.


"Hah? Kaki ayam?" tanya Keenan dengan wajah kaget.


"Iya. Enak Bee, pedes."


"Kalau kamu gak suka, Ibu masak ayam kecap Keen." ucap ibu meliriknya.


"Aku gak mau ah, mual Yong. Kamu aja makan." seketika raut wajahnya berubah.


Lala menatapnya. "ya kamu jangan makan itu aja."


"Enggak. Aku gak selera." Keenan mendorong kembali kursinya kemudian masuk ke dalam kamar.


Ibu dan Lala dibuatnya melongo.


"Sana ajak makan di luar saja." titah Ibu sedikit merasa bersalah.


Lala masuk kembali ke dalam kamar. Dia melihat wajah Keenan cemberut.


"Sayang.. Makan diluar yuk?"


Keenan diam tak menyahutinya. Dia fokus pada ponselnya.


"Bee.. Kok marah sih? Kalau gak suka ya gak usah makan."


Lala masih menunggu Keenan bermain game. "kamu marah gak jelas" gerutu Lala.


"Kamu gak mikir aja Hon! Udah tahu aku gak makan yang aneh-aneh. Aku beradaptasi banyak, makan ini itu sama kamu. Tapi kamu makin sengaja" ketusnya seraya menatap tajam Lala.


"Ya kan siapa tahu kamu jadi suka."


"Mual tahu gak! Lihatnya kayak tangan bayi." ketusnya.


"Ya udah, ayo makan yang lain. Kita keluar."


"Gak usah"


"Besok-besok, kamu list makanan sesuai selera kamu. Jangan disamakan dengan di rumah kamu, Bee. Mereka standar hotel sajiannya. Sedangkan kita? Kamu tahu sendiri! Kalau gak suka, gak usah marah juga! Bisa kan bicara baik-baik!" ketus lala yang ikut terpancing.


"Harusnya kamu paham dong suami kamu sukanya apa! Suami kamu gak sukanya apa!"


"Ya kalau gak suka, gak perlu marah kayak gitu. Bisa kan bicara baik-baik!" ketus Lala.


Mereka saling diam. Lala yang kesal meninggalkannya di kamar.


"Bodo amat kamu mau makan mau enggak juga!" gerutunya.


"Gak jadi keluar?" tanya ibu


"Marah dianya Bu."


"Ibu jadi ngerasa bersalah."


"Gak apa-apa Bu, Keenan saja yang berlebihan. Kalau gak suka kan tinggal bilang! Gak usah marah kayak begitu."


"Beda kali La, mungkin dia aneh melihatnya."


Lala duduk di depan televisi. Dia ikut tak berselera untuk makan, namun dia juga merasa tak enak hati pada Keenan.


Tak lama kemudian, dia kembali ke kamar, mengambil dompet dan ponselnya. Keenan hanya meliriknya sepintas, namun tak menghiraukan Lala.


"Eh pengantin." suara Mas Izam mengagetkannya saat dia sedang berjalan.


"Mas Izam mau kemana?"


"Beli minum buat dia." tunjuk Izam pada sepeda motor miliknya. "Kamu mau kemana?"


"Minimarket. Biasa."


"Ayo mau bareng?" ajak Izam


"Duluan saja Mas. Aku jalan kaki saja."


"Gak enak juga dilihat tetangga Mas. Nanti kita jadi bahan gosip."


"Kalau gak dilihat tetangga mau dong?" goda Izam


"Dasar Mas Izam!" Lala mencebikan bibirnya.


"Aku duluan kalau gitu La." Mas Izam tersenyum ramah.


Di minimarket, Lala segera mengambil roti dan onigiri. Dia tak berlama-lama disana.


"Makan dulu ini, Bee. Mumpung hangat." Lala menyodorkan onigiri pada Keenan


Keenan hanya meliriknya. Lala yang kesal membuka bungkus onigiri kemudian menyodorkan ke depan mulut Keenan.


"Aaaa.. Buka mulutnya." Lala menempelkan onigiri di bibir Keenan.


Keenan mulai melahapnya dengan gengsi. "Gitu kek dari tadi." Lala duduk disampingnya.


Keenan mengembungkan mulutnya, dia berlari ke kamar mandi disusul oleh Lala. Keenan memuntahkan isi perutnya.


"Mual aku Hon" ucapnya begitu keluar kamar mandi.


Lala yang merasa bersalah segera mengambil air hangat untuk Keenan.


"Dia muntah?" tanya Ibu


"Iya. Mual katanya, Bu."


"Dia gak terbiasa. Ibu kira dia bakalan biasa saja La. Tahunya malah begitu. Ajak ke Apartemen saja kalau begitu." titah Ibu.


Lala memberikan air hangat pada Keenan yang sedang menyandarkan tubuhnya.


"Maaf, aku gak tahu bakal seperti ini, Bee." sesal Lala.


"Aku kebayang terus Hon."


"Masih mual?" tanya Lala seraya mengambil kembali gelas yang dipegang Keenan.


"Sedikit Yong."


Lala menyentuh dahi suaminya. "Maaf ya."


Keenan menggenggam tangan Lala" Gak apa-apa. Lain kali, jangan masak yang aneh-aneh Hon."


"Iya enggak, Bee."


"Kita ke apartemen saja kalau begitu. Mau?" tanya Lala masih menghadapnya. Keenan mengangguk pelan.


"Aku mandi dulu." ucap Lala


"Nanti saja mandinya Yong. Aku mau kesana sekarang."


"Kamu pusing gak?"


"Sedikit. Tapi gak apa-apa. Daripada disini kebayang terus."


***


"Bee, isi dulu perut yuk? Kamu juga pasti lapar" Ajak Lala saat mereka dalam perjalanan ke Apartemen.


Keenan membelokan mobilnya ke Kafe langganan mereka saat mereka masih pacaran.


"Sudah lama kita gak kesini, Bee."


"Iya. Ayo masuk." ajaknya.


Seperti biasa mereka memilih tempat di halaman belakang kafe. Tidak banyak berubah disana, hanya ada tambahan sedikit playground untuk anak-anak.


Keenan sedikit terkejut saat beradu pandang dengan seseorang yang ada disana. Dia mematung dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Bee, kok diam sih?" Lala tak menyadari perubahan Keenan.


"Di dalam saja yuk?" ajak Keenan.


"Enak disini Bee. Cuacanya pas." Lala sudah duduk tak jauh dari wanita yang dulu mengkhianatinya.


Keenan berusaha cuek. Begitupun dengan mantan pacar Keenan. Dia tak berani menyapa namun terlihat sekali dia seolah ingin tahu siapa wanita yang bersama Keenan.


"Bee, kamu mau pesan apa?"


"Apa aja terserah kamu, Honey."


"Kamu udah gak mual?" tanya Lala seraya membolak balikan buku menu.


"Sedikit."


"Pesan minuman segar saja ya, biar gak mual lagi." ucap Lala.


Keenan melirik anak yang menghampiri mantan kekasihnya yang sedang berbincang dengan wanita lain.


"Bee, gimana usul aku tadi?"


"Soal apa?"


"Ibu. Tadi kan kita lagi bahas ibu sebelum itu."


"Hmm..bicarakan dulu saja sama Ibu. Tapi aku juga mau tanya dulu Mas Pram, siapa tahu dia terima usul Ibu."


Keenan dan mantannya sesekali saling melirik hingga dering ponselnya mengagetkannya sendiri.


"Mas Pram video Call, Hon."


"Angkat saja, Bee."


"Broo Keeennn kamu dimana?" Mas Pram melambaikan tangannya.


"Makan Mas."


"Yah, padahal aku lagi cek lokasi untuk KP 4."


"Sudah dapat tempatnya Mas?"


"Nih Bro" Keenan menampakan ruko yang sedang dia kunjungi.


"Honey, kamu tahu tempat ini?" Ucap Keenan pada Lala membuat sang mantan ikut melirik ke arahnya.


Lala pindah disamping Keenan. "Mana?"


"Lalaaaaa.. "


" Hai Mas Pram dimana itu?"


"Daerah rumah kamu, La. Tahu gak ini dimana?" tanya Mas Pram mengedarkan gambar dalam ponselnya.


"Ini bukannya di sebelah Bank swasta itu kan? Depan sekolah bukan sih Mas?" tanya Lala pada Mas Pram.


Tanpa sadar, Keenan merangkul bahu Lala. Mantan Keenan tak henti melirik mereka.


"Iya La. Cukup ramai juga."


"Kalau menurutmu cocok, jadikan sekarang Mas."


"Gak gitu juga Bee. Kita kan belum nego harga."


Pelayan datang membawa makanan mereka, seketika mereka berhenti bicara.


"Serahkan sama dia, Hon" sementara Lala sibuk meniup cream soup milik Keenan.


"Kok aku ini sih Yong?" Keenan sudah lupa disana masih ada sang mantan.


"Perut kamu kosong, Bee. Jangan protes." ucap Lala seraya menyuapi Keenan.


"Wooiiii.. Mereka malah asik sendiri kan!" protes Mas Pram membuat keduanya tertawa.


"Bayiku lagi lemas Mas" Lala tertawa kembali


"Kenapa dia, La?"


"Honey, awas kalau kamu bilang. Gak ada ampun ya nanti malam." ancam Keenan. Keenan malu kalau Mas Pram tahu dirinya muntah gara-gara ceker ayam.


"Haha.. Iya iya sayang."


"Kenapa sih?" Mas Pram penasaran.


"Pasti kalau kamu tahu, kamu juga tertawa Mas."


"Hon"


"Iya iya."


"Mas, udah kan? Terserah dimana saja. Aku percaya sama kamu. Kalau deal, aku transfer sekarang." final Keenan mengakhiri panggilan mereka.


"Bee.. Kita kan belum beres bicara ih."


"kamu sengaja banget mau buka aib suami."


"Enggak suamiku. Cuma ketawa bareng Mas Pram dikit." Lala menggodanya.


"Dosa tahu!"


"Haha.. Iya enggak. Paling nanti aku cerita sama Mama saja."


"Astaga Lashira"


"Sudah. Makan ah, dingin gak enak nantinya." Lala masih tersenyum menggoda.


"Kamu gak jadi suapin aku?"


"makan sendiri ah. Nanti gak enak kalau makanan aku juga dingin."


Keenan kembali beradu pandang dengan mantannya. 'Kemana bapaknya anak itu ya?' batin Keenan


Lala beranjak terlebih dahulu untuk membayar makanan mereka sementara Keenan masih berdiri di depan mejanya untuk mengambil ponsel dan kunci mobil.


"Keen, boleh aku bicara?" Mantan Keenan berdiri dihadapannya.


.


.


.


Yuhuuu like, komentar dan vote yang buanyaaakkkk..


Oya, follow me on ig : only.ambu


Mamaciw ^^