My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Masih Berharap



"Hah?" Seketika Lala duduk. "Memang kalau baru hubungan, bisa langsung jadi Bu?"


"Ya.. Mana ibu tahu, kalau tidak di cek." ibu meleos keluar lagi dari kamar Lala.


"Masa, baru dibekali kemarin, sudah jadi lagi? Wah metode si Abang tokcer banget kalau begitu." Lala tersenyum sendiri.


"Eh, apa harus tespek?" gumamnya lagi.


Dering ponsel mengagetkannya, siapa lagi yang telepon kalau bukan suami tersayangnya.


"Panjang umur si Sayang." gumamnya seraya mengangkat telepon dari suaminya.


"Abaang.. "


" Yes honey. Lagi apa?"


"Aku gak enak badan, Bang."


"Kenapa?"


"Malarindu, sayang."


"Haha, bisa saja Munah. Tunggu dua hari lagi Abang pulang ya?"


"Harus lah. Jangan sampai molor lagi kayak waktu itu." gerutu Lala "Lebih bagus pulang sekarang, Bang, Hehe."


"Ya sudah, tunggu saja. Abang pulang sekarang nih." ucapnya.


"Jangan bikin harapan palsu ah."


Keenan tersenyum mendengar ocehan istrinya dibalik telepon sana.


"Abang, apa aku hamil ya? Kata Ibu, aku gak enak badan bisa jadi karena hamil."


"Hah? Kamu sudah di periksa?" suara Keenan lebih antusias sekarang.


"Belum sih, Aku beli tespek saja gitu ya?"


"Nanti saja tunggu Abang pulang. Abang mau lihat langsung."


"Lama. Dua hari lagi pulangnya juga."


"Sabar yaa.. Kamu mual-mual atau muntah gak?"


"Enggak. Aku cuma gak enak badan saja. Lemes Bang. Apa karena terlalu capek Ke kampus sama bantu di KP?"


"Makanya jangan terlalu capek. Sudah gak usah ke KP dulu kalau begitu."


"Aku kalau gak ada Abang jadi bingung mau ngapain. Makanya mending ke KP saja. Disana kan minimal aku ada teman ngobrol, Bang. Kalau di rumah Ibu bawel terus. Abang tahu sendiri, yang ada aku terus saja di ceramahi." gerutunya


"Sabar Yong. Kan sudah biasa Ibu begitu. Ya sudah, Hari ini gak usah ke KP sama kuliah. Ngerti?"


"Siap Tuan Muda."


"Good girl. Papa kerja dulu ya, Ma. Mama istirahat, biar Papa pulang, bisa celup-celup lagi."


"Ih kumat deh! Kemarin-kemarin sudah gak pakai panggilan itu! Lagian, Abang mah yang diingatnya itu mulu!"


"Haha.. Biar jadi do'a tahu dipanggil Mama. Ya sudah, Mama istirahat. Love you unlimited."


Lala terdiam sejenak. "Katanya gak terlalu berharap. Tapi kelihatan banget, dia ingin aku hamil." hatinya sedikit gusar.


Lala keluar menemui Ibu yang sedang memasak.


"Sarapan dulu, La." ibu meliriknya sepintas.


"Bu, apa aku harus ke dokter kandungan saja?" Lala menarik kursi makan.


"Kamu hamil?" kini Ibu memandangnya.


"Gak tahu. Justru penasaran kenapa sudah mau setahun nikah, aku belum hamil juga. Aku jadi sedikit khawatir, Bu."


"Wajarlah. Belum setahun. Orang juga banyak kok yang kosongnya dua, tiga tahun. Sabar saja."


"Memang kamu sudah siap punya anak? Ngurus suamimu saja kayak begitu. Jarang masakin dia, bangun siang, gak gesit jadi perempuan. Malu-maluin Ibu."


"Bukan gak gesit, Bu. Justru dia tuh gak mau bebani aku. Makanya ngajak beli makan terus. Gak bebani aku macem-macem. Kata dia kan, fungsinya istri itu menemani suaminya, bukan jadi pembantunya." Lala membela diri.


"Terus kamu sudah siap buat hamil? Kuliahmu gimana? Baru juga masuk."


"Aku juga bingung. Tapi kalau nunggu lulus kuliah, kelamaan juga, Bu."


"Ya, pasrahkan semuanya pada Tuhan saja, La. Mana yang terbaik buat kalian. Segala seusatu jangan di bikin pusing. Enjoy aja."


"Sebenarnya, aku merasa Keenan sama aku tuh masih kekanak-kanakan, Bu."


"Kalau menurut Ibu ya memang pembawaan kalian seperti itu, anak muda jaman sekarang. Apa sih namanya? Santuy?"


Lala terbahak. "Gaya bener, Bu Kader tahu santuy segala."


"Iya maksud Ibu, Keenan dewasa pada tempatnya. Kalau masalah kerjaan, dan segala tanggung jawabnya terlihat sekali dewasanya. Dari cara dia berbicara. Kita kan suka dengar dia kalau lagi diskusi di telepon gitu. Tapi kalau sama kamu, ya balik lagi santuynya."


"Iya sih. Tapi dia mah bukan santuy, tapi rese. Kita sering adu argumen , kata-kataan gitu. Takutnya pas punya anak nanti masih begitu juga."


"Ya kalian sedikit-sedikit rubahlah. Semua mendewasa dengan sendirinya. Toh, pengalaman yang jadi pelajaran."


"Tumben Ibu kader bijak." cibir Lala.


"Dikasih tahu orang tua malah begitu. Gini-gini Ibu sudah banyak makan asam garam daripada kamu."


"Ibu ngidam?"


"Sembarangan ini anak! Maksudnya pengalaman Ibu sudah lebih banyak dari pada kamu!"


"Oh.. Haha.. Siap suhu, tolong ajarkan hamba kalau begitu" ucap Lala.


***


Lala masih tertidur pulas saat Keenan membuka pintu kamar mereka. Keenan menatap punggung wanita yang dia rindukan setelah lima hari menabung rindu.


Keenan mengangkat koper miliknya, menaruhnya di pojokan kamar karena takut mengganggu tidur Lala. Tanpa berganti pakaian, Keenan membaringkan tubuhnya. Dia menelusupkan tangannya di pinggang sang istri.


Puas memeluk pinggangnya, kini tangan Keenan merapikan rambut Lala yang menutupi telinganya, dia mengecup lembut telinga istrinya membuat Lala terusik.


"Sayang.."


"Kok gak bilang sih kalau pulang." Keenan tak menjawabnya, dia sibuk mengecup wajah istrinya.


"Aku kangen banget, Sayang." Lala memeluknya senang.


"Abang juga gak bakalan pulang cepat kalau gak kangen." Keenan mengelus pipi Lala. "Apalagi waktu dengar yang tadi di telepon."


" Dengar yang tadi apa? Aku gak enak badan? Kamu khawatir sama aku Bee, sampai pulang cepat?" Lala tersenyum.


"Hmm.. Maksudnya penasaran sama apa yang dikatakan Ibu yang kamu ceritakan tadi."


"Apa?" Lala mengingat obrolan tadi pagi bersama Keenan.


"Jangan-jangan kamu hamil."


Seketika Lala tak semangat. "aku kira kamu khawatir."


"Iya khawatir plus penasaran."


"Kamu sendiri yang bilang gak terlalu berharap. Tapi kamu sendiri yang terlihat begitu berharap sampai bela-belain pulang." ketus Lala tiba-tiba. "Kalau tahu begini, aku jadi sebel sama kamu! Nyuruh kuliah, sekarang lagi kuliah berharap aku hamil. Kamu tuh gak konsisten!"


"Aku memang niat pulang hari ini, Yong. Kerjaan disana sudah beres. Makanya aku Surprise-in kamu."


"Bukan suprise, tapi kamu penasaran aku hamil atau enggak. Bosen tahu gak bahasnya itu terus! Kamu tuh bikin aku berkecil hati jadinya. Stress yang ada! Kamu tuh kayak nuntut aku biar cepat hamil!" Lala turun dari tempat tidur.


Keenan ikut bangkit, dia memeluk Lala dari belakang.


"Oke, maafkan aku, Hon. Maaf kalau kamu merasa bosen atau bingung atau merasa di tuntut. Tapi aku gak begitu. Maksudnya, cuma.. Cuma penasaran. Kalau kamu merasa terganggu, Aku gak bahas-bahas lagi soal hamil."


"Lepas! Sana cari wanita lain yang bisa lahirkan anak kamu!"


"Maaf Yong, jangan begitu."


"Awas! Lepasin!" Lala masih berontak


"Maaf. Masa Abang baru datang, kita sudah bertengkar."


"Yang mancingnya siapa?"


"Iya Abang salah, Hon. Maaf."


Lama mereka terdiam di posisi yang sama hingga akhirnya entah kenapa Lala menjadi kasihan pada Keenan. Ia membalikan tubuhnya. "Abangnya jangan rese!" Lala memeluknya.


"Iya maaf. Maaf sayang." Keenan mengecup puncak kepala istrinya.


"Makan diluar yuk? Tadi Abang gak sempat makan. Abang lapar, sayang."


"Aku mau ke KP, Bee. Ingin cappucino sama cinnamon rolls" pinta Lala.


"Hah? Tumben minta itu."


"Gak boleh?"


"Boleh kok sayang." Keenan berjaga-jaga takut diamuk oleh istrinya kembali.


Keenan dan Lala kini berada di KP mereka. Keduanya duduk di kursi pengunjung menikmati kopinyang diinginkan Lala.


Lala masih sedikit kesal dengan sikap Keenan hingga membuat Keenan harus ekstra sabar dan memutar otaknya agar Lala kembali ceria.


"Hon, waktu Abang disana, toiletnya serem banget."


"Dimana? Hotel? Atau proyek?" tanya Lala malas.


"Hotel Yong. Serem banget sumpah."


"Kenapa? Kamu lihat hantu?" Lala sedikit antusias.


"Abang kan mules ya, pas Abang poop terus pijit tombolnya, masa poop Abang ilang, siapa coba yang ambil, Hon? Kan serem banget." ucap Keenan dengan muka serius.


"Astaga si Bambang ngelawak." Lala yang kesal akhirnya terbahak juga dengan lawakan receh suaminya.


"Beg* di pelihara Keenan Wijayaaaa!" kesalnya masih dengan senyum di bibirnya.


"Lah, Abang jadi takut sendiri tahu!" Keenan ikut tersenyum.


"Tahu ah! Kirain beneran!" Lala tak henti tertawa.


"Eh pas di lift ketemu sama anak kecil, tiba-tiba dia bilang gini : Om, tahu gak? Anna dan Elsa tinggalnya dimana?"


"Abang jawab tuh, di Norwegia. Anak itu bilang sama Ibunya jawaban dari Abang. Abang tanya balik sama itu anak." Keenan sengaja menjeda ucapannya.


"Tanya apa?" Lala terpancing.


"Kenapa coba tinggalnya di Norwegia? Dia cuma geleng kepala, Ibunya malah lihatin Abang."


"Ganjen!"


"Bukan ganjen sayang, tapi nunggu jawaban Abang itu Ibunya. Terus anaknya balik tanya, 'kenapa Om?'"


"Tahu gak kamu, Abang jawab apa?"


Lala mengeleng. "Soalnya kalau pindah ke Arab bukan Anna - Elsa lagi. Tapi Anna - Ente."


Lala terbahak " Ente Bahlul Keenaaan!"


"Astaga Abang.." Moodnya membaik seketika.


Keenan menggenggam tangan istrinya. "Baru ketemu jangan di cemberutin dong. Ajak celup-celup Kek."


"Gak usah di ajak juga nyosor sendiri!"


.


.


.


Yuhuu jamaah Honbee, nungguin yaaa.. Hehe..


Jangan luoa ritual kita, like, komentar, vote yang buanyaak.


Jangan lupa follow igeh aku : only.Ambu


Terima kasih