My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Kamu Kenapa Sih?



Keenan mematung seketika. Dia tak menyangka orang yang dia cintai dulu, kini berada tepat dihadapannya.


Keenan mengangkat sebelah alisnya.


"Apa kamu punya kontak teman SMA? Rencananya kita mau adakan reuni." ucapnya menatap mata Keenan.


"Aku loss contact dengan mereka." jawab Keenan datar.


"Boleh minta kontak kamu? Biar aku masukan ke dalam grup chat alumni." wanita itu masih menatap Keenan lekat.


"Mmm.. "


"Huaaaaa.. Bundaaa.. " terdengar suara tangisan anak dari arah playground. Seketika pandangan mereka teralihkan pada gadis kecil yang terjatuh. Mantan Keenan bergegas ke arahnya. "Kata Bunda tadi apa? Hati-hati." ucapnya.


Keenan tak membuang kesempatan, dia segera pergi dari kafe tersebut. Dia menatap Lala yang sudah mematung di depan mobilnya.


'Aku cuma ingin tahu, kamu bisa jujur sama aku atau enggak.' batin Lala. Dia menyaksikan Keenan dan mantannya berbicara, tapi Lala tak mau mendengarkan percakapan mereka dan lebih memilih menunggunya.


"Lama banget sih Bee"


"Iya, aku dari toilet sebentar."


'Bohong! Apa dia mantanmu itu, Keen? Ah.. Aku lupa wajahnya waktu itu.' batin Lala


'Apa mungkin di hati terdalam kamu masih inginkan dia?' Lala membuka pintu mobil.


'Tuhaan, andai dia begitu.. Apa aku rela melepasnya?'


'Astagaaa Lashira.. Jodoh, hidup, mati sudah ada ketentuan-Nya. Tinggal kamu menjalaninya sebaik mungkin!' Lala menyemangati dirinya sendiri saat Keenan mulai melajukan mobilnya.


Tak ada percakapan diantara mereka. Lala lebih memilih memainkan ponselnya selama perjalanan hingga tiba di Apartemen, dia masih sibuk dengan ponselnya.


"Hon.. Lagi apa sih? Sibuk sendiri."


"Gak apa-apa. Cuma lihat sosial media." bohong Lala


'Kok aku jadi badmood begini.' batin Lala.


Tiba di Apartemen, Lala bergegas menuju kamar mandi.


"Yong?" Lala berbalik saat sudah memegang daun pintu. Keenan menghampirinya. "Sekali lagi yuk" Keenan memeluknya dari belakang seraya mengecup leher Lala.


"Enggak Bee." tolak Lala melepas pelukannya. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi.


'Apa saat melakukan itu bersamaku, fantasimu bersamanya? Tuhaaan kok rasanya sakit sih.' Lala frustasi sendiri.


Lala keluar dari kamar mandi bergantian dengan Keenan. Seperti biasa, dia duduk di depan televisi. Kali ini, acara komedi yang lucu tak lantas membuatnya tertawa.


Keenan menghampiri Lala seraya membawa tablet miliknya. Dia duduk di samping sang istri. "Tumben kamu gak makan snack Yong." Keenan menatapnya sepintas kemudian menyalakan tablet miliknya.


Melihat Keenan, entah kenapa hatinya merasa sakit. Lala segera masuk ke dalam kamarnya. Dan meringkuk disana.


Keenan sedikit heran dengan sikap Lala. Dia menghampiri sang istri. "Kamu sakit?" tanya Keenan mengelus punggung Lala.


Lala hanya diam tak menyahutinya. "Yong? Kamu kok gak jawab sih?"


'Pengen nangis deh denger suaranya!' batin Lala samakin pilu.


" Hei, kamu kenapa sih?" Keenan merasa bingung dengan sikap Lala.


'Sumpah si Bambang wajah tanpa dosa malah tanya kenapa!'


"Yong?"


"Berisik!" ketus Lala


"Kamu kenapa?" Keenan hendak membalikan tubuh Lala tapi Lala menahannya.


Hening.


Keenan naik ke atas kasur, dia merebahkan tubuhnya kemudian menyusupkan tangannya dipinggang ramping sang istri.


"Kenapa? Hmm? Kok tiba-tiba begini?" dia berbicara tepat dibelakang telinga Lala.


'Aaaaa... Kenapa kamu lembut sih? Biasanya pakai emosi' kesal Lala.


"Sayang.."


Lala melepaskan pelukan Keenan.


"kamu kenapa sih Yong?" Keenan mulai memeluknya kembali, kali ini tangannya tak diam.


"Keenan!" Lala berbalik menatapnya sinis. Dia segera turun, masuk ke kamar mandi.


Lala mengambil air dari dalam lemari es, dia mendinginkan hatinya yang terasa panas. Setelah dirasa cukup, dia duduk di sofa dengan memeluk kedua kakinya.


Lama dia duduk disana hingga Keenan menyusulnya kembali. Dia berjongkok dihadapan Lala.


"Kamu kenapa sih Hon? Marah kenapa? Tumben kayak begini." keenan menyentuh lutut Lala.


Lala memalingkan mukanya. "Sayangku, honeyku, Baby Munahku" Lala mendelik.


"Apa sih Yong! Marah tuh bilang! Bukan diam kayak begitu!"


"Kamu yang bilang!" bentak Lala


"Astaga kaget aku." Keenan mengelus dadanya. "Aku bilang apa?"


"Belaga ****!"


" Bilang apa?" Keenan nampak berpikir.


Keenan duduk disamping Lala. Keduanya hening sejenak. "Tadi di Kafe itu, ada mantan aku." Keenan membuka percakapannya kembali.


'Tuh kan benar' batin Lala terasa sakit.


"Makanya aku ajak kamu di dalam. Aku gak mau melihat dia."


"Kenapa tadi kamu gak bilang? Kamu sengaja kan?"


"Astaga! Masa aku harus bilang depan dia?"


"Kamu beg* atau tol*l sih Keenan? Kamu bisa kan tulis pesan atau apapun ke aku." ketus Lala


"Aku gak kepikiran, Honey."


"Iya. Kamu terpesona sama mantanmu yang cantik."


"Astaga! Enggak Yong. Sumpah!"


Hening.


"Tadi pas kamu ke kasir, tiba-tiba dia sudah ada didepan aku. Dia minta nomor ponselku katanya mau reuni SMA." Seketika Lala menatapnya sinis.


"Astaga. Tatapannya kayak mau bunuh aku saja" Keenan mengusap muka Lala


"Kenapa dibelakang aku? Kenapa gak pas aku ada saja kalian tukeran nomor ponsel."


"Ya mana aku tahu, sayang. Lagian kita gak tukeran nomor ponsel, Hon"


"Bohong!"


"Sumpah. Buat apa aku tukeran nomor ponsel sama dia. Buat apa juga ikut reuni SMA, aku gak punya teman disana."


"Kan ada mantan tercinta. Cinta pertama selalu tersimpan di balik sanubari."


"Bahasamu ketinggian Yong" Keenan tersenyum geli. "Gak cocok tahu."


"Aku benci kamu Keenan!" ketus Lala


"Kenapa lagi? Aku sudah jujur, Hon."


"Jujur setelah aku kesal sama kamu?"


"Ya Maaf Hon. Tadinya memang gak penting."


"Gak penting? Kamu minta aku terbuka dan jujur. Kamu sendiri yang melanggarnya."


"Aku sudah jujur dan terbuka."


"Setelah aku marah." ketus Lala menatap Keenan tajam.


"Iya maaf. Lain kali aku bilang lebih dulu."


"Kalau gak ketahuan, mungkin kalian tukar kabar."


"Kamu bicara apa sih Hon! Sumpah aku gak tukeran nomor ponsel, Hon."


"Bodo" Lala meninggalkan Keenan ke kamarnya.


"Astagaaaa." Suara Keenan terdengar kencang.


Lala membaringkan tubuhnya.


'Bagaimana kalau mereka bermain di belakangku? Bagaimana kalau mereka kembali lagi?' Lala menahan tangisnya.


Terlintas kembali perjanjian Ibu dan orangtua Keenan.


'Aku gak boleh hamil dulu.' batin Lala. 'Kalau aku hamil, lantas dia meninggalkan aku dan anakku nanti,bagaimana? Tuhan membayangkannya saja rasanya sakit.'


'Aku gak boleh resign juga. Benar kata Ibu. Kalau dia macam-macam, setidaknya aku bisa berdiri tegak di kaki aku sendiri.'


Tak terasa, Lala terlelap. Hampir tengah malam, Keenan baru masuk ke dalam kamar setelah mengerjakan pekerjaannya. Dia merebahkan tubuhnya disamping Lala.


***


Pagi-pagi sekali Lala sudah bangun. Dia bergegas mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Lala sesekali mengintip Keenan yang masih terlelap. Dia segera meninggalkan Apartemen mereka.


Ini pertama kalinya mereka bertengkar setelah menikah. Biasanya mereka hanya bertengkar kecil sekedar saling menyahut. Tapi kali ini, Lala merasa Keenan keterlaluan.


Lala tiba dikantor lebih pagi dari biasanya. Kali ini terasa berbeda untuk dirinya, tak ada rasa lapar yang melanda padahal dia belum mengisi perutnya sama sekali walaupun hanya dengan setetes air.


Lala terus melirik ponselnya, walaupun dia kesal. Tapi dalam hatinya masih berharap Keenan akan menghubunginya.


"Sudah jam 9, masa dia belum bangun!" gerutu Lala kesal saat Keenan tak juga menghubunginya.


"Astagaaa aku malah gak fokus." kesalnya. "Sekarang sudah masuk jam istirahat tapi kamu masih tak berkabar!"


Tok.. Tok..tok..


"Bu Lala di cari Pak Reza." ucap Satpam berdiri diambang pintu ruangannya.


"Pak Reza? Ada apa?" tanyanya


"Saya kurang tahu Bu."


"Ya sudah, terima kasih, Pak."


Lala merapikan bajunya, dia bergegas keluar ruangan. Lala berjalan menuju ruangan Reza, namun begitu keluar ruangan, dia melihat dua orang yang sedang tertawa.


"Tuh orangnya" tunjuk Reza pada seseorang dengan setelan jas berwarna biru yang tersenyum ke arahnya.


"Bapak panggil saya, Pak?" tanya Lala begitu tiba dihadapan Reza


"Di susulin tuh La, gara-gara gak sarapan bareng katanya" Reza terbahak. Sementara Lala nampak kikuk.


'Astaga, masalah rumah tangga Pak Reza sampai tahu.' gerutunya dalam hati.


"Aku pinjam Lala sampai jam istirahatnya habis ya Pak." ucap Keenan.


"Pengantin baru, gak mau jauh-jauh." goda Reza.


"Apa sih Pak!"


"Jadi kapan kamu resign, La?"


"Jahat banget Pak Reza berharap aku resign."


"Heh! Aku gak enak sama suami kamu." Reza melirik Keenan.


"Haha.. Saya membebaskan dia, Pak. Selama dia nyaman kerja disini."


"Kasihan Keenan, La. Mungkin maunya di ladeni."


"Nah..Merasa diwakili kalau begitu, Pak." keduanya terbahak.


"Dia sama kayak Tasya dulu, maunya kerja. Lama-lama nyerah juga. Kamu yang sabar Keen." Reza menepuk bahu Keenan.


"Pak Reza, kayak aku melakukan hal apa gitu, sampai dia disabarin. Harusnya aku yang di sabari, Pak."


"Kamu kenapa memangnya?" Reza dan Keenan meliriknya.


"Sabar punya atasan kayak Bapak." ucapnya membuat Reza terbahak.


"Keen, cepat bawa istrimu. Kalau enggak, aku pecat dia sekarang." candanya.


"Dengan senang hati, Pak" ujar Keenan.


"ih waktu istirahat aku nanti habis. Ayo buruan." Lala menarik lengan Keenan. "Bye Pak Reza. Sekarang aku bisa romantisan depan Bapak." Lala menggandeng Keenan menjauh dari Reza.


Lala buru-buru melepas gandengannya saat sudah menjauh dari Reza. Dia cemberut. Bisa-bisanya Keenan membocorkan masalah mereka pada Reza.


Sementara Keenan hanya tersenyum melihat tingkah istrinya sambil terus beejalan menuju mobil mereka.


Keenan berjalan lebih dulu kemudian membukakan pintu mobil untuk Lala. Lala dibuat terkejut saat melihat bucket bunga mawar berada di tempat duduknya.


"Forgive me, Please..Honey." bisik Keenan tepat ditelinga Lala.


Lala menyunggingkan senyumnya, seketika berbalik.


"Aaa.. Jahat! Jahat! Jahat!" Lala memukul Dada Keenan, gunungan emosinya mencair seketika saat Keenan memperlakukannya dengan manis. Keenan segera memeluknya erat.


"Maaf sayang." Mereka tersenyum.


"Lepas Bee.. Ini di tempat umum. Astaga." Lala segera melepaskan pelukannya.


Keenan mengambil bunga tersebut kemudian memberikannya pada Lala dengan raut wajah bahagia. "Love you unlimited, my wife." ucapnya saat Lala menerima bunga tersebut.


Lala tak kalah bahagia, dia nampak malu-malu saat menerima bucket bunga dari suaminya.


"Mau makan dimana sayang?" tanya Keenan pada Lala setelah mobilnya melaju keluar dari kantor.


"Terserah."


Keenan menautkan jemari mereka. Dia mengecup punggung tangan istrinya. "Jangan marah lagi dong sayang. Pakai acara berangkat kerja gak pamit, gak bangunin, gak buatkan sarapan juga. Jahat banget sih Yong sama Abang!" keluh Keenan


"Kamu yang bikin kesel!"


"Iya udah. Maaf sayang." Dia kembali mengecup punggung tangan Lala.


"Kamu cerita sama Pak Reza?"


"Soal apa?" Keenan balik bertanya melirik Lala sepintas kemudian fokus kembali menatap jalanan.


"Itu tadi Pak Reza tahu kita gak sarapan bareng" gerutu Lala.


"Tadi itu, aku sengaja tanya satpam biar kamu keluar, eh Pak Reza baru datang. Dia datang kan nyamperin aku, ya sudah ngobrol sebentar."


"Kamu cerita enggak?" ketus Lala


"Enggak Honey, aku cuma bilang mau ajak makan siang bareng. Tadi aku kesiangan bangun, gak tahu kamu sudah berangkat kerja. Gitu Yong."


"Bener?"


"Astaga. Masa gitu saja bohong."


"Kemarin saja gak jujur."


"Aku jujur sayang, cuma setelah kamu marah. Stop. Gak usah dibahas lagi."


"Kamu sarapan apa tadi?" tanya Lala sedikit merasa bersalah.


"Sereal Hon."


"Ih itu kan jajanan aku? Mana kenyang Bee?"


"Emang kenapa? Kamu saja yang salah makannya. Sudah tahu itu sereal. Makannya pakai kuah susu. Kamu di makan gitu saja."


"Gak enak kalau pakai kuah gitu. Gak kriuk tahu!"


"Kamu sarapan apa?"


"Angin."


"Hah? Maksudnya gimana?"


"Aku sebel sama kamu! Jadi gak sarapan."


"Astaga! Marah sampai gak mau makan? Kalau sakit gimana? Jangan bertingkah deh Yong! Masa kamu kayak bocah sih!"


"Habis sebel sama kamu!" gerutunya.


"Sudah dong Neng sebelnya, Abang gak tahan kalau Neng lama-lama ngambek. Gak ada yang cerewet."


Keenan meraih tangan Lala yang sempat terlepas, lagi-lagi dia mengecup punggung tangan istrinya.


Lala menggeser tubuhnya mendekat pada Keenan. Dia merebahkan kepalanya di lengan kokoh suaminya. Keenan menarik dagunya memberi kecupan kilat.


"Abang! Kalau celaka bagaimana!" ketus Lala


Keenan terkekeh. "Gak tahan sih Yong. Hari ini bibir aku belum dapat jatah."


"Dasar"


***


Keenan dan Lala kembali ke Apartemen mereka. Keenan nampak enggan kembali ke rumah pasca insiden kaki ayam yang membuatnya muntah tempo lalu.


"Kita gak akan pulang, Bang? Ibu kasihan." ucap Lala saat tiba di Apartemen mereka.


"Nanti ah. Aku mau berdua dulu sebelum ke luar kota." Keenan melepas kancing di lengan bajunya.


"Keluar kota? Kapan?" Lala menatapnya sedikit terkejut.


"Lima hari lagi. Mau ikut?"


"Aku kan kerja, Bee." kini dia sedikit sedih.


"Cuti gak bisa?


"Gak bisa. Kamu gak bilang sebelumnya." keluh Lala


"Aku mau bilang tapi kamu marah kemarin."


Lala mendekat, dia membantu Keenan melepas kancing kemeja yang di pakainya. "Abang tega gitu Bang, ninggalin aku?" seketika wajahnya dibuat semakin sendu.


"Kalau kamu resign, kemanapun Abang pergi, kamu ikut Honey."


Lala terdiam. "Aku kayaknya gak bisa resign sekarang."


"Kenapa?"


"Hmm..ada kerjaan yang harus aku bereskan."


'Maaf Bee, aku masih takut kamu bakal ninggalin aku.'


"Jadi gimana?"


"Ya aku belum bisa resign, Bee. Aku gak tahu bisa resign kapan."


Keenan menahan amarahnya "Kalau kamu hamil, kamu harus resign hari itu juga!" ucap Keenan seraya mengangkat tubuh Lala membawanya ke kamar.


.


.


.


Yuhuu seperri biasa jamaah Honbee.. **Like, komentar, vote yang buanyaaakkk..


Follow me on ig : only.ambu**


Terima kasih^^