My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Bertemu Orang Tua Keenan



"Sayang.. Mama rindu kamu" Mama Keenan memeluk Keenan erat.


Lala mundur selangkah, dia merasa gemetar dengan degup jantung yang tak beraturan. Tubuhnya seketika lemas namun dengan sekuat tenaga, dia menopang tubuhnya agar tidak tumbang.


Lala menyaksikan Mama Keenan memeluk anak kesayangannya hingga manik mereka beradu, Mama Keenan melepaskan pelukannya dari sang anak.


"Keenan.. " Mama menatap putra kesayangannya kemudian menggulirkan bola matanya menatap Lala.


Keenan melirik Lala sepintas. Saat hendak menjawabnya, Pak Wijaya berjalan menghampiri mereka.


"Pa, gimana keadaanya sekarang" Keenan memeluk Papanya


"Sudah lebih baik." ucapnya seraya menepuk bahu Keenan.


"Oya Ma, Pa, dia pacar aku" ucap Keenan melirik Lala yang masih mematung dengan bibir yang kini memucat.


Tangan Lala terulur dengan gemetar dan dingin.


"Lala tante" Lala mencium punggung tangan Mama Keenan. Mama Keenan hanya tersenyum samar.


"Om" kini Lala bergantian mencium punggung tangan Papa Keenan.


Keduanya nampak dingin tak banyak bicara membuat Lala canggung.


"Kamu mau kemana?" tanya Mama Keenan.


"Saya pamit pulang tante" balas Lala.


"Oh iya." ucap Mama Keenan tak banyak bicara.


"Saya pamit Om, tante. Assalamu'alaikum" Lala menganggukan kepalanya seraya memberi hormat.


Lala menyeret kakinya yang terasa berat. Dia keluar dari rumah megah tersebut tak lepas dari pandangan kedua orangtua Keenan yang masih menyaksikan mereka diambang pintu.


Keenan memanggil penjaga untuk membawakan motornya. Hingga keduanya berlalu meninggalkan orangtuanya yang masih mematung.


"Anak mana gadis itu?" tanya Papa Keenan


"Aku tak tahu Pa. Anakmu banyak ngasih kita kejutan" ucap Mama Keenan.


"Gadis itu mau dibawa naik motor?" tanya Papa Keenan.


"Nanti Mama tanya dia. Mama sedikit terkejut setelah sekian lama dia tak dekat dengan wanita" ucapnya.


"Ya, setidaknya anak kita masih normal" ucap Pak Wijaya


"Ya normal lah! Memangnya Papa berpikir kalau anak kita itu g*y apa!" ketus Mama Keenan


"Papa hanya takut dengan pergaulan anak jaman sekarang Ma"


"Yang Mama takut justru gadis itu memanfaatkan Keenan seperti yang dulu. Papa lupa, gimana terpuruknya anak kita waktu itu. Hingga dia menurunkan standarnya sendiri" ucap Mama Keenan


"Kalau dilihat, sepertinya gadis tadi baik Ma"


"Jangan lihat dari luarnya. Kita gak tahu, siapa tahu dia mengincar apa yang anak kita punya."


"Ya buktinya, dia mau dibawa naik motor butut itu" ucap Papa Keenan seraya berlalu


Mama Keenan masih duduk disana. Pikirannya terganggu saat melihat Lala tadi.


Disisi lain, Lala terdiam sepanjang jalan. Dia masih memikirkan sikap orangtua Keenan yang dingin kepadanya.


'Baru segitu La, kamu sudah ciut' batin Lala


'Aku kayaknya gak sanggup lagi deh kalau menyangkut harga diri.' Lala memikirkan nasib percintaannya.


"Honey.."


"Hon" Keenan menarik lengan Lala


"Eh iya Bee. Kenapa?" tanya Lala


"Tumben kamu diam?" tanyanya


"Gak apa-apa. Aku masih syok ketemu orangtua kamu" ucapnya


"Haha.. Gak apa-apa lagi Hon. Mereka memang begitu. Berbanding terbalik dengan Ibu Kader yang suka becanda. Keluargaku terbilang kaku" ucap Keenan


"Tapi setidaknya kamu diterima oleh mereka" tambah Keenan


'Diterima matamu sobek! Jelas-jelas mereka diam saja saat aku pamit!' batin Lala


"Semoga saja" ucap Lala pelan


"Tenang Hon, keluargaku tak mandang dari status kok" ucap Keenan seolah tahu apa yang Lala pikirkan.


'Gak mungkinlah sekelas kalian tak mandang status. Apa kata dunia' batin Lala


Keenan membelokan motornya ke taman kota.


"Kok kesini?"


"Kita ngobrol dulu" ajaknya


Keenan memarkirkan motornya. Dia membeli satu botol teh manis. Kemudian berjalan bersama Lala menuju bangku di depan kolam ikan.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan La" ucap Keenan


Lala hanya tersenyum.


"Jujur aku menciut Bee"


"Dulu bukannya cita-cita kamu punya pacar tajir." sindir Keenan


"Haha.. Ternyata lebih mengerikan dari nonton film horor. Sumpah Keen" ucapnya seraya tertawa. Lala berusaha mencairkan hatinya.


"Minum Hon. Aku tahu kamu nervous kan?" tebak Keenan tepat sasaran


"haha.. Kelihatan memangnya Bee?" tanya Lala


"Iyalah. Aku tahu." ucap Keenan


Keenan memegang tangan dingin Lala.


"Sampe segininya kamu?" Keenan memberi kehangatan pada tangan Lala


"Kemarin saja ledekin aku, sekarang terasa kan gimana rasanya ketemu calon mertua" Keenan menyeringai


"Ih rese!" ketus Lala


"Haha.. Lucu sih kamu"


"Ciee.. Yang habis ketemu orangtua Keenan cieee" godanya


"Haha apa sih Bee."


'Gak ada ciee-nya ketemu orang tua kamu. Mendingan orangtua Mas Izam kemana-mana' batin Lala


'Astagaa.. Kenapa malah mikir orangtua Mas Izam segala.' batin Lala


"Bee.. Pulang yuk. Aku ingin istirahat. Lagipula orangtuamu baru pulang, masa kamu gak nyambut mereka sih" ucap Lala


"Kamu pengertian sekali sih." Keenan menyubit pipi Lala


Keenan melajukan motornya kembali. Sepanjang perjalanan, Lala hanya terdiam. Moodnya ambruk seketika setelah bertemu orangtua Keenan.


"Stop disini Bee" ucap Lala saat tiba di minimarket


"Kenapa?" tanyanya.


"Aku mau beli dulu sesuatu. Kamu hati-hati dijalan ya" Lala berusaha tersenyum


"Yakin gak mau diantar sampai rumah? Nanti kalau Ibu tanyain aku gimana?"


"Nanti aku salamin" ucap Lala


"Ya sudah, sana pulang" tambahnya


"Ih kamu ngusir aku" ucap Keenan


"Enggak Bee, aku hanya gak enak sama orangtua kamu"


"Ciee.. Perhatian sama calon mertuamu" ucap Keenan


'Keenan beg* atau gimana sih. Masih ciee ciee gak jelas' batin Lala


Lala hanya tersenyum.


"aku pulang kalau begitu. Bye Honey" Keenan memutarkan motornya.


Lala masuk ke dalam minimarket.


'Harus makan mie pedas! Rasanya gak semangat banget setelah ketemu orang-orang dari dalam freezer!' batin Lala


Lala menyusuri rak demi rak mengambil cemilan dan juga mie instan. Dia harus mengembalikan semangatnya.


Setelah selesai dengan cimilan yang hampir memenuhi keranjang belanjaannya. Kini dia beralih ke lemari pendingin.


'Untuk mencairkan hatiku' batinnya sembari melihat satu persatu botol dalam lemari tersebut. Dan lagi-lagi pilihannya pada minuman bersoda warna merah.


"Jangan banyak minum soda, gak baik loh buat kesehatan" suara seseorang yang dia hafal berbicara kepadanya.


'Mas Izam.' batin Lala


"Jarang-jarang kok Mas" ucapnya tanpa menoleh


"Ih kamu keren deh, gak melirik tapi sampai hafal suaraku. Jangan-jangan kamu fans beratku " ucapnya.


"Haha.. Aku kan saudaranya peramal Mbak You Mari You, Mas" ucap Lala


"Mau dong di lamar La"


"Ramal Mas. Etdah jomblo dasar"


"Hahahaha.. Jelas banget sih La. Mentang-mentang punya pacar" ucapnya


"Haha.. Becanda Mas Izam yang ganteng tiada tanding tiada banding tapi sayangnya jomblo" Lala tertawa


"Kamu ya, sudah membuat melayang langsung dijatuhkan begitu saja" ucap Mas Izam


"Hehe. Aku duluan deh Mas." ucap Lala


"Ayo barengan. Aku juga sudah kok" ucapnya


***


Lala duduk sambil menikmati es krim di depan minimarket bersama Izam.


"Mas Izam suka es krim?" tanya Lala


"Hu'um" jawabnya singkat sambil memasukan es krim ke dalam mulutnya.


"Sama saja kali La, emang cewek doang. Kalau Kirant* aku gak suka" Izam tertawa


"Haha.. Yaiyalah itu mah buat cewek"


"Kalau sedih, makan es krim rasanya jadi adem La" ucapnya serius


"Mas Izam sekarang lagi sedih?" tanya Lala


"Iya. Tadi dua kali dikatain jomblo sama seseorang" ucapnya datar dan sukses membuat Lala terbahak


"Dih, yang hatinya terbuat dari ager-ager. Dikatain jomblo aja sedih begitu. Haha" canda Lala


"Becanda ya Mas Izam. Jangan dimasukin hati. Masukin kulkas aja biar adem" Lala menyeringai


"Dih, pinter banget yang punya pacar bicaranya" balas Izam


"Ibumu apakabar La?" tanya Izam kemudian


"Alhamdulillah sehat. Ibu Gunawan bagaimana?"


"Alhamdulillah sehat juga. Tapi sekarang dia nagih terus" ucapnya


"Nagih apa Mas?"


"Mantu. Haha"


"Haha..makanya nyari dong. Elah, percuma wajah manis tapi gak bisa narik semut barang sebiji" ucap Lala


"Haha. Aku tuh terlalu pemilih tahu, bukan gak laku" ucapnya


"Iya aja deh. Kasihan yang jomblo" ucap Lala


"Haha jahatnya. Yuk pulang" ajak Izam


Mereka berjalan beriringan.


"Terima kasih La"


"Buat?"


"Nganterin aku pulang"


"haha.. Halusinasi. Rumah kita searah kali. Dasar Mas Izam"


"Besok mau bareng?" tawar Izam


"Hehe. Aku naik ojek online saja Mas." ucapnya


"Oh iya, pacarmu takut marah ya?" tanya Izam


"Hehe.. Dia sedikit posesif"


"Sama. Aku juga. Gak rela bagi-bagi" ucap Izam


"Dih kayak iklan"


"Ya sudah, aku duluan ya La."


"Iya Mas" ucap Lala saat Izam membuka pintu pagarnya.


"Eh Mas" Izam seketika menoleh


"Terima kasih es krimnya" Lala tersenyum tulus.


"Sama-sama. Kamu hati-hati ya, kalau jatuh bangun sendiri, oke" Izam tersenyum


"Dasar Mas Izam" gumam Lala seraya berjalan menuju rumahnya.


"Assalamu'alaikum ibu"


"Waalaikumsalam. Dari mana Non? Indah sekali hidupnya yang sedang jatuh cinta" ucap Ibu


"Tanda cinta untuk Ibu Titatu tayang" ucap Lala memberikan biskuit kelapa kesukaan Ibu


"Haha.. Bisa saja nyogoknya." seraya mengambil biskuit dari tangan Lala


"Kamu beli apa?" tanya Ibu seraya membuka plastik yang Lala taruh di meja


"Ih, banyakan jajanan kamu kan daripada punya Ibu" protes Ibu


"Nanti juga jajanan aku yang ngabisinya Ibu juga" ucap Lala


"Daripada Ibu rugi. Ya mending Ibu makan" ucapnya


"Makanya jangan protes" Lala mengambil handuknya. Dia berjalan ke kamar mandi.


***


"Mama sama Papa kenapa gak kasih kabar sih kalau pulang?" tanya Keenan saat mereka berada diruang makan


"Kalau kita kasih kabar, kita gak bakalan lihat kamu sama perempuan itu dirumah ini" ucap Mama Keenan


"Lala namanya, Ma" ucap Keenan


"Ketemu dimana? Anak mana?"


"Teman magang aku dulu, Ma. Anak orangtuanya Ma, masa anak aku" jawab Keenan


Pak Wijaya berdehem


"Mm. Maaf. Maksudnya anak Perumahan sana" ucapnya


"Sudah lama kamu pacaran sama dia?" tanyanya


"Baru sebulanan lebih Ma."


"Hati-hati Nak, kamu nanti dimanfaatkan lagi" ucap Mama Keenan


"Enggak Ma. Dia baik. Aku kenal kan sudah lama. Baru sekarang-sekarang saja pacarannya" ucap Keenan


"Hati-hati saja. Bisa jadi baik diluar ternyata dalamnya.. "


" Please Ma! Aku sekarang sudah dewasa. Aku tahu dia orangnya baik atau tidak" Keenan sedikit meninggikan suaranya


"Ya Mama cuma khawatir sama kamu"


"Tapi Mama seolah gak percaya sama aku! Mending aku jadi bujang tua saja sekalian!"


"Keenan! Jaga bicaramu!" bentak Pak Wijaya


"Aku sudah beres makan" Keenan meninggalkan kedua orangtuanya


"Kamu sih terlalu berlebihan nanyanya" ucap Papa Keenan


"Mama cuma mengingatkan Pa. Wajar kan?"


"Tapi kamu memojokannya. Kamu mau anak kita gak bisa ngasih kita keturunan?" Papa Keenan meninggalkan meja makan.


***


"Ibuuuuu susu aku manaaaa" teriak Lala dengan hidung yang berair dan wajah yang memerah.


"Susu yang mana?" tanya Ibu


"Susu full creme yang aku beli tadiii..ssshhh...yang satu liter itu loh. Ssshhh" ucapnya


"Oh, itu. Ibu buat kue. Masih belum mateng tuh kuenya" ucap Ibu polos


"Astagaaaaa.. Ibuuu.. Ih!" Lala segera mengambil air minum


"Lain kali tanya dulu dong Bu, main buka saja!" gerutu Lala


"Ya maaf. Kan biasanya juga milikku milikmu, La" ujar Ibu


"Apa sih milikku, milikmu segala" gerutu Lala


"Ya kalau kamu mau pakai gamis Ibu, boleh. Ibu juga kalau mau pake rok span kamu juga boleh kan?" Ibu menghiburnya


"Amit-amit Ibu kader ganjen amat pake rok span segala. Sudah kayak tante-tante tahu Bu"


"Lah, emang Tante-tante. Orang lain kan manggilnya, 'Hai tante.' biasanya gitu kan"


"Astaga.. Terserah ibu dan kawan-kawan ibu yang kece-kece itulah!" Lala malas berdebat lagi


"Kamu makan apa sih?" tanya Ibu


"Mie pedes. Sama kaya omongan Ibu yang suka pedes."


"Bilang dong kalau mau yang pedes itu, gak usah makan mie. Cukup dekati ibu saja" ucap ibu yang membuat Lala menggelengkan kepalanya


'Ibu harusnya ikut geng gesreknya si Mas Pram. Cocok' batin Lala


Lala membereskan mangkuk bekas mie pedasnya.


"Nih baru mateng La" ucap ibu pada sebuah kue dengan aroma menggugah selera.


"Enak banget ini wanginya Bu" ucap Lala seraya memotong kue yang masih panas tersebut.


"Makanya jangan marah-marah dulu. Kue-kue dari Tita Bakery selalu fresh dan nikmat" ucapnya bangga.


"Enak banget." Lala mengacungkan jempolnya.


Lala menonton televisi sedangkan Ibu masih berkutat di dapur. Dia teringat Keenan, segera mengambil ponsel dikamarnya. Ternyata Keenan sudah mengirimnya pesan.


"Honey sedang apa? Sudah makan?" tanyanya.


"Sudah Bee. Barusan makan mie pedes. Bee sudah makan?" balas Lala


"Sudah Hon. Ya sudah, kamu istirahat ya. Besok kan kerja. Maaf besok aku gak bisa antar kamu" ucapnya


"Iya Bee. Gak apa-apa. Habiskan waktumu dengan orangtua. Selamat istirahat Bee." Lala membubuhkan emoji hati dibelakang tulisannya


Lala merebahkan tubuhnya. Dia menatap langit kamarnya namun pikirannya jauh menerawang pada keluarga pujaan hatinya.


'Aku harus gimana kedepannya?' batin Lala


'Salah sendiri kamu La, mimpi ketinggian. Kalau sekelas Ibu Tasya dan Pak Reza mereka memang sama-sama tajir. Gak mungkin minder kayak aku. Lah aku sama Keenan? Bener-bener jauh. Liat wajah orangtuanya juga sudah dingin banget. Hiikksss.. Ngeriii' batinnya


Disisi lain, Keenan duduk di balkon kamarnya. Dia memikirkan cara agar orangtuanya percaya dengan pilihannya. Kali ini Keenan lebih takut harus pergi meninggalkan Lala sesuai perintah Papanya, disaat dia sudah bisa membuka hati untuk gadis periang itu.


'Apa yang harus aku lakukan kedepannya La?' batin Keenan


.


.


.


"Nahloo gimanaaa cobaa? Yuk vote dulu yang banyak. Jangan luap tinggalkan jejak dengan like dan komentarnya. Terima kasih ^^