My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Metode Agar Cepat Hamil



Kali ini, Lala hanya menatap Keenan yang memasukan bajunya ke dalam koper. Raut wajah Lala nampak sedih saat suaminya hendak berangkat keluar kota esok hari.


Keenan meliriknya sesekali, kemudian mendekat. Dia merentangkan kedua tangannya. "Sini" ucap Keenan yang mengerti kesedihan istrinya.


Lala naik ke tubuh Keenan. Dia melingkarkan kakinya layaknya seorang anak. "Kenapa? Kok tumben manja." tanya Keenan heran sambil menggendong istrinya.


"Abang jangan pergi." ucapnya dengan suara tercekat. Dia mengalungkan tangannya di leher sang suami.


"Kalau Abang gak pergi, siapa yang mau ngurusnya lagi, sayang? Papa kan sudah sakit-sakitan. Karina gak bisa diandalkan. Lagi pula Abang kerja buat kita." Keenan mengecup bibir istrinya.


Keenan duduk di sofa setelah dia merasa berat membawa Lala dalam gendongannya.


"Apa kamu mau ikut Abang?" Lala menggeleng seketika.


"Aku ada kuis. Kalau aku banyak bolos, makin lama lagi aku lulusnya."


"Tapi, latihan mobil juga teruskan ya, biar Abang pulang, kamu sudah lancar." pinta Keenan.


Lala hanya menyandarkan tubuhnya di tubuh suaminya. "Tumben kamu manja begini."


Keenan mwngangkat wajah istrinya, dia terus mengecup bibir Lala hingga kecupannya berubah menjadi *******-******* kecil.


Lala memundurkan wajahnya saat Keenan hendak menciumnya kembali.


"Abang janji gak lama disana ya." pinta Lala


"Iya Sayang. Kenapa sih tumben."


"Gak boleh apa, aku khawatir?"


"Boleh banget. Cuma Abang suka jadi kepikiran kalau kamu kayak gini."


"Ya sudah, aku gak mau lagi khawatir!" Lala hendak turun tapi ditahannya.


Keenan menatapnya seraya tersenyum. "Abang sayang kamu. Abang suka kamu yang manja kayak gini. Tapi Abang jadi males mau ninggalin kamu, gak tega." ucapnya seraya mengecup Lala.


"Kencan dulu sebelum berangkat, mau?" ajak Keenan


"Kemana?"


"Terserah kamu."


"Abang, kita kencan pakai motor yuk? Aku kangen motoran."


"Ke rumah mama dulu dong, Yong. Motornya kan disana."


"Huum. Mau nginep disana? Jadi nanti berangkat dari rumah Mama. Gimana?" usul Lala sambil memainkan rambut Keenan


"Memang kamu mau nginep disana?"


"Boleh. Aku belum pernah nginep di kamar Abang."


"Sudah mau setahun, tapi kamu belum pernah nginep di Istana itu? Ter la lu." Keenan menggelengkan kepalanya.


Lala tertawa. "Yang minta nginep terus disini siapa? Serumah sama Ibu juga palingan disana dua hari. Banyakan di Apartemen ini tidurnya."


"Abang maunya berdua terus tanpa ada yang ganggu." ucapnya seraya tersenyum sangat manis.


"Yuk siap-siap dulu." ajak Keenan. "Kamunya turun."


"Enggak. Gendong sampai kamar" rengek Lala.


"Manjanyaa istri si Keenan Wijaya, manusia tampan nan mapan sejagat raya." ucapnya seraya bangkit menggendong Lala. Lala hanya terbahak mendengar kenarsisan suaminya.


Mobil Keenan kini berhenti tepat di gerbang kokoh yang menjulang tinggi. Dengan satu kali klakson, gerbang tersebut terbuka secara otomatis. Salam hormat dari sang penjaga rumah menyapa mereka walaupun Keenan sama sekali tak membuka kaca mobilnya.


"Kamu kebiasaan deh, buka kaca kek. Sapa kek. Sombong banget Tuan Muda."


"Sudah biasa. Mereka saja gak protes."


"ya iyalah, kalau protes paling di pecat." gerutu Lala.


Keduanya masuk ke dalam rumah yang noak sepi.


"Mama mana?" tanya Keenan pada pelayan dirumah mereka.


"Nyonya di ruangannya, Tuan Muda. Saya beritahu Nyonya terlebih dahulu." ucap wanita dengan memakai rompi berwarna merah.


'Hebat! Kerja dirumah saja di seragam semua kayak orang mau sekolah.' batin Lala.


"Gak usah. Biar saya yang kesana."


Keenan menggenggam tangan Lala menuju pintu ruangan disamping kamar orangtuanya.


"Ruang apa ini Bee? Kaya masuk ke ruangan kantor aku dulu, pakai fingerprint segala." tanya Lala yang merasa takjub.


Keenan tersenyum mendengar omongan Lala. "Begitulah ulah mertuamu. Harta karunnya di timbun didalam sana."


Keenan mengarahkan jempolnya di alat sensor tersebut. Namun pintu enggan terbuka.


" Astaga.. Cuma Mama yang bisa masuk kesana." Lala semakin penasaran dengan tempat harta karun yang dimaksud Keenan.


Keenan memanggil pelayan tadi, pelayan tersebut mengeluarkan kartu kecil dan menempelkannya disana.


"Kamu jangan kaget" ucap Keenan sambil memegang handle pintu.


Baru melangkahkan kakinya, Lala sudah dibuat takjub dengan ruangan tersebut.


"Astaga. Ya Tuhan.. The real of Nyonya Besar." gumamnya seraya menutup pintu.


Dua orang pelayan memberikan salam hormat saat melihat Keenan dan Lala masuk.


Ruangan luas berlantai kayu dengan rak-rak bersekat di setiap sudutnya. Di tengah ruangan terdapat lemari besar yang terbuat dari kaca transparan. Semua rak tersebut berisi tas dengan berbagai model dan berbagai warna.


"Astaga Bee, Mama jualan tas?" Lala berbisik pada Keenan.


Keenan tersenyum. "Sudah aku bilang sama kamu, Mama gak bisa berhenti belanja. Dan itu hasilnya." Keenan tak kalah berbisik.


"Mama dimana?" tanya Keenan pada pelayan yang sedang membersihkan tas Mamanya.


"Di ruang sebelah, Tuan."


Keenan mengajak Lala masuk ke dalam pintu penghubung ruangan lain.


"Astaga.." Lala tak kalah terkejut.


Deretan sepatu berjejer di setiap rak. Satu pasang sepatu tersekat dengan sepatu lainnya. Sama halnya dengan yang dilihatnya dibagian tas tadi.


"Lala.. Ya ampun. Mama kangen banget sama kamu" Mama menghampiri Lala yang masih terkejut, dia memeluknya.


"Aku juga kangen, Ma. Makanya aku ajak Abang kesini."


"Memang jahat banget Abang kamu! Sampai-sampai dia gak pernah pulang." Mama memukul lengan Keenan. Keenan hanya tersenyum.


"Mama lagi sibuk?"


"Enggak. Mama lagi bersih-bersih saja. Sini." ajaknya.


Lala tersenyum saat melintas pada dua pelayan lainnya.


Mama mengajaknya masuk ke ruangan baru lainnya yang berisi wadrobe miliknya. Dia mengajak Lala duduk di sofa besar berwarna merah.


'Sumpah, semua kayak buat jualan.' batin Lala nampak takjub.


"Gimana kuliahmu?"


"Lancar Ma."


"Aku mau ke luar kota besok pagi. Makanya kita kesini dulu." ucap Keenan tiba-tiba.


"Lama?" tanya Mama menatap Keenan yang iseng mengambil salah satu Boater (Topi yang terbuat dari jerami yang dianyam) milik Mamanya.


"Seminggu." ucapnya seraya memakai topi sang Mama. Keenan menatap dirinya dipantulan cermin besar.


"Hon" Keenan tersenyum pada Lala memperlihatkan dirinya.


"Sudah jadi suami, kelakuannya gak pernah berubah." gerutu Mama.


"Kalau aku seserius Papa, kasihan Lala. Nanti cepat tua." Keenan melirik istrinya kembali.


"Lala mau nginep disini selama Keenan gak ada?" tanya Mama penuh harap.


"Kasihan Ibu di rumah sendirian, Ma."


"Oh iya."


"Tapi malam ini, kita nginep disini, Ma." ujar Lala yang membuat Mama tersenyum seketika.


"Serius?"


"Iya. Tapi kita mau pergi dulu, Ma. Mau pacaran dulu dong, sebelum nanti pisah."


"Pacaran di rumah kan bisa."


"Ck..yang ada Lala direcokin Mama. Enggak ah."


"Yang jelas, nanti makan malam harus dirumah." tegas Mama.


Mama menekan tombol yang berada di samping dinding ruangan. "Iya Nyonya Besar?" terdengar jelas suara pelayan dari sana.


"Buatkan makan malam spesial." ucapnya.


'Makan malam saja ada spesialnya?' Lala yang tak sering ke rumah mertuanya masih merasa takjub dengan semua yang ada di Istana tersebut.


Mama masih mengajak Lala ngobrol disana sementara Keenan yang bosan nampak berkeliling.


"Nanti saja sih, Bang." Mama kini ikut memanggil Abang pada Keenan.


"Katanya makan malam disini. Aku mau pacaran dulu dong, Ma." protes Keenan.


"Kamu gak bisa ya, lihat Mama senang sedikit." gerutu Mama. Namun Keenan terus mengajaknya pergi hingga akhirnya keduanya pamit pada Mama.


"Abang, barang Mama banyak begitu, kalau misalkan ada yang hilang bakal ketahuan gak sama Mama, Bang?" tanya Lala seraya menempelkan dagunya di bahu sang suami. Kini mereka berada di atas sepeda motor sesuai keinginan Lala.


"Tahu lah dia mah."


"Tahu dari mana?"


"Itu kan disana ada tablet. Semua barangnya dia foto satu-satu berikut harganya. Terus ada draftnya juga."


"Astaga sumpah ribet banget. Tas butut aku menangis minder lihat itu kayaknya." Keenan terbahak.


"Beli lah. Abang gak pernah larang kamu belanja. Kamu mau ikuti jejak Mama juga, Abang sanggup. Cuma masalahnya, kamu gak kayak Mama yang mikirin besok harus pakai baju apa, tas apa."


"Iya lah, ribet banget kalau kayak begitu."


Keenan meraih jemari istrinya yang sedang memeluk tubuhnya. Dia mengecup lembut tangan sang istri kemudian memasukannya di balik saku hoddie miliknya sambil menunggu lampu hijau menyala.


'Hati adek berdesir Bang, Abang cuma gitu doang juga.'


Lala semakin merekatkan pelukannya dari belakang. Keenan meliriknya sepintas, dia mengusap lembut dengkul Lala.


"Abang i love you unlimited." ucap Lala membuat Keenan tersenyum sambil mengarahkan spion untuk menatap wajah istrinya.


Mereka tiba di Taman Kota. Hiburan gratis yang membuat Lala tersenyum saat mengenang masa-masa dulu bersama Keenan disana. Lala duduk sambil menyaksikan suaminya ikut bergabung bermain futsal bersama anak-anak.


"Fiuuuhh.. Capek." Keenan membuka hoddie miliknya, melemparkannya pada sang istri. "Aku beli minum dulu, Yong."


"Abang beli cilok, Bang." pinta Lala pada Keenan.


"Astaga.." Keenan akhirnya mengalah saat Lala menunjukan wajah memelas. Dia memesan cilok yang tak jauh dari tempatnya.


"Nih."


Lala mengambil plastik berisi cilok dari Keenan.


"Apa enaknya sih? Cuma tepung dikasih bumbu kacang."


"Enaklah. Kenyal, terus ah nikmat pokoknya." ucap Lala sambil memakan cilok miliknya.


"Lebih kenyal punya Abang. Sayang cuma bisa disedot sambil dimainin doang gak bisa di makan." ucapnya seraya bergantian menatap manik Lala kemudian turun ke dada istrinya.


"Astaga si Bambang kesana mulu."


"Sayang, nanti kita coba di kamar Abang." Keenan tersenyum penuh arti.


"Enggak ah. Nanti Mama dengar."


"Gak mungkinlah. Ngaco kamu." Lala terbahak.


"Abang nanti beli tisu galon ya." Keenan menaik turunkan alisnya


"Gak mau, kamu besok harus berangkat lebih pagi. Bisa-bisa ketinggalan pesawat!"


"Biar Abang puas sebelum puasa seminggu, Yong."


"Puasa seminggu doang ngeluh!"


***


Menjelang petang, keduanya kini kembali pulang.


Lala membantu mertuanya menyiapkan makan malam. Sementara Keenan berbincang dengan Papanya di ruang keluarga.


Keenan tak banyak menghabiskan waktunya meja makan. Dia segera menarik lengan Lala ke kamar miliknya membuat orangtuanya menggelengkan kepala.


"Aku malu sama Mama Papa, lagi ngobrol juga kamu ngajak ke kamar terus. Kamu kenapa sih Bang?"


"Abang mau habiskan waktu berdua. Bukan mau kumpul keluarga."


"Egois banget sih, Bee!"


"Egois? Awas saja ya, kalau nanti kamu yang merengek bilang kangen." ketus Keenan.


"Lagian kamu disini juga cuma main game!" Lala tak. Kalah ketus saat Keenan asik di depan PC miliknya.


"Hehe.. Sebentar Yong."


Lala yang kesal menarik kursi milik Keenan. Dia duduk dipangkuan suaminya.


"Abang lihat aku saja!" Lala menarik wajah Keenan agar menatapnya.


"Sebentar. Tanggung Yong." Keenan berusaha melirik layar monitor dihadapannya.


"Game atau aku!" ancam Lala hendak turun dari pangkuannya.


"Kamu lah." Keenan mengangkat tubuh istrinya ke atas kasur.


Keenan mulai mencumbu istrinya dengan penuh gairah. Seperti biasa dia melakukan f*replay sebelum menyatukan diri bersama istrinya hingga nafas mereka terasa berat dan menuntutnya merasakan surga dunia yang tak pernah puas mereka raih.


Keenan mengangkat sebelah kaki Lala, menggantungkan dibahunya sambil terus bergerak semakin cepat hingga keduanya mengerang bersama dengan nafas tersengal.


"Angkat kedua kaki kamu ke tembok Yong" ucap Keenan dengan nafas masih tersengal. Lala melakukan yang diminta suaminya.


"Ganjal pinggul kamu pakai ini" pintanya lagi seraya mengarahkan bantal ke bawah pinggul Lala, dengan refleks Lala mengangkat pinggulnya.


"Gitu saja dulu 20 sampai 30 menitan Yong." pinta Keenan.


"Biar cepat hamil ini, Bee?" tebak Lala


"Iya sayang."


"Tahu dari mana kamu, Bee?"


"Abang baca-baca saja, kata Christopher Williams, M.D., seorang ahli endokrinologi reproduktif dari Charlottesville, Virginia, biar cepat hamil katanya."


"Gila, Abang sampai hafal gitu namanya."


"Kamu lupa kalau Abang jenius?" Lala menyebikan bibirnya mendengar Keenan yang memuji dirinya sendiri.


Keenan ikut melakukan hal yang sama dengan istrinya.


"Abang jorok, bukannya cuci dulu."


"Nanti bareng kamu aja, Yong."


"Abang, mau aku cepat hamil?"


"Hmm.. Gimana ya? Kadang Abang mau kamu fokus kuliah dulu, tapi kadang, Abang penasaran saja ingin lihat seperti apa sih wajah anak kita."


"Kalau aku gak bisa hamil gimana? Apa Abang mau nikah lagi?" tanya Lala dengan suara pelan.


"Enggaklah. Satu saja cerewetnya minta ampun. Lagipula, masih banyak metode yang bisa kita gunakan. Untuk saat ini, Abang lakukan ini dulu. Sesuai permintaan kamu yang gak mau ke dokter sebelum setahun pernikahan kita."


"Jangan stres, Hon. Kita berdua saja sudah rame. Dikasih cepat syukur, enggak juga ya kita usaha terus."


"Kapan coba Abang liburnya!" gerutu Lala


"Kalau kamu datang bulan lah!"


"Tapi Abang kayaknya ngarep banget aku hamil."


"Wajar kan Yong. Masa sih, tembakan sudah jitu masih belum bisa bikin perut kamu buncit juga."


"Kalau aku yang bermasalah gimana?"


"Kita usaha terus, sayang. Pengobatan medis sekarang sudah canggih. Sudah jangan mikir yang enggak-enggak. Kalau stres nanti gak jadi." gerutunya.


***


Lima hari sudah, Lala ditinggal Keenan pergi keluar kota. Seperti biasa mereka berkomunikasi melalui videocall, telepon, dan chat.


"Laaa.. Kamu gak mau bangun?" ibu mencolek bahu Lala yang masih berbaring di kasurnya.


"Ibu, aku gak enak badan, Bu. Badan aku rasanya sakit semua."


"Makanya jangan terlalu capek. Banyak kegiatan sih!"


"Ya kan aku punya tanggung jawab lain, Bu. Masa aku dilimpahkan KP, aku cuek-cuek saja." gerutu Lala.


"Ya sudah, sarapan terus minum obat. Habis itu istirahat lagi." ucap Ibu seraya keluar kamar Lala.


Ibu kembali ke kamarnya, dia menatap Lala. "La, apa Jangan-jangan kamu hamil?" tanya Ibu.


.


.


.


Jamaaahh nungguin yaaaa? Kuuy ritual Kita seperti biasa.


Rate, like, komentar, vote, vote, voteee yang buanyaaakkkk...


Oya, follow my igeh : only.ambu


Terima kasih, i love u unlimited^^