
Keenan Pov
Aku tak habis pikir, saat Lala berkata kalau aku sudah tak mencintainya. Jelas tersirat kata perceraian dari dirinya yang tertahan, membuatku takut kata itu terlontar begitu saja. Sungguh, seketika lututku lemas. Jantungku berdegup tak karuan bercampur dengan emosiku yang juga belum mereda.
Kututup mataku, aku harus berpikir dengan akal sehat. Kali ini, sekali lagi, rumah tanggaku diujung tanduk.
Dengan kebodohan atas kekhilafanku. Tapi sebentar, apakah harus dibilang khilaf? Aku bahkan tak pernah menyentuh wanita lain. Aku hanya tak kuasa untuk menolak permintaan Pak Josef, partner bisnisku saat menitipkan anaknya, Jesica, kepadaku. Dia memintaku agar membimbing anaknya menghandle project kami. Mau tak mau, aku harus berkomunikasi dengannya lebih intens.
Aku hanya membalas pesannya, berusaha menjadi partner yang baik untuk rekanku. Dan satu hal yang membuat Lala salah faham, aku hanya membukakan pintu mobil untuk wanita itu. Itu hanya refleks saja. Saat itu, kita duduk di kursi belakang karena Jesica meminta sopir pribadinya yang mengemudi.
Diluar perkiraanku, Jesica ternyata bertanya hal lain. Dia bertanya aku sedang apa? apakah aku sudah makan atau belum? Dan aku hanya menjawab hendak makan siang seketika dia mengajakku makan bersama dan lagi-lagi untuk membahas project kami. Tapi menurutku masih wajar, karena Aku dan Jesica tak pernah membahas masalah pribadi. Kalau memang wanita itu tertarik padaku, tolong jangan salahkan aku, Mom. Karena pesona suamimu ini memang luar biasa.
Aku tak tahu, kenapa Lala bisa menyimpulkan aku membalas pesan pada Jesica lebih halus dan lebih lembut. Masa iya, aku harus berbicara informal pada Jesica? Sekalipun dia memanggilku Mas secara tiba-tiba, aku tak bisa mempermasalahkan hal itu. Aku tak mau bersikap kekanak-kanakan hanya karena aku mempermasalahkan panggilannya kepadaku.
Jujur saja, saat berjumpa Jesica, dia mengingatkanku pada Tasya. Tutur katanya yang halus, serta pembawaannya yang anggun membuatku terpesona. Tak kupungkiri, mereka memang seleraku. Ku akui, aku juga bersalah telah membalas pesan wanita lain diluar jam kerjaku.
Aku hampir saja hilang akal saat bersamanya, aku menikmati perbincanganku dengan Jesica. Tapi saat aku bertemu Lala di Mall tempo lalu, aku sedikit tersentak. Kehadirannya seolah menamparku agar aku tersadar, aku bukan lelaki single lagi. Apalagi saat ku lihat Kenzie tertawa senang berlari ke arahku. Rasanya aku begitu berdosa telah berduaan dengan wanita lain selain dirinya. Sekalipun itu murni hanya urusan bisnis. Dan sekali lagi ku tekankan, aku tak pernah menyentuhnya sama sekali.
Kulihat mata Lala mengguratkan amarah. Tapi aku tahu, wanitaku akan memarahiku habis-habisan saat aku tiba dirumah nanti. Dia akan melampiaskan kemarahannya dan dengan mudah memaafkanku serta melupakan masalah kami. Sesimple itulah istriku.
Tapi saat aku pulang ke rumah, dia sedang duduk seorang diri. Kulihat matanya sembab. Aku tahu, penyebabnya pertemuan tadi di Mall. Aku sengaja tak membahasnya terlebih dahulu, aku tak mau menyulut emosinya. Aku hanya tak mau Lala akan berteriak-teriak memakiku ditengah malam. Rasanya aku lelah membayangkannya. Aku hanya berusaha menenangkan pikirannya dengan memeluknya. Walau kami seperti bermain memeluk dan melepas tangan, tapi aku tetap ingin memeluk wanitaku. Memberikan kenyamanan padanya.
Hari berganti, Lala seolah menghindariku. Dia bahkan tak menatapku saat berbicara. Aku merasa tak tenang. Beberapa hari bekerja rasanya ada yang mengganjal dihatiku. Aku ingin sekali bertanya padanya. Apadaya kesibukan yang menahanku. Karena aku tahu, membujuknya butuh waktu khusus berbicara dari hati ke hati. Bukan sekedar bertegur sapa biasa.
Hingga akhirnya aku tak tahan dengan perubahannya. Aku meminta sekretarisku mengosongkan jadwalku walau dengan konsekuensi yang harus aku tanggung. Aku tak sabar menunggu hari esok. Pagi-pagi sekali, aku sudah berpakaian rapi, seolah aku akan berangkat ke kantor.
Aku pura-pura menawarkan diri mengantarkannya ke Kampus. Tapi diluar dugaanku, dia menolaknya. Kali pertama, dia menolak ajakanku setelah menikah. Kenapa dia begitu menghindariku?
Untungnya Ibu mertua memberiku angin segar. Lala akhirnya mau duduk bersama didalam mobilku. Selama diperjalanan, Lala terus memandang ke arah samping. Lala yang cerewet entah hilang kemana? Aku sangat merindukan suaranya, tawanya, serta rayuan nakal dari mulutnya.
Aku berusaha memancingnya, dengan menyatukan jemari kami. Dia hanya memandangnya sekilas tanpa protes. Ah, ada apa ini? Aku sungguh tak paham hati wanitaku yang saat ini menjadi sulit ku tebak.
Tiba di apartemen, aku mengajaknya bicara, ternyata dia begitu cemburu dengan wanita yang menurutnya lebih cantik darinya. Dia seolah menuduhku, kalau aku berselingkuh. Sungguh, sedangkal itu pikirannya hingga mengatakan aku tak mencintainya lagi.
"Atas dasar apa, kamu bilang bahwa aku tak mencintaimu lagi?" Ucapku selembut mungkin. Ku tahan kembali amarahku.
"Apa kurang jelas, bukti kalian berbalas pesan, makan berdua di Mall. Tapi ya, kamu sedang jatuh cinta Keen, jadi kamu gak akan merasa bersalah." ucapnya.
"Jatuh cinta? Aku?" sengaja ku tunjuk wajahku.
"Astaga! Jatuh cinta membuatmu lebih t*lol ternyata!" gumamnya yang masih terdengar olehku.
Aku beranjak dari dudukku. Ku berlutut dihadapnnya agar aku bisa melihat netranya yang dipenuhi amarah. Lala memalingkan wajahnya ke arah lain. Nampak jelas dia sedang menahan tangisnya.
Ku gerakan dagunya agar dia menatapku. Seketika pandangan kami bertemu.
"Aku cuma cinta kamu, Lashira." Ku raih tangannya tapi dia memberontak. Ku paksakan tangannya hingga menyentuh dadaku. "Disini cuma ada kamu." ucapku sungguh.
Lala menatapku dengan air mata yang mulai menggenang dimatanya. Seketika, hatiku ikut sakit melihatnya begitu terluka.
***
Lala Pov
"Kamu.. Bohong!" satu bulir air mataku lolos begitu saja.
"Kamu.. Sudah berkhianat, Keen. Demi Tuhan, aku benci kamu." kali ini air mataku terus mengalir, tak bisa ku tahan lagi.
'Aahh..air mata si*lan! Kenapa gak bisa berhenti sih? Aku ingin terlihat tegar dimatanya. Aku ingin terlihat baik-baik saja. Tapi pada akhirnya, aku terlihat begitu rapuh olehnya.'
Keenan memejamkan matanya, kulihat kilatan aneh dimatanya saat dia membuka matanya kembali. Dia mengusap pipiku yang basah.
"Aku minta maaf, jujur aku hampir khilaf. Aku menikmati kebersamaan dengan Jesica. Tapi kehadiranmu dan Kenzie menyadarkanku. Dan Demi Tuhan, aku tidak pernah menyentuhnya sama sekali, Mom. Aku juga tidak pernah bicara hal pribadi selain berbalas pesan seperti yang kamu lihat. Aku juga gak pernah menulis pesan kepadanya terlebih dahulu seperti yang kamu tahu." ucapnya yang membuat hatiku semakin sakit akan pengakuannya.
Dia bilang hampir khilaf? Astaga! Rasanya hatiku tercabik-cabik.
"Maafkan aku. Aku hanya..aku.."
"Kenapa menikahiku kalau tipe wanita idamanmu seperti itu, Keen? Wanita-wanita anggun yang berkelas. Bukan seperti aku, anak pinggiran." sekuat hati, ku ucapkan kalimat itu.
Saat bertemu Jesica pertama kali, aku langsung hafal, wanita tersebut tipe ideal Keenan. Sama seperti mantan kekasihnya dulu. Aku bahkan tak mengerti, kenapa Keenan menikahiku yang jauh dengan tipenya. Aku gak cantik, aku cerewet, aku berisik, aku yang suka mengekspresikan segalanya. Rasanya aku begitu minder saat bertemu wanita itu. Terlihat dia high class dari penampilan.
"kamu bisa saja menjadi diri sendiri tanpa menikahiku, Keenan" ucapku lirih. Rasanya aku tak puas mendengar jawabannya.
Dia hanya terdiam menatapku. Aku gak tahu, apa yang ada di pikiran suamiku. Sungguh, dia membuatku frustasi.
***
Author Pov
Keenan menarik nafasnya dalam. Sementara Lala masih sibuk mengusap air matanya yang tak henti mengalir.
"Setelah kejadian di Mall itu, Jesica baru mulai berani bertanya tentang masalah pribadi. Berapa lama aku menikah? Kenapa aku menikah muda? Kenapa aku memilihmu? Hingga kita membahas Kenzie dan segala macam." ucap Keenan menatap Lala.
"Kamu tahu apa jawabanku untuknya?" Keenan menatap Lala pekat sementara Lala membisu. "Tolong tatap aku, Mom" pintanya.
"You're my sunshine after the rain"
(Kau adalah sinar mentari sehabis hujan)
"You're the cure against my fear and my pain"
(Kau adalah obat pengusir rasa takut dan sakitku)
"Cause I'm losing my mind when you're not around"
(Karena pikiranku kacau saat kau tak di dekatku)
"It's all.. It's all because of you."
(Semua ini.. semua ini karenamu)
"You're my sunshine"
(Kau adalah cahaya mentari)
"Baby I, really know by now"
(Kasih, aku sungguh mengerti kini)
"Since we met that day, you show me the way"
(Sejak kita jumpa hari itu, kau telah tunjukkan aku jalannya)
"I felt the day you gave me love "
(Kurasakan hari saat kau beri aku cinta)
"I can't describe how much I feel for you"
(Tak bisa kugambarkan betapa besar perasaanku padamu)
~98° - Because Of You~
Satu bulir air mata Keenan lolos.
.
.
.
Aahh.. Bukan air mata Keenan saja yang lolos. Huhuhu.. Tiga chapter sukses mengaduk emosikuu..
So, jangan lupa komentar, like, voteee yang banyaaaaakkkk.
Jangan lupa follow my igeh : only.ambu
Terima kasih^^