
Kali ini, dua keluarga berkumpul kembali untuk melihat Mini sang pewaris. Mereka nampak bahagia walaupun ada sedikit kecanggungan. Sesekali mereka berinteraksi hanya karena melihat Mini yang begitu menggemaskan saat dia menggerakan organ tubuhnya.
Sesuai instruksi dari Tuan Besar Wijaya, Lala dipindahkan dari ruang VVIP ke ruang rawat inap Predisent Suite dengan fasilitas layaknya hotel bintang kejora hanya untuk memanjakan sang pewaris yang menjadi sumber kebahagiaannya kali ini. Walaupun sebenarnya hal itu tidak berpengaruh oada bayi berpipi gembul tersebut karena dia tetap ditempatkan di box bayi.
Pak Wijaya dan Keenan sibuk menerima telepon ucapan selamat dari rekan bisnis mereka. Sementara Lala, Ibu, dan Mama sedang menikmati cake kesukaan Lala yang dibawa oleh mertuanya. Berbagai macam makanan mewah terhidang di kamar yang Lala tempati hanya untuk memanjakan sang menantu agar memberikan asi terbaik untuk sang pewaris. Bi Ijah nampak terkagum-kagum karena baru kali ini ia berada ditengah-tengah sang penguasa.
Keenan menghampiri istrinya, dia duduk disamping Lala kemudian merangkulnya mesra.
"Jadi siapa nama anak kalian?" tanya Mama. Semua mata tertuju pada pasangan orangtua baru itu.
Keenan dan Lala saling melirik. Pak Wijaya baru saja menutup ponselnya ikut mendengarkan seraya mengambil anggur dan memasukan ke dalam mulutnya.
"Namanya gabungan dari dua keluarga. Karena Ayah Lala orang Jepang, kita ambil nama depannya dari nama Jepang. Dan pastinya nama belakangnya ikut keluarga kita." ucap Keenan menatap Mamanya.
"Ya siapa namanya?" tanya ibu tak sabar
"Kenzie Aksa Wijaya." ucap Keenan melirik Lala.
"Hmm..Jadi nama kamu Kenzie." Mama mengambil cucunya dari box bayi. "Kamu di gendong Memo, sayang." Mama Keenan memperkenalkan dirinya.
"Memo apa? Memorial?" celetuk Keenan tanpa rasa bersalah.
"Abang!" Lala menyubit lengan suaminya, seketika itu juga Keenan mengaduh.
"Mulutnya Keenan memang dari dulu minta di sambelin. Sudah jadi bapak juga omongannya gak bisa dijaga." ketus Mama tak terima.
"Maaf, becanda Ma." ucapnya seraya mendapat pelototan maut dari sang istri.
"Yah, setidaknya nama anaknya tidak ngaco seperti nama panggilannya waktu dikandungan." timpal Ibu.
"Memang panggilannya apa, Bu?" Mama begitu penasaran. Dia menatap Ibu.
"Mini. Entahlah, saya ingatnya tikus filmnya anak-anak." ucap Ibu membuat Lala menahan senyumnya.
Mama terbahak. "Otak saya juga langsung teringat ke serial kartun itu." ucapnya.
Perbincangan itu berlanjut hingga petang dan mereka membubarkan diri masing-masing untuk memberikan ruang pada pasangan yang baru menjadi orang tua.
***
Tiga hari sudah mereka menghabiskan waktunya dirumah sakit. Lala dan Keenan sudah mulai beradaptasi dengan hadirnya Kenzie yang mengharuskan mereka bangun tengah malam. Pak Wijaya dan Keenan tak mengizinkan siapapun untuk menjenguk Lala dan Baby Kenzie kecuali orang yang benar-benar dekat dengan mereka.
Mama dan Ibu begitu kompak bergantian mendampingi Lala. Ternyata, menjadi orangtua baru, tidaklah mudah. Lala kini merasakan sakit dan demam ringan akibat Breast engorgement yaitu pay*dara membengkak akibat ASI berlebih dan tidak dikeluarkan.
"Kenapa sih Mommy gak serahin masalah itu sama Daddy saja?"
"Masalah apa?" tanya Lala, melirik suaminya yang berjalan mendekat.
"Masalah itu." Keenan mengangkat alisnya, bola matanya tertuju pada dada Lala yang membengkak.
"Ih kamu mes*m!"
"Daddy cuma bantu sedot doang terus buang. Janji gak di telen kalau gak bablas." ucapnya santai.
"Astaga, Abang! Kamu sudah punya anak juga pikirannya masih seperti itu!"
"Loh? Kan cuma bantu. Kamu di pompa gak mau, bilangnya sakit, kan? Ya sudah Daddy yang sedotin biar gak berasa sakitnya." keenan mendorong bokongnya duduk di kursi samping Lala. "Yakin deh, Mommy gak bakal kesakitan kalau Daddy yang bantu. Yang ada mendesah keenakan. Percaya sama Daddy." ucapnya serius.
"Abang ih! Ngaco terus dari tadi. Sana ambilin minum saja. Aku haus." pinta Lala.
Keenan yang baru saja duduk, mau tak mau dia bergerak menuju lemari es mengambil air minum yang di minta Lala tanpa membantah. Bersamaan dengan itu, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Mereka saling pandang. "Siapa Dad?" tanya Lala.
"Mana Daddy tahu, suster kali."
"Kalau suster ketuk pintu langsung masuk, Daddy."
"Mungkin Mama atau Ibu." ucapnya cuek kembali menatap lemari es.
Tok.. Tok.. Tok..
"Astaga Daddy Kenzie! Bukain dulu pintunya. Siapa tahu ada tamu." ketus Lala sambil menahan sakitnya.
"Gak mungkin Say...oke" ucapnya saat mendapat pelototan dari sang istri.
Keenan membuka pintu kamar.
"Surpriseee" Dua makhluk luar angkasa berpose memegang kedua pipinya masing-masing agar terlihat menggemaskan sambil mengerjapkan mata mereka.
"Kampr*t!" Keenan menjitak kepala kedua temannya.
"Ngapain? Bini aku lagi sakit. Sana pulang!" usir Keenan.
"Mereka loh yang mau ketemu Lala." Mas Pram dan Bang Al menyisi, menunjukan dua gadis yang tersenyum kepadanya.
"Loh?" Keenan menunjuk salah satu dari mereka karena merasa tak asing.
"Hehe.. Aku cuti Mas." ucapnya seraya menunjukan dua jarinya membentuk huruf V.
"Masuk. Lala sedang kurang sehat." ajak Keenan.
"Iyalah, dia masih lemah akibat perbuatanmu. Dia menanggungnya lebih dari sembilan bulan. Sungguh teganya seorang Keenan Wijaya" ucap Bang Al
"Padahal enaknya gak nyampe 24 jam, tapi leganya luar biasa." ujar Keenan mendekati istrinya.
Lala manatap Keenan bingung hingga pandangannya teralihkan pada orang-orang yang dikenalnya.
"Loh? Renata?" Lala menunjuknya kemudian matanya beralih pada sosok yang sering dia jumpai. "Tiara!"
"Hehe.. Mbak Lala, annyeong."
"Annyong.. Annyong.. Monyong lu!" ketus Keenan
"Kamu? Bang Al?" Lala sedikit meninggikan suaranya "Astaga.. Sshh.." Lala meringis saat saat dadanya tersenggol oleh tangannya sendiri.
"ih kenapa Mbak?" keduanya panik saat Lala meringis.
"Gak apa-apa." ucap Lala cepat.
"Jangan banyak gerak dulu deh. Kesenggol kan?"
"Abang naikin." pinta Lala.
"Astaga sayang, banyak orang kamu minta dinaikin sekarang."
"Abang ih! Kasurnya! Kamu mah gak tahu malu!"
"Otaknya sudah traveling kemana-mana, Bro Keen." ucap Mas Pram dengan tawanya
"Sepertinya efek puasa Mas, harap Maklum." Bang Al menimpali.
"Itu." Lala menunjukkan dengan dagunya. Mereka mengikuti arah pandang Lala.
"Ih, masa tadi kita gak lihat." keempatnya menuju box bayi.
"iiihhh lucunya.." Tiara cekikikan.
"Jangan berisik!" ketus Keenan.
"Kenzie Aksa Wijaya" Renata melafalkan nama anak mereka.
"Haii Baby Kenzie, Noona disini." Tiara mendominasi Baby Kenzie.
"Sejak kapan nama kamu berubah jadi Nuna?" Lala meniru Ibu saat menyidir Keenan dulu.
"Ih Mbak Lala gak gaul deh. Noona itu kakak." gerutunya.
"Loh? Bukannya kemarin kamu ingin dipanggil Ahjumma (Bibi)?" Lala dan Renata tertawa.
"Enak aja. Masih perawan gini."
"Hiiiww...kode tuh Bang Al." goda Lala
"Ih.. Apa sih Mbak.. " Tiara nampak malu.
" Jadi selama ini modus Bang Al nyari Keenan ke KP?" goda Lala.
"Serius Mom?" Keenan nampak kaget karena selama ini tak tahu.
"Apa sih La." Bang Al nampak malu.
"Sudah mau akhir tahun nih, kalian kawin masal lah, aku yang tanggung biayanya." ujar Keenan.
"Wah? Serius?" Mas Pram nampak berbinar saat menatap Keenan, kemudian pandangannya beralih pada Bang Al. "Yuk Bang?" Ajak Mas Pram.
"Tol*l, ngajakin aku. Tuh Renata yang di ajak." Bang Al menoyor pipi Mas Pram.
"Haha.. Renata pasti mau. Iya kan, Ren." Mas Pram mengedipkan sebelah matanya pada Renata kemudian mendapat sorakan dari mereka. Seketika Kenzie menangis.
"Astaga lupa ada bayi." mereka nampak panik.
Keenan dengan segera mengangkat Kenzie dan menggendongnya. "Daddy disini, Bro. Jangan takut." ujarnya seraya menimang Kenzie yang seketika berhenti menangis.
"Mbaak Lala.. Bang Keenan so sweet." Ujar Tiara seraya mengguncang tubuh Renata.
"Ih, kamu. Kok tubuh aku sih yang di guncang." protesnya
"Hus! Kamu jangan gitu Tiara. Bang Al nanti cemburu lagi sama aku kayak dulu." ujar Keenan.
"Please! Itu masa lalu, oke?" Bang Al protes. "Sekarang kamu sudah jadi Bapak-bapak, gak mungkin bisa jadi sainganku."
"Tapi Bang Keenan hot Daddy tahu." Ceplos Tiara dengan polosnya.
"hahaha... Gilaa Bro Keen masih laku saja. Si Tiara belain lagi"
"Tiara yuhuuu... Senggol bacok Neng." Lala memainkan alisnya.
"Hahaha.. Pawangnya turun tangan." mereka terbahak membuat Baby Kenzie kembali menangis. Kali ini tangisannya susah dihentikan.
"Sini, biar dia minum asi dulu" pinta Lala.
"Sana, kalian tunggu di sofa. Nonton dulu kek! Masa mau nontonin istri aku." ketus Keenan.
"Kita kan cewek. Gak apa-apa kali Bang. Aku penasaran." ujar Renata.
Renata dan Tiara setia mendampingi Lala. Sementara Mas Pram dan Bang Al pindah ke depan televisi.
Keenan duduk disamping Lala, lengannya diremas Lala saat Lala mengasihi Kenzie.
"Mbak? Apa mengasihi sesakit itu?" Tiara nampak sedikit tegang.
"Enggak. Ini karena bengkak saja." ucapnya menahan sakit.
"kok aku ngilu ya Mbak." Renata ikut meringis
"Suster belum kasih obat lagi sayang?" tanya Keenan.
"Belum. Sejam lagi kayaknya."
Tiara masih kagum terhadap Keenan. "Idaman banget sih Bang Keen" ucapnya seraya tersenyum.
"Astaga. Dia mau nikung aku terang-terangan begitu." Lala berdecak. Sementara mereka tertawa membuat Baby Kenzie menggerakan tubuhnya spontan karena kaget.
"Sana. Sana. Kasihan kan anak aku!" gerutu Lala.
"Hehe.. Sorry Mbak."
"Kenapa bisa si Bang Al sama Tiara, Mom?" tanya Keenan setelah tim rusuh bubar.
"Bang Al suka ke KP, modus nanyain kamu. Tahunya memang mau ketemu Tiara." Lala mengelus kepala anaknya sambil mengasihi.
"Haha.. Dari dulu itu dia ngincer kali Mom."
"Kapan?"
"Waktu soft opening. Masa lupa?"
"Oh iya. Mudah-mudahan berjodoh deh. Tiara anak baik, humble pula. Ssshhh..." Lala meringis.
"Kenceng banget sih Bro. Mommy kesakitan tuh. Yang lembut kalau sama cewek. Nanti Daddy ajarin." Keenan menjawil pipi anaknya yang sedang minum asi.
"Daddy ngajarinnya yang gak bener terus! Gimana sih!"
"Edukasi Sayang. Kan biar lemah lembut sama Mommy. Buktinya Mommy sama Daddy gak pernah sampai meringis begitu." Keenan merosotkan tubuhnya sambil menggesekan hidung mancungnya ke pipi Kenzie.
"Edukasi terlalu dini. Ngaco!" ketus Lala
.
.
.
Ayoo yang mau sapa Baby Kenzie silahkan dikomentaar. Jangan lupa like dan vote yang buanyaaakk...
Terima kasih ^^