My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Keenan Cemburu



"Eh, La." Mas Pram nampak tak enak saat Lala memeluk lengannya. Tatapan wanita disebelahnya tertuju pada tangan mereka.


"Yong! Gak usah sentuh si Pramono juga!" ketus Keenan yang selalu sensi pada Mas Pram saat Lala di dekatnya.


"Hahaha.. Tuh suamimu sendiri yang cemburu, La."


"Abang gimana sih?"


"Kamunya jangan pegang-pegang dia segala."


"Kata Abang kan akting!"


"Tapi kamu jangan genit, Munah!"


"Kan cuma akting, Bang!"


"Enggak. Kamu mah kesempatan! Si Pramono keenakan nanti!"


"Dikit doang Bang! Lagian gak pakai hati."


"Ya iyalah, orang pakai tangan. Masa pakai hati."


Mas Pram dan wanitanya hanya menonton keduanya berdebat.


"Hallo Ibu Bapak, berantemnya bisa pindah?" Mas Pram menengahi.


"Enak saja Ibu Bapak! Mama Papa, iya kan Yong?"


"Memang pasangan ini luar biasa. Luar biasa gilanya." wanita sebelah Mas Pram tersenyum mendengar ucapan Mas Pram.


"Mas tega sama kita!" ketus Lala


"Ada apa toh La?"


"Wajah tanpa dosa lagi si Mas Pram."


"Diriku sebening tetesan embun pagi, secerah sinarnya mentari. Mana ada dosanya?"


"Anj*r pedenya selangit." timpal Keenan


"Jadi gak di kenalkan ini sebelahmu, Mas?" goda Lala


"Hehe.. Kenalkan teman-teman, ini Renata."


"Siapa Mas?"


"Hmm.. Teman La" Mas Pram melirik Renata. Sementara Renata tersenyum melihat keduanya.


"Yakin?" Keenan menggodanya.


"Doakan saja Bro."


"Ren, kenalkan ini sahabat saya Bro Keenan dan Lala istrinya."


"Oh, sudah menikah?" Renata membuka suara sambil menyalami mereka satu persatu.


"Iya sudah. Dia budak cinta, Ren." sindir Mas Pram pada Keenan


"Bagus dong, gak buang waktu untuk pacaran."


"Betul. Takutnya pacaran 3 tahun eh ternyata yang kasih DP-nya orang lain. Nyesek gak tuh?" sindir Lala


"Enggak Yong. Kan sudah dapat kamu." Keenan melingkarkan tangannya di pinggang Lala.


"Aku kok kayak pernah lihat Mbaknya?" Keenan nampak berpikir.


"Rena saja Kak."


"Oh, iya. Perasaan pernah lihat di KP. Betul gak Mas?"


"Kok kamu tahu Bro?"


"Tahu lah."


"Tahu dari mana, Bee?"


"Waktu aku lagi ngobrol sama Mas Pram, dia buru-buru pergi terus layani Rena. Tahu ga Hon, si Mas Pram salah tingkah gitu pas lihat Rena." Mas Pram sontak terbahak.


"Ternyata dia begitu perhatian sama aku, Ren. Sampai gwrak gerik akupun dia perhatikan."


"Ya gimana gak memperhatikan, si jomblo karatan ini begitu berbeda melihat incarannya."


"Haha.. Anda begitu s*alan Bro Keen."


"Memang ketemunya di KP, Ren?" Lala begitu penasaran


"Hehe. Iya. Kebetulan aku suka sekali dengan Caramel Machiatto di KP. Makanya aku sering kesana."


"Dia pelanggan setia KP, La. Hampir tiap hari ke KP. Sampai sama anak-anak juga kenal."


"Diam-diam Mas Pram juga merhatiin, bukan cuma anak-anak. Iya gak Ren?"


Rena hanya tersipu malu.


"Oh ya Ren, dia juga pemilik KP."


"Hehe, Mas Pram lah pemiliknya. Kalau aku jarang sih ke KP." Lala tersipu malu.


"Bos mau apa lagi coba ke KP selain ngontrol anak buah?"


"Iih apa sih Mas, orang aku sibuk kuliah."


"Loh, Mbak Lala masih kuliah?"


"Lala saja, Ren."


"Baru lanjut lagi karena ngurusin aku, Ren." timpal Keenan


"Dasar budak cinta." sindir Mas Pram.


"So sweet banget, La."


"Haha.. So sweet dari mananya coba?"


"Ya ngurusin suaminya."


"Hehe.. Itu kan kewajiban."


"Enggak sih, dari kita pacaran juga Lala memang ngurusin aku terus. Aku sempat sakit, jadi itu yang bikin kuliah dia berantakan." puji Keenan seraya mengelus rambut Lala. Dia sedikit merasa bersalah pada Lala.


"Jangan puji-puji gitu deh. Kan aku jadi bangga tahu gak?" Lala terbahak.


"Hmmm.. Lala."


"Kalian mau nonton ya?" Lala melirik Renata


"Iya. Ayo bareng?" ajak Mas Pram.


"Enggak ah. Kita gak mau ganggu yang lagi kencan, iya gak Bee."


"Iya dong, kerasa banget lagi kencan diganggu itu gimana." sindir Keenan.


"Haha.. Sindirannya tepat di sasaran. Aku diajak Bang Al, manusia suci ini mana mungkin berbuat hal yang demikian kalau tidak digoda."


"Manusia suci.. Heh! Manusia suci gak pacaran ya. Langsung menghalalkan."


"Lah ini kan mau ngajak dia menuju kesana." Ucap Mas Pram membuat Renata meliriknya.


"Keceplosan kan, gara-gara kalian. Sudah sana-sana pergi. Aku juga basa basi mengajak kalian nonton bareng." ujar Mas Pram


"S*alan Pramono."


"Rena kita duluan ya.." Lala pamit pada keduanya.


"Serius kalian gak mau bareng?" tanya Renata


"Memang yang mau pacaran situ doang?" Timpal Keenan


"Wah Bro Keen, tiap hari ketemu masih mau pacaran."


"Harus lah, masa belum halal sering jalan, sudah halal di rumah saja. Justru sudah halal harus lebih sering dong. Iya gak Yong?"


Lala hanya tersenyum. "Ya sudah, Kita duluan ya Mas, Ren." pamit Lala menarik lengan suaminya menjauh dari mereka.


"Abang sih jadi gagal total rencana kita."


"Memang kenapa?"


"Ya itu pakai protes segala." geruru Lala.


"Habis kamu ganjen pakai peluk lengan dia."


"Kan akting, Bambang."


"Sudah lah, kasihan juga Dia, Yong. Daripada dia jadi jomblo karatan."


Lala tertawa. "Tega banget Abangnya bilang dia jomblo karatan."


"Jadi kita kemana sekarang?" tanya Keenan


"Maen games." ujar keduanya berbarengan.


***


Hari pertama perkulihan pun tiba, Lala masuk ke dalam kelasnya setelah diantar Keenan seperti biasa.


"Loh? Kamu bukannya mahasiswa baru?" tanya Melly pada Lala.


"Iya. Aku mahasiswa baru pindah." Lala tersenyum.


"Aku kira kamu mahasiswa baru, baru lulusan SMA gitu." Melly tertawa.


"Iya aku memang baby face kok, Kak." Lala tersenyum.


"Haha.. Jangan panggil Kakak, kita seumuran kali."


'Sekalipun aku lebih tua dari kamu, kamu gak bakal percaya.'


Lala berjalan seorang diri setelah perkuliahan selesai, dia masih belum mempunyai teman yang cocok dengannya.


"Laaa.." teriak Farel. Dia melambaikan tangan pada Lala. "Sendirian?" tanyanya.


"Kamu lihatnya bagaimana?"


"Sendiri lah."


"Ya sudah, berarti normal mata kamu."


"Haha..memangnya aku rabun apa La?"


"Bukan rabun, tapi buta." Lala terbahak.


"Enak saja!"


"Kantin yuk?" Farel menarik lengan Lala.


"Gak usah di tarik juga. Tuh fans-mu nanti pada iri."


"Masa bod*h sama mereka."


Lala dan Farel duduk menikmati jus mereka masing-masing. "Kamu gak ada kelas?" tanya Lala.


"Dosennya gak ada." jawabnya cuek. "La, minta nomor ponselmu, dong"


"Buat apa?"


"Siapa tahu nanti aku butuh teman." Lala hendak bicara namun suara seseorang membuat mereka menoleh seketika.


"Lashiraaa" Andine menghampiri keduanya. Dia duduk di samping Farel.


"baru beres, Kak."


"Andine saja, kamu kan istrinya Abang aku." ucap Andine dengan sengaja.


'Abang aku dia bilang? Amit-amit punya Adek kayak dia. Punya ipar menyebalkan saja sudah ogah banget. Apalagi ditambah dengan jenis makhluk seperti dia.' racaunya dalam hati.


Farel terbatuk seketika. "Minum yang benar." ucap Lala.


"Kenapa Rel? Kaget ya? Lashira sudah nikah loh. Suaminya alumni sini juga. Anak Futsal. Aku gak nyangka ternyata Lala nikah dengan Abangku." ucap Andine.


"Aku gak kaget kok. Lala sudah bilang sih waktu itu." ucap Farel cuek.


Andine nampak kesal. "Oh, kenapa masih dekat-dekat istri orang kalu sudah tahu Lala sudag menikah?"


"Memang salah kalau berteman?"


"Ya harusnya kamu tahu diri, jangan dekat-dekat sama istri orang kalau gak mau jadi gosip."


"Iya. Terima kasih sarannya, Dine." ucap Farel.


"Kalian masih lanjut? Aku mau ke perpustakaan dulu ya." pamit Lala yang pusing melihat keduanya bertengkar.


"Laa.. Tunggu.." Farel mengikuti langkah Lala meninggalkan Andine sendirian.


"Jadi, kamu benar sudah nikah?" tanyanya.


"Iya Farel. Kalau bohong, apa untungnya buat aku?"


Sejenak keduanya hening. "Tapi kita berteman kan, La?"


"Aku kan sudah punya suami."


"Kamu lupa? kamu sendiri yang mengajakku berteman."


"Hhh..ya sudah." Lala malas berdebat.


"Rel, gimana rasanya di kejar cewek-cewek?"


"Ramai rasanya, La." ucap Farel.


Lala terbahak. "Kayak iklan saja."


"Awalnya sih suka. Bangga juga. Tapi lama-lama bosan, La. Kita gak bisa bedakan mana yang benar-benar suka atau hanya terpesona dengan tampang kita saja. Makanya begitu ketemu kamu, aku langsung tertarik."


"Sudah gak perlu memujiku begitu. Awalnya aku juga terpesona sama kamu, tapi pudar begitu saja saat kamu bersikap sok ganteng." Lala terbahak.


"Nah dari situ, aku suka sama kamu. Gilaa ada cewek yang berani berdebat sama aku. Biasanya orang terima-terima saja aku gimana pun. Mohon maaf, secara aku most wanted di Kampus ini. Ketua senat juga."


"Dih.. Narsis habis ni bocah."


Farel tertawa. "Padahal waktu itu, kamu sudah jelas salah, La. Tali kamu berani menyela."


"Haha..aku salah, tapi gak mau di salahkan, tahu!"


"Iya iya. Wanita selalu benar."


Keduanya tertawa.


***


Keenan memarkirkan mobilnya di depan halte kampus. Dia begitu lelah setelah turun ke lapangan melakukan kunjungan rutin ke setiap swalayan.


Tak berapa lama, Lala berjalan menuju halte bis, dimana suaminya memarkirkan mobil.


"Caar." Lala seketika menoleh pada lelaki yang selalu memanggilnya dengan sebutan pacar.


"Ayo mau bareng gak?" ajaknya.


"Gak. Aku dijemput."


"Bener?"


"Iya, sana kamu pulang. Hati-hati ya."


"Aku duluan kalau begitu. Bye Laaa." Farel melambaikan tangannya.


Lala tersenyum saat melihat mobil Keenan.


"Senang betul yang di sapa temannya." ketus Keenan saat Lala masuk ke dalam mobil.


"Maksudnya?"


"Sampai mau masuk ke dalam mobil saja, kamu senyum-senyum sendiri."


"Loh? Aku kan senyum karena lihat mobil kamu."


"Alasan."


"Terserah deh Bee."


"Sekiranya kamu tebar pesona, gak usah kuliah saja, La."


Lala merasa sakit hati, saat Keenan menyebut namanya. Sebuah tanda kalau Keenan benar-benar marah.


"Aku terserah kamu saja. Kalau mau aku berhenti kuliah juga gak masalah. Semua keputusan dari awal di tangan kamu." balas Lala masih mengontrol rasa kesalnya.


Keenan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia membawa Lala ke Apartemen. Lala tak banyak protes, begitu tiba di sana.


"Besok kita ke dokter kandungan." ketus Keenan.


"Kenapa?"


"Kita cek kenapa kamu belum juga hamil." ketusnya. Lala hanya diam tak mau membalas ocehan suaminya. Dia lebih baik menghindar daripada berdebat panjang.


'Baru ada orang menyapa saja, dia sudah begitu. Padahal si Farel sudah tahu diri gak kayak dia waktu dulu. Gak mikir apa, dulu dia hampir merebut istri orang.' racau Lala dalam hati.


Selesai mandi, Lala segera membuat makan malam untuk mereka. "Makan dulu yuk, Bee." ajak Lala menarik lengan Keenan.


"Gak usah pegang-pegang." ucap Keenan.


"Astaga!" Lala mulai terpancing.


"Kenapa? Najis aku pegang? Hah?" ucap Lala dengan nada tinggi.


Keenan terdiam. Tak menyangka Lala akan menanggapi ocehannya.


"Kenapa? Kamu takut aku direbut orang? Kamu takut kena karma kamu sendiri? Dulu kamu mau rebut istri orang?"


"Aku gak suka kamu dekat dengan lelaki lain!"


"Kurung saja aku! Biar aku gak bertemu siapapun sekalian." ketus Lala.


"Aku bukan wanita murahan Keenan! Aku sadar diri, aku sudah bersuami. Ada batasan yang gak bisa seenaknya aku langgar!" ketus Lala.


Lala masuk ke dalam kamar.


BLam!


Suara bantingan pintu membuat Keenan sedikit terlonjak. Lala mengunci pintu kamarnya.


'Cemburunya gak pakai otak. Dasar manusia setengah s*tan! Bisanya marah doang. Gak mikir apa, aku juga mati-matian menjaga hati untuknya. Kalau niat selingkuh, dari awal ketemu si Farel sudah aku terima pernyataan cinta konyolnya itu!'


Lala melupakan makan malam mereka. Tak ada satu orangpun yang bersuara diantara mereka. Beberapa jam mereka saling terpisah. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Hon.." Keenan mengetuk pintu kamar.


"Honey.."


Keenan mematung di depan pintu. "Aku minta maaf, sayang."


...


"Honey, aku tahu, aku salah. Aku terlalu emosi. Aku minta maaf."


'Persetan! Kamu saja menganggapku seolah najis, gak mau di sentuh!' Lala mulai menangis mengingat perlakuan Keenan tadi.


'Kadang, ucapan Ibu memang benar. Aku gak harus tergantung dengan manusia ini. Aku harus bisa berdiri sendiri.'


Keenan masih mengoceh diluar, hingga ocehannya tak terdengar lagi, dan Lala pun terlelap dengan sendirinya.


Suara alarm ponsel membangunkannya. Lala mulai membuka pintu kamarnya. Dia melihat Keenan tidur di sofa dengan kaki mengapit bantal sofa.


Lala berjalan menuju dapur. Di meja makan masih tergeletak dua piring spaghetti yang dibuatnya semalam tanpa tersentuh sedikitpun.


Lala memasukannya ke dalam keranjang sampah. Dia segera membuat sarapan untuk mereka berdua.


Lala bergegas berangkat ke kampus setelah melakukan semua pekerjaannya. Sementara Keenan masih tak terusik sedikitpun.


"Pagi Car.." suara Farel membuat lamunannya buyar seketika.


"Kamu kelas pagi?"


"Iya nih. Aku pikir kesiangan."


"Habis ini ada kelas lagi?"


"Jeda dulu."


"Sama dong. Kantin yuk?" ajak Farel.


"Traktir ya?" tantang Lala


"Beres Bos."


"Ya sudah, sana masuk kelas." titah Farel menatap Lala yang berjalan menuju gedung sebelah.


Keenan terbangun, dia membuka pintu kamarnya mencari Lala.


"Astaga si keras kepala." gumam Keenan.


Keenan mencoba menghubungi Lala. Dia beberapa kali menelepon dan mengirimkan pesan pada Lala, namun usahanya nihil.


Sementara di kampus, Farel menunggu Lala di depan kelasnya. Beberapa orang berbisik melihat Farel yang tak biasa menunggu seorang wanita.


"Yuk La."


"Ngapain kamu disini?" tanya Lala


"Nunggu kamu, takutnya kamu ingkar.


"Astaga Rel, kamu gak punya teman lain apa?"


"Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu gak punya teman?"


"Aku masih adaptasi disini. Semua sudah punya genk masing-masing. Jadi sulit buat masuk ke lingkaran mereka."


"Makanya aku temani kamu, La."


Tiba di kantin, Lala melihat sosok suaminya yang duduk menatap mereka.


"Abang!" gumam Lala.


.


.


.


Yuhuuu jamaah honbeee.. Dukung terus mereka yaaa.. Jangan lupa ritual kita, oke?


Like, komentar, vote yang buanyaak sekalilili..


Oya, follow my igeh : only.ambu


Terima kasih ^^