
Keenan dan Lala melepas pagutan mereka dengan gelagapan. Keduanya saling pandang dengan rasa malu. Lala kemudian menunduk, menyembunyikan wajahnya dihadapan Ibu.
"Ya Tuhan! Baru semenit yang lalu bilang cerai. Sekarang sudah saling nyosor aja kayak angsa!" gerutu Ibu kemudian melintasi keduanya menuju kamar mandi.
"Makanya aku mau kita di Apart biar gak ada kejadian kayak gini kan." Keenan merasa mendapat angin segar.
Lala menutup wajahnya. "Aku malu sama Ibu. Astaga!"
"Ayo ke kamar. Mumpung Ibu di kamar mandi." Keenan menarik tangan Lala. Lala dengan pasrah mengikuti suaminya.
Keenan tersenyum menatap istrinya yang terlihat kikuk duduk di tepi ranjang.
"Jangan cerai yah, nanti gak ada yang nyosor lagi" goda Keenan seraya tersenyum.
"Apa sih Abang!"
"Tahu kan alasan Abang ngajak kamu ke Apart apa?"
Lala terdiam tak mau menanggapi Keenan.
"Untung tadi cuma ciuman bibir doang, Mom. Belum dicelup." Keenan makin melebarkan senyumnya. Keenan merasa Lala begitu menikmati pagutan mereka tadi.
"Abang ih nyebelin!" Lala mencubit perut Keenan.
"Aw... Ssshh.. Sakit Mom. Mana belum makan dari kemarin." ujar Keenan.
"Bohong."
"Demi Tuhan, orang gak enak hati gak mungkin lah enak makan. Seharian tadi juga Abang nyari kamu, gak kepikiran makan."
"Beneran Abang nyariin?"
"Astaga. Masa kamu gak percaya sama Abang? Abang sampai nanya ke si Farel. Mau turun keliling kampus, lupa Abang pakaiannya begini."
"Jadi Abang belum mandi?"
"Hehe.. Lupa. Gak kepikiran juga."
'Inget sih Mom, sengaja dong biar ketahuan usaha aku.'
"Jorok banget sih!"
"Wangi kok sayang. Abang mah gak mandi juga gak pernah bau. Lagipula, Abangkan panik nyariin bidadari Abang yang nyangkut gak tahu dimana." gombal Keenan.
"Mandi sana!"
"Iya nanti. Makan dulu, yuk? Abang lapar."
"Ya sudah, sana makan."
"Hmm..Abang mau seafood. Kuy Mom, Mumpung belum terlalu malam." ajak Keenan.
"Abang aja sendiri!"
"Ayolah, Abang maunya sama kamu."
Keenan melajukan mobilnya ke sebuah kedai seafood. Sepanjang jalan, dia tak melepas tangan Lala dari genggamannya.
"Beli seafood dimana sih? Pakai mobil segala."
"Ada deh. Mommy pasti suka." ucapnya seraya melirik Lala sepintas. "Mommy mau jujur? semalam Mommy nginep dimana?"
"nanti saja."
Mereka tiba di kedai seafood yang baru pertama kali mereka kunjungi.
"Yes, bener kedai ini." gumam Keenan. Keenan langsung memesan mix seafood porsi empat orang.
"Abang gak salah?"
"Abang sudah lapar banget. Gak makan dari kemaren."
"Kenapa nyiksa badan sendiri? Lebay banget!"
"Bukan lebay sayang, kamu gak ngerasin sih gimana khawatirnya Abang. Awalnya Abang kira kamu dirumah Ibu, pas tadi Ibu nanyain kamu, Abang syok banget."
"Kamu jangan.. "
Ucapan Keenan terhenti saat Pelayan datang membawa ember kecil lalu menaburkan aneka seafood diatas meja yang hanya dialasi oleh plastik bening.
Satu pelayan lainnya menaruh nasi ditempat yang sama. Keenan dan Lala segera memakai apron plastik untuk menutupi baju mereka.
"mau makan kayak mau perang." ucap Lala merasa unik dengan tampilannya. Keenan pun memakai sarung tangan terbuat dari plastik.
"Ribet deh Bang pakai sarung tangan plastik gitu."
"Iya ya, ya sudah Abang cuci tangan dulu." ujarnya seraya melepas sarung tangan plastik yang dipakainya.
Lala tersenyum merekah melihat berbagai seafood dilengkapi jagung dan sayuran lain dihadapnnya. "Meriah sekali seafoodnya Bee." Lala menyeringai lebar.
"Kayaknya enak, Mom. Kuy kita sikat." ajak Keenan. Baru mencicipi, mereka langsung ketagihan dengan makanan dihadapannya.
"Abang tahu dari mana tempat ini?" tanya Lala sambil membuka cangkang kerang.
"Sosial media."
"Ih kamu sekarang, lihat di sosial media ada yang menggiurkan langsung deh beli."
"Dari pada anak kita ngeces." Keenan tersenyum lebar.
Ternyata, porsi empat orang habis dalam sekejap oleh mereka berdua. Keduanya nampak senang seakan tak ada pertengkaran diantara mereka. Selesai makan, mereka kembali ke dalam mobil. Keenan menatap Lala intens.
"Apa sih lihat-lihat?" Lala yang merasa diperhatikan sedikit salah tingkah.
"Emm.. Abang sadar, umur kita masih muda. Kamu sedang hamil juga. Abang sangat mengerti. Tapi, Abang mohon kamu jangan umbar kata cerai lagi ya, Mom?"
Lala mendelik sebal. Dia merasa kesal kembali.
"Abang kalau jadi aku mau gimana? Diantara Mama dan Aku!"
"Abang? Kamu gak ingat, Abang pilih kamu?" Keenan tersenyum.
"Iyalah karena kamu sakit!" ketus Lala.
"Gak sih, maksud Abang ya kamu seperti kemarin saja. Bisa adil ke Ibu juga ke Abang."
"Ada masanya aku juga capek!"
"Iya Abang ngerti. Pasti ada masanya begitu. Tapi boleh gak, Abang minta hilangkan kata cerai dari pertengkaran kita?"
"Bolehlah kita adu argumen, saling mengutarakan isi hati, adu fisik atau adu desah malah lebih baik." Keenan tersenyum.
"Abang!"
"Ya maksud Abang, bicara apapun, asal jangan ada kata cerai."
"Kenapa memangnya? Kalau aku yang bilang gak ngaruh kali"
"Abang takut, Abang ikut tersulut terus Abang juga bicara ngelantur."
"bisa kan Mom?" Keenan menggenggam tangan Lala.
"Kamunya juga gak ngerti mau aku kaya gimana." suara Lala terdengar sedikit bergetar. Dia menahan tangisnya.
"Iya, apa? Mommy maunya gimana? Asal jangan minta cerai."
"Kamu mau tinggal di kontrakan gak bolak balik ke Apartemen?" tantang Lala
"Iya, boleh. Kalau Mommy maunya begitu. Tapi janji ya, jangan sembarangan umbar kata cerai."
"hmm?" Keenan tersenyum sambil menatapnya.
"Abang!" Lala memukul lengan suaminya.
"Apa?"
"Gak usah sok manis gitu ngomongnya! Rese tahu gak?"
"Lah? Abang kan emang manis." Keenan menggoda Lala.
Keenan menyukai Lala yang tak pernah lama menyimpan amarah. Sekalipun Lala cepat marah, Namun bisa dalam sekejap, sikapnya kembali biasa seperti semula.
Keenan mulai melajukan mobilnya kembali.
"Jadi semalam nginep dimana?"
"Di hotel."
"Serius?"
"Huum"
"Sama siapa?" Keenan sedikit menginterogasi.
"Berdua"
"Sama siapa?" Keenan menatap tajam Lala.
Lala mendorong pipi Keenan agar menatap jalanan. "Lihat ke depan, kalau nabrak bagaimana."
"Jadi kamu sama siapa?" Tanya Keenan tak sabar.
"Sama anak aku lah! Iya kan, sayang?" Lala mengelus lembut perutnya.
"Kenapa ke hotel? Kenapa gak pulang ke rumah? Mulai nakal kamu ya!"
"Abang gak mikir apa, aku tuh kesal sama kamu dan juga Ibu. Tadinya bingung mau pergi kemana. Cuma aku lelah, akhirnya aku istirahat saja di hotel."
"Kedepannya gak boleh gitu lagi, kamu pulang ke rumah Ibu, ke Apart atau ke rumah Mama lebih aman. Jangan bikin Abang khawatir lagi. Mengerti?"
"Kedepannya kamu berhenti menyebalkan, mengerti!" balas Lala.
"Iya. Abang akan berusaha sayang." Keenan mengecup punggung tangan Lala. "loh? Kok jadi Abang yang diancam sih! Kamu yang salah juga." Lala terbahak saat Keenan menyadari kebod*hannya.
***
Waktu terus bergulir, tak terasa kini usia kandungan Lala menginjak lima bulan. Keenan yang memang sudah tak merasakan drama ngidamnya, mengajak Lala untuk pindah ke rumah mereka. Lala begitu senang karena Keenan berinisiatif sendiri mengajaknya pulang.
"Akhirnya kita tidur disini juga." Lala merebahkan tubuhnya diatas kasur yang sangat empuk.
"Ini kasur harganya berapa Bee, ya Tuhan sangat nyaman sekali."
Keenan tersenyum. "Sayang..masih virg*n nih, yuk kita cobain disini."
"celup-celup dong." Keenan itu tengkurap disamping sang istri.
"Enggak ah. Capek!" Lala menatap Keenan. "Hal yang paling aku inginkan saat ini kayak kamu, Bang."
"Apaan?"
"Tengkurap."
"Haha.. sabar." Keenan mengubah posisinya. Kini wajahnya menghadap perut Lala yang terlihat membuncit. "Anak Daddy lagi apa? Perut Mommy makin terlihat membesar." Keenan mengecup perut istrinya.
"Ya iya dong, Mini juga sering tuh bikin gerakan." Lala tersenyum sambil mengelus rambut suaminya.
Keenan bernyanyi di depan perut istrinya.
"knock.. Knock.. Knock..
Do you wanna build a snowman
(Apakah kau ingin membuat boneka salju?)
Come on, lets go and play
(Ayolah, mulai dan mari bermain)
I never see you anymore
(Aku tak pernah melihatmu lagi)
Come out the door
(Ayo, keluar)
It's like you've gone away
(Seakan kau hilang ditelan bumi)"
~Kristen Bell - Do you wanna build a snowman~
Lala refleks memukul kepala suaminya.
"Apaan sih Mom!"
"Amit-amit Abang! Nanti aja keluarnya kalau udah 9 bulan!"
"Astaga! Orang nyanyi doang."
"Yang bener kek nyanyinya."
Keenan hanya terbahak saat istrinya protes.
***
Sudah sebulan, Lala terpaksa membawa mobilnya sendiri ke kampus. Jadwal kerja Keenan yang padat membuatnya harus lebih mandiri. Tapi Lala begitu menyukainya, dia bisa membawa mobilnya sesuka hati, walaupun perutnya membuncit.
Lala turun dari mobilnya, dia nampak heran saat beberapa orang melihatnya sambil berbisik-bisik.
"Woii" Farel menepuk pundaknya dari belakang.
"Astaga! Sumpah rese banget sih!" ketus Lala.
"Haha.. Berapa mata kuliah hari ini?" tanya Farel basa basi
"Tiga. Huh! Panas banget hari ini." keluh Lala.
"Abang gak nganterin lagi?"
"Boro-boro. Dia berangkat jam enam pagi, sibuk terus."
"Haha kasian. Kamu sabar ya, Papa kamu lagi nyari duit" Farel mengelus perut Lala.
Lala memukul kepala Farel. "Heh! Gila kamu, aku laporin Abang juga anaknya di elus-elus! Mana di kampus!"
"Haha.. Cuma penasaran, gimana sih rasanya megang perut ibu hamil. Ternyata keras juga."
"Ya iyalah Malih, orang ada anak gue di dalam. Lama-lama ketua senat O*n juga!"
"hahaha... Kan belum pengalaman nyonya Keenan."
Mereka tak sadar, perbincangan mereka diperhatikan oleh beberapa orang.
"Rel, makan yuk. Aku lapar." ajak Lala.
"Kamu baru nyampe udah ngajak makan. Dasar rakus!"
"Haha.. Anak aku yang minta. Udah buruan ah" Lala menyeret lengan Farel masuk ke dalam kantin.
"Rel, pesenin dong. Paket ayam penyet sama es jeruk. Kamu terserah mau apa. Nih duitnya." Lala memberikan uang pada Farel.
"Apaan sih La! Gengsi gue dikasih duit sama Ibu hamil. Udah taro. Anggap aja, aku jajanin ponakanku" ucap Farel.
"Ah dengan senang hati kalau begitu."
"Haha..sialan. Basa basi nolak dulu kek. Lah ini mah langsung kegirangan."
Lala tertawa. "Heh! Rezeki jangan di tolak. Udah buruan, aku lapar."
Saat Farel pesan makanan, Keenan menghubunginya.
" Eh si Abang tumben video call." gumam Lala seraya memasangkan headseat pada ponselnya.
"Kamu di kampus, Mom?" tanya Keenan saat menatap istrinya.
"Iya. Baru datang, anak kamu udah minta makan." Lala tertawa.
"Makan aja, jangan takut gemuk."
"Siapa juga yang takut gemuk."
"Abang, La?" Farel duduk disamping Lala.
"Bang, anakmu aku elus-elus ya." goda Farel sambil mengelus perut Lala.
"Eh.. Sialan kamu! Modus megang Lala. Awas aja kalau ketemu."
"haha..udah dari tadi, perutnya keras banget Bang." Farel semakin menjadi.
"S*alan kamu!" Keenan mendengus kesal
"haha.. Gampang kan La, bikin dia cepet mati. Biar dia marah-marah aja terus."
Lala kini menjewer telinga Farel. "Kurang ajar doain suami aku mati."
"****** Lo! Macan betina kalau udah marah, ancur dunia persilatan!" Keenan tersenyum senang.
"Apa? Macan betina? Gak usah pulang!" Lala melotot dihadapan ponselnya.
"Mom.. Becanda.. Farel saja Mom yang disiksa."
Lala dan Farel seketika menoleh pada pelayan yang membawa pesanan mereka.
"Mau makan ya? Abang lanjut kerja ya sayang. Love you unlimited Mommy and mini. Makan yang banyak kesayangan aku."
Keenan tak pernah benar-benar marah pada Farel. Dia percaya pada Farel yang sering memberikan informasi pada Keenan mengenai Lala. Lagipula, Lala dan Farel sering adu mulut dan Farel berusia lebih muda dari mereka. Tidak mungkin Farel akan menikung Lala darinya, apalagi Lala dalam keadaan hamil. Itu yang membuat Keenan lebih aman saat Farel bersama Lala.
"Rel, aku ke toilet ya."
"Baru juga makan La."
"Buang air kecil, Malih! Bukan mau poop."
Lala masuk ke dalam toilet. Tiba-tiba terdengar suara wanita masuk ke dalam toilet sambil berbincang.
"Kayaknya emang hamil itu cewek. Gila, anaknya siapa ya? Tapi si Farel makin lengket."
Lala yang hendak keluar, mengurungkan niatnya saat mendengar ocehan mereka membahas Farel.
"Dasar pelac*r! Aku sering lihat dia diantar jemput mobil sport. Sayangnya gak pernah tahu, cowoknya yang mana karena kan kacanya gelap. Bentar, aku masuk dulu." salah satu dari mereka masuk ke dalam toilet samping Lala.
Lala sengaja menunggu mereka untuk mengetahui lebih jauh perbincangan mereka.
Pintu kamar mandi sebelah Lala terbuka. Wanita tersebut terdengar keluar dari toilet.
"Orang juga udah mulai rame bahas mereka. Parah, tu cewek gak tahu malu banget ke kampus dengan perut buncit kayak gitu. Di kampus dekat dengan Farel, diluar dijemput sugar Daddy. Jangan-jangan itu hasil orang minta tanggung jawab sama si Farel."
"Dari awal janggal gak sih? Tiba-tiba si Farel yang super cool bersikap sangat ramah sama cewek itu. Pakai pelet apa ya dia?" keduanya tertawa.
"Pokoknya kalau benar ada skandal antara si Farel dan cewek itu, siap-siap saja mereka di Drop Out dari kampus. Tinggal tunggu ada yang melaporkannya saja."
"Baguslah. Jangan sampai mereka mencoreng nama baik kampus kita. Memalukan!"
"Yuk, sudah."
Setelah sepi, Lala keluar dari toilet. Dia mencuci mukanya. Lala yakin yang dibicarakan adalah dirinya karena membahas wanuta hamil. Dikampus, siapa lagi yang sedang hamil selain dia yang dekat dengan Farel.
Lala menarik nafas panjang. Rasanya begitu menyakitkan jadi bahan gosip satu kampus. Apalagi mendengar Farel dan dirinya akan di laporkan.
'Pantas saja orang-orang tadi bersikap aneh.'
Lala berjalan gontai menuju kantin.
"Lama banget sih La! Kamu poop kan!"
"Enggak Rel." Lala sedikit gelisah sekarang. Dia melirik orang-orang yang ada disekitarnya. Dan benar saja, mereka mencuri-curi pada mereka. Lala semakin tak nyaman.
"Rel, aku ke kelas ya?" pamit Lala.
"heh tanggu!" Farel segera mengikuti lala.
"Bisa gak, kamu sekarang menjauh dari aku?" ketus Lala.
.
.
.
Yuhuuu.. Gimana nih? Yuk ramaikan komentar. Jangan lupa like dan vote juga.
Oya, follow my igeh : only.ambu
Terima kasih^^