
Lala Pov
Sudah 6 bulan berlalu setelah aku dan lelaki beralis tebal merayakan silver anniversary pernikahan kami, aku masih tak bisa menebak perilakunya. Aku sangat bersyukur, pernikahan kami tidak monoton. Walau jalan yang kami lalui begitu terjal dan berliku, bahkan beberapa kali kami melintasi jurang. Sampai saat ini, aku masih setia mendampingi lelaki itu.
Anak gadisku bertanya "Kenapa Mommy masih mau sih sama Daddy? Andaikan dulu Daddy tidak melihat Mommy dan Abang di Mall itu, apa mungkin Daddy masih setia?" Dia masih penasaran dengan kisah perjalanan cinta kami.
Aku hanya mengangkat bahuku. "Tanyakan itu pada Daddymu."
Sejujurnya, dulu aku sempat meminta berpisah dengannya. Aku teramat sangat kecewa dengannya, aku yang membencinya, aku yang rapuh olehnya. Pada akhirnya, dia jugalah penawar semua lukaku.
Masih ingat dalam benakku saat pengakuannya dulu yang hampir berselingkuh itu, saat itu juga aku meninggalkannya seorang diri, sekalipun dia berlutut, memegang kakiku dan memohon sambil terisak layaknya anak kecil, aku tetap tak goyah.
Aku meninggalkannya dengan luka menganga dihatiku. Pulang dengan mata sembab sampai Ibu nampak kaget melihatku. Aku mencurahkan semuanya pada Ibu.
Ada yang bisa tebak, apa yang dilakukan Ibu? Tentu saja Ibu membuat perhitungan dengannya. Berbekal trauma yang dialaminya dulu serta yang dilakukannya padaku, Ibu mengusirnya dari rumah.
"Lantas, Daddy pulang ke rumah Memo?" tanya anak gadisku antusias.
Aku tersenyum menatap gadisku kemudian menggeleng.
"Daddy tinggal di Apartemen?" tebaknya lagi.
"Menurutmu?" tanyaku. Ku tatap wajahnya yang menggemaskan saat dia menautkan alisnya seolah berpikir.
"Sepertinya begitu." ucapnya sambil memutar bola matanya.
"Enggak juga." jawabku singkat.
"Terus, bagaimana?" Gadisku semakin penasaran.
"Seminggu penuh, Daddy tidur di teras rumah. Seminggu di rumah sakit, dua minggu tidur di depan pintu kamar." ucapku seraya tersenyum.
"Astaga. Are you serious, Mommy?" Dia menutup mulutnya yang terbuka dengan jemarinya.
Aku mengangguk "Huum."
"Daddy keren. Dia berjuang demi cintanya. Padahal Mommy gak cantik-cantik banget." ujarnya meledekku.
Aku mendelik sebal. "Gak cantik, tapi membuat Daddy-mu tak bisa berkutik." aku tertawa penuh kemenangan.
"Pede banget." Dia mencebikan bibirnya. "Aku rasanya gak percaya Daddy tidur diluar, Mom." ujarnya meragukan perjuangan suamiku, yang pasti perjuangan Daddy-nya sendiri.
Aku berdiri, kemudian berjalan masuk ke dalam ruang kerjaku. Ku raih tas milikku kemudian mengambil sebuah foto yang terselip di dompetku.
Aku menyimpannya dihadapan gadis kesayanganku. "Daddy?" dia terbelalak kemudian meraih foto tersebut. Mengamatinya lekat-lekat.
"Ya Tuhan, kasihan sekali." ujarnya saat menatap foto Daddy-nya yang tidur beralaskan koran dengan jas menutupi tubuhnya meringkuk tepat di depan pintu rumah.
"Ini siapa yang foto?" tanyanya
"Diam-diam Mommy mengambil foto Daddy dari jendela. Kamu lihat saja disana ada keterangan tanggal dan jamnya."
"Jam tiga pagi? Astaga!" Dia masih tak percaya.
Jangankan dirinya, akupun masih tak percaya dengan kegilaan suamiku. Awalnya aku tak tahu, apa yang dia lakukan. Tapi saat itu Kenzie demam, dan aku lupa persediaan obatnya habis. Begitu membuka pintu hendak ke apotik, aku terpekik kaget saat melihatnya berada di teras rumah, tidur beralaskan koran. Seorang Keenan Wijaya, Direktur ritel terbesar. Tidur di teras rumah. How amazing he is!
"Terus Oma bagaimana?" tanyanya
"Oma tahu, tapi dia membiarkannya. Entahlah, Oma selalu keras pada Daddy-mu tapi bersamaan dengan itu, dia juga luluh oleh perjuangan Daddy." Aku mengambil foto suamiku kemudian menatapnya. "Seorang Ibu, tahu mana yang terbaik untuk anaknya." aku menatap manik gadisku yang beranjak dewasa.
"Terus Mommy gimana pas lihat Daddy diteras rumah?" Dia menunggu jawabanku tak sabar. "Bisa gak sih Mom, cerita yang detail. Jangan sok ngartis." ucapnya membuatku terbahak.
"Sok ngartis bagaimana?" aku pura-pura tak mengerti.
"Aku kayak lagi wawancara Mommy. Cerita dari A sampai Z, kek Mom. Gak usah di tanya-tanya dulu." Dia mulai tak sabar.
"Sabar dong, ambilkan Mommy minum kek. Kering nih tenggorokan Mommy harus cerita lama-lama." keluhku
"Oke, Mom." dia beranjak dari kursinya menuju ruang sebelah menuju bartender.
"Cepat cerita Mom." ucapnya seraya meletakkan kue dan juga minuman untukku.
Aku memejamkan mata sejenak, membayangkan kejadian sekitar 22 tahun silam.
***
Author Pov
"M.. Mom.. " Keenan tersentak kaget saat melihat Lala dihadapannya. Dia beringsut kemudian dengan segera duduk.
Lala hanya menatapnya sekilas, berjalan meninggalkannya tanpa suara. Lala tahu, Keenan pasti mengikutinya."Siapa yang sakit, Mom?" tanya Keenan saat melihat Lala berjalan menuju apotek. Lala sama sekali tak menggubris ucapannya. Dan Keenan, seperti macan yang kehilangan taringnya. Dia tak berani melakukan apapun disekitar Lala. Hanya mengekorinya hingga Lala kembali pulang ke rumah dan menutup pintunya.
Tak dipungkiri, melihat apa yang dilakukan Keenan mengusik pikiran Lala. Pagi-pagi sekali, Lala kembali turun dari kamarnya, dia membuka sedikit jendela. Ternyata, Keenan sudah pergi dari sana.
Malam berikutnya seolah menjadi malam yang dinanti Lala, Lala turun dan mengintip dibalik jendela. Dia melihat Keenan tidur dengan posisi yang sama. Ada rasa iba, ada rasa senang, namun rasa sakit hati dan kesalpun masih melekat dihatinya.
Setiap malam, menjadi malam harapan untuk Lala. Entahlah dia begitu antusias mengecek Keenan dari jendela. Setelah melihat Keenan ada disana, Lala kembali ke kamarnya dengan perasaan sedikit senang. Hingga tiba di malam terakhir, saat itu Lala sengaja membawa ponsel sekedar untuk memotret perjuangan suaminya. Lala mengarahkan kamera, dia menatap lelaki yang sedang meringkuk itu dari balik ponselnya. Lala menyadari ada yang tidak beres disana. Keenan terlihat menggigil. Lama Lala mengamati Keenan hingga dia meyakinkan dirinya bahwa Keenan benar-benar menggigil.
Dengan refleks, Lala membuka pintu dan menyentuh Keenan. Keenan yang kaget segera membuka matanya. "Mom.." pekiknya.
Dilihat Keenan dengan wajah memerah. Lala memegang dahinya, begitu panas dan entah Keenan memanfaatkan keadaan agar terlihat menyedihkan atau memang dia sangat kesakitan, Keenan semakin memperlihatkan kalau dirinya rapuh.
Dengan teregesa Lala menitipkan Kenzie pada Mbak Nani kemudian mengambil kunci mobilnya, membawa Keenan ke rumah sakit. Saat itu juga, Keenan mendapat perawatan dan dokter berkata bahwa Keenan terkena demam tipoid.
Setelah mengantar Keenan ke ruangannya, Lala hendak pulang kembali. Tapi tangan Keenan segera menahannya. "Tolong maafkan aku, Mom." Sorot matanya begitu memohon ditengah tubuhnya yang menggigil. Rasa panas penjalar dilengan Lala yang berasal dari tubuhnya.
"Tolong jangan ceraikan aku." Keenan menangis disana.
Wanita mana yang tega melihat lelakinya terpuruk? Lala hanya melepaskan pegangan tangan Keenan dilengannya. "Nanti aku kembali." ucap Lala seraya pergi.
Pulang ke rumah, Lala menceritakan segalanya pada Ibu. Diluar dugaan, ternyata Ibu memang mengetahui semuanya. Ibu yang keras, mengizinkan Lala menjenguk Keenan setiap hari itupun hanya siang hari dan dalam waktu dua jam.
Lala hanya membawa pakaian dan cemilan untuk Keenan. Selebihnya, biar suster yang menjalankan perannya.
Seminggu sudah, Keenan dirawat dirumah sakit. Dia terlihat lebih baik walau wajahnya masih pucat. Dokter sudah mengizinkannya pulang dan meminta agar Keenan beristirahat dirumah. Lala membawa Keenan ke Apartemennya. Keenan bersorak dalam hati. Dia mengira bahwa Lala akan mengurusnya.
Namun, pedebatan kecil terjadi saat Lala hendak pulang. Keenan lagi-lagi seperti anak kecil yang hendak ditinggalkan ibunya. Dia memegang kaki Lala, memohon agar tak meninggalkannya seorang diri. Lala yang kesal mengancam Keenan akan segera mengurus perceraian apabila Keenan masih menahannya. Tak dipungkiri, ancamannya memengaruhi Keenan. Dia nampak ketakutan, segera melepas pegangannya, membiarkan Lala pergi.
Sungguh, seorang Keenan tetaplah Keenan dengan segala kegilaanya. Diam-diam, malam harinya Keenan kembali ke teras rumah. Dia tidur kembali disana.
Kali ini, dia membawa matras yoga sebagai alasnya. Berbalut jaket hoodie dan juga celana panjang, Keenan kembali tidur disana. Entah suatu kebetulan atau memang chemistry mereka, malam itu Lala iseng mengintip dari balik tirai. Alangkah terkejutnya saat dia mendapati Keenan disana.
Lala mengetuk pintu kamar Ibu, tanpa banyak bicara, Lala menarik tangan Ibu menuju jendela.
"Bawa masuk, biarkan dia tidur di sofa." ujar Ibu. Terlihat jelas, Ibu menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya secara kasar. "Dasar keras kepala." gumam Ibu seraya meninggalkan Lala.
Lala tak menjawabnya, dia masuk dan membiarkan pintu terbuka. Merasa mendapat angin segar, Keenan masuk ke dalam rumah, mengekori Lala. Tapi langkahnya terhenti saat Lala menutup pintu kamar dan menguncinya.
'Setidaknya kamu tidur di sofa, dan di dalam rumah.' batin Lala.
Entahlah, sejak pertama kali melihat Keenan tidur di teras membuat hatinya sedikit goyah. Kini tak hanya rasa marah dan sakit hati, ada rasa lain yang menggelitik hatinya. Lala bukan wanita yang kejam. Hatinya masih bekerja dengan baik. Apalagi dalam dua minggu melihat Keenan tersiksa, ada rasa kepuasan tersendiri yang sedikit-sedikit mengobati lukanya.
Lala membuka pintu kamarnya. Dia terperanjat saat mendapati Keenan berbaring tepat di depan pintu kamar masih beralaskan matras yoga miliknya yang dibawa dari Apartemen.
Diam-diam Lala mengamati wajah lelakinya yang terlihat mengurus. Entah itu efek sakit atau tidak mengurus dirinya. Timbul sedikit rasa bersalah karena Lala tak mengurusnya, namun cepat-cepat dia menggelengkan kepalanya. 'Bod*h! Dia udah nyakitin kamu, La!'
Kali ini, Keenan memang sudah diterima kembali dirumah Ibu. Tapi tak ada seorangpun yang berbicara dengannya kecuali Mbak Nani dan Bi Ijah. Mereka seperti penghubung antara Ibu, Keenan dan Lala. Merekalah yang berbicara pada Keenan apabila ada sesuatu yang harus di katakan.
Melihat ketiganya membuat Bi Ijah dan Mbak Nani sedikit tergelitik. Hingga akhirnya Bi Ijah berbicara pada Ibu, sedikit mengingatkan Ibu. Ibu nampak menimang ucapan Bi Ijah. Kala itu, seharian Ibu tak keluar kamar.
"Ibu mau bicara, La." ajak Ibu setelah Keenan berangkat ke kantor.
Lala tahu, lambat laun, Ibu akan bersuara.
"Bagaimana keputusanmu?" tanya Ibu
Lala menatap Ibu. "Maksud Ibu?"
"Gak usah pura-pura gak ngerti." ketusnya.
"Aku.. Aku... "
" Ibu hanya mengusirnya, ibu tak pernah sama sekali memintamu bercerai darinya. Ibu sadar, semua keputusan ada ditanganmu. Ibubgak ada hak untuk mengaturmu, kamu yang tahu, apa yang diinginkan hatimu." ujar Ibu tegas.
"Aku bingung, Bu."
"Bereskan segera. Sudah sebulan keadaan kalian hanya begini-begini saja. Ibu sudah tak tahan lagi. Rumah ini rasanya asing." ujar Ibu.
'Jangankan ibu, aku saja merasakan hal yang sama, Bu.'
"Apa Ibu mau bicara dengannya?" tanya Lala
Ibu menghembuskan nafas. "Tanpa Ibu bicarapun sepertinya dia faham. Dia cerdas. Keras kepala juga."
"Hhh.. Sudahlah, ibu juga gak mau lihat kamu jadi janda." Ibu pergi meningalkan Lala seorang diri.
Setelah Ibu memberikan restunya, Lala begitu tak sabar untuk melihat Keenan. Dia terus menerus melirik jam, menajamkan pendengarannya hingga jantungnya berpacu lebih cepat dari irama biasanya.
Terdengar suara dari luar kamar. 'Itu pasti dia.' gumam Lala. Lala membuka pintu, pura-pura hendak turun ke dapur.
"Belum tidur, Mom?" tanyanya. Lala tak menjawab, dia melenggang pergi meninggalkan Keenan.
Lala menaiki anak tangga kembali dengan membawa segelas teh hangat. "Kamu sakit?" tanya Keenan. Dia menahan tangan Lala. "Mom.."
"Apa!" Keenan melebarkan matanya, dia nampak tak percaya Lala akan menjawabnya karena selama ini Lala hanya membisu kepadanya.
"Bisa kita bicara?" tanyanya.
Lala membuka pintu kamar diikuti oleh Keenan. Dia duduk di sofa sementara Keenan berjongkok dihadapannya.
"Tolong maafkan aku, Mom. Apa kamu belum puas menyiksaku?" ujarnya.
"Entahlah. Aku malah ingin segera mengajukan gugatan cerai untukmu."
"Aku mohon, Mom. Beri aku kesempatan. Demi Tuhan, aku tidak berselingkuh. Hanya hampir saja." suaranya melemah.
"Hampir karena aku memergokimu, kan? Andaikan saat itu kita gak bertemu, siapa tahu kamu dan dia berakhir di hotel."
"Astaga. Aku tak sebaj*ngan itu, Mom."
Hening.
"Tolong, aku janji gak akan pernah melakukan kesalahan yang sama lagi. Aku mohon. Aku kacau tanpa kamu. Aku sakit saat sikapmu begitu padaku, Mom." Keenan memejamkan matanya.
"Aku sadar, yang aku cintai cuma kamu. Andaikan aku cinta sama dia, aku gak akan melakukan hal ini. Aku cuma mau kamu."
"Kamu cuma gak ingin gagal saja kan?" tebak Lala.
"Enggak. Demi Tuhan. Aku sungguh-sungguh cinta sama kamu. Apa kamu gak merasakan perjuanganku? Buat apa aku tidur di teras rumah? Buat apa aku melakukan hal itu, bahkan aku punya apartemen dan cukup menjentikan jari untuk menyewa hotel mewah. Tapi demi kamu. Aku rindu kamu. Cuma kamu yang ada di pikiran aku. Tolong Mom. Maafkan aku. Sekali lagi. Kalau aku mengulang hal yang sama kembali, kamu boleh ceraikan aku. Aku janji."
Keenan menenggelamkan wajahnya dipangkuan Lala. Bulir air mata Lala menetes dikepalanya. Begitupun tangan Lala terasa basah oleh air mata Keenan. Hingga akhirnya Lala melepaskan tangan kanannya dari wajah Keenan. Tanganya mengulur, menyentuh kepala Keenan. Seketika Keenan mengangkat kepalanya.
"Mom." ucapnya lirih. Keduanya menangis. Keenan bangkit kemudian merengkuh tubuh Lala. "maaf.. Maaf..tolong maafkan aku.." ucapnya seraya terisak.
***
Lala Pov
Mata Lala berkaca-kaca mengenang ujian terdahsyat yang dia jalani pada waktu itu.
"Setelah kejadian itu, Daddy menyekap Mommy di Apartemen selama tiga hari." Aku sedikit tersentak dengan ucapanku. Astaga! Keceplosan.
"Hah? Kenapa?" tanyanya heran.
Tentu saja untuk membuatmu. Dia seperti singa kelaparan, mencurahkan kasih sayangnya yang membuncah. Bahkan, malam pertama pun, dia tak seperti itu. Sungguh luar biasa. Dan sebulan dari itu, kamu benar-benar hadir dirahimku. Aku tersenyum sendiri.
"Mom! Kok senyum sih! Kenapa Mommy di sekap?" tanyanya membuyarkan lamunanku.
"Tentu saja karena Daddy rindu sama Mommy." aku mengedipkan mata untuk menggodanya.
"ck.. Astaga." dia tersenyum seolah mengerti.
Dari dalam toko bertuliskan 'Lala Cakes And Bakery' kulihat lelaki itu menutup mobilnya berjalan masuk ke dalam toko.
Lelaki itu masih terlihat gagah olehku, dengan balutan jas yang kupakaikan tadi pagi, dia menghampiri kami yang dari tadi duduk bercerita.
"Honey.." dia mengecup lembut kepalaku kemudian mengacak rambut putri kesayangannya.
"Kalian lagi bahas apa sih? Kok Daddy datang pada diam?" tanyanya.
Aku membisikan sesuatu ditelinga gadisku. Seketika gadisku melotot tak percaya. Namun raut wajahnya berubah menatap Daddy-nya yang sedang menyeruput minuman milikku.
"Daddy, apa rasanya disiram dengan air cucian beras oleh Oma?"
Keenan langsung menyemburkan minumannya sambil melotot.
TAMAT.