My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Kita Harus Sampai Disini



Lala hanya mematung saat Keenan memeluknya. Dia menahan diri agar tidak membalas pelukan lelaki yang dicintainya hingga Keenan melepaskan sendiri pelukannya.


Keenan menarik lengan Lala menuju meja makan.


"Isi dulu perutnya."


'Astagaa gak tahu diri kalau aku sampai makan disini. Padahal aku mau mutusin dia.' batin Lala


Keenan seolah mengetahui apa yang Lala pikirkan.


"Kalau kamu gak makan, aku gak akan membiarkanmu pulang malam ini." ancam Keenan.


Lala menelan salivanya berat, dia tahu Keenan tak pernah main-main dengan ucapannya.


Keenan menaruh nasi dan lauk pauk di piring Lala.


"Mau aku suapin?" tanya Keenan. Lala hanya menggeleng tak mengeluarkan suara sedikit pun.


"Makan, Honey." Keenan mendorong makanan masuk ke dalam mulut Lala. Sementara Lala nampak ragu menerima suapan dari Keenan.


"Seafoodnya enak, Hon."


'Sejak kapan dia bersikap lembut kayak begini? Biasanya dia selalu marah-marah.' batin Lala.


Selesai makan, Lala yang tak enak hati mencuci piring bekas makan mereka. Sementara Keenan menunggunya sambil menonton televisi.


Keenan mematikan televisi saat Lala menghampirinya.


"Aku pulang Keen."


"Jelaskan apa yang terjadi hingga kamu menghindar." raut wajahnya berubah menjadi dingin.


"Mari kita sudahi sampai disini, Keen."


"Alasannya?"


"Apa kamu tak tahu?" Lala balik bertanya.


Keenan menggeleng.


"Aku tak mau menyakiti Ibu."


"Ada apa dengan Ibu?"


"Kamu yakin tidak mengetahui sesuatu?"


Keenan menggeleng kembali.


"Ibuku dan Papamu dulu mereka bertunangan" Keenan memejamkan matanya.


"Sampai dimana Mamamu hadir menggoda Papamu, dan Papamu meninggalkan Ibu begitu saja."


Keenan masih memejamkan matanya seraya menelan salivanya berat.


"Aku tak mungkin jadi menantu orang yang pernah mengkhianati Ibu, Keen!" Lala mulai meneteskan air matanya.


"Aku gak mau membuka luka lama Ibu dan membuat lukanya semakin dalam." Lala kini terisak.


"Mari kita sudahi semuanya, Keenan. Aku gak bisa egois."


"Kamu gak bisa egois?" Keenan membuka matanya.


"Yang kamu lakukan ini hal egois, La!"


"Memutuskan secara sepihak, menghindar dariku. Apa itu gak egois?"


Lala hanya terisak.


"Aku minta maaf atas kesalahan orangtuaku dimasa lalu, La."


"Tapi kita kembali lagi kepada takdir. Mungkin memang jodoh mereka sampai disana."


"Tapi bukan dengan cara seperti itu, Keenan! Papamu tiba-tiba menyebarkan undangan tanpa memutuskan hubungan dengan Ibu."


"Ku akui mereka memang bersalah. Tapi apa kamu tidak berpikir? Kalau Papa dan Ibu bersatu dulu, apa ada kita?" Keenan menatapnya tajam.


"Apa kamu berdiskusi denganku terlebih dahulu apa yang harus kita perbuat ke depannya? Mana ada!"


"Kamu menghindar dariku, La! Selama ini aku berusaha menahan diri. Tapi untungnya kamu tidak berbuat macam-macam. Kalau kamu berbuat macam-macam mungkin aku tak segan menghabisi nyawa orang."


"Keenan! Apa maksudmu!"


"Harusnya kamu gak bersikap seperti ini, Lashira!" bentak Keenan dengan suara lantang. Sorot matanya yang tajam membuat Lala sedikit takut. Dia meremas tas yang dipegangnya.


"Apa yang harus aku lakukan? Bayangkan jika kamu berada di posisi Ibu. Memangnya judul. Film apa? 'Mantan Tunanganku adalah Besanku' gak lucu Keenan!"


"Coba kamu jadi aku? Apa kamu tega membiarkan Ibumu terpuruk karena masa lalu sementara kita tertawa di atas penderitaannya."


Keenan kini terdiam! Dia menutup mukanya.


"Kita sudahi sampai disini, Keen. Lupakan aku, kamu berhak bahagia bersama wanita lain." Lala merasa sakit saat berkata demikian.


"Wanita lain yang mana? Kalau wanita yang aku inginkan cuma kamu!" bentaknya


Keenan berjongkok dihadapan Lala.


"Aku mohon, maafkan orangtuaku, La. Aku mohon jangan tinggalkan aku." Keenan memegang tangan Lala seraya tertunduk. Air matanya jatuh mengenai punggung tangan Lala. Membuat Lala sedikit terenyuh


"Aku sudah mencoba menjauh darimu, tapi aku gak sanggup. Aku gak bisa. Seminggu ini aku hanya mengawasimu dari jauh. Tapi rasanya sukit melepasmu.


"Tolong maafkan mereka. Mereka juga tersiksa sekarang, La. Mereka juga menyesal atas perbuatannya." ucap Keenan membuat Lala membelalakan matanya.


"Jadi kamu sudah tahu semuanya?" Keenan mengangguk lemah.


Flash Back On


Keenan dan keluarganya kini tiba di Bandara. Mereka berjalan mengikuti kursi roda yang di dorong oleh Keenan.


"Aku gak pulang ya Ma, aku mau langsung ke rumah Lala" ucap Keenan.


"Keen"


"Iya Pa?"


"Ada yang ingin Papa bicarakan."


"Nanti setelah aku bertemu Lala, Pa."


"Tidak. Papa mau bicara terlebih dahulu."


"Aku mau ke rumah Lala dulu Pa! Hanya memastikan dia baik-baik saja" Keenan sedikit mengeraskan suaranya.


"Sudah. Malu di lihat orang." Mama menyudahi perdebatan mereka.


Mereka tiba di depan mobil yang menunggunya.


"Pulang dulu, Nak. Mama Papa mau bicara serius."


"Tapi Ma.."


"Tentang kamu dan Lala." Keenan menatap Mamanya dengan raut wajah bingung. Dia segera naik ke dalam mobil dengan sedikit cemas. Selama perjalanan, tak ada satupun yang membuka suara hingga mereka tiba.


"Papa mau istirahat dulu?" Tanya Mama Keenan


"Mari kita selesaikan satu persatu, Ma."


Mama Keenan mengangguk.


Papa masih duduk di kursi rodanya menghadap Keenan dan Mama yang menunggunya.


"Cepat katakan Pa, ada apa sebenarnya? Aku ingin bertanya dari awal pertemuan keluarga kita."


Papa menghela nafas panjang.


"Maaf mengganggu. Ini minumnya Tuan, Nyonya." Pelayan meletakan minuman dihadapan mereka.


"Minum dulu, Pa" Mama memberikan air mineral pada Pak Wijaya. Keenan nampak tak sabar.


"Papa dan Mama minta maaf atas kesalahan masa lalu kami."


Papa Keenan menceritakan semua kesalahan yang telah diperbuatnya dengan mata berkaca-kaca. Begitupun dengan Keenan yang sesekali menjambak rambutnya.


"Bagaimana aku membawa mukaku dihadapan mereka, Pa?" Keenan nampak frustasi.


"Bagaimana bisa, Papa Mama kemarin bersikap baik-baik saja! Pantas saja Ibu bersikap dingin kepadaku."


Papa Keenan nampak sedikit terkejut.


"Bagaimana bisa Papa dan Mama.. " Keenan menggantungkan kalimatnya seraya berdiri.


" Tuhaan" Keenan duduk kembali seraya menangkup mukanya dengan kedua telapak tangannya.


"Nanti Papa dan Mama akan ke rumahnya."


"Gak usah, Ma. Aku yakin Lala sudah membenci kita. Dia samoai detik ini menghidar dariku." ucapnya pasrah.


"Biar Mama yang bicara pada Bu Tita, Keenan."


"Gak usah Ma!" bentak Keenan. Dia berjalan meninggalkan orangtuanya yang masih terdiam.


Flash Back Off


"Aku mohon, biarkan mereka menyelesaikan permasalahan mereka, La."


"Aku gak bisa Keenan."


"Aku mohon La"


"Aku bilang aku gak mau lagi berhubungan dengan keluarga kamu!" Lala berteriak


"Pengkhianat! Baj*ngan! Memang orang kaya selalu bersikap seenaknya dari dulu!" Lala meluapkan amarahnya.


"Aku benci kalian! Aku benci orangtuamu yang menyakiti Ibu" Lala meneteskan air matanya kembali.


"Aku mohon maaf atas nama mereka, La"


"Enggak. Aku gak bisa memaafkan mereka. Aku gak mau berhubungan lagi dengan kalian." Lala terisak.


Keduanya terdiam. Lala masih terisak.


"Kamu tega, Hon ninggalin aku kayak gini?"


Keenan menangis sejadi-jadinya. Dia melempar semua barang-barang yang ada di hadapannya. Hingga semua isi apartemennya berhamburan.


***


Tiga hari sudah Keenan tak pulang ke rumahnya membuat sang Mama menjadi cemas.


"Apa ke rumah Lala, Pa?" Mama Keenan mondar mandir di kamarnya.


"Biar papa suruh orang untuk mencari Keenan, Ma."


Setelah beberapa lama, pesuruh menelepon Pak Wijaya.


"Di rumah Non Lala tidak ada Tuan. Saya sudah gerakan anak buah saya ke seluruh cabang juga tidak ada, Tuan." Pak Wijaya menutup teleponnya.


"Apa dia ke.. " mereka saling pandang.


" Biar Mama yang nyusul kesana, Pa."


"Ayo kita sama-sama" ajak Pak Wijaya.


Keduanya menyusuri jalanan menuju apartemen di temani sang sopir dan ajudan mereka.


Dengan tergesa, Mama dan Papa keenan berjalan cepat.


"Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada anak kita, Pa?" Mama mulai ketakuatan. Raut wajahnya nampak sangat mengkhawatirkan sang anak.


Papa Keenan mulai membuka pintu apartemen. Dia terkejut melihat isi apartemennya terobrak-abrik.


"Papa..." Mama Keenan menutup mulutnya.


"Keenaaann." Papa keenan memanggilnya hingga dia melihat seseorang yang terlentang di atas karpet.


"Keenan.. Keenan.. Bangun Keen." Papa menepuk pipi Keenan sementara Mama Keenan menjerit dan menangis.


Papa Keenan menghubungi ajudan dan sopirnya. Mereka membawa Keenan yang tergolek lemah ke rumah sakit.


***


"Bagaimana kalau Keenan sampai bunuh diri, Pa?" ucap Mama Keenan lemah di samping sang anak yang masih terpejam.


"Kamu jangan berpikir macam-macam, Ma! Dia hanya dehidrasi."


"Dari dulu, kelemahan dia itu, wanita. Dia tidak bisa sembarangan jatuh cinta, tapi sekalinya jatuh cinta dia selalu seperti ini" Mama menatap pilu sang anak.


"Apa kita harus ke rumah Tita, Pa?"


"Tunggu sampai anak kita sadar, Ma"


Mereka terdiam beberapa saat hingga akhirnya Keenan membuka matanya.


"Aku dimana, Ma?"


"Kamu di rumah sakit, sayang."


Keenan hanya terdiam tak bicara lagi. Dia hanya bicara saat orangtuanya mengajaknya bicara.


Tiga hati sudah Keenan berada di rumah sakit di dampingi oleh Psikiater. Belum ada perubahan untuk dirinya hingga membuat sang Mama memutuskan Keenan untuk perawatan di rumah.


Sehari-hari Keenan hanya merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa melakukan apapun.


***


Lala melakukan aktifitasnya seperti biasa tanpa gairah. Dia berusaha menyembuhkan lukanya sendiri dan berusaha tegar dihadapan Sang Ibu.


"Ciee yang pacarnya banyak." Izam menggodanya


"Apa sih Mas Izam?"


"Gonta ganti terus sih pacarnya, Neng? Kemarin motornya matic, terus lihat lagi di bonceng motor bebek, terus.."


"Itu Kang Ojek, Bambang!" ceplos Lala membuatnya teringat pada Keenan


'Tuhaan, kenapa dia lagi yang muncul di pikiran.'


"Haha.. Kirain pacarnya. Yuk mau bareng? Gratis deh."


"Enggak deh Mas. Kasihan Kang Ojek udah setia nungguin."


"Yakin? Gratis nih."


"Iya Mas. Duluan aja deh."


"Ya udah aku duluan yaa."


Dia berjalan seorang diri menuju halte bis yang lumayan jauh dari kantor. Dia menikmati kesendiriannya dengan hati dan pikiran yang kacau.


"Kenapa pulang telat La?"


"Tadi kerjaan belum beres." ucapnya singkat.


Kini suasana rumah mereka sedikit berbeda. Tak ada sahut-sahutan saling sindir satu sama lain. Bahkan suara lantang Ibu sudah tak pernah terdengar lagi. Ibu bahkan tak berani menanyakan kelanjutan hubungannya dengan Keenan. Dia hanya bisa menyimpulkan sesuatu saat Keenan tak pernah lagi berkunjung ke rumahnya.


Setelah memutuskan untuk meninggalkan Keenan, Lala berangkat ke kantor lebih pagi. Dia seolah nyaman untuk berdiam seorang diri daripada berada dirumah seperti saat ini. Dia hanya duduk melamun di depan layar monitor yang menyala di hadapannya.


Begitupun dengan Ibu, Ibu lebih banyak berdiam diri merenungi apa yang menimpa keluarganya.


'Dosa apa aku, hingga aku harus bertemu dengan mereka lagi.' batin Ibu.


Saat sedang melamun, terdengar suara ketukan pintu. Ibu bergegas untuk membuka pintunya. Dia sedikit terperanjat saat melihat dua orang berdiri menatapnya.


"Masuk" ucap Ibu tak ramah.


Keduanya masuk tanpa banyak bicara. Ibu meninggalkan mereka kemudian kembali membawa minum untuk mereka.


"Bu Tita.. Saya dan Wijaya minta maaf."


"Buat apa?"


"Buat semua yang kita lakukan dulu."


"Yang dulu yang mana?"


"Aku tahu, kamu pasti faham, Ta." Ibu sedikit tersentak saat Pak Wijaya memanggil namanya.


"Aku harap kamu memaafkan kesalahan kami di masa lalu."


"Aku sudah melupakannya."


"Tapi aku tak sudi punya besan seperti kalian" Ibu bicara tanpa melihat mereka.


"Apa kamu mau merenggut kebahagiaan anak kita?" Papa Keenan menatap Ibu


"Lala bisa bahagia tanpa anakmu. Bahkan sebelum bertemu pun mereka hidup bahagia. Semua akan kembali pada semula. Hanya butuh waktu saja untuk menyembuhkannya."


"Kalau aku harus berlutut, aku akan berlutut Bu Tita. Aku mohon jangan pisahkan mereka. Keenan sangat menyayangi Lala."


"Itu urusannya."


"Keenan hampir bunuh diri. Dia depresi saat ini." Ibu sedikit tersentak mendengarnya


"Dan aku tak tahu harus bagaimana lagi" Mama Keenan mulai menangis.


"Kami tak masalah, jika kamu membenci kami, Ta. Tapi kami mohon, jangan sangkut pautkan dengan hubungan mereka. Mereka saling menyayangi."


"Aku gak mau Lala bernasib sepertiku. Aku tak mau Lala dekat dengan pengkhianat dan tak tahu diri seperti kalian."


"Kami gak akan mengusik hidup mereka, Bu Tita. Kami janji akan menjaga Lala seperti anak kami sendiri."


"Kalau kamu takut, mari kita lakukan perjanjian hitam diatas putih."


"Aku harap kamu berubah pikiran. Aku tak ingin hanya karena masa lalu kita, kita menghancurkan kebahagiaan mereka."


"Sekali lagi, kami minta maaf atas semuanya. Walaupun sangat terlambat. Kami tak tahu, kesalahan kami akan berdampak fatal untuk anak kita." Mama Keenan mengusap matanya.


"Aku mungkin akan ikut bunuh diri kalau Keenan melakukan hal nekat itu lagi."


"Ma! Bicara apa kamu!"


Seketika hening. Tak berapa lama, mereka pamit undur diri.


***


Jam istirahat, Lala hanya terdiam di tempat duduknya. Dia tak memiliki nafsu makan sama sekali.


"Ibu Lala, ada yang mencari Ibu." satpam kantor masuk ke ruangan Lala setelah dia mengetuk pintu.


"Siapa Pak?"


"Katanya calon mertua, Ibu." Lala sedikit terperanjat.


"Calon mertua?" Lala mengulang kalimatnya.


"Wah, Calon mertuanya orang kaya Bu Lala. Mobilnya keren." goda satpam


"sstt.. Bukan. Majikan saya itu." canda Lala seraya merapihkan dirinya.


"Dia dimana Pak?"


"Di mobilnya Bu. Tadi aku sarankan ke ruang tunggu, mereka gak mau."


"Mereka?"


"Iya. Suami istri. Kan calon mertua, Bu?"


"hehe.. Iya iya."


Lala berjalan dengan dada yang berdegup kencang. Pikirannya seketika buyar.


'Apa yang akan mereka bicarakan?' batin Lala


.


.


.


Gak pada bikin tagar nih? #SatukanHonBee?. Wkwkkw...


Bantu like dan komen yaaa. Jangan lupa Vote yang buanyaak. Terima kasih ^^