
Keenan turun dari mobilnya, dia mengitari mobil kemudian membuka pintu mobil Lala. Keenan meraih kedua jemari Lala. Dia membungkukan badannya.
"Aku minta maaf, Hon. Aku janji gak begitu lagi. Gak ada maksud untuk menyepelekan Ibu. Sama sekali aku gak mikir kesana, Hon. Aku juga minta maaf, lupa waktu ngobrol sama Mas Pram." Keenan mengecup kedua tangan Lala.
"Aku sebel sama kamu!"
"Iya aku tahu"
"Aku gak suka sama kamu!"
"Iya aku tahu. Aku tahu kamu sayang aku" goda Keenan. Lala meliriknya sebal.
"Udah dong marahnya. Kepala aku sakit Hon. Aku gak bisa tidur, tahu" ucapnya
Lala menarik tangannya, hendak melepaskan tangannya dari Keenan. Namun Keenan mencengkramnya kuat. Lala menggigit lengan Keenan sementara Keenan hanya bisa pasrah menahan gigitan Lala.
"Udah ya marahnya" saat Lala melepaskan gigitannya. Keenan mengecup kening Lala kemudian menutup kembali pintu mobil. Dia masuk ke dalam mobilnya. Keenan memeluk Lala erat.
"Maaf ya, Honey" ucapnya. Keenan menarik tubuh Lala agar bersandar di bahunya.
"Awas aja kalau gitu lagi!" gerutu Lala dengan suara tertahan
"Iya, janji gak gitu lagi. Yuk pulang." ajak Keenan
"Tuh kan dia gak peka." gerutu Lala dengan suara pelan
"Aku gak peka apa?"
'Astaga dia dengar.' batin Lala. Dia merasa malu.
Keenan tersenyum.
"Tumben kamu manja begini, heh! Biasanya cerewet." Keenan menjawil pipi Lala.
"Sebel! Udah tahu kangen, malah rumpi kayak ibu-ibu di gang sebelah tahu gak!"
"Haha s*alan, pacar kamu yang ganteng disamakan dengan ibu-ibu gang sebelah!"
Keenan melajukan mobilnya, dia mengajak Lala membeli buah-buahan dan kue untuk dibawa pulang ke rumah, tak lupa dia juga mampir ke tenda seafood langganan mereka.
"Assalamu'alaikum Buu" Keenan memberi salam dengan suara riang.
"Wa'alaikumussalaam. Kemana saja kamu gak pernah datang? Takut ibu palakin martabak?"
"Enggak Bu, aku kemarin banyak kerjaan. Maaf ya Bu. Ibu sehat?"
"Seperti yang kamu lihat, ibu sehat dan mempesona."
"Astaga Bu Kader gak tahu malu." Lala menggerutu seraya masuk ke dalam rumah.
"Pasti dong, Ibu selalu mempesona." Keenan mengacungkan jempolnya
"Ayo masuk" Ibu mendahului mereka. "Kalian sudah makan?"
Keenan mengekori Ibu dengan plastik dikedua tangannya. Dia menaruh plastik tersebut diatas meja makan. "Aku mau minta nasi kesini, Bu." ucap Keenan seraya menunjukan seafood yang dibelinya barusan.
"Ibu masak, kenapa kalian malah beli." ibu mengambil piring untuk mereka.
"Ayo makan sama-sama Bu" ajak Keenan seraya duduk di kursi makan. Lala mencuci tangannya sentara Ibu menemani Keenan duduk di kursi makan.
Ibu menuangkan seafood tersebut ke dalam piring.
"Segini?" tanya Ibu saat menuangkan nasi di piring Keenan.
"Terima kasih Bu, padahal aku bisa sendiri." ucapnya segan
Ketiganya menikmati makanan mereka sambil sedikit berbincang.
"Kamu sudah gajian? Sampai segala dibawa begini?" ibu yang telah selesai makan, membuka satu persatu plastik yang dibawa Keenan.
"Belum Bu, sebagai permintaan maafku karena gak pernah datang." ucapnya seraya mengupas udang ditangannya.
Keenan sudah tak segan lagi ke rumah Lala. Dia merasa nyaman dengan perlakuan Ibu kepadanya.
"Kamu datang ke rumah saja Ibu sudah senang Keenan. Gak usah semua dibawa begini. Ibu sendirian dirumah. Kalau banyak begini, gimana makannya. Lagipula, kenapa gak kamu tabung saja uangnya." ibu menasehai Keenan
"Sebentar, Ibu bilang sendirian dirumah? Aku gak dianggap Bu?" Lala protes seraya cemberut
"Maksud Ibu, Ibu kan sehari-hari sendiri. Sementara kamu kan pulangnya petang. Ini kebanyakan."
"Sudah gak apa-apa Bu, sudah terlanjur. Kalau kebanyakan kasih saja ke kader lainnya." Keenan menimpali
Keenan dan Lala menyelesaikan makannya. Keenan menemani Lala mencuci piring. Dia hanya menatap tangan Lala yang sibuk dengan busa sabun dan air.
Setelah selesai, mereka duduk di ruang tamu. Sementara Ibu menonton acara kesayangannya.
"Kamu kenapa sih marahnya begitu banget Hon? Sampai ponsel di matikan segala" Keenan tak habis pikir dengan tingkah laku kekasihnya kali ini.
"Aku sebel sama kamu. Makanya aku matikan."
"Terus kamu berangkat kerja gimana? Gak naik ojek online?"
"O iya, aku belum bilang. Aku ikut motor Mas Izam waktu itu, gara-gara nangisin kamu, aku sampai kesiangan. Tapi itu cuma sekali doang Bee."
Keenan menautkan alisnya. Dia hendak marah pada Lala.
"Jangan marah ya Bee, aku jujur loh sama kamu, sayang." Lala menengok ke dalam rumah. Dia mengecup singkat pipi Keenan.
"Nakal! Kalau ibu lihat gimana?" gerutu Keenan
"Dih Abang, bilang aja suka" Lala menggodanya.
"Suka banget lah! Takut ketahuan Ibu juga! Nanti aku yang di jewer Ibu kayak kemarin" ketusnya. Lala hanya tertawa.
"Kamu ngapain saja Bee?" Lala kini balik bertanya
"Aku mikirin kamu. Kerja gak fokus."
"Lirik-lirik cewek lain juga?"
"Iya. Banyak yang cantik dekati aku, sayang kan kalau di anggurin begitu saja." ketus Keenan "Kamu tuh ngegali kuburan kamu sendiri tahu gak!"
"Maksudnya?"
"Lirik cewek lain gak? Pasti sama yang cantik? Itu tuh sama kayak kamu bikin kuburanmu sendiri tahu gak? Buat diri kamu sendiri kepanasan! Cemburu sama omongan kamu sendiri."
"Berhenti deh bilang aku sama cewek lain. Kamu kayak baru kenal aku saja." ketus Keenan
"Astagaa.. Begitu saja marah Abangnya."
"Aku gak suka Hon kamu tuduh-tuduh begitu. Cukup percaya sama ucapan aku. Ngerti?"
"Iya maaf."
"Jangan diulangi lagi, oke?" Keenan menyubit pipi Lala.
Lama mereka menatap ponselnya masing-masing.
"Aku pulang ya Hon."
"Aku masih kangen." Keenan tersenyum mendengar kejujuran Lala.
"Tumben banget kamu manja begini. Selama kita pacaran baru loh aku lihat kamu begini Hon" Keenan merangkul Lala
"Haha.. Iya ya. Aku gak bisa kendaliin hati aku sendiri, Bang."
"Sabar ya, Abang lagu berjuang. Sebulan lebih lagi nih Hon percobaan Abang."
"Iya Bee. Semangat."
"Ya udah aku pamit Ibu dulu." ucapnya.
Lala melangkah hendak masuk ke dalam, dengan sigap Keenan menarik lengan Lala hingga Lala menubruk tubuh Keenan. Keenan memeluk erat dan mengecup kening Lala.
"Bee.. Jangan bikin aku melayang begini dong". Keenan terkekeh mendengar.
"Gemes sama kamu. Aku gak mau pulang jadinya"
"Gak usah pulang aja" bisik Lala
"Heh! Sejak kapan kamu mes*m!" Keenan memukul pelan kening Lala.
"Sejak sama Abangnya jarang ketemu. Haha"
"Sssstttt.. Berisik ih. Yuk pamit."
Lala kini menarik lengan Keenan. Dia melingkarkan tangannya di lengan Keenan.
"Abang jangan pulang, Bang" ucapnya seperti anak kecil.
"Haha.. Dasar. Sudah ah, nanti Abangnya benar-benar gak mau pulang, sayang."
"Ngomongnya gak perlu so sweet gitu deh." mereka tertawa bersama sampai akhirnya Keenan pamit pulang.
"La, Ibu mau bicara."
"Aku ngantuk Bu, tumbenan banget lagi pakai bilang mau bicara."
"Duduk dulu. Kalau orangtua bicara selalu saja begitu."
"Apa sih Bu? Tumben sekali kayak begini."
"Kamu serius sama Keenan?"
"Bukannya Ibu sudah tanya langsung sama Keenan waktu itu?"
"Iya. Kamu sudah siap kalau Ibu nikahkan kalian?"
"Mak.. Sud Ibu?"
"Kalau sudah siap nikah, Ibu mau minta Keenan bawa orangtuanya kesini."
"Ibu serius?"
"Ibu takut kalau kalian pacaran lama-lama, La. Gak enak juga sama tetangga. Kamu tahu sendiri kan, Ibumu ini cukup famous."
"Astaga, famous katanya" Lala menahan senyumnya.
"Gimana menurutmu?"
"Aku terserah Ibu saja. Memang Ibu ikhlas kalau aku nikah sekarang-sekarang?"
"Mau nanti mau sekarang juga sama saja. Lagi pula usiamu ini sudah cukup."
"Kalau memang Ibu ikhlas aku menikah sekarang-sekarang, ya kenapa enggak Bu."
"Salah Ibu, harusnya gak usah tanya kamu juga pasti kamu gak bakalan nolak." gerutu Ibu seraya masuk ke dalam kamar.
"Matikan televisinya Laa" teriak Ibu dari dalam kamarnya.
***
Keenan menuruni anak tangga dengan menenteng tas hitam miliknya.
"Pagi Pa, Ma." Keenan duduk berhadapan dengan Mamanya.
"Kamu sudah cek cabang yang dipegang kakakmu?" Pak Wijaya membuka suara
"Belum Pa. Aku masih gak enak sama Kakak" ucap Keenan
"Kamu tahu kan, bulan ini bagaimana? Mau nunggu sampai kapan?"
"Pa, ini meja makan bukan ruang kerja Papa" Mama mengingatkan. Seketika mereka berhenti bicara.
"Nanti kamu ke ruangan Papa dulu sebelum berangkat." pinta Pak Wijaya.
Tak ada suara yang keluar dari mereka. Tiba-tiba seorang penjaga masuk.
"Tuan maaf saya mengganggu. Ada yang mengirimkan ini" ucap penjaga
"Siapa?"
"Kurir Tuan"
"Pagi-pagi begini?" ucap Mama seraya melirik amplop cokelat ditangan Pak Wijaya.
Dengan penasaran, Pak Wijaya membuka amplop tersebut. Begitu teebuka, beberapa foto yang dipegangnya. Pak Wijaya membuka satu persatu foto yang kini berada di tangannya.
"Foto siapa Pa?" Mama merebut foto tersebut dari tangan Pak Wijaya.
"Keen, ini bukannya Lala?" Keenan yang tak peduli kini melirik foto ditangan Mamanya. Dia menerima foto yang disodorkan Mamanya.
"Lala selingkuh?" Mama Keenan nampak syok.
"Enggak. Dia tetangga Lala yang kebetulan satu kantor dengannya. Paling dia berangkat bareng."
"Kamu gak apa-apa, Nak?" tanya Mama Keenan khawatir
"Gak apa-apa Ma. Lala sering cerita. Lagi pula aku juga pernah ketemu sama lelaki itu" ucap Keenan
"Hh.. Baguslah kalau kamu tahu."
"Aku percaya dia bukan orang seperti itu, Ma"
"Iya Mama tahu, Mama cuma takut kejadian dulu terulang lagi."
"Hati-hati, ada seseorang yang diam-diam mengawasi kalian." ucap Papa Keenan membuat keduanya melirik.
"Maksud Papa?"
"Kamu tahu kenapa foto ini tiba-tiba sampai disini? Berarti ada yang sedang mengintai kalian. Mungkin mencoba hubungan kalian renggang atau Papa gak tahu kamu punya rival lain mungkin."
"Iya juga. Berarti ada yang diam-diam mengawasi Lala." ucap Mama membuat Keenan menjadi khawatir.
"Aku akan suruh orang menjaga Lala." ucap Keenan membuat Pak Wijaya menggulirkan bola matanya untuk melihat Keenan
"Terserah kamu. Mama harap, kamu juga sama. Mama takut orang itu tak hanya mengawasi Lala tapi mengawasi kamu juga."
"Iya Ma, aku pertimbangkan dulu."
"Apa yang dipertimbangkan lagi? Keselamatan kalian terancam" Mama protes
"Iya Ma. Tapi aku minta sesuatu dari Mama Papa."
"Setelah masa percobaan aku selesai, tolong antar aku ke rumah Lala. Aku mau melamar dia Ma" Mama sedikit syok.
"Kamu serius?"
"Apa lagi yang aku tunggu?"
"Gimana Pa?"
Pak Wijaya meneguk air minum miliknya.
"Kamu yakin dengan pilihanmu kali ini? Usiamu masih muda Keenan. Papa berharap kamu fokus dengan pekerjaanmu terlebih dahulu."
"Sepertinya aku gak bisa fokus kalau begini, Pa. Apalagi nyawa Lala terancam. Kalau dia kenapa-napa gara-gara orang yang sebenarnya menargetkan aku. Aku gak bisa memaafkan diriku sendiri. Lebih baik Lala berada dalam jangkauanku."
"Sebaiknya kamu pikirkan dulu Keen. Mama gak mau kamu menyesal." ucap Mama
"Aku sudah mantap Ma!" Keenan nampak sedikit kesal
"Aku berangkat." ucapnya seraya meninggalkan kedua orangtuanya.
***
"Bee, kamu sudah makan siang? Dimana sekarang?" Keenan membaca pesan masuk seraya berjalan berdampingan dengan Store Manager salah satu cabang yang sedang dia kunjungi.
Keenan fokus menatap layar ponsel sampai tidak sengaja dia menabrak salah satu staff wanita.
"Maaf, maaf." ucap Keenan. Dia mengambil ponsel miliknya yang jatuh.
"Kamu kalau jalan lihat-lihat dong." ucap Store manager menegur staff tersebut.
"Keenan?"
Keenan menoleh ke sumber suara yang tak asing di telinganya.
"Mira" Keenan sedikit terkejut.
"Keenan apa kabar?"
"Baik. Kamu kerja disini?"
"Iya Keen. Kamu.."
Keenan melirik store manager.
"Silahkan lewat sini saja Pak" ucap store manager tersebut.
"Aku duluan ya Mir" Keenan meninggalkan Mira tanpa menjawabnya.
"Mir, kamu kenal siapa dia?" tanya teman Mira
"Iya, dia temanku. Dulu dia naksir aku tapi aku tolak" bohong Mira
"Cowok cakep begitu kamu tolak? Buat aku saja Mir" ucapnya
Mira masih memikirkan jabatan Keenan sebagai apa karena melihat store managernya begitu menghormatinya.
"Heh bengong. Yuk jalan." ucap teman Mira.
Keenan menghubungi Lala begitu masuk ke dalam mobilnya.
"Hon, tadi kamu makan apa?"
"Ih kamu begitu diangkat langsung tanya-tanya. Intro dulu kek bilang Assalamu'alaikum. Selamat siang." gerutu Lala yang membuat Keenan tersenyum dibalik ponselnya.
"Assalamu'alaikum Lashiraku, kamu sedang apa? Sudah makan belum?".
"Wa'alaikumussalaam. Sudah Bee. Tadi kamu baca pesanku tapi gak balas. Huh nyebelin!"
"Kamu pasti terkejut Hon dengar ceritaku."
"Oh ya? Aku sangat terkejut Bee"
"Belum juga cerita Markonah!" Lala terbahak mendengarnya
"Apa dong sayangku?"
"Dih! Minta di sedot ini bocah"
"Cepetan Bee! Katanya mau cerita ih!"
"Tadi tuh pas buka ponsel dan baca pesan dari kamu, aku nabrak orang pas lagi jalan. Tahu gak yang di tabrak siapa?"
"Pasti cewek cantik kan!"
"Astaga. Mulai"
"Haha..siapa dong? Mas Pram? Bang Al? Ibu? Mira?"
"Yes"
"Mira? Serius Bee?"
"Bener kan kamu terkejut"
"Kok bisa?"
"Dia karyawanku ternyata Hon."
"Hah? Serius? Dia kerja di swalayan?"
"Iya, Honey."
"Kok bisa? Kamu sengaja kan terima dia sebagai karyawanmu!" ketus Lala
"G*la. Buat apa aku terima dia. Karyawan itu kan bukan urusanku."
"Terus gimana? Ke depannya kamu pasti ketemu dia Bee"
"Gak lah Hon. Gak ada urusan ketemu dia."
"Yakin?"
"Jadi gak percaya?"
"Iya percaya."
"Ya sudah, nanti sambung lagi ya Bee. Aku lagi buat laporan nih. Kamu jangan terlalu capek ya Bee. Love you"
Lala melanjutkan pekerjaannya kembali. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Mari bertemu di Cafe Ye, saya tunggu jam 7. Jangan ajak Keenan. - Karina" Lala sedikit tersentak membaca pesan tersebut.
.
.
.
Nungguin yaaa? Samaa. Hehe.. Maaf yaa aku benar-benar sibuk. Mungkin untuk beberapa hari kedepan juga. Tapi tetap aku usahakan up karena HonBee juga tak lepas dari pikiranku. Cieeehh.. Kuy like dan komentarnya. Bantu vote yang banyak. Kasihan honbee episodenya sudah banyak tapi yg baca masih dikit. Hehe jadi curhat kan? Makanya bantu vote ya. Terima kasih